Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 60


__ADS_3

Thalia menghela nafas panjang, akhirnya Ardi pergi. Ia sudah sangat mengantuk, Berjam jam menatap layar ponsel membuat beberapa bab awal sebuah novel ternyata sangat melelahkan. Ia pun memutuskan untuk pergi tidur.


Keesokan harinya, Thalia telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Jadwal Thalia hari ini adalah bertemu dengan Qiara lagi. Thalia sebenarnya menjadwalkan Qiara bulan depan untuk kembali konseling, tapi sesuatu rupanya terjadi pada Qiara. Dan ibunya meminta Thalia untuk menjadwalkan ulang konseling.


Winda menyambut Thalia yang baru saja datang dengan pakaian casualnya. Thalia lebih nyaman dengan pakaian santai sama seperti saat ia bertugas di Baltimore.


"Pagi dok, ceria banget ni kayaknya?" sapa Winda


Thalia melirik ke jam tangannya, "Pagi? Ini bahkan sudah jam dua belas siang Win, kamu nyindir saya nih?" tanya Thalia dengan melengkungkan senyumnya.


"Maaf dok, biar semangat jadi anggap aja pagi." jawab Winda tersenyum.


"Oh ya gimana ceritanya Qiara?" 


"Ibunya kemarin menghubungi saya langsung minta dokter hari ini bisa buat jadwal konseling. Kebetulan jadwal dokter kosong kan, jadi saya pikir dokter pasti mau."


"Hhm, nggak apa kok saya juga penasaran ada apa kok urgent banget sampai harus majuin jadwal konseling." Firasat Thalia mengatakan sesuatu yang buruk terjadi pada Qiara.

__ADS_1


Suara sirine mobil ambulance terdengar nyaring berbunyi dan memasuki pelataran IGD, Thalia dan Winda yang kebetulan berjalan melewati IGD langsung mengalihkan perhatiannya pada pasien yang kini sedang dikeluarkan dari ambulance.


Seorang anak kecil terbaring di atas tandu, didampingi sang ibunda yang terus menangis. Darah terlihat mengotori tangan sang ibunda yang tampak gemetar. Anak kecil itu tidak sadarkan diri dengan tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya terluka. Membasahi hampir seluruh tubuhnya.


Paramedis langsung bergerak cepat menangani anak itu. Thalia dan Winda saling berpandangan, mereka bingung dan tidak percaya dengan penglihatan mereka.


"Win … itu ibu Qiara kan?" tanya Thalia menghentikan langkahnya.


"I-iya dok itu sepertinya memang ibu Qiara!" sahut Winda.


"Ada apa ya dok, saya kok takut?!" Winda terlihat penasaran tapi juga ketakutan.


Winda mengangguk, ia segera mencari tahu apa yang terjadi. Thalia baru berjalan beberapa langkah ketika ibu Qiara berlari dan memanggilnya.


"Dok … dokter Thalia, tolong saya dok … tolong Qiara!" Teriaknya di sela tangisannya membuat semua mata yang ada di lorong itu menatap mereka.


"Ibu … ada apa ini?" Thalia terkejut saat tangan ibu Qiara menarik tangannya membuat tangan Thalia terasa lengket terkena cairan berwarna merah yang masih terasa lembab di tangan ibu Qiara.

__ADS_1


"Qiara dok …" ibu Qiara kembali menangis


"Pelan-pelan Bu, bicara perlahan … tarik nafas yang dalam dulu." saran Thalia.


Ibu Qiara menahan diri untuk tidak menangis. Thalia membimbingnya untuk duduk di kursi tunggu tak jauh dari mereka. Dengan sabar Thalia menunggu sang ibu bicara dengan mengusap lembut punggungnya.


"Qiara dok … dia …" sang ibu kembali menangis.


"Melukai dirinya sendiri, saya berusaha buat ambil pisau itu tapi … dia …" 


"Pelan-pelan saja bu ceritanya, tenangin diri dulu." pinta Thalia menggenggam tangan sang ibu.


"Qiara mencoba bunuh diri karena saya …" katanya lirih


Thalia tidak terkejut, Dari awal ia sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Borderline Personality Disorder memiliki potensi merusak diri sekitar 70% dan kemungkinan bunuh diri sekitar 8 - 10% . Mereka cenderung berubah sikap secara ekstrim dari marah, sedih hingga kecemasan yang tiba-tiba saja berubah-ubah.


Thalia merasa iba karena diusia sekecil itu Qiara sudah mengalami gangguan kepribadian ambang, ditambah lagi dengan kehadiran sosok gaib yang melekat padanya. Thalia teringat pada wanita mengerikan berbaju merah itu, kemarin ia bisa mengusirnya tapi ia tidak menjamin kalau sosok itu tidak akan menganggu Qiara lagi.

__ADS_1


Sekelebatan bayangan terlihat di sudut mata Thalia. Bayangan itu menyelinap masuk ke dalam ruangan IGD. Thalia berusaha mengindahkan hal itu dan menghibur ibu Qiara. Sebuah bisikan gaib membuat Thalia terkejut.


Thalia … hati-hati, dia mengincar anak itu!


__ADS_2