
Berita pernikahan Thalia menyebar dengan cepat di rumah sakit tempatnya bekerja. Tante Alena shock karena rencananya menjodohkan Thalia dengan Ardi gagal. Ia takut Ardi akan mencabut investasi yang sudah ia tanamkan.
"Thalia, kamu beneran mau nikah sama David?" Tante Alena pagi-pagi sekali menyambangi ruang praktek Thalia.
Kebetulan Thalia ada janji dengan David untuk fitting baju pengantin, jadi semua jadwal dimajukan.
"Emang kenapa Tante?"
"Ehm, gimana sama Ardi?"
"Ardi? Kenapa saya harus mikirin dia?"
"Investasi kita gimana Thalia?!"
Thalia hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Tante kalau Tante takut dia cabut lagi investasi ke kita, saya bisa kok gantiin dia."
"Cck, bukan itu masalahnya Thalia.
Kami juga kerjasama dibidang lain, dia mau kerjasama kalo kamu jadi istrinya."
"Tante Alena … saya bukan barang lho buat bargaining bisnis gitu?! Jodoh itu sudah diatur dari Allah Tante, bukan manusia yang atur. Manusia cuma bisa berusaha dan memilih yang terbaik."
"Kurang baik apa Ardi sama kamu coba? Dia tampan, kaya, baik, sayang ibunya lagi."
"Poin terakhir saya nggak suka! Bukan kenapa-kenapa sih tapi gegara itu saya harus habisin siang terlama dalam sejarah hidup saya lho Tante. Bohongin orang tua lagi. That's the dumbest idea I've ever had!"
(Itu ide terbodoh yang pernah aku lakukan!)
"Tapi …"
"Nggak ada tapi Tante, ini hidup saya dan saya yang memutuskan bukan Tante bukan juga Ardi. Apa sudah jelas?!"
Tante Alena berdecak kesal mendengar penjelasan Thalia, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. " Ok, Tante minta maaf. Tadinya Tante pikir …"
"Pagi … boleh aku masuk?!" Sebuah suara yang tidak asing menyapa mereka berdua.
__ADS_1
"Ardi?!" Tante Alena terkejut dengan kedatangan Ardi.
Thalia sedikit gusar dengan kedatangan Ardi. Ia malas harus berhadapan dengan pria flamboyan yang pemaksa itu. Tapi Thalia harus memutuskan dan menghadapinya sendiri. Ada masalah yang harus dijelaskan pada Ardi.
"Pagi banget kamu datang?" tanya Tante Alena menyambut Ardi dengan ciuman di pipi nya.
"Iya, saya kangen Thalia Tante."
Tante Alena dan Thalia saling berpandangan dengan ekspresi rumit. "Ehm, Tante tinggal dulu ya kalo gitu. Kalian ngobrol aja dulu deh."
Thalia tersenyum masam melihat Tante Alena keluar meninggalkannya dengan Ardi. Jujur ia tidak nyaman dengan kondisi itu.
"Apa kabar Thalia?"
"Baik, ada perlu apa nih sepagi ini datang?"
Ardi tidak menjawab dan hanya berjalan membuka tirai di belakang kursi Thalia.
"Apa benar kamu mau menikah Thalia?"
"Thalia, kenapa kamu lakuin ini ke aku?"
"Maksud kamu?" Thalia berbalik menghadap ke Ardi yang masih menatap jauh keluar jendela.
"Kamu udah janji kan mau kasih aku waktu tiga bulan buat rebut hati kamu dari author itu?! Ini bahkan belum tiga bulan Thalia!"
Ardi menatap Thalia tajam, ia mendekati Thalia dengan nada ancaman. "Kamu curang!"
Thalia memundurkan kursinya hendak berdiri ketika Ardi justru menahannya tubuhnya agar tetap ditempat.
"Bukannya kamu yang curang? Seenaknya kamu bikin sandiwara didepan ibu kamu, dan nyuruh aku pura-pura jadi calon istri?"
"Aku cuma minta tolong sebentar aja! Tapi kenapa kamu justru begini, ninggalin aku gitu aja?!"
"Ninggalin? Kapan kita jadian? Kapan kita punya hubungan?" Thalia bertanya dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu dokter pribadi saya dan akan selamanya begitu!"
"No, semuanya sudah aku kembalikan ke prof Budi. Mulai besok kamu jadi pasiennya lagi." jawab Thalia tak kalah sengitnya.
"Apa kata kamu? Tanpa persetujuan aku? Thalia, aku bakal cabut semua investasi kalo kamu tetap nekat menikahi dia!"
"Kamu mengancamku lagi?!"
"Aku cuma mengingatkan aja, siapa aku disini?!" Ardi menatap Thalia tajam. Jarak mereka hanya sedikit saja. Thalia takut jika David datang dan salah paham.
"Menjauhlah Ardi, nggak bagus dilihat orang. Aku mau menikah jadi tolong hargai perasaan calon suamiku."
"Dan melupakan perasaan ku ke kamu?"
"Ardi please … jangan begini, ok?!" Thalia mencoba bersabar.
"Jawab aku Thalia, gimana sama perasaanku?"
Thalia menatap Ardi, ia bukan lelaki yang bisa dikalahkan begitu saja dan Thalia tahu itu.
"Ardi, terima kasih atas usahamu dan juga cintamu. Tapi maaf ada hati yang sudah aku pilih. Kamu masih bisa menemukan yang lain, yang lebih baik selain aku. Yang masih muda misalnya. Kamu punya uang, wajah yang tampan, popular what else? Pasti banyak wanita disana yang menggilai kamu?!"
"Tapi yang bisa mencuri hatiku cuma kamu!"
Ardi masih enggan bergeming dari posisinya membuat Thalia semakin tidak nyaman. "Tolong, pasien konseling sebentar lagi datang."
Ardi yang masih kesal dengan sikap Thalia akhirnya mengalah ia perlahan menjauhkan tubuhnya dari Thalia. Itu membuat Thalia lega, ia sebenarnya takut jika Ardi berbuat nekat.
"Ok, kalau memang itu pilihanmu. Tapi ingat Thalia, aku akan merebutmu dari dia!"
Thalia hanya menatap Ardi membiarkannya meluapkan emosi atas dirinya. "Remember Thalia, aku akan mendapatkanmu! Apapun caranya?!"
Ardi berjalan keluar ruangan dan membanting pintu dengan kerasnya hingga Thalia tersentak.
"Ujian … mana ada coba perempuan yang mau sama dia kalo maksa begitu? Eh tapi ancamannya kok ngeri gitu sih, semoga saja hanya emosi sesaat saja."
__ADS_1