Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 123


__ADS_3

Elang menatap Thalia dengan malas dan kesal. Paginya terasa buruk dengan kehadiran Arga di kosnya. Beradu argumen dengan pria yang berlabel ayahnya itu jelas bukan bagian dari mimpinya semalam.


Elang, mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik kimia di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta itu sebenarnya bukan termasuk dalam kategori nakal seperti yang dikatakan David. 


Nyatanya Elang memiliki prestasi yang cukup memuaskan, ia tidak pernah mengabaikan kuliahnya meski memiliki segudang aktivitas diluar kegiatan perkuliahan. Itu artinya Elang cukup bertanggungjawab atas dirinya terlepas dari kecanduannya pada alkohol.


"Hai El … saya Thalia."


"Iya, udah tau." Elang menjawab sapaan Thalia dengan singkat dan malas.


Thalia tersenyum, kelebatan ingatan Elang sudah didapatkan. Beberapa poin penting yang menjadi ganjalan Elang terbaca olehnya.


Maaf El, tapi saya harus bekerja dengan cepat untuk kamu kalo nggak … David bisa menghukum saya semalaman di ranjang, uups … otak saya berubah miring sekarang!


"Udah sarapan?" tanya Thalia lagi.


"Nggak perlu, langsung aja deh ada apa ini?" Elang tidak mau berbasa basi bahkan melihat ke arah Thalia pun tidak.


Thalia melirik ke arah Anita dan Arga, "Bisa tinggalkan kami berdua? Saya butuh ruang steril tanpa kalian."


"Oh, tentu saja. El, jaga sikapmu dengan dokter Thalia!" Arga berpesan sedikit keras pada Elang. Ia pun pergi meninggalkan ruangan bersama Anita.


"Cckk, dokter? Emang saya sakit, pake segala harus ketemu dia?!" gumaman Elang terdengar di telinga Thalia, membuatnya tersenyum.


"Saya setuju sama perkataan kamu."


"Bagian mana?" 


"Kamu nggak sakit." Thalia menatap Elang, ada gurat kecewa dan sedih yang Elang sembunyikan.


"Mau duduk atau berdiri aja nih?" Thalia berusaha mengimbangi sikap Elang.


"Tiduran juga boleh!" Elang akhirnya menatap wajah Thalia. 


Wajah Thalia yang cantik membuat pikiran mudanya tergelitik memikirkan hal kotor pada Thalia. Ia tidak tahu Thalia itu spesial.


"El, don't even try… I know what you think of me?!" Thalia kembali tersenyum saat melihat apa yang Elang pikirkan.


Elang bingung dengan perkataan Thalia, "Emang saya mikirin apa?"


"Tidur dengan saya, menyentuh dan melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama kamu? Am I right?" Thalia mengembangkan senyumnya, ia tidak menyangka pemuda yang berdiri di depannya bisa membayangkan kegiatan panas dengannya sepagi ini.


Wajah Elang merah padam menahan malu, ia sama sekali tidak mengira jika Thalia bisa membaca pikirannya, "Mana ada saya mikir gitu?" 


"Really? Ah, baiklah lupakan … mari kita bicara dulu. Saya mau tahu tentang dirimu as personal?!"

__ADS_1


"Kenapa mau tahu tentang saya, tertarik? Mau jadi pacar saya?" Pertanyaan Elang sukses membuat Thalia tertawa.


"Ehm, gimana kalo saya bilang saya tertarik sama kamu?"


"Maaf tapi saya nggak tertarik." 


Thalia kembali tertawa, sifat Elang yang blak-blakan dan apa adanya cukup membuatnya semakin penasaran.


"Wow, sikap kamu ini justru bikin banyak perempuan yang jatuh hati. Punya banyak pacar?"


"Kenapa emang? Mau daftar jadi yang kelima?"


"Well, andai saya belum bersuami pasti saya daftar. Makasih untuk tawarannya."


"Oh, kirain." Elang sedikit kecewa karena Thalia sudah menikah.


"Don't you dare to mind me El?!"


Elang merasa tertangkap basah karena Thalia berkali kali membaca pikirannya. 


"Serius nanya, kamu bisa baca pikiran saya?"


Thalia tidak menjawab dan hanya tersenyum. "Kita mulai ya, kamu beneran nggak mau sarapan dulu? Saya nggak mau denger perut kamu keroncongan pas sesi konseling. Bikin ngilu telinga?!"


"Nggak." Elang menjawabnya dengan singkat.


"Cck, kalo nggak gegara dia aja yang minta males saya beginian. Apaan pake acara konseling begini, emang saya sakit jiwa?!" Elang menggerutu.


"El, ada yang harus kamu tahu … bertemu dengan psikolog bukan berarti kamu sakit jiwa. Kamu perlu konseling dengan kami untuk mencari akar masalah dan bantu kamu menyikapi masalah."


"Ya, ya … whatever! Mulai dah?!" 


Thalia menatap Elang sejenak, mengirimkan sinyal sugesti untuk terbuka pada Thalia ke alam bawah sadar Elang.


"El, kamu bisa cerita apa aja kesaya. Cerita kamu aman kok."


Elang masih menatap Thalia, berbagi cerita dengan orang yang baru dikenalnya beberapa menit lalu jelas bukan dirinya.


"Kenapa? Nggak percaya juga? Atau saya perlu lakuin hipnoterapi dulu?"


"Nggak perlu, saya bisa ceritain sendiri." Elang langsung menolak tawaran Thalia.


"Apa hubungan sama orang tuamu baik?"


"Nggak."

__ADS_1


"Kamu sayang mereka?"


Elang berpikir sejenak, "Mungkin?!"


"Tell me, tentang perasaanmu ke orang tua."


Elang enggan menjawab, tapi kemudian ia mulai bercerita tentang kedua orang tuanya. Tentang kesedihannya kehilangan sosok ibu kandung, tentang sikap ayahnya yang begitu cepat menikah setelah kepergian ibunya. Dan kekecewaan Elang pada sikap ibu tirinya.


Elang ditinggalkan ibu kandungnya pada usia remaja, kedekatannya dengan sang ibu membuatnya shock berat. Ia berubah menjadi introvet, ketakutan untuk menghadapi dunia luar membuatnya semakin menarik diri. 


Sosok ayah yang seharusnya mendukung malah memaksa Elang agar bisa menjadi sosok lelaki yang kuat yang bisa berdiri sendiri tanpa kehadiran ibu. Itu sangat menyakiti hati Elang.


Ditambah lagi sikap ayahnya bertolak belakang dengan keinginan Elang. Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan Anita, sekretarisnya. Elang menganggap sang ayah mengkhianati dirinya dan almarhumah ibunya. 


Sejak saat itu ia selalu bertengkar dengan ayahnya dan juga ibu tirinya. Elang mencari pembenaran diri dengan keluar dari rumah dan mencari lingkungan yang menurutnya nyaman. Lingkungan yang menerima dirinya dengan baik.


Tapi sebaik-baiknya lingkungan tidak ada yang lebih baik dibandingkan berada dalam keluarga inti. Dan Elang menyadari hal itu. Alkohol menjadi pilihan pelarian Elang. Setiap kali terjadi permasalahan Elang akan menenggak minuman yang memabukkan itu untuk melepaskan himpitan yang menyesakkan dadanya.


"Apa itu membantumu El?"


"Sedikit."


"Apa ada keluhan di badan kamu?"


Elang menatap Thalia sejenak, "Nggak ada, saya juga minum nggak banyak cuma ngilangin pusing aja."


"Seperti tadi malam?"


"Darimana kamu tahu?"


"El, saya nggak baca pikiran kamu. Your smell itu cukup buat saya tahu kamu semalam minum."


"Oh, iya. Biasa aja kok, cuma dikit."


"El, kamu masih muda sekarang mungkin kamu nggak kerasa efeknya tapi setelah umur kamu bertambah alkohol akan semakin kasih kamu efek buruk."


"Udah tahu, nggak usah dijelasin. Makanya saya juga bisa nakar sejauh mana kemampuan badan saya."


Thalia kembali tersenyum, menaklukan Elang bukan perkara sulit. Usaha terakhir Thalia untuk Elang terpaksa diambil. 


"Boleh saya mendekat?"


"Boleh, mau minta dipeluk atau duduk dipangkuan saya juga boleh." jawabnya cengengesan, kembali lagi dia berpikiran kotor pada Thalia.


"Thanks but i didn't do that ... El lihat saya dalam hitungan ketiga kamu akan masuk dalam ingatan terdalammu, dan kamu akan merasakan kantuk yang luar biasa. Satu … dua …. tiga … masuki pikiran kamu El. Kembali ke masa kamu bersama ibundamu?!"

__ADS_1


Elang seketika terkulai lemas dan berada dalam pengaruh Thalia. Ia tertidur dan masuk dalam pikiran terdalamnya sesuai perintah Thalia.


Maaf El, ini bagian terakhir … semoga setelah ini hubungan kalian membaik dan mulai menjauhi alkohol.


__ADS_2