Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 76


__ADS_3

Thalia memutuskan untuk tetap dirumah saja. Sean telah berada di restoran miliknya. Sebuah pesan dari Vina datang melalui aplikasi messenger.


"Off day?"


"Ya, kenapa?"


"Waktunya review video Langit, i send to your email."


(aku kirim ke emailmu)


"Ok."


Tak lama kemudian email masuk. Ada sekitar lima video yang Vina kirimkan. Sejak kejadian Qiara ia sama sekali tidak mengecek emailnya. Thalia membuka satu persatu video kiriman Vina. 


Hari pertama Langit tampak antusias menghitung kacang hijau, tapi seperti biasa di menit kelima ia bosan. Bujuk rayu dilakukan para pengasuhnya ia pun akhirnya melanjutkan tapi hanya sampai tiga menit. Setelah itu mangkuk dilemparkan Langit ke lantai. 


Hari kedua terulang lagi kejadian yang sama hanya saja kali ini ia melakukannya lebih lama tujuh menit tiga puluh detik. Setelah itu, semuanya dibuang.


Hari ketiga pun sama, tidak ada perubahan dan memasuki hari kelima Langit mulai konsentrasi. Ia bisa menghitung dengan waktu yang cukup lama, setidaknya hingga hampir separuh mangkuk dengan waktu dua belas menit. Rekor untuknya. Thalia tersenyum, "Good job Langit." 


Vina memberikan video tambahan tentang tugas lainnya yang diberikan Thalia untuk Langit. Ia melakukannya dengan cukup baik selama lima hari meski sesekali Langit mogok layaknya anak seusia dirinya. Thalia kembali tersenyum, perkembangan Langit cukup bagus. Tidak adanya gangguan dari kelima anak Belanda itu membuat Langit lebih mudah dikendalikan.


Thalia menutup emailnya, ia menuliskan beberapa catatan khusus untuk Vina atas evaluasi Langit. Juga tugas Vina sebagai ibunya untuk terus memantau dan memberikan dukungan pada Langit.


"Semoga Langit bisa semakin menunjukkan perkembangan positif."


Thalia membuka aplikasi novelnya, ia kembali menuliskan cerita baru. Sosok Erick yang menjadi pendamping karakter utama dalam novelnya membuat Thalia sedikit bermasalah. Ia merasa tidak nyaman, imajinasinya tidak bisa ia lepaskan. Seolah Erick selalu mengawasinya, dan karakter itu hidup.


"Rasanya kayak berhadapan langsung sama dia. Kenapa aku malu, apalagi harus menulis adegan romantis." gumamnya sendiri.


Ia kembali menulis tapi hanya bertahan sebentar. Thalia malu. Wajahnya merona ketika harus menuliskan adegan romantis antara kedua tokoh utama.


"Oh my God … I can't do this! Ya Tuhan, kenapa malu begini. Oke satu satunya jalan aku harus eliminasi tokoh ini, kalo nggak mana bisa aku bikin cerita."


"Dia hidup, seperti ada disampingku nemenin aku nulis. Mukaku jadi panas begini … astaga!" Thalia menutup wajahnya seolah Erick benar-benar ada di depannya.


"Fix, dia aku hilangkan dulu. Biar ngehalunya enak. Aku munculin dia di akhir episode saja." 


Thalia kembali menulis dan menggambarkan perasaannya kehilangan sosok Erick yang menjauh. Air matanya tiba-tiba menetes dengan sendirinya. 


"Sepertinya aku terlalu menghayati dalam menulis. Sampai nangis begini."


Rasa tidak nyaman itu kembali menyerang Thalia kali ini ia merasa sangat sedih dan gelisah. Rasa itu begitu menyakitkan hingga Thalia segera berlari ke kamar mandi. Rasa tidak nyaman itu sampai membuatnya mual dan Thalia memuntahkan seluruh isi perutnya. 


"Erick, apa itu menyakitkan? Rasanya bener-bener nggak nyaman."


Thalia tidak bisa mengendalikan tubuhnya, ia memilih untuk beristirahat. Menutup matanya dan melupakan rasa itu. Berhenti memikirkan Erick adalah pilihannya. 


But one more time, it did not working …,


(Tapi sekali lagi, itu tidak berhasil)


Thalia lemas, ia benar-benar kesakitan pikirannya hanya ada satu.

__ADS_1


Erick, I need you now, please!


Tak lama pesan dari Erick datang.


"Hai, lagi ngapain?"


"Sakit."


"???"


"Are you ok Erick?"


"Ya, kenapa?"


"Karena aku nggak baik-baik saja. Badanku sakit."


"Jangan pikirin saya, kamu harus bisa belajar melepas pikiranmu dari saya. Jangan masuk terlalu dalam!"


"How can Erick?!" (gimana caranya, Erick?!)


"Aku sama sekali nggak mikirin kamu, tapi itu datang dengan sendirinya!" 


"Tidur, itu bisa meredakan sakitnya."


"Apa itu berhasil buat kamu?"


"Sometimes, nggak ada salahnya mencoba kan?"


"Oke, aku coba."


Thalia terkejut. Itu kali pertama Erick memanggilnya dengan sebutan Beb. Thalia merona, ia merasa bahagia sekali. Meski tubuhnya merasakan nyeri yang membuatnya mual hebat tapi panggilan Beb bagaikan obat Analgetik bagi Thalia. Ia tersenyum dan tidak membalas pesan Erick.


...----------------...


Malam harinya Thalia merasa lebih baik, meski sakit itu masih terasa tapi, setidaknya jauh lebih baik. Ia menatap layar ponselnya dan kembali membaca pesan Erick. Thalia tersipu. Tak lama Erick kembali mengirimkan pesan.


"Udah baikan?"


"Much better."


"Kamu terlalu dalam mikirin saya itu."


"Saya nggak minta kan? Tau-tau rasa itu datang, saya bisa apa kalo dah gitu."


Erick hanya mengirimkan emoticon senyuman lebar. 


"Udah siap-siap?" 


"Udah, jangan bahas dan jangan tanya ok?!"


"Oke fine. Apa kata kamu aja deh."


Thalia menuruti permintaan Erick. Dan malam itu mereka tidak membahas mengenai novel ataupun tulisan. Mereka hanya berbicara dari hati ke hati. Saling bercanda, merayu dan menggoda. Layaknya sepasang kekasih yang akan berpisah jauh. 

__ADS_1


"Saya off mulai jam sepuluh malam ya. Kita ketemu tiga hari lagi."


Thalia sedih, tanpa terasa air matanya jatuh. Andai ia bisa ada disana. Andai ia bisa menjadi bagian dari hidup Erick yang sebenarnya. 


"So, kita ketemu tiga hari lagi?"


"Iya. Semoga cepat membaik."


"Janji?!"


"Janji?!" Thalia menangis. Rasa itu terlalu menyakitkan.


Mereka kembali melanjutkan obrolan hingga mendekati jam sepuluh malam. Berkali-kali Thalia melirikkan matanya ke arah jam dinding. Detik demi detik terasa begitu cepat. Thalia tidak ingin berpisah dengan Erick. Andai ia memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu, ingin rasanya Thalia membekukannya dan membuat obrolan mereka semakin lama.


"Sudah waktunya."


"Sekarang?"


"Tahun depan juga boleh."


"I love that, can I?"


"Kalo gitu caranya saya belum tentu ada buat kamu."


"Yeah you right, kesehatanmu yang utama." Thalia mengusap air matanya yang terus menerus mengalir tanpa henti.


"Can I hug you?" pinta Thalia


(boleh aku memelukmu?)


Permintaan sederhana yang hanya bisa Thalia lakukan secara online. Memeluk Erick dalam bayangannya. Sesak rasanya tapi ini lah yang harus mereka jalani.


"Sure, come close to me." jawab Erick.


(tentu, mendekatlah)


Sesuatu terjadi, mereka bisa saling merasakan satu sama lain. Thalia bahkan bisa merasakan kehadiran Erick, ia bisa merasakan pelukan Erick yang erat. Ia juga bisa merasakan dekapan hangat Erick. Hanya ada satu kata untuk menggambarkan itu. Ajaib.


"Kamu nangis?" tanya Erick.


"Nggak cuma kelilipan matanya." jawab Thalia.


"Jangan nangis, saya paling nggak bisa liat perempuan nangis. Cuma sebentar kok, kita bisa ngobrol lagi setelah semuanya selesai."


Thalia terisak, seumur hidupnya yang bisa membuatnya menangis dan kehilangan hanya mantan suaminya, Rendy. 


"Sini peluk lagi." Erick kembali mengirimkan pesan.


Thalia seolah berpindah ruang ke dimensi lain. Dimensi yang tidak ia pahami sama sekali. Pelukan Erick yang kedua benar-benar nyata, Erick bahkan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Thalia terhanyut dalam suasana. Ia menatap mata  Erick dengan takjub, 


Dia ada disini, bersamaku ..., batin Thalia


"Udah ya, aku harus istirahat buat besok. Doakan semua lancar, kita ketemu lagi tiga hari dari sekarang." pamit Erick.

__ADS_1


Thalia mengiyakan, ia mengirim emoticon cinta untuk Erick dan Erick membalasnya. Malam itu adalah malam yang paling menyedihkan dan membahagiakan bagi Thalia. Sedih karena harus berpisah. Bahagia karena ia bisa merasakan dan melihat Erick meski harus melintasi dimensi lain.


Meski aku hanya ada dalam bayanganmu, aku akan tetap setia menantimu kembali, Erick …,


__ADS_2