
Siang itu Thalia sudah berjanji akan datang menemui Langit. Vina dan Tante Alena tidak ada dirumah, jadi Thalia akan menemui Langit dirumah sendirian. Langit baru saja pulang dari sekolah bersama pengasuhnya ketika Thalia datang.
"Tante dokter …" sapa Langit yang baru sama-sama turun dari mobil.
"Assalamualaikum Langit … coba biasakan gitu sayang, mau nggak?" balas Thalia menyapa Langit.
"Mama nggak pernah bilang gitu ke Langit." jawab Langit dengan gaya khas anak-anak nya.
"Ohya, gimana kalau mulai sekarang. Mau?!"
Langit berpikir sejenak lalu tersenyum menyanggupi keinginan Thalia, "Oke, setuju!"
"Good boy, give me five?!" Thalia meminta Langit untuk memberikan tepukan di telapak tangannya yang terbuka lebar.
Langit tertawa, ia menarik lengan Thalia dan mengajaknya masuk ke dalam. Langit sebenarnya anak yang cukup bisa diatur terlepas dari vonis ADHD-nya. Hanya saja kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan membuat efek ADHD semakin parah.
Sehari hari Langit hanya ditemani oleh dua orang pengasuh. Bounding yang terjalin antara Vina dan Langit tidak terjalin baik, hal ini mempengaruhi proses penanganan pasien seperti Langit.
Sambil menunggu Langit makan siang dan berganti pakaian, Thalia menyiapkan beberapa tugas yang akan dilakukan Langit selama seminggu pertama. Thalia berencana untuk berkunjung seminggu sekali melihat perkembangan Langit. Setiap harinya Thalia akan meminta Vina untuk mengirim video kegiatan Langit berdasarkan urutan kegiatan yang telah disusun Thalia.
__ADS_1
"Tante dokter udah makan siang belum?" tanya Langit saat Thalia mendekatinya di meja makan.
"Udah, tadi dirumah. Langit suka makan siangnya?" tanya Thalia, ia melihat ke arah piring Langit.
"Suka, ini kesukaan Langit. Tante beneran nggak mau nih?" Langit menawarkan makanannya pada Thalia.
"Beneran nggak sayang, udah habisin dulu makanannya." pinta Thalia pada Langit diikuti anggukan kepala bocah tampan bertubuh gempal itu.
Thalia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Makan siang Langit sama seperti anak-anak pada umumnya, junk food hanya ditambah dengan segelas susu coklat yang memang selalu Langit minta.
Junk Food memiliki kandungan garam, gula, dan lemak yang tinggi ini bisa meningkatkan resiko gangguan perilaku anak dan tentu saja memperparah ADHD yang diderita Langit.
"Iya Bu dokter, saya nurutin maunya mas Langit aja. Kalo nggak dia nggak mau makan nanti Bu Vina marah." jawab pengasuh Langit.
"Mulai besok Langit harus dibiasakan makanan diet khusus, nanti saya kasih listnya. Apa Bu Vina nggak pernah kasih kamu daftar makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan Langit?" tanya Thalia lagi.
"Pernah Bu dokter, tapi ya itu mas Langit rewel dan marah-marah trus jadi Bu Vinanya stres akhirnya kita nggak kasih lagi ke mas Langit. Ngikutin maunya mas Langit aja." Pengasuhnya menjelaskan pada Thalia.
Thalia mengerti dan juga tidak menyalahkan Vina sepenuhnya. Menghadapi anak dengan ADHD memang butuh kesabaran ekstra, dan bagi wanita karier seperti Vina tentu saja itu bukan hal mudah.
__ADS_1
"Tante tunggu Langit di halaman belakang yaa?!"
Thalia berlalu meninggalkan Langit. Ia menuju halaman belakang. Rasa tidak nyaman yang meresahkan Thalia membuatnya berpikir itu pasti Erick. Ia membuka ponselnya, tidak ada satu pun pesan dari Erick. Jari lentiknya tergerak untuk menghubungi sang pujaan hati, Erick.
Miss me …. Pesan Thalia dikirim.
I am …, Erick membalasnya membuat Thalia tersenyum.
Sibuk? … tanya Thalia lagi
No, ngantuk … jawab Erick
Ngopi dulu … saran Thalia melalui pesan singkatnya.
Iya nanti … jawab Erick.
Thalia tersenyum, lelaki yang ia sukai ini sangat unik. Membuatnya semakin penasaran untuk mengenalnya lebih jauh dan mendekatinya. Ia tidak peduli dengan kekonyolannya semalam yang menyatakan cinta pada Erick. Ia juga tidak peduli apakah Erick akan membalas cintanya atau tidak.
Thalia tersenyum dan menatap layar ponselnya dengan hati berbunga-bunga.
__ADS_1
Setiap ditanya jawabnya cuma ya, nggak, nanti, oke … emang nggak punya kosa kata lain ya?! Tapi menarik, aku suka model begini bikin penasaran!