
Dara tersenyum tipis membaca pesan yang dikirim Yoan. Pria itu mengirimkannya pesan yang sangat menggelikan.
Si Aneh: selamat pagi cinta
Si Aneh: jangan lupa sarapan ya
Si Aneh: aku nggak mau kamu sakit
Si Aneh: sayang, aku sangat merindukanmu
'Umur berapa dia?' Dara kembali menggelengkan kepala. Isi pesannya seperti ABG.
Dara pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Bergelut dengan pikirannya sendiri.
'Apa aku akan menikah dengannya??!' Dara masih ragu. Ia tidak mengenal Yoan sedikit pun, tapi bersedia menikah dengannya.
'Terserahlah!!! Mau menikah atau tidak?!' Batin Dara.
Selama ini ia sudah berusaha menerima pria yang dijodohkan dengannya. Tapi, selalu saja ada masalah. Bisa jadi Yoan seperti itu, akan ada masalah yang membuat rencana pernikahan jadi batal.
Dara memejamkan mata, ia akan tidur sejenak. Nanti siang ia harus pergi bekerja.
Siang itu, Dara sudah masuk kerja. Ia mulai sibuk mengisi chiller. Pandangannya menoleh ke arah luar.
'Dia tidak datang?' Dara melihat jam tangannya. Biasanya jam segini, Yoan sudah muncul saja.
'Apa dia nanti malam akan menjemputku?' batin Dara bertanya. Mungkin karena ia masuk siang, pria itu akan mendatanginya saat malam nanti.
Tin
Dara menoleh ke arah depan. Ia tersenyum tipis melihat mobil Yoan terparkir di depan. Ternyata pria itu datang juga.
Wanita itu segera menggeleng kepala, kenapa ia merasa senang melihat pria itu? Dara pun kembali pada pekerjaannya.
"Kak Dara... mau es buah? Ayang bebepnya bawain nih!" teriak Eli memberitahu.
'Eli!!!" Dara mendumel dan tetap dengan mode budeknya.
"Hai!!!" sapa Yoan menghampiri Dara. Calon istrinya itu sangat fokus pada pekerjaannya.
"Hah? an-anda kenapa di sini?" tanya Dara terkejut melihat Yoan. Seolah ia tidak tahu pria itu datang.
"Aku mau menjemput kamu." Jawab Yoan dengan senyum merekah. Kembali melihat Dara mengobati kerinduannya.
"A-aku belum pulang. Aku masuk siang." Jelas Dara kembali.
"Aku tahu, sayang. Aku akan menunggu kamu sampai malam."
"Apa?" Dara menautkan alisnya. Waktu saja masih menunjukkan pukul 4, mau berapa lama Yoan menunggu sampai mereka tutup?
"Aku akan menunggu di mobil. Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu!" Yoan menjawab pertanyaan Dara. Sepertinya wanita itu tidak terima.
"A-aku bisa pulang sendiri. Anda pulang saja sekarang!" Dara menyuruh Yoan pergi.
"Dara... Aku akan mengantar kamu nanti malam. Malam hari sangat rawan dan bahaya. Banyak begal bahkan setan berkeliaran!" Yoan sengaja menakuti Dara.
Dara menggeleng. Selama ini jika masuk siang saja, pulang malam aman-aman saja.
"Pulang sana!"
"Tidak. Aku akan menunggu!"
"Jangan begitu!"
Yoan menggeleng. Ia akan tetap mengantar Dara pulang nanti malam.
Dara tampak kesal. Ia pun membuang wajahnya dan kembali bekerja. Terserah pria itu sajalah.
__ADS_1
Melihat ekspresi Dara sekarang, wanita itu sedang marah padanya.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi nanti malam aku akan datang lagi!" Yoan akan mengalah. Ia tak mau membuat Dara kesal padanya.
"Sayang, jangan marah!" Yoan meraih tangan Dara, membuat wanita itu melihat kearahnya. Wajah Dara sangat menggemaskan saat cemberut seperti itu.
"Aku pulang dulu. Itu tadi aku bawa es buah, kamu minum nanti ya." Ucap Yoan dengan nada lembut.
"Hati-hati di jalan." Jawab Dara pelan.
Yoan mengangguk. Ia pun berjalan pergi.
"Saya permisi!" Pamit Yoan saat melewati kasiran. Ia pamit pada karyawan swalayan yang lain.
"Iya, hati-hati ya bang."
"Terima kasih Bang untuk minumannya."
"Sering-sering saja."
Mereka bergantian menjawab, membuat Yoan jadi tertawa. Tapi tidak dengan Dara, wanita itu kesal jadi bahan becandaan temannya.
Mata Dara memperhatikan ke arah depan. Ia melihat Yoan tersenyum sebelum naik ke mobil. Lalu pria itu sempat-sempatnya mengklakson sambil perlahan melaju.
"Ciye kak Dara!!!" ledek Eli yang sudah berada di belakang Dara.
"Astaga Eli!!!" pekik Dara kaget dan memukul kepala Eli dengan sebungkus snack yang dipegangnya.
"Kak Dara!!!"
"Suruh siapa mengagetkanku?!" dengus Dara menormalkan keterkejutannya.
"Itu minum kak, es buah dari ayang bebep!"
"Ayang bebep ayang bebep!" Dara sedikit geli mendengar panggilan tersebut.
"Eli!!!"
\=\=\=\=\=\=
Dara membersihkan sampah-sampah yang berserakan di halaman swalayan. Ia terdiam sesaat saat melihat mobil yang baru parkir. Mobil hitam itu milik Yoan.
Dara melihat jam tangan, ternyata sudah jam 9 lewat. Pria itu benar-benar kembali lagi. Ia mengira Yoan tidak akan datang menjemputnya.
Bugh
Yoan turun dari mobil dengan senyum yang lebar melihat Dara. Ia juga sempat membenarkan rambutnya di kaca mobil, agar tetap rapi dan cool di depan wanitanya.
'Sok ganteng!' cibir Dara dalam hati melihat tingkah Yoan. Lalu ia kembali membereskan sampah tersebut.
"Malam cintaku..." Sapa Yoan menghampiri Dara. Setiap bertemu Dara, hatinya selalu berdebar kencang.
"Ke-kenapa kemari?"
"Jemput kamu." Jawab Yoan. "Sini biar aku bantu!"
"Tidak usah!" Dara mengambil kembali sapunya yang mau direbut Yoan.
Yoan mencemberutkan wajahnya, ia jadi hanya melihati Dara mengangkat sampah-sampah itu.
'Huft... selesai juga!!!' Data akan menyeka keringatnya.
Tapi tiba-tiba ada yang mengelap keringatnya dengan tissu.
"Capek ya!" Yoan sedikit khawatir pada Dara. Keringat Dara bercucuran.
Dara kembali terpaku sesaat pada perhatian Yoan.
__ADS_1
"A-aku tidak apa!!!" Dara mengambil tissu itu dan mengelapnya sendiri, lalu ia melangkah masuk ke swalayan.
Yoan memilih menunggu di dalam mobil. Ia tidak mau mengganggu Dara. Sebentar lagi juga sudah pukul 10, swalayan akan tutup.
Dari dashboardnya, Yoan mengeluarkan sebuah kotak. Wajahnya tersenyum melihat kotak kecil tersebut. Nanti akan diberikannya pada Dara.
Krek...
Suara pintu besi membuat Yoan menoleh. Dara dan temannya sedang mengunci pintu. Yoan pun segera menyimpan kotak kecil itu.
Setelah menutup pintu swalayan, Dara melihat mobil Yoan. Ia pun berjalan menghampiri.
"Silahkan sayangku!" Yoan membukakan pintu mobil. Pria itu sengaja turun.
"Terima kasih!" jawab Dara dan naik ke mobil. Ia segera menghembuskan nafas, saat pintu telah tertutup.
Bugh
Yoan masuk dari pintu lainnya. Dan memberikan senyuman pada Dara.
"Ke-kenapa?" tanya Dara mendadak gugup.
"I-ini." Yoan memberikan kotak kecil pada Dara.
Dara menerima dan membukanya. Ternyata isinya sebuah cincin bermata kecil tapi menyilaukan.
"A-apa ini?" tanya Dara tidak mengerti.
"Se-se-semalam aku melamarmu tanpa cincin."
Dara masih menunggu Yoan melanjutkan perkataannya.
"Jadi, aku ulang lagi saja." Yoan menghembuskan nafasnya pelan.
"Dara... maukah kamu menikah denganku?" ungkap Yoan kembali.
Deg
Hati Dara sedikit berdesir dengan perbuatan Yoan. Ia menatap Yoan.
"Ma-maaf kalau aku tidak romantis." Yoan merasa mungkin Dara tidak suka lamaran seperti ini.
Dara mengulurkan tangannya membuat Yoan melihat wanita. Wajah Dara sudah merona.
Perlahan Yoan memakaikan cincin di jari Dara.
"Ternyata pas!" Yoan bernafas lega, ia takut kebesaran atau kekecilan di jari Dara.
Dara tersenyum tipis melihat cincin di jarinya. Ini kali kedua ia menerima cincin.
"Sayang..." Yoan mengarahkan wajah Dara ke arahnya.
Wajah pria itu makin lama makin dekat. Hembusan nafas bahkan menerpa wajahnya.
Dara memalingkan wajahnya, hal tersebut membuat Yoan jadi mengangguk mengerti.
"Kita pulang?" tanya Yoan mengalah.
Dara mengangguk pelan, ia masih memalingkan wajahnya.
'Sabar Yoan!!! Dilarang menyosor!!!'
.
.
.
__ADS_1