Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 51


__ADS_3

Malam menjelang,Thalia yang malas keluar dari kamarnya memilih untuk kembali membaca novel terbaru karya dari Kamboja Merah melalui notebook kesayangannya. Sean memberitahu Thalia malam ini ia pulang larut karena ada masalah di restoran miliknya.


Thalia begitu antusias membaca novel terbaru milik Erick. Novel yang berbeda dari dua karya sebelumnya. Dengan gaya menulis yang masih tak jauh beda, ringan, jahil, dan sedikit dibumbui kekonyolan khas dirinya.


Ada yang baru rupanya, coba aku lihat dulu …,


Thalia perlahan membaca novel yang baru saja launching dan hanya berisi beberapa bab awal. 


"Fans nya banyak juga dia, he's cool … makanya banyak yang suka dia." gumamnya sendiri.


Ia kembali melanjutkan membaca dan tentu saja meninggalkan jejak like dan komentar untuk Erick.


Wah, novel baru ya semoga sukses. Saya mau lihat seromantis apa kamu …, komentar dikirim.


Thalia kembali melanjutkan membaca, dan berhenti pada sebuah catatan kaki yang ditulis Erick pada salah satu bab. Membacanya membuat Thalia tersenyum, Erick begitu mempesona dirinya. Tapi, tepat di beberapa baris terakhir Thalia tertegun.


Entah apa yang membuatnya yakin, tapi feeling wanitanya mengatakan Erick memiliki kekasih. Seketika ia berhenti membaca, sebuah nama yang disebutkan Erick dicatatan kaki itu membuatnya sakit.


"Ini pacarnya? Dari cara dia menuliskan nama itu, dari emosi yang aku tangkap nama ini punya arti khusus buat dia." Thalia bermonolog.


Ia menjauhkan tubuhnya dari meja, hatinya tiba-tiba merasa sakit. Sebuah rasa yang ia benci. Cemburu.


"Kenapa aku merasa … aneh? Aku bahkan nggak kenal Erick tau wajahnya pun nggak kenapa aku cemburu liat nama itu? Marcella, nama yang bagus."


Ia menatap layar ponselnya, rasa nyeri kembali datang. Thalia tahu itu Erick, rasa marah dan cemburu yang menguasai dirinya membuat Thalia malas membuka pesan dari Erick.


"Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku melanjutkan ini semua? Ini sungguh konyol!" 


Thalia berdiri dan berjalan keluar kamar tujuannya hanya satu, menenangkan diri. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir tentang apa yang berkecamuk dalam hatinya.

__ADS_1


"Sean benar, aku sudah gila karena ketakutan ku sendiri. Rasa ini sepertinya cuma imajinasi ku aja, mana mungkin aku bisa jatuh hati sama orang yang bahkan nggak aku kenal." 


Thalia memejamkan matanya, menikmati bunyi air terjun buatan kecil yang ada di halaman belakang rumahnya. 


"Aku harus bagaimana? Semakin aku menolak semakin aku terus mengingat Erick. Apa aku terjerat mantra gaib miliknya?"


Thalia tidak mengerti, dirinya yang selalu mengedepankan logika kini harus kalah oleh satu hal aneh yang belum bisa ia jelaskan benar atau tidak. 


"Kamu ngapain disini? Udah malam lho?" Suara Sean mengejutkan Thalia dari arah belakang.


"Lho kok cepat, bukannya mau pulang malam?" tanya Thalia.


"Sudah selesai semua, untung bisa aku handle kalo nggak besok resto bisa kehabisan stok bahan."


"Oh gitu, supplier nakal?"


"As usual permainan harga dari mereka imbasnya ya ke stock bahan. Eh kamu dah makan?" tanya Sean.


Sean duduk di kursi panjang dengan bantalan empuk di samping Thalia. Ia memperhatikan kegelisahan yang terlihat di wajah Thalia.


"Ada apa, something happened today?" tanya Sean.


(sesuatu terjadi hari ini?)


Thalia menatap Sean dengan wajah sendu. Sean memang paling tahu apa yang terjadi padanya.


"Sean, aku … patah hati!"


"Whaaat? Emang kamu jatuh cinta sama siapa?"

__ADS_1


Thalia terdiam dan hanya menatap Sean dengan airmata yang sudah tak tertahan lagi.


"Tunggu, jangan bilang maksudmu … that author?!" tanya Sean curiga.


Thalia menganggukkan kepalanya, Sean berang dan membuat Thalia terkejut dengan teriakannya.


"Damn, Thalia! Aku udah ngingetin kamu kan? Jangan bodoh! Bisanya kamu jatuh cinta sama lelaki nggak jelas itu!"


Thalia hanya terdiam dan menangisi kekonyolan dirinya.


"Kamu menyakiti diri kamu sendiri Thalia, coba aku tanya ke kamu? Do you know him?"


(kamu kenal dia?)


Thalia menggeleng, "Have you seen his face or voice?". ( kamu pernah melihat wajah atau suaranya?)


Ia kembali menggelengkan kepalanya. "And do you love him?" Tanya Sean kembali.


(Dan kamu mencintainya?)


Thalia memandang Sean, tangisnya meledak saat Sean menanyakan hal itu padanya. Ia bingung dengan apa yang ia rasakan. Thalia tahu ini salah tapi ia juga tidak bisa memungkiri hati dan tubuhnya yang menginginkan Erick.


"Yes, I love him!" serunya 


Sean terperanjat, ia menyadari bahwa saudara kembarnya ini sedang dalam masalah baru.


"Gooosh … Thalia, apa yang terjadi denganmu. It's not you sist!"


(ini bukan dirimu!)

__ADS_1


Thalia terjebak dalam mantra gaib yang telah mengikat dirinya. Membuatnya jatuh hati pada pemuda di dunia maya. Pemuda yang bahkan tidak pernah ia temui dan ia kenal. 


Apakah ini adalah keajaiban atau hanya mantra pengendali pikiran?


__ADS_2