KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 110 - Papa


__ADS_3

Maudy sedang menonton tv. Ia ngelus-elus kepala Jeri yang tidur di pelukannya.


"Sayang Mama sama Jeri ini." Ucap Maudy menkecupi kepala putranya. Ia sangat menyayangi putranya itu.


"Maudy..." Papa mendatanginya.


"Iya, Pa."


"Tentang Denis..." Ucap Agus perlahan.


Mendengar nama Denis, Maudy menunjukkan wajah malasnya.


"Pa, sudahlah. Jangan bahas Denis lagi." Maudy menolak membahas nama itu. Nama yang membuat emosi saja.


"Papa cuma mau bilang, mobil Denis masuk jurang." Pria paruh baya itu memberitahu.


"Hah? benarkah? apa dia mati?" tanya Maudy memastikan.


"Denis terlibat kasus prostitusi, saat penangkapan dia kabur dan polisi terus mengejarnya..."


Maudy mendengarkan dengan serius, apa yang papanya katakan. Entah mengapa, ia merasa senang dengan apa yang menimpa pria itu.


"Apa polisi sudah menemukan mayatnya?" tanya Maudy cepat.


"Polisi hanya menemukan mobilnya. Denis tidak ada di dalam mobil."


Maudy terlihat kecewa. Kemungkinan besar Denis masih hidup. Padahal ia berharap Denis mati saja, masa mobilnya masuk jurang pria itu tidak mati. Pasti saat mobilnya jatuh, Denis sudah kecampak keluar. Mungkin saja pria itu tergantung di batang pohon.


"Aku berharap dia mati saja." Maudy merasa tidak memerlukan pria itu. Meskipun papanya berniat akan menjebloskannya ke penjara, tetap saja saat nanti Denis keluar penjara. Pria itu mungkin akan mencari Jeri dan Maudy sudah membayangkan drama pria itu.


"Nak, dia ayah anakmu." Papa mengingatkan. Walau tidak suka dengan Denis, tetap ada darah pria itu mengalir di tubuh Jeri.


"Tidak, Pa. Denis tidak pernah mengakui Jeri anaknya. Jadi jangan katakan Jeri anaknya. Jeri tidak butuh seorang ayah. Aku yang akan merangkap menjadi ibu dan ayah buat Jeri." Maudy memeluk Jeri dengan erat. Anaknya tidak mau diakui Denis, malah saat itu mengatakan putranya anak haram.


Maudy mengusap air matanya. Saat itu putranya masih bayi, saat ia kembali mendatangi Denis. Maudy mengira Denis akan luluh saat melihat anaknya. Tapi pria itu malah mengatakan anaknya itu anak haram.


"Aku akan merawat Jeri, Pa!" tegas Maudy.


"Papa mengerti. Papa sama Mama akan bersama-sama dengan kamu merawat Jeri. Jeri tidak butuh ayah, dia butuh orang-orang yang menyayanginya."


Maudy mengangguk. Papa dan Mamanya sangat menyayangi putranya, itu sudah lebih dari cukup.


"Pa, aku mau ke kamar. Mau mindahkan Jeri ke tempat tidur." Ucap Maudy. Ia bangkit dan membawa putranya ke kamar.


Dengan hati-hati Maudy membaringkan Jeri di tempat tidur. Ia tidak mau membangunkannya.


Maudy menyelimuti Jeri dan menkecup keningnya. Lalu memandangi putranya yang begitu lelap.


'Maafkan Mamamu ya, nak!'


\=\=\=\=\=\=


"Tampannya putra Mama ini." Maudy menciumi pipi Jeri dengan gemas.


"Ma-ma." Eja bocah kecil tersebut. Ia tertawa diciumi Maudy.


"Baiklah, kita pergi." Maudy bergandengan dengan putranya.


"Jeri mau ke mana, sayang?" tanya Novia melihat cucunya sudah rapi.


"Jalan-jalan nek. Jeri mau jalan-jalan sama Mama." Maudy menjawabnya.


Novia menkecup pipi cucunya. "Hati-hati ya."


"Ma, kami pergi." pamitnya.


Maudy mendudukkan Jeri di dalam mobil, lalu memasang sabuk pengaman.


"Ok, Jeri jangan lasak ya nak."


"Ma-ma." Hanya itu jawaban Jeri.


Maudy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia akan membawa Jeri ke taman. Di sana mereka akan duduk-duduk menikmati udara sore.


Sampai di taman, Maudy menggandeng putranya berjalan menyusuri taman. Kadang Maudy menggendong putranya juga. Kasihan Jeri bisa kecapekan.


Sementara di tempat itu juga. Seorang pria duduk sambil menatap danau buatan di depannya.


Sudah seminggu, ia menjadi pengangguran. Ia belum mau mencari pekerjaan baru. Mungkin bulan depan, ia baru bergerak.


'Sudah sore, aku harus pulang.' Roni pun bangkit dan akan berjalan ke luar taman.


Saat berjalan Roni kaget, ada yang memegang kakinya. Ia pun berbalik dan melihat siapa yang memegangnya.

__ADS_1


"Pa-pa."


Roni menyerngitkan dahinya. Bocah kecil itu memanggilnya dengan sebutan Papa. Dia bukan papa bocah kecil itu, pasti salah orang.


"Jeri, kamu jangan tinggali Mama dong." Maudy menghampiri putranya. Jeri tidak bisa silap sedikit saja. Begitu pegangan terlepas langsung berjalan pergi.


Maudy tadi sempat kehilangan putranya. Ia takut Jeri hilang diculik. Sekarangkan marak penculikkan anak.


"Jeri, ayo sini nak." Maudy akan meraih putranya.


Jeri malah makin memeluk kaki pria itu.


"Papa." Ucapnya kembali.


"Nak, Om ini bukan papamu." Maudy menggeleng, Jeri mengatakan orang lain papanya.


"Maafkan anakku." Maudy merasa tidak enak. Pria itu pasti sangat tidak nyaman.


"Neng..." Ucap Roni melihat wanita itu. Ternyata mantannya Yoan.


"Kamu!" Maudy terkejut melihat Roni.


"Jangan bilang kamu mengikutiku. Apa kamu begitu tertarik padaku? Jangan bermimpi, kamu bukan tipeku!" Ucap Maudy dengan pedenya. Roni seperti sengaja sekali mendekatinya.


"Astaga!!! Jangan kepedean!" Roni menggelengkan kepalanya.


Roni pun berjongkok dan melihat Jeri.


"Siapa nama kamu?" tanya Roni pada bocah kecil itu.


"Pa-pa." Jeri menjawab begitu, ia pun memeluk pria itu.


"Jeri... sini sama Mama." Maudy jadi bingung, Jeri malah memeluk pria itu.


Jeri menggeleng, ia makin memeluk Roni dengan erat.


"Om ini bukan papa kamu, sayang. Sini sama Mama." Maudy akan meraih Jeri, tapi putranya malah jadi menangis.


"Sudahlah, neng." Roni merasa kasihan dengan bocah tersebut.


"Jeri mau digendong papa?" tanya Roni membujuk.


"Pa-pa." Tangis Jeri berhenti saat Roni menggendongnya.


Maudy tidak habis pikir dengan putranya. Jeri menganggap pria itu papanya.


"Ayo, kita pulang nak." Ajak Maudy akan meraih Jeri kembali.


Tapi putranya kembali menangis dan memeluk Roni. Seolah tak mau terlepas.


"Sudah, biarkan sebentar."


"Maafkan Jeri ya." Maudy merasa tidak enak.


"Papa, clim." Ucap Jeri kembali.


Roni bingung Jeri ngomong apa.


"Hei neng, apa kata Jeri?" tanyanya pada Maudy.


"Jeri bilang apa, nak?" tanya Maudy dengan nada lembut.


"Papa, clim." Jeri menunjuk penjual es krim.


"Oh es krim. Jeri mau es krim ya?"


"U.." jawabnya mau.


"Boleh Jeri makan es krim?" tanya Roni pada Maudy terlebih dahulu. Ia tidak bisa sembarang memberikan bocah itu makanan.


"Boleh." Maudy mengangguk.


"Ayo, kita beli es krim!" ucap Roni berjalan sambil menggendong Jeri. Ia akan membeli es krim.


Maudy mengeleng. Jeri tampak sangat nyaman dengan pria itu. Padahal Roni bukan papanya.


"Kamu ngapain ikut? Tunggu saja di sana." Roni melihat Maudy yang mengikuti mereka.


"Aku tidak mengenalmu. Kalau anakku kamu culik bagaimana?" Maudy tidak percaya begitu saja. Ia harus terus mengawasi putranya.


Roni mendengus. "Mau es krim?"


Maudy menggelengkan kepala. Ia sedang tidak ingin makan es krim.

__ADS_1


Tak lama mereka duduk di depan taman buatan. Maudy pusing, putranya nggak mau lepas dari pria itu.


"Enak?" Roni menyuapi Jeri es krim.


"Aduh, Jeri. Jangan lasak, nak. Baju Omnya jadi jorok." Maudy memperingatkan. Setiap disuapi Roni, Jeri akan kembali memeluk Roni. Baju Roni berlepotan es krim.


"Sudah tidak apa." Roni tidak masalah. Bisa dicuci nanti.


"Nanti biar aku cuci saja." Maudy tidak enak hati.


"Tidak usah."


Setelah selesai makan es krim, Maudy mengajak putranya pulang. Tapi tetap saja Jeri tidak mau. Makin mengeratkan pelukannya pada Roni, seolah tidak mau terpisahkan.


"Papa."


"Om ini bukan papa kamu, nak. Ayo, kita pulang. Jeri belum minum susu."


Maudy membujuk putranya dan Jeri tetap tak mau lepas dari Roni. Wanita itu memaksa akan menggendongnya, lalu Jeri kembali menangis.


"Sudahlah, neng. Biarkan sebentar." Roni mengelus punggung Jeri.


"Nggak bisa. Kami harus pulang!" ucap Maudy. Hari sudah makin sore.


"Jeri pulang ya sama Mama." Bujuk Roni lembut.


Bukannya menurut, Jeri tetap memeluk Roni.


Maudy kembali memaksa dan makin Jeri menangis kencang.


"Biarkan sebentar, neng. Kasihan Jeri." Roni tidak tega mendengar suara tangisan Jeri, terdengar sangat memilukan.


"Sudah, sudah. Cup, cup, cup... Jeri jangan nangis ya!" Roni membujuk sambil mengelus-elus kepala Jeri. Bocah kecil itu tak lama diam dan Sudah tidak menangis lagi.


"Apa Jeri anaknya Yoan?" tanya Roni seraya masih mengelus -elus Jeri.


"Bukan urusanmu!" jawab Maudy sinis. Pria itu kepo saja.


Roni menghela nafas, terserahlah. Mau anak Yoan atau bukan. Ia sudah tidak mau mengganggu Dara lagi. Biar saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Jeri sudah tidur berikan padaku." Pinta Maudy.


Roni mengangguk dan perlahan menyerahkan Jeri untuk digendong mamanya. Tapi...


Jeri bangun dan menangis lagi. Roni pun kembali menggendongnya lagi.


Maudy menghela nafas panjang. Putranya mau sampai kapan dengan pria itu.


"maafkan Jeri ya."


"Nggak apa." Roni kembali mengelus dan tak butuh waktu lama, Jeri sudah anteng kembali.


"Kamu naik apa tadi kemari?" tanya Roni.


"Mobil." Maudy menunjuk ke arah parkir.


"Akan ku antar sampai mobil saja." Ucap Roni lalu bangkit.


Hari sudah mulai gelap. Maudy harus membawa Jeri pulang. Jeri masih kecil, tidak baik di luar saat malam.


Roni berjalan sambil menggendong Jeri. Ia jadi tersenyum. Apa seperti ini saat memiliki seorang putra?


Saat menikah dengan Ratu, mereka tidak memiliki anak.


Roni meletakkan Jeri di dalam mobil. Begitu di letak, Jeri kembali bangun dan menangis lagi.


Maudy benar-benar tidak mengerti pada putranya itu.


"Cup, cup, cup... Anak laki nggak boleh nangis ya." Roni mengelus-elus kepala Jeri. Dan tak lama Jeri kembali anteng.


Roni pelan-pelan menutup pintu mobil, agar Jeri tidak terbangun lagi.


"Maaf, jadi merepotkanmu."


"Pulanglah. Hati-hati di jalan."


Maudy mengangguk, ia pun naik ke mobil.


Roni melihat mobil Maudy yang makin lama makin menjauh meninggalkan taman.


'Ok, ayo kita pulang! Ibuk masak apa ya?'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2