
Sean melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah lewat dari satu jam Vina belum juga datang.
"Janjian jam berapa sama Vina?"
"Katanya jam tujuh, tapi kenapa belum datang juga." jawab Thalia mulai gelisah.
"Biasalah ngaret paling." Sean kembali asyik dengan notebook kesayangannya. Sesekali ia memperhatikan tingkah Thalia yang juga asyik mengobrol dengan kelima sosok tak kasat mata yang tidak bisa dilihatnya.
Sean hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudari kembarnya. Ia sudah hafal diluar kepala dengan tingkah Thalia. Suara mesin mobil terdengar baru saja dimatikan.
"Itu kayaknya Vina, coba kamu lihat?!" kata Sean.
Thalia berdiri dan melangkahkan kakinya ke bagian depan rumah. Benar kata Sean mobil Vina sudah berada di halaman rumah lengkap beserta Langit dan dua orang pengasuhnya.
"Tante Thalia!" sapa Langit dengan ceria dari dalam mobilnya.
"Hai sayang, mana mama kamu?" tanya Thalia sambil mencari sosok Vina ke dalam mobil.
"Mama nggak jadi ikut, dia pergi sama papa!"
"Eeh, kok nggak ngabarin Tante dulu sih?!" ujar Thalia kecewa.
Mobil lain datang menyusul dibelakang mobil milik Vina. Ardi datang dengan gagahnya ia turun dari mobil membawa seikat bunga mawar putih yang cantik sekali. Thalia terkejut melihatnya,
"Ini buat kamu." kata Ardi seraya mengulurkan buket bunga pada Thalia
__ADS_1
"Wow, white rose … kita mau pergi mengurus sesuatu kan? Not dating?" Thalia menerima bunga dari Ardi dengan rasa heran.
"This, for our friendship! Semoga kamu suka bunga ini."
Thalia menatap pria tampan dengan rambutnya yang terlihat basah dan rapi itu dengan tatapan tidak percaya. Thalia menghargai usaha Ardi untuk menyenangkan hatinya.
"Ok, makasih. Aku suka bunga ini."
Ponsel Thalia berdering, itu Vina.
"Hai Vin, ini gimana kenapa kamu malah pergi sendiri?!" tanya Thalia tanpa menunggu Vina menjawab.
"Sori, rapat mendadak Thalia. Nggak apa kan cuma Langit aja yang kesana? Aku bawain dua pengasuh buat dia, cemilan dia juga komplit kok!"
"Iya sih, tapi harusnya kamu juga ikut. Kamu ibunya dan bertanggungjawab untuk itu!"
"Eh, apa katamu?"
"Nothing, bye Thalia … selamat bersenang senang!"
Belum sempat Thalia menjawab, Vina sudah menutup teleponnya. Thalia mendengus kesal pada sahabatnya itu. Ia merasa sedang dipermainkan.
Sean keluar melihat siapa yang datang, ia melihat Ardi dan juga Thalia dengan buket bunga mawar.
"Kita jadi pergi?" tanya Sean
__ADS_1
"Iya jadi, bentar aku taruh ini di dalam." jawab Thalia yang segera berlalu masuk ke dalam.
"Kamu juga ikut?" tanya Ardi pada Sean
"Iya, aku nggak mungkin kan lepasin Thalia cuma berdua denganmu?" yanya balik Sean.
"Kamu nggak percaya aku?"
"Bukan nggak percaya, tapi belum. Dan aku nggak mau kecolongan kamu curi start sama Thalia."jawab Sean dingin
Ardi tertawa melihat sikap Sean, tapi ia memahaminya. Sean hanya ingin melindungi Thalia. Berdasarkan info dari Vina Sean memang sangat menyayangi Thalia. Sean bahkan menjaga Thalia bagaikan gelas kristal, tidak sembarang orang bisa mendekati Thalia. Apalagi sejak perceraian Thalia, Sean lebih mirip bodyguard dari pada seorang adik.
"Kita pergi sekarang, aku nggak mau kena macet yang luar biasa?!" ajak Thalia begitu keluar dari rumah.
"Ok, kamu mau ikut mobil Vina, pakai mobil sendiri atau ikut mobil aku?" tanya Ardi disambut tatapan dingin Sean.
"Sean?" tanya Thalia
Sean menatap Thalia sekilas lalu menjawab, "Kita pakai mobil Ardi aja, kamu yang bawa kan. Saya lagi males soalnya?!" jawab Sean sambil berlalu meninggalkan Thalia dan Sean.
Ardi tertawa kecil melihat gaya Sean yang bossy baginya.
"Sean, luar biasa dia menguji kesabaran ku Thalia!" katanya lirih pada Thalia sambil berjalan.
"Yup, itulah dia. Sebaiknya kamu jaga sikap, mas Ardi?!" sahut Thalia tersenyum, ia merasa nyaman karena Sean ada disisi Thalia.
__ADS_1
"Kalian nggak bisa jalan cepat? Udah siang macet pasti!" seru Sean yang kesal menunggu, padahal mereka hanya berjarak kurang dari 5 meter. Ardi mendengus kesal tapi hanya bisa pasrah menghadapi saudara kembar Thalia.
Damn, ini akan jadi hari yang menyebalkan … dia ganggu rencana ku aja nih!