
Thalia melangkahkan kakinya ke ruang tamu, ia bertanya tanya siapa gerangan tamu untuknya yang datang semalam ini.
Seseorang menantinya dengan hati cemas. Sesekali ia melirik jam tangannya, sesekali ia melihat lukisan di dinding yang terpasang apik. Lukisan burung Phoenix dengan semburat keemasan dan garis yang tegas membuat lukisan itu seolah hidup. Foto keluarga tampak berada di dinding sisi kiri. Ia tersenyum melihat wajah Thalia yang cantik. Wajah yang telah menghantui di setiap malamnya akhir-akhir ini.
Langkah Thalia semakin mendekat, ia semakin penasaran hingga akhirnya ia menemukan seraut wajah yang beberapa waktu lalu ia temui.
"Pak David?"
David tersenyum saat namanya dipanggil. Wanita cantik bergelar psikolog yang membuatnya penasaran telah berdiri di depannya dengan pakaian rumah yang santai membuat parasnya semakin ayu.
Ngapain ni orang kesini? Untung aja aku pake baju bener, lagian malem-malem datang waktunya orang mau tidur lagi! sungut Thalia dalam hati.
"Malam dokter Thalia … maaf mengganggu waktu istirahat nih." jawabnya dengan mengulurkan tangan pada Thalia.
"Ehm, nggak juga sih cuma bikin kaget aja malam-malam. Ada perlu apa ya pak kesini, apa ada yang kurang dari keterangan saya" Thalia menyambut tangan David.
"Eeh, nggak kok. Kebetulan saya lewat sini, penasaran aja pengen tau betul nggak ini alamat dokter?"
" … " Thalia bingung dari sikapnya David tampak ragu menjawab, artinya ada sesuatu yang lain. Dan jawabannya tadi hanya pura-pura saja.
"Jadi … sekarang udah tahu kan, rumah saya disini." Thalia memaksakan senyumnya.
David tampak canggung, jika dikantor dia bisa bersikap tegas dan garang tapi dihadapan Thalia ia gugup. Apalagi hanya ada mereka berdua. Thalia terus memperhatikan David, membuatnya semakin salah tingkah.
"Pak David lagi sakit?"
"Eh, nggak? Emang kenapa?" jawabnya gugup
"Kok keringetan gitu? Malam ini kan dingin lho? Apa lagi nggak enak badannya?" Thalia seolah tidak memahami kondisi yang dialami David.
"Oh, nggak kok. Badan saya suka begini kalo dingin tapi keringetan."
Thalia tersenyum. Sikap David jelas-jelas menunjukkan sikap layaknya orang mau menyatakan cinta.
Kenapa dia, jangan-jangan … ada apa dengan kalian para lelaki?
"Kamu besok ada acara?" tanya David langsung.
Naah kan bener tebakanku, urusan Ardi sama Rendy aja kacau masih ditambah dia? Berasa Trophy bergilir saya!
"Kebetulan besok ada, gimana? Ada apa nih?"
__ADS_1
"Kapan kamu ada waktu kosong?" David sepertinya sangat berharap Thalia mau meluangkan waktu untuknya.
"Ehm, lusa gimana? Tapi saya ada jadwal di rumah sakit. Mau ketemu jam berapa memangnya?" tanya Thalia.
"Makan siang bareng gimana?" tanya David memastikan Thalia bersedia.
"Oke, insyaallah ya takutnya ada keperluan mendadak."
"Yaaah, jangan dong sekali aja dok sempetin buat saya sebentar saja." pinta David.
Thalia mengulum senyum, "Saya usahakan pak David."
David melirik jam tangannya, ia tidak ingin dianggap tidak sopan oleh Thalia.
"Sudah malam, saya pulang dulu. Maaf mengganggu waktu istirahat nya."
"Lagian pak David kesininya malem-malem bikin orang jantungan!" sahut Thalia.
"Eh, kenapa gitu?"
"Ya nggak apa-apa sih, cuma tadi saya kira orang lain yang dateng." jawab Thalia santai tanpa memperhatikan ekspresi wajah David yang berubah masam.
"Nggak sih, cuma khawatir aja ada orang aneh dateng."
"Oh, gitu. Oke deh saya pulang dulu. Sampai ketemu lusa ya?!" pamit David.
Thalia tersenyum dan mengangguk, ia sengaja tidak mengantarkan David sampai keluar rumah. Thalia malas dan juga lapar.
Satu lagi pria aneh yang harus aku hadapi ya … sabar, sabar …,
Thalia bergegas ke dapur, perutnya benar-benar meronta. Sang asisten rumah tangga rupanya juga sedang memasak, Thalia mengintip.
"Masak apa Bi?"
"Bikin mie rebus non, mau?"
"Nggak deh, bisa buatin telur dadar yang pedas nggak. Saya lapar." pinta Thalia
"Bisa dong, ya udah non tunggu di meja sana nti bibi anterin."
"Makasih bi." Thalia meninggalkan dapur dan duduk di ruang keluarga dan menyalakan televisi.
__ADS_1
Tidak ada acara yang menarik, Thalia berkali kali mengganti channel. Hingga akhirnya ia memilih salah satu acara komedi. Sedikit hiburan untuk membuat dirinya rileks.
Di tengah asyik menonton televisi, rasa itu datang. Thalia merasa Erick memanggilnya, ia terdiam sejenak. Rasa itu begitu lemah terasa, Thalia tahu Erick sedang merasakan sakit karena efek bius sudah hilang.
Erick … sabar, kamu pasti bisa kok ngelewatinnya! Bisiknya pelan.
Thalia merasakan nyeri yang sama di bagian perutnya yang menjalar hingga ke punggung.
Pasti sakit ya … nggak nyaman kan? Bertahan ya Beib!
"Non, udah jadi ni makanannya?!" Bi Inah membuyarkan konsentrasi Thalia.
"Makasih bi … sini temenin saya makan disini. Bibi udahan makannya?!" tanya Thalia.
"Belum non."
"Ya udah bawa sini kita makan bareng." pinta Thalia.
Thalia dengan lahap memakan makanannya ia benar-benar lapar. Ia melupakan sejenak rasa nyeri itu. Dalam sekejap nasi dan telur dadar itu habis tak bersisa. Bi Inah menggelengkan kepala melihat majikannya makan seperti orang kelaparan saking cepatnya.
"Non, kok cepet banget makannya? Saya aja belum selesai nih?"
"Laper Bi." jawab Thalia singkat
Tiba-tiba rasa nyeri disertai mual kembali menyerang. Thalia berusaha menahannya. Rasa itu seolah menyerangnya berkali lipat. Keringat dingin mulai membanjiri Thalia.
"Duh telat makan ini, maag ku kambuh." gumam Thalia.
Tapi rasa itu berbeda, Thalia seolah mencium bau obat yang menyengat di hidungnya.
Ini bau rumah sakit …, batinnya.
Kepala thalia terasa berat dan pusing karena aroma itu. Perutnya semakin tidak bisa diajak kompromi lagi. Thalia berlari dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Bi Inah ikut berlari menyusul Thalia ke kamar mandi. Ia membantu memijat tengkuk Thalia agar bisa mengeluarkan isi perut nya dengan lega.
"Walah non, ada apa? Masuk angin ya? Mau dikerokin apa sama bibi?"
Thalia tidak menjawab, rasa panas, dingin, dan nyeri yang menjalar hingga ke tulang belakangnya membuatnya kembali mual. Semuanya habis tak bersisa, Thalia lemas.
Apa ini? Aku kenapa?
__ADS_1