KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
Cerita yang pernah ada


__ADS_3

Gayatri memarkir mobil kecilnya di halaman klinik keluarga Sentra Media. Ia baru pulang dari sekolah baru Bima


untuk mengurus kelengkapan Administrasi sekolah. Kepalanya pusing memikirkan Bima yang mendadak sangat keras kepala tentang kepindahannya. Tapi Bima tidak pernah menyusahkannya. Dia anak baik yang selalu mengerti tentang kesibukan mamanya. Tak pernah banyak menuntut ini itu padanya. Karena itu meski ia keberatan Bima pindah sekolah, ia terpaksa menuruti kemauan anak itu.


Mumpung sedang keluar dari salonnya, Gayatri sekalian mengambil hasil test kesehatannya di lab dan kemudian konsultasi ke dr. Meutia Gunawan, dokter langganannya.


Untung saja, ia hanya perlu menunggu dua orang pasien yang sedang mengantri sebelum seorang perawat


memanggilnya masuk.


“Selamat siang, dokter,” sapanya begitu masuk.


“Selamat siang, silakan duduk,” tapi bukan dr. Meutia yang ada disana. Pria berpakaian putih yang kini tengah


membelakanginya itu tampak sibuk. Mungkin dokter penggantinya.


Kemudian dokter itu berbalik dan nafas Gayatri berhenti. Beruntung dia sudah duduk, mungkin kalau masih berdiri ia akan terjatuh.


“Maaf, bu. Dr. Meutia hari ini harus menemani anaknya yang wisuda. Jadi saya yang hari ini menggantikan…”


Dokter yang tidak lain adalah Ihsan itu menatapnya dan membeku.


Untuk beberapa detik yang serasa selamanya, keduanya hanya saling pandang. Waktu terbang begitu cepatnya. Berapa belas tahun mereka berpisah tanpa kabar. Seperti mimpi, tiba-tiba saja mereka dihadapkan seperti ini.


“Gayatri,” ucap Ikhsan, yang pertama kali tersadar dan menyapanya. Namun matanya tetap menatapnya, antara


terkejut dan tak percaya.


Gayatri berdeham lirih, berusaha menemukan kata-katanya. “Mas Ih...ehm… dokter.”


Gayatri, batin Ihsan masih tidak percaya. Sudah berapa tahun sejak mereka terakhir kali bertemu? Delapan belas


tahun? Dua puluh tahun? Rasanya masih kemarin. Wanita itu mungkin sekarang sudah berusia empat puluh limaan namun tampaknya usianya hanya bertambah sedikit saja.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Ihsan akhirnya.


“Saya…”


Dibawah meja Gayatri meremas jemarinya. Ia mengira dirinya telah berhasil melupakan lelaki ini dari hidupnya. Namun jantungnya yang hampir lepas ini membuktikan hal lain.


Ia berdeham sebelum menjawab pertanyaan itu. Berusaha keras untuk tampak tenang. “Saya baik-baik saja,


dokter. Dokter sendiri?”


Ihsan tidak melepaskan tatapannya. “Dimana kau tinggal setelah meninggalkan aku?”

__ADS_1


Itu adalah pertanyaan lama yang selalu ada di benak Ihsan setiap kali mengingat sosok wanita ini dan berharap


akan memiliki kesempatan untuk menanyakannya saat bertemu kembali. Awalnya ia mengira tak akan pernah memiliki kesempatan itu. Ia bahkan harap-harap cemas setiap kali ada pasien yang bernama Gayatri hingga suatu hari ia tak pernah berharap lagi. Tapi lihatlah, tiba-tiba saja wanita itu muncul dihadapannya. Nyaris


masih sama seperti dulu.


Gayatri tidak mengira akan mendapatkan pertanyaan itu begitu mereka bertemu lagi. Bagaimanapun mereka


sudah berpisah sekian belas tahun, dan tidak menyangka Ihsan akan masih menanyakan tentang hal itu. Dengan sedikit nada marah.


“Ehm…” Gayatri menyibakkan rambutnya dengan gugup. Ia bangkit, “Maaf. Saya akan kembali besok saat dokter Meutia sudah kembali.”


“Tunggu,” sahut Ihsan, mencegah Gayatri meninggalkan kursinya. “Duduklah.”


Suara tegas Ihsan membuat Gayatri terdiam. Entah bagaimana ia tahu kalau ia beranjak, lelaki itu akan


mengejarnya. Dengan enggan iapun duduk kembali. Seperti anak remaja Gayatri merasakan dirinya canggung dan gugup bukan main. Mungkin, kalau ia mempersiapkan diri sebelumnya untuk bertemu dengannya efeknya tidak akan seperti ini. Tapi siapa yang mengira dirinya akan bertemu lagi dengan mantan kekasihnya diruang praktek seorang dokter yang telah menjadi langganannya selama beberapa tahun terakhir ini?


Ihsan menatap wanita dihadapannya beberapa lama sebelum bertanya lagi. “Kau sakit?” Ihsan meraih berkas kesehatan pasien dihadapannya dan membukanya. Ia membaca sekilas, “Kau baru melakukan general check up minggu kemarin.”


Gayatri mengangguk mengiakan. “Yah, tapi… saya akan kembali besok saja.”


Ihsan melihat Gayatri masih memegang erat mapnya. “Itu kah hasilnya?”


Gayatri tidak punya pilihan kecuali menyodorkan mapnya saat Ihsan mengulurkan tangannya dengan sikap keras kepala.


gagah diusianya yang hampir 50 tahun. Uban yang ada disana-sini tidak menyurutkan ketampanannya, namun kerut-kerut kecil di sekitar matanya membuatnya tampak lelah.


Kemudian Ihsan mengangkat wajahnya dan Gayatri kembali terperangkap dalam tatapan mata yang dulu pernah


sangat dipujanya itu.


“Sering pusing? Gemetaran?


Gayatri berkedip, “Agak sering akhir-akhir ini. Apakah… ada yang serius?”


 “Kadar gula dibawah normal. Saat kecapekan akan mengakibatkan pusing dan gemetaran. Apalagi jika makan tidak teratur. Aku akan memberikan resep untuk obat dan vitamin. Makanlah lebih sering dan siapkan camilan.”


Gayatri mengangguk, “Apakah berbahaya?”


“Hanya kalau dibiarkan berlarut-larut.” Ihsan menutup mapnya. “Kau menikah?”


“Yah, tentu saja.”


Ihsan diam beberapa saat dan mengangguk. Apa yang diharapkannya? Mereka sudah berpisah belasan tahun, “Kau masih marah padaku?”

__ADS_1


Gayatri berkedip, “Marah? Kenapa?”


Ihsan mengangkat bahunya. “Kau sepertinya tidak senang bertemu denganku dan ingin cepat-cepat pergi.”


Gayatri diam-diam menarik nafas panjang. Mencoba menenangkan dirinya. “Hanya… rasanya canggung saja. Kita sudah sangat lama tidak ketemu dan tiba-tiba…”


“Aku masih ingat dengan jelas saat mencarimu kemana-mana dan kau tidak ada dimanapun.”


Gayatri membalas tatapan Ihsan dan entah bagaimana lelaki itu masih menyimpan amarah padanya. Setelah sekian tahun? Benarkah? Bukannya ia tidak mengingatnya, namun ia terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri hingga tak pernah memikirkannya lagi. Hanya sesekali saja dan ia benar-benar tak pernah berharap mereka akan bertemu lagi.


 Ada masa indah di cerita masa lalu mereka. Namun kesedihan yang sangat menyakitkanlah yang mewarnai perpisahan mereka.


“Itu… sudah sangat lama berlalu. Untuk apa diungkit lagi?”


“Karena kau mencampakkanku. Kau tahu berapa lama aku mencarimu?


Gayatri berkedip, “Mencampakkan? Karena itu dokter menikah hanya dua minggu setelah saya pergi?”


 “Aku tidak akan menikah kalau kau tidak melarikan diri.”


“Hah, jadi semua salah saya?” balas Gayatri gusar. “Lagipula untuk apa kita bahas ini?”


“Karena aku harus tahu apa masalahnya. Dimana kesalahanku sampai kau pergi begitu saja setelah makan malam denganku. Kau bahkan berjanji akan menjemputku di rumah sakit keesokan harinya. Tapi apa? Rupanya itu makan malam terakhir kita. Atau mungkin itu kau maksudkan sebagai hadiah perpisahan untukku?”


Bagaimana lelaki itu masih mengingat begitu detail seakan baru terjadi minggu kemarin?


Gayatri hendak menjawab namun seseorang memasuki ruangan. Perawat memasuki ruangan. Gadis itu tampak


merasakan suasana tegang diruangan itu dan ragu-ragu apakah harus keluar atau terus masuk.


Ihsan menghela nafas panjang, “Ini resep obatnya." dengan enggan Ihsan menyodorkan kertas resep pada Gayatri. "Jangan lupa menjaga pola makan.”


Gayatri mengangguk dan menggunakan kesempatan itu untuk berdiri. “Terimakasih dokter, permisi.”


Ihsan hanya mengangguk tidak rela. “Masih ada berapa pasien?” tanyanya.


“Ada empat yang sudah datang.”


Ponsel Ihsan berdering.  Dengan enggan ia mengambil ponselnya. “Hallo.”


“Maaf ini dari sekolah, pak. Bisakah kami meminta kehadiran bapak disekolah?”


“Sekarang? Tapi saya sedang sibuk. Ada apa?”


“Ini berkaitan dengan putri bapak Jennifer Imelda yang telah memukul teman sekolahnya hingga berdarah.”

__ADS_1


“Apa?”


__ADS_2