Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 53


__ADS_3

Setelah kenekatannya mengungkapkan perasaannya pada Erick, Thalia bisa tertidur dengan nyenyak. Beban berat yang mengganjal hati Thalia seolah terlepas begitu saja. Meski ia mengungkapkannya dengan deraian air mata.


Meski Erick sama sekali tidak memberikan jawaban atas ungkapan hati Thalia. Tidak ada kejelasan, dan tidak banyak kata yang dituliskan Erick dalam pesannya pada Thalia. Ia bahkan hanya membalas singkat tapi membuat Thalia tersenyum.


Panjang bener, bisa jadi sepuluh bab novel kalo ditulis …, 


Thalia tidak peduli lagi dengan logika yang selalu diajarkan dalam ilmu psikologi, ia tidak peduli dengan rasa malu, ia tidak peduli dengan saran Sean untuk menjauhi Erick, ia hanya peduli satu hal cintanya untuk Erick.


Cinta yang tabu untuk dibicarakan baginya selama bertahun-tahun. Cinta yang sudah terkunci dalam ruangan tertutup di hati Thalia kini terbuka lebar hanya untuk satu nama, Erick.


Cinta yang bahkan belum Thalia sadari sepenuhnya apakah itu cinta yang sebenarnya ataukah hanya sebuah ilusi dari mantra gaib yang dilepaskan Erick.


Esok harinya, Thalia sudah duduk manis di meja makan. Meski hanya tidur dua jam setelah pengakuan nekatnya pada Erick, Thalia merasa segar dan baik-baik saja. Tidak ada rasa mengantuk ataupun lelah. Tidurnya benar-benar nyenyak.


Kelegaan hati yang ia rasakan sama seperti dua anak manusia yang saling jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama. Bahagia.


"Hei, tumben kamu bangun sebelum aku teriakin?" sapa Sean saat keluar dari kamarnya.


"Hmm, I'm happy today." jawab Thalia sambil membaca koran pagi ini.


Sean tersenyum miring padanya, ia duduk berseberangan dengan Thalia. Mengamati saudara kembarnya yang bersikap aneh pagi ini.


"Happy? Tell me?!" ( Bahagia? Beritahu aku?)


Thalia menatap Sean dan tersenyum, "Ehm, nggak ada yang harus aku ceritain ke kamu." 

__ADS_1


"Really? Tidak mungkin sebuah rasa terjadi jika tidak ada sebabnya kan?" Sean mencurigai Thalia.


"Bahagiaku tanpa alasan Sean." Thalia menjawabnya dengan santai.


"Baiklah terserah kamu aja, inget pesen ku jauhi dia untuk sementara waktu!" 


Thalia hanya melirikkan matanya pada Sean, tentu saja ia tidak ingin memberitahukan padanya apa yang telah Thalia lakukan semalam. Ponsel Thalia berdering, Winda memanggil.


"Ya Win, ada apa?"


"Maaf mengganggu dok, tapi saya cuma mengingatkan dokter free hari ini. Bu Direktur menanyakan kapan dokter mampir ke rumahnya?"


"Oya, kapan dia bilang?"


"Tadi pagi dok, beliau tanya langsung ke saya." jawab Winda


"Ehm, Bu direktur sekalian nanyain pak Ardi?"


"Ardi? Kenapa lagi dia?" Thalia heran apa hubungannya dengan Ardi.


"Beliau nanyain apa pak Ardi menemani dokter seharian." jawab Winda diiringi tawa kecil darinya.


"Eh perhatian banget Tante Alena?! Win, hari ini saya nggak ke rumah sakit langsung ke rumah Bu direktur aja deh. Mau ketemu Langit." kata Thalia berpesan pada Winda.


"Oke dok, good luck sama mas Langit." Jawab Winda di seberang.

__ADS_1


Thalia menutup pembicaraan di ponselnya, Sean yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Thalia pun iseng bertanya, "Ardi, gimana dia?"


"Cckk, kenapa semuanya nanyain Ardi?" Thalia kesal seolah tidak ada pertanyaan lain untuknya.


"Aku kan cuma nanya aja, you need someone to take care of you!"


(kau butuh seseorang untuk menjagamu.)


"Dia baik, itu aja." jawab Thalia singkat.


" And… "


"Dia bantuin aku kemarin waktu ketemu Rendy." jawab Thalia lagi.


"Baguslah, setidaknya Rendy bisa jaga jarak sama kamu! Ingat no CLBK?!" Sean mengingatkan Thalia mengingat ia begitu membenci Rendy setelah apa yang telah ia perbuat atas Thalia.


Thalia menyeringai pada Sean. Ia teringat pada perkataan Erick semalam untuk tidak terlalu dalam memikirkannya mengingat perjanjian mereka hanya sebatas dunia maya. Sebagai wanita hatinya sakit, ini sebuah penolakan yang nyata. 


Sarapan pagi yang dibuatkan asisten rumah tangga untuk Thalia sama sekali belum tersentuh. Thalia hanya memutar mutar sendok diatas piringnya. Membuat Sean geram, dan mengambil sendok Thalia. Dengan gemas Sean menyuapkan nasi beserta lauknya ke dalam mulut Thalia.


"Kamu mau makan sendok apa makan nasinya? Makan, jangan bikin aku repot kalo kamu sakit!"


Thalia terpaksa menerima suapan Sean dan dengan susah payah ia berusaha menelannya. Thalia sama sekali tidak ingin makan, pikirannya hanya ada Erick.


"Kamu kenapa sih, semalam kamu nangis pagi ini katanya bahagia, eh berubah lagi jadi begini? Apa karena dia?"

__ADS_1


Thalia hanya bisa terdiam, ia tidak berani menjawab pertanyaan Sean.


Yup, its him again … aneh, aku nda bisa nelan makanan lagi? Ada apa sebenarnya? Kenapa jatuh cinta begitu menyakitkan seperti ini?


__ADS_2