
Thalia akhirnya bisa mengendalikan diri setelah beberapa lama. Nafasnya kembali teratur dan sakit itu mereda meski tidak sepenuhnya menghilang. Rasa mengantuk yang luar biasa menyerangnya, ia pun terlelap tidur.
Kelebatan peristiwa muncul dalam mimpinya. Semuanya hitam putih layaknya film jaman dulu diputar. Sebuah rumah besar, keramaian seperti hajatan warga, rumah yang sedang dalam pembangunan, dan terakhir berhenti dengan siluet dua orang pria tampan. Perlahan siluet itu semakin jelas terlihat.
Dua pria tampan memakai pakaian batik dengan motif yang unik berdasar kain putih dengan motif sulur tumbuhan didominasi warna merah. Batik berlengan pendek yang mereka kenakan tampak begitu pas melekat di tubuh mereka.
Salah satu pria berwajah sedikit dewasa, ia tersenyum pada Thalia. Sementara yang satu hanya menampakkan wajahnya dari sebelah sisi saja. Bayangan gelap menutupinya, tapi Thalia masih bisa melihat jelas wajah pria itu. Tampan, itu yang terlintas dalam hati Thalia.
Thalia terbangun ketika Sean mengguncangkan tubuhnya. Ia membuka matanya perlahan dengan malas.
"Thalia, bangun!"
"Sean, kapan datang?"
"Barusan, waktu aku masuk kamar kamu mengigau? Kamu sakit?" tanya Sean. Tangannya menyentuh kening Thalia.
"No I'm ok, just a little tired."
(Nggak apa-apa cuma sedikit lelah)
"Kamu belum makan malam kan, yuk makan bareng." ajak Sean sambil menarik tangan kakaknya.
"Apa menu malam ini, Sean?" tanya Thalia
"Soto daging, tadi aku beli waktu pulang?"
"Eeh, tumben beli nggak masak nih?"
"Thalia, don't ask again. Just eat that ok?!"
( Thalia, jangan tanya lagi. Makan saja ok?)
"Ok, fine. Thank you Sean!"
__ADS_1
Dua mangkuk soto daging lengkap dengan nasi merah sudah siap di atas meja. Sean benar-benar menjaga Thalia dengan baik.
Thalia duduk manis dan langsung menyantap makan malamnya.
Sean menanyakan pada Thalia pekerjaannya hari ini. Thalia pun bercerita tentang kedatangan Ardi dan juga perkembangan Langit. Sean mendengarkan cerita Thalia dengan baik. Sesekali ia akan tersenyum saat Thalia bercerita.
"So, teman gaib Langit sudah kamu bereskan?" tanya Sean
"Belum tuntas, Minggu aku harus ke Bogor mungkin. Mengembalikan rumah mereka di sana." jawab Thalia.
"Aku antar?"
"Kamu kan repot kalo weekend Sean?"
"It's ok, ada Ranti yang jaga resto." Jawab Sean sambil membereskan piring dan mangkuk yang kotor.
"That's good … aku nggak mau sendirian sama Langit, merepotkan!"
Thalia membantu Sean mencuci piring kotor, dan Sean merapikan meja makan.
"Aneh? Aneh gimana?"
"Sakit badan kamu, nyeri di tulang punggung or something weird?"
Sean berpikir sejenak, "Nggak tuh, kenapa apa kamu ngerasain sakit itu?"
"Iyaa, tadi pas aku baca novel. Badanku terasa aneh." jawab Thalia
Sean mendekati Thalia dan menyilangkan tangan di dadanya. Ia menatap Thalia menunggunya bercerita.
"Sesuatu yang aneh terjadi setiap aku baca novel dia, Sean."
"I'm listening."
__ADS_1
"Rasanya sedikit menyiksa … bisikan itu yang sedikit mengangguku." Thalia membayangkan kembali rasa yang dialaminya juga bisikan aneh.
"Bisikan apa, menakutkan? tanya Sean
"No, bisikan itu bilang … terima, jangan ditolak dia datang untukmu." jawab Thalia yang otomatis membuat mata Sean terbelalak.
"What the hell, terus gimana?!"
"Entah, aku langsung tertidur trus mimpi ketemu sama dua orang."
Thalia kembali menceritakan mimpinya. Entah ada hubungannya atau tidak tapi Thalia merasa mimpi itu janggal. Sean menarik nafas panjang. Ia mencoba memahami Thalia saudari kembarnya.
Kemampuannya melihat masa depan memang pernah dibuktikannya sendiri. Tapi kali ini entah mengapa Sean sedikit gelisah. Ia merasa sesuatu yang aneh sedang terjadi pada Thalia, feeling sebagai saudara kembar mengatakannya.
*****
Mereka duduk di ruang tengah dengan kesibukannya masing-masing. Thalia kembali melanjutkan membaca novel tadi. Rasa itu kembali menyerang, tapi Thalia mengabaikannya. Ia tidak mau terlihat buruk di depan Sean. Sekuat tenaga Thalia menahannya.
Ponselnya bergetar menunjukkan panggilan suara masuk. Itu Ardi. Thalia berdecak dan memilih tidak menjawab. Ponsel ia letakkan di meja dan dibiarkan begitu saja. Bunyi getaran ponsel Thalia mengganggu Sean.
"Thalia, Answer the phone!" teriak Sean
( Thalia, jawab telepon itu!)
"No,I don't like him!"
( Nggak, aku nggak suka dia!)
"Your phone keeps ringing and I hate that!"
( Teleponmu akan terus berbunyi dan aku benci itu!)
Thalia mendengus kesal, akhirnya ia menjawab panggilan masuk itu dengan terpaksa.
__ADS_1
"Hai sayang, Miss me?!"
" … "