
"Mas Yoan... ayo bangun. Kita sarapan." Dara mentoel-toel pipi Yoan. Pria itu tidurnya sangat pulas sekali.
Dara menggoyang-goyangkan badan Yoan.
"Jam berapa sekarang?" tanya Yoan membuka matanya. Ia bangun dan mendudukkan diri di tempat tidur.
"Jam 7 lewat, Mas." Dara menunjuk jam dinding.
"Aku harus bersiap." Ucap Yoan mendaratkan satu kecupan di bibir Dara. Lalu ia bangkit dari tempat tidur.
"Bersiap?" tanya Dara bingung.
"Aku mau ke kantor, sayang." Jawab Yoan sambil merenggangkan tangannya.
"Loh, bukannya Mas masih cuti?" Dara ingat Yoan mengatakan cutinya sampai 2 minggu. Ini masih seminggu.
"Ada yang harus aku selesaikan, sayang." Yoan harus segera turun tangan. Ada masalah di kantornya.
Dara mengangguk dan mencoba mengerti. Suaminya memiliki tanggung jawab yang besar.
"Nggak apa kan, sayang." Yoan merasa tidak enak. Tangannya pun mengelus kepala Dara.
"Iya, Mas. Tidak apa." Dara mengangguk mengerti.
"Aku akan mulai bekerja keras untuk kamu dan anak-anak kita." Ucap Yoan dengan tegas.
Blush...
Pipi Dara mendadak merona. Pagi-pagi ia sudah mendengar perkataan pria itu. Yoan bekerja keras untuk bertanggung jawab padanya. Dara merasa hatinya jadi berdebar-debar.
"Sudah mandi sana! Aku akan menyiapkan pakaian." Dara mendorong tubuh Yoan masuk ke kamar mandi.
Yoan sedang mandi, sementara Dara membuka lemari. Ia akan menyiapkan pakaian yang akan dipakai suaminya.
Tak lama, Dara terpaku melihat suaminya. Yoan memang tampan dan sangat menyilaukan. Pria itu sudah rapi berpakaian kantor. Aura Yoan terkesan gagah dan berwibawa.
'Apa yang dilihatnya dariku ya?' batin Dara membuang pandangannya.
Dara jadi sedikit minder. Yoan, suaminya itu bisa dikategorikan mendekati sempurna. Fisik yang ok, finansial yang stabil dan pintar. Yoan pasti pintar, jika tidak mana mungkin ia dipercaya meneruskan perusahaan warisan itu.
Lah Dara...
Dara menghembuskan nafasnya pelan. Tak ada kelebihan yang dimilikinya. Bahkan jika dibandingkan dengan wanita di luaran saja. Ya, nggak usah dibandingkanlah. Dara akan sadar diri.
"Sayang, kamu kenapa? dari tadi aku panggil bengong terus. Apa aku begitu tampan?" tanya Yoan menatap sang istri. Istrinya pasti terpaku akan ketampanan yang dimilikinya.
"Mas, ayo kita sarapan!" ajak Dara menggandeng Yoan ke dapur. Ia menghindari kepedean suaminya itu.
"Kamu masak apa?" tanya Yoan merangkul Dara.
"Nasi goreng, Mas."
"Pasti enak. Akan aku habiskan semua!"
\=\=\=\=\=\=
"Sayang, tambah lagi!" Pinta Yoan dengan bibir sedikit dower. Nasi goreng buatan Dara lumayan pedas.
"Lagi?" tanya Dara. Yoan sudah kepedasan.
__ADS_1
"Iya."
"Nanti Mas sakit perut." Ucap Dara khawatir. Selera pedas Yoan dan dirinya berbeda.
"Nggak. Tambah lagi." Yoan tetap memaksa.
Dara menambahkan nasi goreng di piring Yoan. Pria itu kembali memakannya dengan lahap.
"Mas, minum dulu." Dara menyodorkan segelas air.
"Terima kasih..."
Tak lama Yoan bersiap berangkat ke kantor. Dara mencium tangan Yoan, sebagai wujud patuhnya seorang istri.
Yoan lalu menkecup kening Dara cukup lama, ia menyalurkan segala perasaannya. Ia juga menkecup kedua pipi Dara.
Yoan menatap bibir Dara sejenak. Jika sudah menyentuh bibir sang istri, ia akan menyentuh-menyentuh bagian yang lain. Lalu, ia tidak akan jadi berangkat ke kantor.
Tapi, bibir itu terlalu rugi jika dilewatkan begitu saja. Terlambat sedikit ke kantorkan tidak masalah.
Perlahan Yoan mulai mengikis jarak di antara mereka. Saat hembusan nafas saling menerpa wajah mereka. Tiba-tiba...
Tut...
"Mas Yoan!!!" Dara menutup hidungnya. Udara pagi yang segar mendadak tercemar.
"Ma-maaf, sayang." Yoan segera berlari menuju kamar mandi, setelah mengeluarkan gas. Perutnya mendadak mules.
"Mas..." Dara memangil Yoan sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Mas, kita ke rumah sakit saja ya." Ucap Dara yang khawatir. Suaminya sudah bolak-balik keluar masuk kamar mandi.
Yoan keluar dari kamar mandi, Dara pun memapahnya. Dan mendudukkan Yoan di tempat tidur.
"Mas, kita ke rumah sakit ya." Ajak Dara dengan wajah bingung.
"Tidak usah, aku sudah tidak apa-apa kok. Sayang, aku harus ke kantor sekarang." Yoan melihat jam dinding.
Dara menggeleng, ia tidak akan mengizinkan Yoan pergi. Suaminya sedang sakit perut. Jika di kantor bolak balik masuk kamar mandi, ribet juga.
"Sayang, aku sudah tidak-" Yoan bangkit dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas, kita ke rumah sakit." Dara merasa bersalah, pasti Yoan sakit perut karena makan nasi gorengnya.
Tak lama, Yoan keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum lemah pada istrinya.
"Mas, kita-"
"Aku tidak apa." Yoan berjalan ke tempat tidur dibantu Dara.
"Ya sudah. Mas ganti baju, lalu istirahat."
Yoan mengangguk. "Aku akan telepon El."
Dara pun mengambilkan ponsel Yoan.
Beberapa saat berlalu, Dara masuk kamar. Ia mengelus kepala Yoan. Suaminya sudah tertidur pulas. Ia pun mendaratkan satu kecupan di keningnya.
'Jangan sakit, Mas!' batin Dara sedih.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Seorang wanita berjalan memasuki lobi sebuah perusahaan. Ia berjalan dengan kepala tegak membawa sebuah paper bag, menuju ke arah resepsionis.
"Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis ramah.
Maudy tidak menjawab, ia malah melihat sekitar. Mencari orang yang ingin ditemuinya, yang mungkin saja kebetulan lewat.
"Mbak..." panggil resepsionis sedikit kesal. Jika tidak ada yang mau dikatakan, seharusnya tidak usah berdiri di depan meja resepsionis.
"Aku mau bertemu Yoan." Ucap Maudy kemudian.
Resepsionis melihat Maudy sejenak. Ia ingat dulu ada juga wanita yang mencari atasannya itu. Dan ternyata itu calon istri atasannya. Dan wanita ini?
"Pak Yoan dari divisi apa ya, Mbak?" tanya resepsionis kembali. Namanya Yoan cukup banyak di perusahaan ini.
"Yoan, direktur perusahaan ini." Jelas Maudy dengan senyuman sinisnya.
Resepsionis mengangguk. Ternyata mencari pak Yoan atasan.
"Maaf, Mbak. Pak Yoan sedang mengambil cuti." Resepsionis memberitahu.
"Kapan dia kembali ke kantor?" tanya Maudy.
"Mungkin sekitar 2 atau 3 minggu lagi."
"Kamu yang jelas dong. 2 minggu atau 3 minggu? Kamu menyuruh saya bolak balik begitu?" Maudy tidak suka dengan jawaban resepsionis tersebut.
"Mbak ada keperluan apa dengan pak Yoan. Saya akan sampaikan saat pak Yoan kembali masuk." Ucap resepsionis kembali.
"Kelamaan! Telepon dia sekarang! Katakan Maudy ingin menemuinya." Pinta Maudy sambil melipat tangan.
"Maaf, Mbak. Pak Yoan tidak bisa diganggu. Mbak bisa kembali lagi kemari, saat Pak Yoan masuk setelah cuti." Jelas resepsionis. Menelepon atasan yang sedang berbulan madu, bisa-bisa dia dipecat.
Maudy jadi geram. Mau menelepon Yoan, tapi nomor ponsel Yoan sudah ganti.
"Kamu telepon Yoan sekarang!" Maudy masih memaksa.
"Maaf, Mbak." Tolak resepsionis. Ia memberi isyarat security.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?" tanya security menghampiri.
"Saya mau bertemu Yoan." Jelas Maudy.
"Pak Yoan sedang cuti. Anda bisa datang kembali saat pak Yoan selesai cuti." Saran security
"Telepon dia sekarang juga! Katakan Maudy ingin bertemu dengannya!"
"Maaf, Mbak. Tidak bisa!"
"Telepon sekarang!!! Kalian tidak tahu siapa aku?!"
Maudy tetap memaksa membuat security terpaksa menggeretnya keluar dari lobi kantor. Wanita itu membuat keributan.
"Lihat saja. Aku akan memecat kalian semua!!!" ucap Maudy di depan pintu masuk. Mereka sudah berani mengusir dirinya.
'Dasar!!! masih pekerja saja sudah belagu!!!' Maki Maudy dalam hati.
.
__ADS_1
.
.