
Erick membuka kamarnya tergesa, meninggalkan Thalia yang berdiri gamang di luar.
"Kamu bisa membuat pintu itu tetap terbuka, Thalia!" ucap Erick salah tingkah. Mungkin Thalia tidak berkenan masuk ke dalam kamar tempatnya menginap.
" … " Thalia tersenyum canggung.
Bimbang antara mau masuk atau tetap tinggal di luar. Akal sehatnya takut mendadak sakit berada dalam satu ruangan sempit bersama pemuda yang hampir membuatnya hilang kewarasan.
Ketika akhirnya Thalia melangkahkan kaki, Erick kembali berkata, "Jangan tutup pintunya, aku tahu kamu takut!"
Thalia tertawa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. "Bukan itu, hanya saja …."
"Takut kena gigit? Itu mustahil terjadi kalau kamu nggak mengizinkan, Thalia!" ejek Erick tersenyum lebar.
Erick mengulurkan batu mustika berwarna biru gelap pada Thalia, "Simpanlah … dia milikmu sekarang! Mungkin sesekali penghuninya akan datang menjengukku!"
"Erick … apa maksudnya ini? Aku tidak bisa," tolak Thalia halus.
"Kamu lebih cocok untuk menyimpan ini, kamu yang menangkap mantranya jadi menurutku khodamku sudah menemukan tuan baru untuk dijaga dan diikuti bersama pasangannya!"
"Jadi semua perasaan ini … hanya tentang ini, tentang penjaga kita? Bagaimana aku bisa ikut merasakannya padamu. Aku … masih tidak mengerti dan percaya hal tidak logis ini!" Thalia menatap Erick dengan mata skeptis sekaligus nanar.
"Aku juga tidak percaya, untuk itulah aku datang … aku juga ingin membuktikan perasaanku. Bolehkah?" tanya Erick ragu-ragu.
Thalia mengernyitkan dahi, "Jangan membuatku bingung, Erick!"
"One kiss, Thalia!" ujar Erick mantap.
"Aku ingin tahu sedalam apa kamu menempati hatiku! Selain itu aku juga ingin tahu jika menciummu di dunia nyata apakah sama rasanya dengan di dunia kita sebelumnya!"
Sambung Erick cengengesan, "Jika kamu berkenan tentu saja!"
Wajah Thalia merah padam mendengar kalimat tanpa basa basi dari Erick. Meski biasanya juga seperti itu tapi menghadapi aslinya rasanya sepuluh kali lebih memalukan. Apalagi Erick jauh lebih muda darinya.
Beruntung Thalia tidak perlu menjawab atau mengangguk, gesture tubuhnya yang tidak berkeberatan membuat Erick langsung mendekat dan mencium lembut pipinya.
"Come close, Thalia!" bisik Erick di dekat telinga Thalia yang sontak meremang.
"Hug me, babe!" lanjut Erick menarik tangan Thalia untuk memeluknya.
Thalia tersentak saat bibir Erick mengecup sudut mulutnya yang sedikit terbuka, terlalu panas dan mendebarkan.
__ADS_1
"Erick …." Suara Thalia yang segera tenggelam oleh ciuman dalam dan basah dari Erick.
"One long kiss, Thalia …," gumam Erick di dalam mulut Thalia. Membagi rindu dan hasrat mudanya yang bergejolak tak terkendali.
"I want you, babe!"
Erick menggila dengan ciumannya yang semakin liar dan menuntut. Hisapan dan gigitan kecil sensualnya menggoda dengan segala janji kenikmatan yang bisa diberikan oleh sebuah ciuman panjang.
"Hentikan aku sekarang, Thalia! Atau semua tidak akan terkendali … I'm on fire!" erang Erick yang enggan melepaskan Thalia.
Thalia mendesahh bimbang, rasa sepinya meronta tidak terima. Terlalu manis dan indah untuk dihentikan, rasa yang selama ini hanya menyiksanya setiap malam ada di depannya. Dia mendongak pasrah, "Don't stop, Erick!"
"Let me kiss you more and more, Thalia!" kata Erick lirih. Ciumannya turun ke bawah rahang Thalia dan mengusap lembut leher Thalia dengan bibir basahnya. Menggelitik dan semakin membuat Thalia tidak tahan untuk merapatkan pelukannya.
"Tangan di atas, Erick!" geram Thalia saat Erick mulai meraba halus punggungnya, menjelajahi sampai bagian depan.
"Soal itu biar aku yang mengatur, ya!" sahut Erick tidak peduli.
Darahnya yang panas ingin segera didinginkan. Dia mengangkat Thalia ke atas tempat tidur dan menindihnya tergesa.
"Tell me that you want me too, Thalia!"
Thalia tidak bisa memutuskan dalam waktu cepat. Antara ingin dan tidak, antara cinta dan hanya gairah sesaat. Meski tidak dipungkiri kalau sentuhan tangan Erick yang nakal di bagian depan tubuhnya sudah membakarnya hingga ke ubun-ubun. "No s3x Erick?!
Mulutnya sibuk bermain di leher bawah telinga hingga bahu Thalia. Tangannya mulai membuka kancing baju atas wanita yang terpejam di bawahnya.
"Tell me, Thalia! Stop it or do it … no s3x means no penetrationn … I can do anything else, like heavy petting!"
Thalia tidak mau menjawab langsung, tapi tangannya masuk ke dalam baju Erick. Memberikan usapan lembut di punggung hingga dada, mengundang secara halus agar Erick tidak menghentikan sentuhannya.
"I love you, Erick!"
Sekelebat bayangan di pikiran Erick membuat aksinya berhenti mendadak. "Sial!"
Kedua anak manusia yang telah tertutup kabut gairah itu berhenti dan saling menatap sejenak. Thalia tahu apa yang dilihat Erick. Mereka masih terhubung.
"You see that moment?" Thalia bertanya.
Erick terdiam sejenak, menatap Thalia dan menjawab. "Iya."
Erick turun dari ranjang dan meninggalkan Thalia. Pemuda itu pergi ke kamar mandi dan menuntaskan segala ketegangannya di sana, sendiri dan memaki.
__ADS_1
Bukan Erick tidak ingin menyentuh Thalia lebih jauh, tapi kerjapan masa depan Thalia terlihat di mata Erick yang tak biasa. Thalia akan segera bersanding dengan pria lain.
Thalia hanya bisa menatap ke pintu kamar mandi yang tertutup, ia hanya bisa mendengar suara kucuran air yang terus dibiarkan mengalir.
Thalia merapikan lagi pakaiannya yang terbuka akibat perbuatan Erick, ia tahu itu salah tapi kerinduannya pada Erick membuat Thalia tidak bisa mengontrol dirinya yang kesepian. Ponselnya berbunyi, David memanggil.
"Ya Dave, ada apa?"
"Apa kamu dirumah?"
"Nggak, aku … sedang ada urusan diluar."
"Jam berapa kamu pulang?"
"Ehm, nggak tau. Kenapa emangnya?"
"Just want to know, I Miss you Thalia?!"
"Eh, apa kamu bilang?" Thalia terkejut mendengarnya.
"I said, I Miss you."
Thalia tersenyum, setidaknya ada David yang bisa menghiburnya saat ini. Pintu kamar mandi terbuka, Thalia segera mengakhiri panggilan David. "Udah dulu ya, nanti aku hubungi kamu lagi. See you?!"
Erick keluar kamar mandi dengan rambut basah. Mandi besar karena baru saja menyelesaikan ritual yang biasa dilakukannya saat merasa bodoh dengan gairah yang mudah tersulut.
Melihat Thalia yang masih terduduk di tepi ranjang, Erick mendekatinya. Membantu Thalia merapikan pakaian juga rambutnya yang sedikit berantakan.
"Call from someone special?" tanya Erick yang dijawab dengan senyuman dari Thalia.
"Gimana kalau kamu ajak aku jalan-jalan saja keliling kota, Thalia? Di kamar otak brilian ku berubah menjadi sangat mesum!" Erick berbicara serius meskipun diiringi dengan senyum lebar.
"Besok aku harus pulang!"
"Eh, besok?"
"Iya, apa kamu berharap aku lebih lama disini? Bisa-bisa kita berbuat dosa terus nanti. I can't stop imagining Thalia. It's dangerous?!"
"Hhm, I know Erick."
Mereka menyadari semakin lama mereka bersama, ikatan itu akan kembali memaksa mereka untuk bersatu. Para khodam penjaga telah bersatu dan mereka juga menginginkan tuannya bersatu.
__ADS_1
Tapi itu tidak mungkin terjadi. Takdir tidak bisa dicampuri dan diubah oleh para penjaga. Dan itu harus diakhiri sebelum terlambat.