Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 102


__ADS_3

Sean membuka matanya saat Thalia keluar dari kamarnya. Dengan menahan sakit ia kenali berbalik dan mencoba untuk duduk. Tubuhnya sedikit pegal dan nyeri akibat benturan tadi. Ia meraih segelas jus tomat yang telah disiapkan Bi Inah.


Kepalanya masih terasa pusing karena pengaruh minuman beralkohol yang sama sekali belum pernah disentuh seumur hidupnya. Kedua orang tua Thalia dan Sean bukan melarang keduanya untuk mencoba, mereka orangtua yang cukup open minded tapi mereka tidak menyarankan kedua anaknya untuk mencobanya meski hanya seteguk.


Pendidikan di luar negeri yang sempat keduanya jalani memang menawarkan kehidupan duniawi yang luar biasa, gemerlap dunia malam selalu menggoda jiwa muda Sean dan juga Thalia, tapi sejauh ini keduanya bisa mengontrol untuk tidak latah dan ikut ikutan yang lain. Sekali lagi peran orang tua sangat mendominasi perkembangan anak-anaknya.


Tapi untuk kali ini pertahanan Sean jebol. Ia tidak sanggup lagi menahan ujian hidupnya. Sean yang selalu melindungi Thalia juga harus dihadapkan pada kehidupan pribadinya yang tidak jauh amburadul. Usianya yang lebih dari cukup untuk menikah membuatnya semakin pemilih dalam menentukan pasangan hidup.


Natasya, wanita yang pernah mengisi hidupnya dan menghiasi harinya dengan canda tawa kini telah pergi membawa separuh jiwanya pergi. Tadinya ia sungguh berharap Natasya adalah yang terakhir baginya. Tapi kenyataan yang ia dapatkan justru sebaliknya. 


Takdir Tuhan membawanya pada sebuah peristiwa mengerikan yang tanpa sengaja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia ngeri dan takut membayangkan peristiwa itu. Sean tidak berencana membaginya dengan siapapun, tapi ia juga tidak sanggup untuk menyimpannya sendiri.


Efeknya tentu saja bisa tertebak, mabuk menjadi pilihannya untuk melupakan persoalannya sejenak. Sean yang belum pernah menyentuh minuman beralkohol dengan tingkatan terendah sekalipun harus mengakui kelemahan tubuhnya saat tegukan pertama. 


Sean limbung, tapi masih bisa mengontrol tubuh dan menjaga kesadarannya meski sulit. Ia berhenti ketika mencapai batasan akhir dan tidak meminum lebih dari yang ia mampu. 


Sean meminum habis jus tomat itu dan kembali mencoba memejamkan matanya. Ia lelah, sedih, kalut, emosi, semuanya bercampur menjadi satu. Dalam keadaan setengah sadar bulir-bulir air mata jatuh dari sudut matanya.


*****


Pagi menjelang, keributan yang ditimbulkan Sean dini hari tadi cukup membuat Thalia kehilangan waktu tidurnya. Ia terjaga hingga adzan subuh berkumandang dan masih belum bisa tertidur hingga jam menunjukkan pukul delapan pagi.


"Sean, apa kamu sudah bangun?" Thalia masuk ke kamar dan membuka tirai jendela. 


Cahaya yang menerobos masuk kedalam kamar membuat Sean membuka matanya dengan paksa. "Thalia, aku masih mengantuk."

__ADS_1


Sean kembali menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Thalia mendekati tepi ranjang dan membuka perlahan selimut Sean. "Sampai kapan kamu akan bersembunyi Sean?"


Thalia melirik gelas kosong diatas meja kecil, ia lega Sean menuruti perkataannya. "Aku masih mengantuk, biarkan aku sendiri?!" 


"Dan restoran mu?" tanya Thalia menyelidik.


"Karyawan senior akan mengurusnya." Sean menjawab dengan berbalik badan menghindari Thalia lagi.


Thalia menghela nafas panjang, "Masih pusing?"


"No."


"Kau mau bicara atau aku akan menghipnotismu sekarang?!" ancam Thalia.


Its worked, Sean langsung berbalik menghadap Thalia dan menjawab, "Don't you dare!"


Sean menatapnya sendu, jelas terlihat gurat kesedihan di dalamnya. Ia mencoba untuk duduk dibantu Thalia. "Ada apa?"


"Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat." jawabnya lirih.


"What is it, ghost? Or something else?"


Sean menatap Thalia, "I'm not you! I can't see the ghost!"


"Lalu?"

__ADS_1


"Murder, aku melihat kejadian itu Thalia! I saw someone kill a woman!"


"Apa?! Sean jangan bercanda!" Thalia terkesiap.


"Siapa? Gimana kejadiannya?!"


"Natasya … aku nggak ngira dia akan bertindak sejauh itu, help me Thalia?! Dia mengancamku, help me?!" Sean mulai histeris.


Thalia terkejut dengan pernyataan Sean, ia sama sekali tidak mengira saudara kembarnya itu akan mengalami kejadian yang mengerikan.


Sean kemudian menceritakan bagaimana ia bisa menjadi saksi peristiwa mengerikan yang melibatkan Natasya kekasihnya. Sean yang baru saja putus dari Natasya berniat menjemputnya untuk makan malam bersama. 


Setiba dirumah Natasya, Sean berniat mengirim pesan pada Thalia bahwa ia pulang larut. Baru saja ia mematikan mesin mobilnya, ia melihat Natasya keluar memakai Hoodie berwarna gelap. Ia tampak sangat tergesa gesa memasuki mobilnya. 


Sean yang curiga memutuskan untuk mengikuti mobil Natasya, ia mengambil jarak aman dan melihat Natasya keluar dengan kepala yang sudah tertutup tudung dan masker menutupi wajahnya. Natasya bersembunyi dalam gelap, seperti menunggu seseorang.


Sean mulai ketakutan melihat Natasya, berjuta pertanyaan muncul di benaknya. Ketakutan Sean terbukti ketika seorang wanita melintasi jalan sendirian di tengah gelapnya malam. Natasya menyergapnya dan mengayunkan pisau tajam ke tubuh wanita malang itu.


Sean berteriak dalam mobilnya dan memilih diam. Kejadian itu begitu cepat dan Sean tidak bisa melakukan apa-apa. Yang tersisa dari dirinya hanya kengerian dan ketakutan.


Thalia mendengarkan dengan baik sampai Sean selesai bicara. Sean yang gemetar, dan kalut hanya bisa terisak. Ia benar-benar shock. Thalia memeluknya dengan erat, dan perlahan mengusap punggung Sean.


"Tenanglah Sean, ada aku disini. Semuanya akan baik-baik saja. Tenang … jangan panik, semuanya akan teratasi … semuanya akan kembali normal … kamu bisa, kamu kuat, kamu akan melewati masa ini dengan baik." Thalia perlahan memberikan sugesti pada Sean.


"Menangis lah, sepuasnya … lepaskan semua bebanmu, Sean."

__ADS_1


Bukan, bukan ini cerita yang aku harapkan Sean! Misteri itu belum terkuak, bukan Natasya yang aku lihat … haruskah aku menghipnotis mu sekarang?!


__ADS_2