Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 93


__ADS_3

Thalia bersiap untuk menghadiri rapat. Ini rapat pertamanya bersama jajaran pegawai rumah sakit lainnya. Thalia tidak ingin terlambat, ia memilih pakaian yang membuatnya nyaman. 


Pilihannya jatuh pada celana panjang hitam dan kemeja  dengan sedikit ruffles cantik berwarna merah. Sedikit polesan make up dan lipstik orange lembut disapukan ke wajah cantiknya. Rambut lurus sebahunya dibiarkan tergerai begitu saja. Parfum? No, Thalia tidak terlalu suka memakai parfum. Wewangian dari parfum yang terlalu pekat membuatnya sakit kepala. 


Pintu kamar Thalia diketuk bi Inah "Non, ada tamu?" 


"Siapa bi?" Thalia menjawab, bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Itu non, pak Ardi."


Deg …,


Jantung Thalia seakan terhenti. Orang yang paling ia hindari selain Rendy datang. Tidak ada Sean dirumah jadi mau tidak mau Thalia harus menemuinya.


"Dimana dia bi?"


"Didepan non, katanya mau jemput ke rumah sakit."


"Oh, saya berangkat ya Bi. Kayaknya sampai malam, kalo Sean pulang sebelum saya datang bilang aja saya rapat."


"Siap non."


Thalia berjalan malas, ia menemui Ardi yang menyambutnya dengan senyum. "Hai beb, lama nggak ketemu kamu?"


"Hhm, baru juga berapa hari." Thalia menjawabnya dengan datar.


"Yuk, keburu telat kita." Ardi membukakan pintu mobil untuk Thalia.


Thalia tidak ingin memperhatikan Ardi, ia masuk tanpa menoleh sedikitpun. Sementara Ardi hanya tersenyum, bukan Ardi namanya jika tidak bisa menaklukkan seorang wanita.

__ADS_1


"Kok cemberut aja sih, masih marah sama saya?" Ardi mencoba melunakkan Thalia yang sedari tadi hanya terdiam.


"Lagi males aja."


"Rapat bakalan lama lho, kamu dah makan belum?"


"Pagi udah kok."


"Siang?"


"Nggak sekalian nanya malem mau makan apa?" Thalia terpancing untuk menatap Ardi dengan kesal.


Ardi tertawa, triknya berhasil. "Kalo gitu nanti kita makan malam bareng gimana?"


"Iiish, maunya." Thalia kembali memalingkan mukanya. 


Perjalanan menuju rumah sakit seolah begitu panjang untuknya. Kehadiran Ardi saat ini sungguh tidak ia harapkan. Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Sejumlah petinggi rumah sakit telah tiba disana. Begitu juga dengan profesor Budi.


"Kabar baik prof." jawab Thalia dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Apa kamu sudah bisa temukan jawaban dari masalah kemarin?"


"Belum prof yang ada saya semakin bingung." 


"Ya … ya, masalahmu itu memang sedikit rumit juga unik. Tapi apa nggak sebaiknya kamu mencoba bersama dia?" Profesor Budi menunjuk ke arah Ardi yang tengah asyik mengobrol dengan tante Alena.


"Dia? Profesor bercanda nih, dia pasien saya dok. Kita tidak boleh terlibat dengan pasien kan?"


"Well, siapa yang bisa mencegah datangnya cinta? Kenapa kalian tidak mencoba untuk bersama, kalian bisa saling menyembuhkan." Profesor Budi menyarankan pada Thalia, tentu saja ada maksud terselubung didalamnya.

__ADS_1


Ini kenapa semua minta saya sama Ardi? Come on, ini bukan cerita sinetron ikan terbang apalagi dunia novel kan?


Thalia kesal, tapi juga tidak bisa berbuat banyak. Ini tempatnya bekerja, ia harus menjunjung tinggi profesionalisme. Rapat pun dimulai, Thalia duduk bersama jajaran dokter lain. Ardi duduk diseberang Thalia. 


Rapat itu membahas beberapa kasus penting yang terjadi selama sepekan terakhir termasuk didalamnya kasus Qiara dan beberapa kasus pasien sulit lainnya. Tante Alena juga membicarakan kemungkinan perbaikan sistem rumah sakit dan juga penambahan investor. Tentu saja Ardi terlibat di dalamnya.


Rapat itu membuat Thalia bosan, ia tidak pernah menghadiri rapat sepanjang ini. Thalia mulai gelisah. 


Rasa tidak nyaman kali menyerang Thalia. Kepalanya tiba-tiba terasa nyeri, keringat dingin keluar perlahan dan mulai membuat pakaian Thalia basah. Rasa mual bercampur sakit di perutnya bercampur menjadi satu.


"Erick, apa sakit itu kembali datang?" 


Thalia mencoba menahannya, tapi pertahanannya runtuh juga. Thalia meminta izin keluar ruangan dan bergegas menuju ke kamar mandi. Ia mengeluarkan semua isi perutnya. Matanya berair dan hampir menangis menahan rasa sakit.


"Kalau aku sesakit ini apalagi dia."


Thalia mengirimkan pesan pada Erick, "Are you oke?"


Thalia hampir saja terjatuh pingsan jika seseorang tidak menyambar tubuhnya dan membantunya berjalan menuju kursi tunggu.


"Kamu sakit?" 


"Ardi? Kenapa keluar, mendingan kamu masuk deh kedalam. Aku nggak apa-apa kok." jawab Thalia yang terlihat semakin pucat. Tangannya gemetar dan dingin.


"Tunggu disini!" Ardi pergi meninggalkan Thalia dan datang kembali dengan segelas teh manis hangat.


"Minum ini!" Thalia yang sedang bersandar di kursi menerima gelas berisi teh hangat itu dan meminumnya perlahan.


"Better?" 

__ADS_1


"Hhm, lumayan." Thalia mulai berkeringat dengan normal.


Erick, apa kau juga merasakannya? Get well soon babe, this hurts me so much!


__ADS_2