Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 67


__ADS_3

Malam itu Thalia dan Erick membicarakan tentang banyak hal dari membicarakan novel hingga sedikit kehidupan pribadinya.


Sedikit tapi cukup bagi Thalia mengetahui siapa Erick. Kemampuannya menganalisa seseorang dari cara menjawab dan membaca emosi dari tulisannya cukup membantu Thalia untuk memahami Erick.


Erick memberitahu Thalia tentang sosok seorang wanita lain, salah satu yang terkena mantra yang dilepas tanpa sengaja. 


"Dia cantik?"


"Ya, dia baik … saya paling nggak tega lihat cewek menangis."


"Ok, terus?"


"Sampai sekarang kami masih berhubungan baik, cuma …,"


"Apa?"


"Dia itu maunya hubungan kami dibawa ke real life, dia selalu berasumsi tentang segala hal."


"Oya, menurut saya wajar cewek kalo udah suka memang maunya begitu. Bawaannya berandai-andai, apalagi kamu sangat menarik buat dia."


"Kamu juga ngerasa gitu?"


"Me?? Maybe, saya hanya mencoba mengolah perasaan. Kalo saya mau gila saya mungkin juga bakalan sama seperti dia, tapi logika saya masih bisa jalan."


"Dia selalu menuduh saya ini itu, jelousnya nggak nguatin. Kalo saya iyain bisa kali dia kabur dari tunangannya."


"Whaaat? Are you kidding me? Dia punya tunangan?"


"Yes."


"Tunggu, saya tanya sekali lagi. She's pretty?"


"Yes, she is."

__ADS_1


"Kok bisa tahu dia cantik?" tanya Thalia heran


"She send me her photograph."


"Oh, i see."


"She loves you?"


"Yes."


"And you loves her?"


"No, i 'm not!"


"What the hell, kamu bikin anak orang nggak karuan gitu! Wow, amazing Erick. Kamu nggak mikir dulu apa sebelum bikin itu novel."


"Saya kan dah bilang, saya nggak ngira bakal kejadian begini."


"Ya ampun saya benar-benar speechless, bingung beneran?!"


Thalia memang menginginkan Erick, ia juga merasa telah jatuh hati padanya tapi kenyataan di real life membuatnya berpikir seribu kali untuk bisa memiliki Erick.


Rasa nyeri terasa semakin menjadi saat berbicara dengan Erick tentang hal ini. Dari pembicaraan sebelumnya Thalia dan Erick menyadari jika mereka telah terikat sesuatu. Keduanya sama-sama merasakan sakit dan rasa tidak nyaman jika salah satu saling memikirkan.


"Erick, what are you doing? Badan saya sakit!"


"Don't mind me! Itu satu-satunya cara supaya kamu bisa lepas dari saya."


"Really? Trus gimana kamu bisa jelasin rasa sakit ini?!"


"Kamu merasakan emosi saya itu sebabnya kamu sakit."


"Lalu gimana caranya biar kita tidak saling merasakan emosi masing-masing?!"

__ADS_1


"Ya itu tadi, don't mind me!" saran Erick pada Thalia.


"Jangan terlibat terlalu dalam dengan saya itu bisa menyakiti kamu?!" katanya lagi.


"Benarkah? Tapi rasa itu datang begitu saja Erick?!" Thalia mulai merasa frustasi.


"Bukan hanya kamu yang sakit Thalia, badan saya juga."


"So, kita harus gimana?"


"Break, kita udahan dulu ceritanya. Udah malam juga, hapus semua chat jangan dibaca lagi."


"Fine, as your wish."


Mereka pun mengakhiri pembicaraan malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Thalia mencoba memejamkan matanya tapi sulit. Bayangan Erick berhasil mengalihkan Thalia dari kenangan mengerikan Qiara. Tapi juga membuat tubuhnya sakit dalam arti yang sebenarnya.


Jantungnya berdebar lebih kencang, nafasnya memburu tidak karuan, ia hanya bisa melihat Erick yang terus menari di pelupuk matanya.


Ada apa ini, kenapa rasanya semakin kuat?!


Thalia mencoba melupakan dan tidak memikirkan Erick, seperti yang disarankan tapi kemudian hanya dalam hitungan detik rasa itu muncul lagi bahkan semakin kuat. Sesuatu telah bekerja diluar kuasa mereka. Alam bawah sadar mereka tidak menginginkan mereka saling melupakan.


Thalia gelisah, dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ia pasrah.


Aaargh ... Erick, I can't do this! 


Thalia berteriak dalam hati, batinnya memaki Erick yang telah membuatnya terjerat dalam mantra konyol yang membuatnya jatuh hati pada Erick. 


Damn you! Andai aku masih menyimpan mantra punya om Ade aku balikin tu mantra ke dia!


"Aku harus gimana coba sekarang, ini benar-benar menyakitkan! Apa nggak ada jalan buat ngelepas ini?!" gumam Thalia kesal.


Thalia kembali berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada Erick dan dirinya. Thalia memang mengetahui dirinya memiliki khodam pendamping yang diturunkan oleh leluhurnya. Ia mengetahui itu sejak lama, jauh sebelum ia mengenal Erick.

__ADS_1


Itulah sebabnya Thalia memiliki kelebihan yang tidak biasa. Belakangan ini Thalia mulai sering merasakan kehadiran mereka. Tanpa berkomunikasi pun mereka hadir begitu saja, dan itu semakin menguat saat ia mulai membaca salah satu karya Erick.


Apa ini semua berhubungan? Apa khodam kami memiliki hubungan jadi aku dan Erick seolah terkoneksi? Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2