Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 80


__ADS_3

Ardi menarik lengan Rendy, ia tampak tidak senang dengan caranya memperlakukan Thalia. "Sebaiknya jangan bersikap begitu, aku rasa Thalia tidak nyaman dengan sikap kamu!"


Rendy menatap Ardi dengan sebal. Ia mulai membenci rivalnya itu. Membuat peluangnya sedikit berkurang untuk kembali bersama Thalia.


"Apa Thalia bilang begitu ke kamu? Dia juga diem aja kok kenapa kamu harus bersikap begitu?" Rendy seolah menantang Ardi.


Thalia dibuat pusing dan malu dengan keributan kedua pria dewasa di depannya. "Hei kalian, nggak malu apa diliatin orang gitu? Udah punya umur bukan anak remaja lagi!" 


"Thalia, please jangan bawa-bawa umur. Kalau sudah menyangkut cinta, apa artinya umur?" jawab Ardi.


"Eeh, gimana … gimana, cinta?" tanya Thalia skeptis.


"Diam dulu kamu, aku mau ngomong dulu sama orang satu ini! Heran dari tadi ganggu mulu dia?!" jawab Ardi.


Rendy hanya menyeringai, sejurus kemudian ia menatap Thalia. "Aku pergi sayang, besok aku datang jemput kamu jam sebelas siang. Dan kamu, besok waktunya aku bersama dia jangan ganggu?!" Rendy mengatakan itu dengan tegas pada Ardi


"Eits tunggu, saya kan belum bilang mau? Kenapa yakin banget saya mau pergi sama kamu? Lagian kalian aneh bener, kalian pikir aku piala bergilir apa pake jadwal segala!" gerutu Thalia.


Rendy hanya tersenyum mendengar gerutuan mantan istrinya itu. Ia sudah paham dengan sikap Thalia. Sepuluh tahun lebih bukan waktu yang sebentar untuk mereka lalui bersama, jadi ia paham betul dengan Thalia.


"Lihat saja besok, ok?!" Rendy berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Kita pulang!" ajak Thalia.


Ardi kesal hari ini semua rencananya buyar gara-gara Rendy. Ia menarik tangan Thalia dan memintanya untuk kembali duduk. "Tunggu sebentar, please?!"

__ADS_1


Thalia mengalah, ia kembali duduk. "Ada apalagi?"  


"Bisa temani aku besok, dokter Thalia?" 


"Kemana? Aku harus ke rumah sakit besok." Thalia mencoba mengelak.


"Jangan bohong, aku tahu jadwalmu besok kosong. Tante Alena sudah cerita semuanya." 


Tante Alena, rupanya dia yang ngerjain aku. Pantesan Ardi tahu aku dirumah.


Thalia masih belum menjawab, Ardi bertanya sekali lagi. "Atau kamu mau pergi sama dia?"


"No, big no of course! Ok, aku temenin kamu. Jam berapa?" 


"Deal. Jadi bisa pulang sekarang sudah sore juga?" pinta Thalia.


"Baru kali ini saya jalan sama perempuan takut sama jam sore apalagi jam malam." sahut Ardi menertawakan Thalia.


"Saya nggak biasa keluar rumah kecuali buat kerja. Terlalu lama diluar bikin saya nggak nyaman."


Perdebatan mereka tidak akan pernah selesai, keduanya sama-sama keras kepala. Ardi memilih untuk mengalah, mereka kembali pulang. Rasa kantuk menyerang Thalia sesaat setelah mereka meninggalkan pelataran parkir.


Semalaman terjaga memikirkan Erick, dan kini tubuhnya terasa lelah. Thalia pun terlelap. Ardi tersenyum melihat wanita cantik di sebelahnya tertidur. 


Dalam tidurnya pun Thalia masih terus memikirkan Erick. Bayangan kabur yang tadi dilihatnya membuat dirinya penasaran. Thalia memimpikan Erick. Pemuda yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya, tapi ia bisa melihatnya lewat kemampuan yang dimilikinya.

__ADS_1


Thalia berada di suatu lorong rumah sakit. Ia menatap Erick dari kejauhan. Seseorang berdiri di samping ranjang Erick, Thalia tidak bisa melihat jelas siapa itu. Konsentrasi nya hanya kepada Erick. 


Dia sudah sadar … syukurlah, i Miss u.


Thalia hanya bisa menangis dalam diamnya. Ia tidak ingin mendekat lagi meski ia bisa. Sudah cukup baginya melihat Erick dari kejauhan.


Get well soon, Erick …,


Sentuhan lembut Ardi membangunkan Thalia dari tidurnya. Thalia membuka matanya, dan terkejut mendapati wajah Ardi yang begitu dekat dengannya.


"Hai, sudah bangun?"


Thalia tersenyum, meski sebenarnya ia malu karena tertidur selama perjalanan, "Apa kita sudah sampai?"


"Sudah, kamu manggil nama dia tadi. Kamu merindukannya?" tanya Ardi tanpa menjauhkan wajahnya dari Thalia.


Thalia terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ardi terus menatapnya membuat jantung Thalia berdetak cepat. Dan yang ditakutkan Thalia terjadi. Ardi kembali mengambil kesempatannya, mencium lembut bibir Thalia. 


Tangan Ardi mengunci Thalia agar tidak bergerak menjauh darinya. Ardi membuatnya melayang, ia merasakan kembali sensasi berciuman yang telah lama dilupakannya. Ardi memperlakukan Thalia begitu lembut, *****4* dan menghis4p bibir manis Thalia. Ia berhenti ketika Thalia kehabisan nafas.


Wajah Thalia terasa memanas, pipinya merona. Ini adalah ciuman pertama bagi Thalia dengan orang lain setelah perceraiannya. Dan Ardi mengingatkannya kembali dengan rasa itu.


"Maaf." Kata Ardi sambil mengusap jarinya ke bibir Thalia yang basah akibat perbuatannya.


Damn … Ardi, kamu bikin jantung saya lepas dari tempatnya!

__ADS_1


__ADS_2