
"Tunggu, apa maksudnya tidur ini rumah sakit kenapa ada aturan tidur?" Tanya Thalia keheranan
"Ehm, maksud saya tidur saat jam jaga malam dok memang dokter mikirnya gimana?" Tanya Winda balik
"Jam jaga malam? Aaah, i see … sorry saya pikir tidur siang berasa anak sekolahan aja." Kata Thalia tertawa kecil karena jujur dia bingung dengan penjelasan Winda yang bicaranya panjang lebar tanpa jeda dan membuatnya pusing.
Winda melanjutkan penjelasannya, Thalia mulai tidak bisa fokus mendengarkan. Bagi Thalia suara Winda terdengar seperti kereta MRT yang melaju kencang di tengah kota, super cepat dan tidak bisa dipahami.
"Ehm, Winda bisa berhenti sebentar?" Pinta Thalia
"Eh iya dok, baik." Winda menyadari kalau Thalia mulai tidak nyaman.
"Apa hari ini saya ada jadwal?" Tanya Thalia langsung
"Jadwal ya dok, eeh saya lupa sebentar dok saya ambil dulu dari registrasi?!" Ujar Winda bingung
Thalia hanya tersenyum masam dan memaklumi keteledoran Winda. Dengan segera Winda kembali menuju ke bagian registrasi.
Sepeninggal Winda, Thalia mulai merasa ada keanehan dalam ruangannya. Sesuatu yang sebenarnya sangat ia benci karena bisa merasakannya. Rasa tidak nyaman mulai menyerangnya, membuat dirinya mual.
Terdengar ketukan dari pintu,
__ADS_1
"Masuk!" Jawab Thalia
Thalia menunggu beberapa saat tapi belum juga ada yang masuk, ia mulai curiga dan memutuskan untuk membukakan pintu.
Feelingnya buruk, sesuatu akan terjadi dan dia merasakannya. Benar saja tidak ada seorang pun yang berdiri di sana. Jantungnya mulai berdegup kencang, ia melihat ke kanan dan kiri lorong. Sepi dan tidak ada siapa pun.
Thalia menghela nafas panjang,
Mungkin aku salah dengar tadi … batinnya.
Ia kembali menutup pintu, rasa dingin yang menyakitkan kembali menyakitinya. Thalia berbalik dan menemukan seorang anak kecil telah duduk manis di kursi pasien.
Thalia tahu ini akan terjadi, meski sudah sering mengalaminya tetap saja Thalia selalu terkejut. Perlahan ia mendekati gadis kecil yang duduk membelakanginya. Kaki kecil gadis itu berayun ayun di kursi.
"Hai," Thalia mencoba berinteraksi dengan sosok gaib di depannya.
Gadis kecil itu tidak menjawab, tetapi kakinya berhenti berayun seketika. Thalia memperhatikan perubahan itu. Dengan hati-hati Thalia menyentuh bahu si gadis kecil.
"Are you oke?" Sebuah pertanyaaan konyol meluncur begitu saja dari mulut Thalia.
Gadis kecil itu seketika menolah perlahan padanya, Thalia terkejut bukan main melihat kondisi gadis kecil berbaju merah itu. Salah satu matanya hilang meninggalkan lubang menganga yang penuh darah sementara mata yang lain masih meneteskan darah segar yang membasahi pipinya.
__ADS_1
Tangan Thalia secara refleks menutup mulutnya. Sosok anak kecil itu masih diam dan menatap kosong ke arah Thalia. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Thalia, tapi ia berusaha mengontrol dirinya agar tidak panik.
"Siapa namamu?" Tanyanya pada sosok astral yang berwujud anak kecil itu.
Dia tidak menjawab tapi Thalia mendengar bisikan yang menjawab pertanyaannya,
"Amy..."
"Kamu tinggal disini?" Tanya Thalia lirih
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Ia kembali terdiam.
"Baiklah, lalu kenapa kamu datang kemari?"
Gadis kecil itu tetap tidak bersuara, Thalia merasa aneh kenapa dia tidak mau menjawab dan hanya berbisik. Gadis itu seolah mengerti apa yang dimaksud Thalia, ia membuka mulutnya lebar sontak Thalia berteriak. Lidah gadis itu hilang.
Rasa ngeri bercampur mual melihat keadaan gadis kecil itu bercampur menjadi satu. Siapa pun yang telah melakukannya itu sangat kejam dan sadis. Thalia yakin gadis kecil ini dibunuh dengan kejam oleh orang terdekatnya.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Thalia. Winda segera masuk kedalam dengan jadwal dan daftar pasien yang akan berkunjung hari ini.
Thalia melihat ke arah kursi dimana gadis kecil itu duduk. Ia telah pergi dan menghilang, meninggalkan Thalia yang masih gugup.
__ADS_1