Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 44


__ADS_3

Thalia semakin erat mencengkram tangan Ardi, rasa tidak nyaman itu semakin ia rasakan menyiksanya. Rupanya makhluk jelek berkepala aneh itu mulai berani mendekati Thalia. Ia tertawa dan menghilang lalu muncul lagi tepat di sisi kanan Thalia membuatnya terkejut.


Ardi yang melihat perubahan sikap Thalia mulai memahaminya,


"Apa ada sesuatu disini?" tanyanya pada Thalia.


Thalia tidak menjawab ia hanya menatap Ardi dengan senyuman miring,


"Don't ask, please?!"


(tolong, jangan tanya?!)


"Oh, pantes aja kamu pegang tanganku! Takut?!"


"No, cuma kaget!" elak Thalia


"Kaget yang menyenangkan!" bisik Ardi di telinga Thalia.


"Eh, kok gitu?"


"Menyenangkan untukku." jawab Ardi santai.


Thalia yang masih merasa tidak nyaman karena makhluk itu terus memutar dan menatapnya dengan mata besarnya yang jelek akhirnya harus pasrah dengan godaan Ardi. Makhluk itu menyeringai kembali padanya menampakkan barisan gigi jelek, hitam, tajam dan bau anyir darah. 


Aku suka baumu …,


Thalia bergidik ngeri mendengar perkataan makhluk jelek itu. Ia menguatkan dirinya dan berganti menatap si makhluk lalu berkata,


Dan aku benci bau anyir, pergilah atau aku nggak jamin kamu tetap bisa ada disini!


Makhluk itu tertawa dengan suaranya yang tinggi. Suaranya itu bahkan membuat Thalia harus memejamkan mata karena telinganya terasa sakit.


Kau menantangku, baru kali ini ada yang berani menatapku …,

__ADS_1


Pergilah, aku nggak mau berurusan denganmu!


Nasib baik masih berpihak pada Thalia, pintu lift terbuka lebar. Makhluk itu menghilang yang tersisa hanya suaranya.


Kita akan bertemu lagi …,


Siapa yang sudi ketemu sama kamu lagi, dasar makhluk jelek!


Ardi menarik tangan Thalia keluar dari lift. Thalia mengikuti langkah Ardi hingga mereka berhenti di sebuah ruangan bertuliskan CEO. Thalia mengerutkan keningnya, seketika bayangan cerita dalam novel memenuhi benaknya.


Eh kenapa kayak di novel-novel gitu sih, berasa seperti main di dalam cerita ala CEO …,


Thalia ragu untuk masuk ke ruangan Ardi, ia berhenti melangkah dan terdiam. Hal itu membuat Ardi heran dan bertanya pada Thalia,


"Ada apa, lihat penampakan lagi?" tanya Ardi sambil menengok ke arah kanan dan kiri seolah mencari sesuatu.


"Eh, nggak kok cuma …"


"Oke." Thalia akhirnya melangkahkan kakinya memasuki ruangan Ardi.


Ruangan Ardi cukup luas dengan satu set kursi tamu yang cukup empuk dan meja kerja elegan berwarna hitam. Nama Ardi tertulis sangat jelas di atas mejanya dengan tinta emas. 


Thalia duduk di sofa dan kembali mengeluarkan ponselnya, sementara Ardi langsung ke meja kerja menandatangani berkas yang sudah disiapkan sekretaris nya. Thalia kembali membuka pesan dari Erick dan tak lama sebuah pesan baru muncul, senyum Thalia mengembang.


Hai, maaf saya sibuk. Maaf jika pertanyaan saya bikin kamu nggak nyaman, I'm sorry. Cuma memastikan saja supaya enak kedepannya.


Kedepannya? I see, so kamu mau berteman sama aku? balas Thalia.


Berteman itu tanpa syarat Thalia.


Kamu belum jawab pertanyaan aku berapa umur kamu? 


Thalia kembali mengirimkan pesan. Jantungnya bak rollercoaster, ia kembali gelisah. Thalia merutuki sikapnya yang persis seperti anak remaja jatuh cinta. 

__ADS_1


Eh, rasanya kayak ABG labil aja siih … Thalia sadar dong kamu dah berapa umurnya! 


Thalia tersenyum sendiri, Ardi yang tak sengaja melihat Thalia tersenyum menjadi penasaran. Ia meletakkan penanya dan asyik memperhatikan Thalia dari kursi kerjanya.


Cantik, apalagi kalau tersenyum gitu … pintar juga, cuma sayang hatinya sekeras batu. Butuh ekstra usaha sepertinya buat dapetin hatinya. Dia, bukan wanita yang mudah terbuai rayuan juga materi. Good, i like her!


Thalia kembali tersenyum membaca ulang balasan dari Erick. Ia masih menunggu pesan balasan. Rasa nyeri kembali menyerangnya, Thalia segera membuka ponselnya notifikasi dari Erick datang. Senyumnya kembali mengembang.


Umur saya? Dah tua


Thalia menggigit bibirnya, dengan hati yang tidak karuan ia kembali membalas.


Berapa emang? 


23 tahun


Thalia terkejut bukan kepalang. Tangannya gemetar, kepalanya terasa pusing, dan dadanya sesak sekali. Ponselnya diletakkan begitu saja, Thalia lemas. Kepalanya terasa ditusuk ribuan jarum, nyeri.


Ya Tuhan apa aku nggak salah baca, 23 tahun itu jauh banget … bodohnya aku jatuh cinta sama dia!


"Thalia, are you ok?" Ardi tiba-tiba ada sudah berada disampingnya, mengagetkan Thalia.


"Eh, ya I'm ok! Cuma sedikit pusing?" jawab Thalia


"Apa ada masalah? Tadi perasaan aku lihat kamu senyum sendiri kenapa berubah jadi sedih begini?"


Thalia hanya menanggapi pertanyaan Ardi dengan senyuman, dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri.


Andai kamu tahu Ardi betapa bodohnya aku! I fell in love with a young man!


Hari ini rasanya kayak dalam aplikasi novel yang satu CEO sementara yang lainnya berasa di dunia misteri, eeh tunggu dulu ...,


Damn … saya berasa dalam novel Terjebak Cinta Berondong!

__ADS_1


__ADS_2