
Yoan membawa Dara ke sebuah studio foto. Mereka akan melakukan foto preweding.
"Apa anda yakin?" tanya Dara saat melepas sabuk pengaman.
Yoan melihat ke arah Dara. Apa lagi yang ditakutkan wanitanya. "Yakin apa?"
"Yakin menikah denganku!"
"Aku yakin. Bahkan sangat yakin!" jelas Yoan kembali.
"Ki-kita tidak usah ada foto prewed saja!"
"Dara..." Panggil Yoan pelan.
"Maksudku... kita menikah sederhana saja. Kita ke KUA dan disaksikan beberapa keluarga kita saja." Jelas Dara akan niatnya.
Dara masih dibayangi ketakutan kejadian 7 tahun yang lalu. Calon pengantin pria kembali meninggalkannya. Jadi menurut Dara, jika pernikahan hanya sederhana saja. Jika pun Yoan pergi meninggalkannya, ia tidak akan terlalu malu. Karena hanya keluarga saja yang tahu.
"Sayang, apa yang kamu takutkan?" tanya Yoan memandang wajah Dara yang pucat. Ia sudah merencanakan pernikahan yang wah. Kedua orang tuanya dan orang tua Dara sudah setuju dengan rencana resepsi tersebut.
Tapi, wanita ini menginginkan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga saja. Itu tidak mungkin.
Ibu Yumi, mamanya saja sudah heboh mengabari keluarga besar mereka, grup sosialitanya, pada tetangga dan lainnya. Begitu juga papanya, akan mengundang semua rekan bisnis dan para karyawan.
Kedua orang tuanya melakukan hal yang sama seperti saat ia akan menikah kala itu.
"Itu..." Dara menundukkan kepala.
"Sayang, percaya padaku!" Yoan menggenggam tangan mungil itu. "Kamu takut pernikahan akan batal lagi?"
Dara diam lalu mengangguk pelan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu di hari pernikahan, karena aku tahu rasanya sangat menyakitkan." Jelas Yoan memastikan.
"Kalau kamu ragu begitu, aku malah yang takut kamu yang akan meninggalkanku." Timpal Yoan kembali. Dara tampak meragukannya.
"Tidak! Mana mungkin seperti itu!" sanggah Dara cepat.
"Aku pun juga tidak akan melakukan hal seperti itu." Jelas Yoan kembali. "Jadi sayang, tolong sudahi pikiran kamu yang aneh-aneh itu."
"Ma-maaf."
"Aku mengerti!" Yoan mengangguk. "Sayang, ayo... kita turun!"
Tak lama, mata Yoan terpaku menatap wanita yang keluar memakai gaun pengantin. Dara sudah didandani begitu cantik.
"Cantik..." puji Yoan.
Dara membuang pandangannya, pria itu terlalu berlebihan memujinya.
"Sayang, kamu sangat cantik!" puji Yoan kembali menatap kagum.
"Ok... Mari kita mulai. Mas sama mbaknya tolong berdiri di sana!" pinta sang fotografer.
"Dekat lagi, senyumnya yang lebar, mbaknya jangan terpaksa gitu. Masnya juga mendekat lagi. Hidungnya saling menempel-"
__ADS_1
"Apa?" Dara mundur selangkah, ia melihat sinis ke arah fotografer. "Sepertinya tidak harus sedekat itu. Anda kan bisa mengedit foto tersebut dan membuat foto sedekat-dekatnya."
Sang fotografer melirik ke arah Yoan yang mengangguk pelan.
"I-itu tidak natural dan nampak sangat terpaksa. Apa mbaknya ini akan menikah karena perjodohan?" tanya fotografer yang membuat Dara jadi melihat ke arah Yoan.
"Sayang... mereka ingin hasil foto memuaskan, jadi kita turuti saja. Ya?!" bujuk Yoan agar Dara mengerti.
Dara mengangguk pelan.
Yoan dan Dara mengikuti instruksi fotografer. Memberikan senyuman tipis sampai mengembang.
Dara agak merasa tidak nyaman, saat Yoan terlalu menempel padanya. Bukan hanya tubuhnya saja, bahkan hembusan nafas pria itu di wajahnya. Wajah Yoan terlalu dekat dengannya. Dan tatapan mata Yoan, benar-benar meresahkan.
"Ok selesai!"
Dara menjauh dari Yoan dan bernafas lega. Akhirnya sesi foto ini telah berakhir.
"Aku mau ganti baju." Ucap Dara memberitahu Yoan. Wanita itu pun masuk ke ruang ganti.
Yoan mengangguk dan berjalan menghampiri sang fotografer.
"Bagaimana?"
"Mantap, Bos."
Senyum Yoan mengambang, foto mereka sangat sempurna. Pasangan yang saling mencintai.
"Maaf ya, calon istri saya sedikit jutek."
Tak lama Yoan mengendarai mobil dengan Dara di sampingnya. Wanita itu tertidur. Dara kelihatan sangat letih.
"Sayang, ayo bangun!" Yoan mentoel-toel pipi Dara saat mereka telah sampai di depan rumah.
"Su-sudah sampai ya." Dara bangun sambil menggosok matanya. "Ayo turun..." Ajaknya.
Dara membuatkan teh hangat untuk pria itu. Wajah Yoan kelihatan sangat capek. Karena mereka melakukan foto preweding setelah pulang kerja. Dara dalam bulan ini, tidak ada dapat jatah libur di hari minggu. Jadinya melakukan foto prewed di hari biasa.
"Minumlah dulu!" Menyodorkan secangkir teh.
"Terima kasih!" Yoan mengulum senyum. Dara sangat perhatian, membuatkannya teh. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri. Yang saat suaminya pulang kerja, istrinya sudah membuatkan teh.
"Mau makan?" tanya Dara. Tadi setelah dari studio foto mereka langsung pulang dan tidak singgah lagi.
Yoan menggeleng. "Nanti saja di rumah." Tolaknya.
Kruk
"Dia yang jawab!" tunjuk Yoan pada perutnya.
Dara menggeleng sambil tersenyum tipis.
Dara sibuk di dapur memasak. Sementara Yoan sedang menonton bersama Ayahnya.
"Bagaimana tadi fotonya?" tanya Ayah berbasa basi.
__ADS_1
"Bagus Yah. Fotonya sangat bagus. Dara sangat cantik, Yah." Yoan mengingat senyuman wanita itu.
"Jelas dong. Ayahnya saja tampan." Bangga Ayah.
Yoan terpaksa tersenyum mengiyakan. Ayahnya Dara tidak tampan, tapi sangat menyeramkan.
"Yoan... Kamu tahu kan tentang masa lalu Dara?" tanya Ayah menatap tajam pria itu.
"Saya tahu." Yoan mengangguk.
"Kamu juga pernah mengalami hal yang sama seperti Dara. Jadi... Ayah harap kamu tidak menyakiti-"
"Tidak Ayah. Aku tidak akan menyakiti Dara. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya." Sela Yoan menjelaskan perasaannya.
"Ayah harap, ucapan kamu sesuai dengan kenyataannya." Ayab tersenyum sambil memegang bahu Yoan.
Pria itu sedikit merasa sakit. Ayah mencekam bahunya seakan sedang memperingatkan dirinya.
"Ayah, percayalah padaku! Aku akan mencintai putri Ayah sampai akhir hayatku!" jelas Yoan kembali.
Ayah melepas cekaman tangannya. "Dulu Dara itu anak yanh manja dan selalu ceria. Tapi semenjak itu, dia jadi pendiam dan sering melamun."
Yoan mengangguk. Rasa sakit dan trauma pasti yang membuat Dara berubah.
"Ayah harap pernikahan kalian lancar dan kalian hidup bahagia."
Yoan mengaminkan.
"Yoan, kamu maklumi jika Dara pemarah. Dia masih trauma dan masih belum percaya. Jika nanti kalian sudah menikah, Dara pasti akan kembali percaya lagi. Lalu kamu lihat saja..."
"Apa Yah?" Yoan tampak penasaran.
"Kamu lihat saja nanti." Ayah tahu, bagaimana sifat Dara saat jatuh cinta. Dara akan bucin akut.
"Ayah... Dara masak nasi goreng. Ayo... kita makan!" ajak Dara pada Ayahnya. Lalu mengajak Yoan dengan isyarat mata.
Dara menghidangkan nasi goreng untuk Ayah dan Yoan.
"Dara bangunkan Bunda dulu!"
"Bunda sudah tidur. Kamu makan saja."
Dara kembali duduk. Mereka mulai melahao nasi gorengnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Dara.
"Ini enak." Yoan memberikan dua jempol. "Nasi goreng Dara sangat enak ya Yah."
Ayah mengangguk. Masakan Dara sangat enak. Putrinya belajar masak dari Bundanya.
"Sayang, boleh tambah?!"
.
.
__ADS_1
.