
Sean masih mengungkung Thalia, melindunginya dari kemungkinan serangan Natasya yang menggila. Natasya telah berhasil melukai dua orang polisi yang menjaganya. Ia menyembunyikan silet kecil di balik lipatan jaket Jeansnya, she really is a psychopath.
"Sean …"
Sean masih terdiam, nafasnya terdengar berat. "Diamlah Thalia, jangan bergerak. Dia benar-benar menggila disana!"
Suara letusan tembakan terdengar dua kali membuat Thalia memejamkan matanya, ia sangat berharap semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang melukai orang-orang yang dicintainya.
Suasana hening, hanya terdengar suara hujan yang masih turun dengan derasnya. Thalia tidak mendengar apapun lagi, seolah semua suara itu hilang ditelan derasnya hujan.
Sean melonggarkan kungkungannya, dan berbalik melihat lurus ke depan. Matanya nanar menatap tubuh yang terkulai lemas dalam hujan. "Natasya …"
Sean berlari menghampiri tubuh Natasya yang tergeletak bersimbah darah. Ia memeluk tubuh gadis yang dulu diimpikannya bisa menjadi pendamping hidupnya. Sean menangis, menciumi pipi dan kening Natasya.
"Wake up Natasya … please wake up!"
Sean terus berusaha memanggil Natasya meski ia tahu itu kecil kemungkinannya.
"Sean …" bibir Natasya bergerak pelan menyebut nama Sean disisa nafas terakhirnya.
"Natasya … maaf …" Sean tidak bisa banyak berkata disela tangisnya.
"No Sean aku … maaf …" Natasya mengembangkan senyum terakhirnya sebelum menutup mata selamanya.
Sean masih terus memeluk tubuh Natasya, jauh di dalam hatinya ia masih mencintai gadis cantik itu. Terlepas dari kejiwaan Natasya yang terganggu.
Thalia merasakan kesedihan yang Sean rasakan. Dalam gelapnya malam dan derasnya hujan yang turun, Natasya pergi ke alam keabadian. Hanya ada satu kata untuk kisah ini. Tragic.
...----------------...
Kematian Natasya otomatis menutup kasus pembunuhan berantai yang ia lakukan selama ini. David dan timnya menemukan banyak bukti dari rumah yang ditempati Natasya.
Sean dan Thalia tetap harus memberikan keterangan pada pihak yang berwajib. Beberapa hari telah berlalu dari peristiwa yang sulit dilupakan itu. Thalia memutuskan untuk mengajukan cuti sementara waktu. Ia ingin menemani Sean memulihkan kondisi psikologis nya.
Thalia melupakan Erick sejenak, tapi tubuhnya masih merasakan sinyal yang dikirimkan oleh para penjaganya. Kadang sinyal itu datang dengan kuat, kadang terasa lemah.
Weekend waktunya Thalia bermalas-malasan sambil menemani Sean. Ia tahu ini jadwal Erick bersama kekasihnya, jadi sedari pagi ia sudah menyusun rencana dengan Sean agar tidak memikirkan pemuda yang sudah mengisi hatinya di dunia Maya.
"Apa rencana kita hari ini Sean?"
__ADS_1
"Belanja, cooking, making a new recipe and … eat that!" jawab Sean dengan tersenyum.
"Again? Sean udah berapa resep yang kamu buat dalam seminggu ini? Masih kurang?"
"Thalia, that's call innovation … kalo nggak gitu gimana bisnisku bisa berkembang?! Persaingan di dunia kuliner itu luar biasa lho. Para pemilik restoran harus bisa menciptakan inovasi, menu, dan rasa baru buat pelanggan and don't forget …"
"Makanan adalah obat terbaik dari segala obat … ya, ya, i know that!" Thalia menjawab tanpa menunggu Sean menyelesaikan perkataannya.
"Soo, gimana sekarang apa semuanya baik-baik saja? I mean your heart?" Thalia bertanya dengan hati-hati.
"Ya, I'm oke. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja." jawab Sean gamang.
Thalia kembali hendak bertanya ketika ponselnya berbunyi, ia terkejut melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Erick?"
Thalia segera menjauh dari Sean dan menuju ke teras belakang untuk menerima.panggilan Erick.
"Hai, apa kabar?" Thalia canggung, ini kali pertama mereka melakukan panggilan suara.
"Baik, kamu sibuk?"
"Nggak, off day?"
"Eh, kamu … aah, iya aku lupa." Thalia teringat janji mereka untuk bertemu.
Erick tersenyum mendengar jawaban Thalia, ia tahu wanita yang selama ini mengganggu pikirannya itu merasakan hal yang sama dengannya. Gugup.
"Sebentar lagi? Jam berapa penerbangan dari sana?"
"10.45" jawab Erick, Thalia melirik ke arah jam dinding.
Sebentar lagi dia terbang … kenapa aku bisa lupa?!
"Udah dulu ya, mau boarding?!"
"Ok, nice flight beb." Thalia mengucapkannya dengan ragu, Erick tersenyum mendengarnya.
Damn … jantungku rasanya berhenti, dia datang. Aku harus gimana?!
__ADS_1
Thalia mengetuk ngetukkan ponselnya di telapak tangan kiri. Rasanya bercampur aduk, takut, bingung, malu … tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Wajahnya merona membayangkan pertemuan mereka nanti.
"Duuh, bisa gila ini aku … apa bisa seperti saat kita mengobrol dalam chat?"
"Trus mau ngobrolin apa coba kalo ketemu, masa mau bilang IMiss you so badly?! That's ridiculous!" Thalia bergumam sendiri membayangkan kekonyolan yang akan mereka buat.
"Miss who?" Sean tiba-tiba saja ada di belakang Thalia dengan sepiring makanan.
"Gosh! Sean, kamu bikin aku kaget aja?!"
"Apa? Kaget? Makanya jangan kebanyakan ngelamun. Ada masalah?"
Thalia menatap Sean, mengambil makanan kecil yang ada di piring dan duduk dengan tenang. Lebih tepatnya berpura pura tenang.
"Erick datang."
"Erick? That author?" Sean terkejut.
Thalia mengangguk, "Good, temui dia dan selesaikan masalah kalian!"
"Tapi … aku takut Sean?!"
"Takut? Takut kenapa, bukannya kamu bilang kamu mencintai dia? So, tell him! Syukur kalian bisa menerima satu sama lain and getting married."
"Married? No Sean, kami nggak berpikir sejauh itu. Ini … terlalu rumit." sahut Thalia lemah.
"So leave him Thalia, you deserve to be happy! Masih ada banyak lelaki lain yang mau menjadi kekasihmu. Ardi misalnya or … David?"
Hati Thalia kembali berdesir saat Sean menyebut nama David. Thalia tidak memungkiri pesona David yang mencuri hatinya. Tapi ia juga bingung dengan perasaannya pada Erick.
"Ambil keputusan sekarang Thalia, sebelum semuanya semakin buruk. Aku hanya tidak yakin hubunganmu dengan Erick akan berjalan dengan baik." kata Sean lagi.
"Kenapa kamu berpikir gitu?"
"Apa kamu mau menyakiti hati wanita lain? Kamu mau menjadi wanita seperti yang kamu alami sama Rendy?"
Thalia masih terdiam, Sean kembali melanjutkan sarannya. "Pikirkan baik-baik Thalia, aku yakin kamu masih punya hati. Lagipula kalian berbeda sangat jauh, that's impossible!"
"Yeah, you're right Sean … you're right." Sahut Thalia pelan, bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Cobalah untuk menerima kenyataan Thalia, aku tahu itu berat. Tapi yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah kan?!"
Thalia menatap Sean dan mengangguk setuju. Berat, tapi mungkin yang terbaik bagi mereka. Cinta mereka mungkin hanya ilusi semata.