Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 98


__ADS_3

Thalia yang berhadapan dengan si pelaku terkejut. Ia bisa melihat wajah si pelaku itu dengan jelas. Meski hujan deras sedikit mengaburkan pandangannya, tapi wajah itu terekam jelas di mata Thalia.


"Nggak mungkin kan … ini mustahil!" gumamnya sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Si pelaku yang masih terengah-engah masih memegang pisau penuh darah yang menetes di tangannya. Ia tersenyum dan perlahan berubah menjadi tawa yang mengerikan. Thalia mundur perlahan, ia gemetar.


"Nggak … ini nggak mungkin!" 


Thalia mengepalkan tangannya, ia kecewa sangat kecewa dengan apa yang dilihatnya. "Ini hanya ilusi ku saja kan, ini hanya mimpi burukku."


*****


Thalia kembali ke dirinya lagi. Kali ini tidak ada tetesan darah yang keluar dari hidungnya. Tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan kemampuan barunya.


Thalia masih berjongkok dan memejamkan matanya dengan airmata yang perlahan yang menetes.


David yang terus menjaga dan memperhatikan Thalia khawatir. Ia memberanikan diri menyentuh tangan Thalia. "Kamu baik-baik saja kan?"


Thalia perlahan membuka matanya, ia menatap David sejenak lalu menjawab dengan lirih. " Yeah, I'm fine. Don't worry about me?!" 


"Apa ada petunjuk dari penglihatan mu?" 


Thalia terdiam sejenak, "Tidak … belum, tepatnya masih belum jelas. Aku harus memastikannya dulu."


Thalia kembali terdiam, jika benar apa yang dilihatnya dalam masa lalu ia harus memiliki bukti cukup sebelum memberitahukan pada David. "Kasus terakhir ini apa senjatanya ditemukan?"


"Kami belum menemukan senjatanya, tapi dari luka yang ditimbulkan kemungkinan itu sejenis pisau keramik yang memiliki ketajaman baik."


"Pisau keramik? Hanya orang-orang tertentu yang memahami jenis pisau itu. Ini berarti dia bukan orang sembarangan yang iseng melakukannya. Ia tahu persis pisau itu bisa melukai dengan korban dengan parah." Thalia mencoba memahami si pelaku.


"Apa kamu bisa melihat senjata yang dipakai?" tanya David lagi

__ADS_1


Thalia tidak menjawab, ia berdiri dan menyusuri daerah sekitar korban ditemukan. Jika yang ia lihat benar, pelaku itu membuang pisaunya di sekitar semak dipinggiran bantaran sungai.


David mengikutinya dari belakang. Thalia hanya ingin membuktikan kemampuan retrokognisinya benar. Thalia berjalan sesuai ingatan masa lalu yang dilihatnya, ada titik yang ia ingat, plat nomor bekas.


"Kamu cari apa nih?" David dibuat penasaran dengan sikap Thalia.


"Plat nomor bekas, bisa bantu aku cari? Nomornya … 5829, cuma itu yang aku lihat." 


"Plat nomor?" David yang masih belum paham membantu Thalia mencari.


Mereka mencari disisi yang berbeda, Thalia mengambil sebatang kayu untuk membantunya menyibakkan semak. Setelah beberapa lama, Davi berteriak,


"Thalia … kamu bilang 5829?"


"Iya!"


"Gimana kalo kamu salah liat 6329?"


"Kamu nemuin sesuatu?" tanya Thalia.


"Lihat itu?!" David mengambil kayu di tangan Thalia dan menunjukkan plat nomor bekas yang sudah tertutup sedikit lumpur.


"Sepertinya memang aku salah lihat, dua angka itu tertutup tanah kering."


Thalia kembali mengambil kayu ditangan David dan menyibakkan semak didekatnya. Ia tersenyum lebar.


"David, apa ini yang kalian cari?" 


David melihat ke arah yang Thalia tunjukkan. "One word for you Thalia, amazing?!"


Pisau yang dilihat Thalia dalam retrokognisi itu tergeletak tak jauh dari plat nomor bekas. "Semoga saja bukti ini benar dan masih bisa ditemukan sidik jari."

__ADS_1


Hatinya terasa sakit, jika melihat pelaku yang ia lihat dalam masa lalu. Thalia masih sangat berharap apa yang dilihatnya salah.


"Tolong, hentikan dia ya Rabb … jangan ada lagi korban selanjutnya." Thalia berdoa meminta yang terbaik.


David setengah berlari mendekati Thalia, ia membawa plastik berukuran besar yang cukup untuk memuat pisau yang ditemukan. "Maaf nunggu lama ya." 


Thalia hanya tersenyum, David memakai sarung tangan karet yang selalu tersedia di mobilnya. Ia segera mengamankan pisau itu sebagai barang bukti.


"Semoga ini memang sebuah petunjuk." 


Thalia hanya menanggapinya dengan senyuman masam. "Hhm, semoga." ujarnya lirih.


David memperhatikan jawaban Thalia, ada keraguan yang ia tangkap. "Ada apa? Kamu ragu sepertinya? Kamu … takut?"


"Takut? Ehm, entah aku cuma bingung aja. Ini kali pertama buat aku. A little shock maybe?!" 


Thalia berdiri dan berjalan mendekati posisi korban lagi. Mata korban yang ditatapnya terakhir sungguh memilukan. "Maaf …" gumamnya.


Sentuhan tangan David di bahunya mengejutkan Thalia. "Yakin kamu baik-baik saja?"


"Mungkin?!"


"Aku tahu ini nggak mudah buat kamu, kalo memang kamu nggak sanggup buat nerusin lebih baik berhenti sekarang." 


Thalia menatap David lekat, ada rasa aneh yang menjalari hatinya.


"No, I will help you until the case is over."


(Nggak, aku bakal bantuin kamu sampai kasus ini selesai.)


David terdiam sejenak, ia menatap wanita yang mulai mencuri hatinya itu. "Ok, as you wish. Tapi tolong jangan memaksakan dirimu."

__ADS_1


Aku harus memaksakan diriku David, karena aku nggak mau seseorang harus meregang nyawa lagi. Its enough, i will stop her!


__ADS_2