
Ardi mengajak Thalia pergi ke sebuah restoran agak jauh dari kota. Sengaja Ardi melakukannya untuk bisa berbicara lebih jauh pada Thalia. Ardi ingin mengenal Thalia. Kebetulan Tante Alena menghubunginya pagi tadi, ia membocorkan rahasia tentang Thalia. Informasi yang sangat membuatnya penasaran.
"Ini kemana sih, kok nggak nyampe-nyampe dari tadi." Thalia mulai mengeluh bukan karena bosan tapi karena perut Thalia mulai kelaparan.
"Bentar lagi juga nyampe, tu didepan dah keliatan kan namanya dari sini." jawab Ardi dengan menunjuk ke arah kiri jalan.
Thalia kembali terdiam, Ardi memarkirkan mobilnya dekat dengan mobil berwarna silver yang Thalia kenali dari stikernya.
Kok kayak punya Rendy … apa aku salah ya, eh masa iya dia kesini juga?
Ardi dibuat penasaran dengan sikap Thalia yang termangu melihat mobil di sebelahnya.
"Ada masalah?"
"Hhm, nggak. Aku mungkin salah lihat."
Thalia akhirnya memilih mengabaikannya dan segera keluar dari mobil. Ardi menarik tangan Thalia, dan memaksanya untuk tetap dekat disisinya. Thalia, hanya bisa mengikuti kemauan Ardi.
Salah satu karyawan menyambut kedatangan mereka, Ardi menanyakan letak meja yang sudah dipesannya. Mereka berdua langsung diantar menuju ke meja reservasi atas nama Ardi.
"Kamu udah pesen tempat? Sengaja ya?" Thalia curiga.
Ardi tersenyum, "Spesial buat kamu dong?"
"Kapan pesennya kan kita nggak ada rencana pergi tadi?"
"Iseng aja waktu kamu ganti baju, itu gunanya VIP member beb."
__ADS_1
Thalia mengalah ia malas berdebat dengan Ardi karena dipastikan ia kalah. Pria yang tengah duduk di depannya ini bukan tipe pria yang mau mengalah dan dikalahkan. Tak berapa lama kemudian makanan yang juga telah dipesan Ardi datang. Mereka segera menyantapnya tanpa banyak bicara.
Ardi sesekali mencuri pandang ke arah Thalia, ia penasaran tapi juga bingung bagaimana memulai pembicaraan.
"Kenapa kamu? Kayaknya ada yang mau ditanyain?" tanya Thalia yang sudah mengakhiri makannya.
"Eh, kelihatan jelas ya?"
"Perlu aku jelasin?" tanya Thalia
"Ya … ya, you're the expert." Ardi meminum hampir setengah gelasnya sebelum ia kembali bicara.
"Thalia boleh aku nanya sesuatu?"
"Boleh, coba aja tanya?"
Thalia terkejut dengan pertanyaan Ardi. Ia paling malas membicarakan hal yang membuat hatinya terluka. Melupakan perpisahannya dengan Rendy itu membutuhkan waktu yang sangat lama baginya.
"Saya pilih opsi tidak menjawab bisa?"
Ardi menatap Thalia beberapa saat kemudian tersenyum kepadanya, "Boleh tapi saya anggap itu hutang, dan kamu harus cerita itu kalo sudah siap?!"
"Eh, kenapa jadi hutang?"
"Karena saya nggak suka penolakan!" jawab Ardi tegas.
Thalia tersenyum masam, semakin ia membuat alasan Ardi akan semakin memaksanya jadi pilihan terbaik adalah diam.
__ADS_1
"Abis ini kita mau kemana?" tanya Ardi
"Pulang." jawab Thalia singkat.
"Come on Thalia, masa cuma makan siang aja?"
"Lah terus kita mau kemana lagi? Kamu kan kerja abis ini."
Ardi menghela nafasnya dan menatap tajam Thalia. Seumur hidupnya baru kali ini ia bertemu wanita super keras kepala dan dingin. Biasanya wanita yang mendekati Ardi pasti sudah meminta dirinya menemani berbelanja. Atau sekedar menunggu mereka ke salon atau beauty spa.
"Kamu lupa saya yang punya kantor ngapain harus masuk tiap hari?"
"Nah itulah salah kamu mentang-mentang pemilik trus seenaknya datang kantor? Kasih contoh dong ke karyawan pimpinan yang baik!" saran Thalia sambil memainkan ponselnya.
Tubuh Thalia mulai merespon sesuatu. Thalia bisa merasakan Erick lagi, hatinya cukup lega.
Erick, have you wake up? Semoga semua baik-baik aja.
Thalia membaca ulang pesan Erick di malam terakhir ia berpamitan. Pikiran mereka kembali bersama. Lewat pesan Erick, Thalia bisa menjelajah masuk ke dalam pikiran Erick. Ia bahkan bisa melihat dimana Erick sekarang. Salah satu gift yang Tuhan berikan pada Thalia.
Thalia lega, bayangan yang dilihatnya Erick sedang tertidur dengan wajah pucatnya, sayang bayangan itu sedikit kabur Thalia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ketika ia mencoba lebih dalam untuk mendekat, sebuah tepukan dibahunya mengembalikan Thalia ke pandangan normalnya.
"Senang bertemu kalian disini, kalian ngikutin aku juga ya? Atau kamu merindukan aku sayang?"
Thalia terkejut, benar dugaannya Rendy ada disini. "Kebetulan yang aneh ya? Bisa kamu ulangi lagi pertanyaan terakhir, saya agak sakit telinganya tadi?"
Rendy tersenyum ia tahu mantan istrinya itu tidak senang dengan kehadirannya. Ia pun mendekat dan berbisik. "Aku tahu kamu marah, jadi aku bakal pergi sekarang. Tapi ingat aku pasti datang lagi, ada yang harus kita bicarain!"
__ADS_1
Bicara? Kesambet setan apa dia tau-tau ngomong serius gitu?!