KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 39 - SEMANGAT YOAN


__ADS_3

Dara keluar dari kamar mandi. Ia menuju nakas untuk melakukan ritual skincare malam.


Sedang fokus melumuri wajah dengan krim, Dara kaget mendengar deringan ponselnya.


"Apa-apaan ini?!" Mata Dara melotot sempurna melihat nama penelpon di layar ponsel.


Yoan tampan kesayanganku, memanggil...


Dara baru ingat, pria itu tadi sempat mengambil ponselnya. Pasti untuk mengganti nama kontaknya. Nama yang sangat norak dan menggelikan.


Tangan Dara mengotak atik ponsel, untuk mengganti nama kontak tersebut.


Setelah selesai dengan ritualnya, Dara berbaring di tempat tidur. Ia akan tidur, besok ia kerja masuk shift pagi.


Mata Dara terpejam, tapi ia malah mengingat pria itu.


"Yes! Yes!!!"


Yoan bersorak gembira karena Dara mau memberi kesempatan.


"Terima kasih, Dara!!!" Sangking senangnya, Yoan kembali memeluk wanita itu.


"Lepaskan aku! Jangan peluk-peluk aku!" Dara yang geram mendorong dada pria itu. Yoan itu selalu mencari kesempatan.


"Ma-maaf!!! Aku repleks karena sangat senang." Ucap Yoan beralasan.


"Aku bukan menerima anda. Aku hanya memberi kesempatan anda untuk mendekatiku. Itu pun hanya seminggu!!!" Dara mengingatkan. Ekspresi pria itu seperti perasaannya diterima saja.


Wajah Yoan berubah manyun. Ternyata hanya pdkt, tadinya ia mengira mereka menjalin hubungan selama seminggu.


"Baiklah!!! Aku akan berjuang merebut hatimu!!!" Yoan mengucapkan dengan semangat dan sangat yakin. Pria itu sampai mengepalkan tangan ke udara.


Dara menggeleng sambil tersenyum tipis melihat tingkah pria itu.


Ting


Satu pesan masuk menyadarkan lamunan Dara. Ia meraih ponsel dan membaca pesannya.


Si Aneh: kenapa nggak diangkat?


Si Aneh: kamu sudah tidur ya


Dara menggeleng. Pria itu bertanya sendiri dan menjawab sendiri.


Ting...


Ting...


Ting...


Si Aneh: lagi apa?


Si Aneh: kok belum tidur?


Si Aneh: aku telepon ya


Dara meletakkan ponsel di atas meja. Dan kembali membaringkan tubuhnya. Ia akan tidur saja.


Di tempat lain, Yoan menatap ponselnya kesal. Dara hanya membaca pesannya, tanpa membalasnya. Wanita itu memang selalu seperti itu.


'Dara... Kirim jadwalmu.' Yoan mengetik pesan tersebut dan mengirimkannya.


Pria itu berbaring sambil menunggu pesannya dibalas.


10 menit telah berlalu...


Pesan kirimannya bercentang dua biru. Dara lagi-lagi hanya membaca tanpa membalasnya.


'Harus diancam sepertinya?!'


Yoan mengetik pesan. Wajahnya tampak sangat kesal.

__ADS_1


Di kamar, Dara menghembuskan nafasnya. Lagi-lagi bunyi ponselnya.


Si Aneh: kalau kamu tidak kirim sekarang


Si Aneh: besok pagi-pagi aku akan datang ke rumahmu.


'Dasar tukang ancam!!!'


\=\=\=\=\=\=


"Yoan..." Panggil Mama yang bingung melihat sang putra pagi-pagi sudah sarapan.


"Makan, Ma." Ajak Yoan sambil melahap makanannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mama dengan raut wajah bingung. Masih pukul 6 pagi dan Yoan sudah begitu rapi.


"Ke kantor, Ma." Jawab Yoan sambil senyum.


Mama makin menunjukkan wajah bingung. Biasanya Yoan ke kantor jam setengah delapan. Kenapa jam 6 sudah bersiap ke kantor?


"Apa ada masalah di kantor?" tanya Mama sambil membuatkan teh untuk sang suami.


Dengan cepat Yoan menggeleng.


"Ma, Yoan berangkat ya." Setelah selesai makan, Yoan pun pamitan pada Mamanya.


'Kenapa dia? Apa kesambet?!' batin Mama yang melihat Yoan sudah berlari pergi. Putranya seperti tergesa-gesa.


Pagi ini Yoan begitu sangat bersemangat. Ia berniat akan mengantar Dara berangkat kerja. Hari ini Dara masuk pagi.


Dara memulai kerja pukul 7 pagi. Berarti setengah tujuh pasti Dara sudah berangkat. Jadi Yoan harus menjemput Dara sebelum setengah tujuh.


Yoan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Tempat ia mengantar Dara pulang semalam. Wanita itu tidak mengizinkannya ke rumahnya.


Pria itu mengirim pesan pada Dara.


Sementara itu Dara pamitan pada kedua orang tuanya. Lalu berlari ke depan, karena tukang ojek sudah menunggunya.


Yoan menunggu di simpang jalan sambil melihat ponsel. Pesannya belum dibaca Dara.


'Aku telepon saja!'


Tak ada jawaban dari wanita itu. Mata Yoan melihat pengendara sepeda motor melewatinya.


'Dara!' Batin Yoan yakin itu Dara. Meskipun wajahnya tidak kelihatan karena memakai helm.


Yoan pun mengikuti sambil menelepon Dara. Tapi tidak diangkat juga.


Pria itu pun menklakson sepeda motor tersebut.


Sepeda motor melaju di pinggir, karena mengira mobil tersebut mau melewatinya. Tapi tetap juga...


Tin...


Tin...


Tin...


Yoan mengklakson berkali-kali lalu ia menghadang sepeda motor tersebut.


Cit...


Sepeda motor tersebut mengerem mendadak dan hampir menabrak mobil tersebut.


"Hei... Kalau berhenti-"


"Maaf, Pak. Saya mau menemui nona ini." Yoan meminta maaf sejenak.


"An-anda kenapa ada di sini?" Dara bingung melihat Yoan.


"Aku sudah katakan akan mengantarmu!" Yoan melepaskan helm yang dipakai Dara.

__ADS_1


Pria itu membawa Dara menuju mobilnya.


"I-itu... Aku belum bayar ongkosnya." Dara akan menghampiri pengemudi ojek.


Tapi Yoan segera jalan menghampiri pengemudi ojek. Ia mengeluarkan selembar uang merah.


"Maaf, Pak. Calon istri saya tidak jadi naik." Yoan memberikan selembar uang tersebut.


'Ca-calon istri?!' Dara merasa risih mendengar kata-kata itu.


"Saya tidak punya kembalian!" pengemudi ojek baru keluar rumah.


"Ambil saja kembaliannya, Pak. Saya permisi." Ucap Yoan lalu kembali menghampiri Dara.


Di perjalanan Yoan melajukan mobilnya. Ia sangat senang melihat Dara di sampingnya.


"Anda menelepon? Kirim pesan juga?" Dara baru melihat ponselnya.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Yoan mengalihkan topik.


"Sudah!"


"Mau singgah sarapan sebentar?"


"Aku bisa terlambat!"


Yoan mengangguk mengerti. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.40 menit.


Mobil pun berhenti di depan swalayan. Dara langsung melepas sabuk pengamannya.


"Terima kasih sudah mencegat dan mengantarku!" ucap Dara dengan wajah cemberut.


"Tolong lain kali jangan seperti ini lagi!" Pinta Dara merasa tidak nyaman.


"Aku hanya ingin menunjukkan perhatianku. Aku-"


"Maaf ya, aku sudah terlambat!" Dara pun turun dari mobil dan setengah berlari memasuki swalayan yang baru terbuka sedikit. Pasti Eli sudah datang.


"Li, maaf ya. Aku telat!" Dara merasa tidak enak. Eli sudah selesai menyapu swalayan.


"Santai saja kak."


"Biar aku saja yang ngepel."


"Aku akan bersihkan kaca."


Dara berjalan menuju kamar mandi. Untuk mengambil ember dan kain pel.


Sementara Eli terlihat sibuk mengelap kaca. Agar tetap kinlong.


"Astaga!!!" pekik Eli yang kaget ada orang berdiri di depan pintu kaca.


"Ma-maaf." Yoan meminta maaf karena mengagetkan anak orang.


"Maaf, Bang. Kami belum buka, masih bersih-bersih." Ucap Eli memberitahu.


Yoan mengangguk mengerti. Matanya lalu melihat Dara yang datang membawa ember dan kain pel.


Dara kaget melihat pria itu. Ia mengira setelah mengantarnya, Yoan langsung pergi. Malah masih tetap di sini.


Eli melihat Yoan dan Dara saling menatap sesaat. Lalu Dara pun mengepel lantai.


Mata Yoan terus melihat Dara melakukan itu. Mengepel seluruh lantai swalayan. Wanita itu berkali-kali mengelap keringatnya yang berjatuhan.


'Saat kita menikah nanti. Aku tidak akan mengizinkanmu bekerja lagi. Kamu hanya perlu menghabiskan uangku saja...'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2