
"Sayang, kamu besok resign saja ya!" ucap Yoan setelah memberhentikan mobil di depan rumah Dara.
"Resign?" tanya Dara kembali.
"Iya, kamu resign saja dari sekarang." Ucap Yoan tidak ingin calon istrinya kelelahan.
Jika masuk pagi, Dara sudah berangkat pagi-pagi sekali. Begitu masuk siang, Dara pulangnya pasti di atas jam 10 malam. Bahkan hampir jam 11-an.
"Aku akan tetap bekerja." Ucap Dara. Ia tidak ada kepikiran untuk berhenti bekerja.
"Sudah, kamu berhenti saja dari sekarang. Lagian setelah kita menikah, aku tidak akan mengizinkanmu bekerja lagi!" Tegas Yoan. Walaupun tinggal beberapa minggu lagi, ia ingin Dara berhenti saja. Dan fokus pada pernikahan mereka.
"Apa?" Dara menatap pria itu dengan tatapan serius. Ia tidak boleh bekerja setelah menikah.
"Setelah kamu menjadi istriku, kamu hanya fokus padaku saja. Jadi kamu berhenti dari sekarang saja!" Jelas Yoan kembali.
"Tidak bisa seperti itu. Aku akan tetap bekerja, walaupun kita sudah menikah." Dara tidak mau berhenti bekerja.
"Sayang, aku tidak mau kamu nanti kelelahan. Kamu fokus saja menjadi istriku. Aku yang akan bertanggung jawab mencukupi semua kebutuhan kamu. Kebutuhan lahir dan batin." Tegas Yoan kembali. Sebagai seorang suami, Yoan akan membuat istrinya nyaman, aman dan selalu bahagia bersamanya.
"Aku akan melakukan tugasku sebagai istri dan... aku tetap akan bekerja." Dara tetap pada keputusannya.
"Sayang... no debat. Nurut dong sama aku!" Yoan menatap serius Dara yang keras kepala itu.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi. Untuk beberapa minggu ini, aku masih akan mengizinkanmu bekerja. Tapi tidak saat nanti kamu jadi istriku." Tegas Yoan menyela ucapan Dara.
"Aku-" Dara menjawab kembali.
"Ayo turun. Aku harus pamitan pada Ayah dan Bunda." Yoan tak mau mendengar perkataan Dara. Yang pasti hanya penolakan lagi. Ia memilih turun dan masuk ke rumah Dara.
Dengan muka kesal, Dara melepas sabuk pengaman. Ia pun turun dari mobil dan masuk ke rumah.
"Ayah sama Bunda sudah tidur. Anda pulang saja!" usir Dara dengan wajah kesal. Ia membuka kunci pintu rumahnya.
"Ya sudah, titip salam sama mereka. Aku pulang dulu." Yoan mengulurkan tangan, membuat Dara jadi bingung.
"Salam. Kamu salamilah calon suamimu ini." Ucap Yoan menggoyangkan telapak tangannya.
"Apaan sih? Pulang sana!" Dara tidak mau melakukan itu. Mereka belum resmi menikah, akan terasa aneh jika ia mencium tangan Yoan.
__ADS_1
"Ya sudahlah, aku pulang." Yoan jadi tertawa. Ia pun mengelus kepala Dara sejenak. Memaklumi mungkin Dara masih malu.
\=\=\=\=\=\=
Hari-hari berikutnya. Yoan selalu mengantar Dara pulang, setelah menjemput dari swalayan.
"Sayang, kamu sudah ajukan pengunduran diri?" tanya Yoan sambil meminum air putih dingin yang diberikan Dara. Wanita itu tidak pernah lagi memberikannya teh hangat. Mungkin saat itu Dara lagi kesambet.
"Pengunduran diri?" Dara menatap Yoan. "Aku tidak akan berhenti. Aku akan tetap kerja." Jelas Dara kembali.
Sudah beberapa hari ini, Yoan selalu menyuruhnya berhenti bekerja. Dara merasa pria itu terlalu mengekangnya.
Yoan menggeleng. "Kamu di rumah saja!"
"Tidak!"
"Di rumah, sayang."
"Nggak mau."
"Di rumah saja."
"Tidak mau."
"Aku tetap akan bekerja!" jelas Dara kembali.
Yoan menggeleng. Dara sangat keras kepala. Setiap hari membujuknya untuk segera mengundurkan diri, tapi wanita itu tidak pernah menurutinya.
"Kalau anda tidak mau aku bekerja di swalayan, aku akan cari kerja yang lain. Yang dari pagi sampai sore saja." Dara merasa Yoan tidak setuju, pasti karena bekerja di swalayan pakai shift. Kadang masuk pagi, kadang masuk siang.
Yoan memijat pelipisnya. Dara tidak pernah mengerti niat baiknya. Ia hanya ingin Dara di rumah saja, tidak usah bekerja lagi. Biar dia saja yang bekerja.
"Sayang, intinya kamu tidak akan aku izinkan bekerja lagi. Aku tidak akan mengurungmu di rumah. Kamu bisa pergi shoping atau Yoga atau les masak, les piano, les balet atau merangkai bunga... gitu-gitu. Terserah kamulah mau apa, saat aku tidak di rumah." Bujuk Yoan agar Dara mengerti. Ia tidak menyuruh Dara di rumah saja. Dara bisa ke mana pun yang dia mau, asalkan bukan untuk bekerja.
"Dan saat aku kembali dari kantor, kamu ada di rumah dan menyambutku dengan iringan musik." Ucap Yoan dengan candaan, agar obrolan mereka tidak terlalu serius.
Dara menunjukkan wajah aneh mendengar permintaan pria itu.
"Haha... maksudku begini. Pekerjaan di kantor kan banyak dan bikin pusing, dan saat aku pulang kamu menyambutku. Pasti rasa capek dan masalahku akan langsung terhempas. Tapi, kalau aku pulang kamu tidak ada di rumah. Entahlah!" Yoan tidak bisa memikirkannya.
"Ta-tapi-" Dara masih tidak setuju.
__ADS_1
Yoan meletakkan telunjuk di bibir Dara, membuat wanita itu tidak jadi berucap.
"Terus apa kata orang juga jika istriku bekerja?!" Yoan mengatakan alasan lainnya.
"Nggak usah dengari omongan orang!" ucap Dara. Mendengarkan omongan orang tidak ada benarnya, selalu salah terus.
"Dara!!!" Yoan mencubit pipi wanita yang berwajah manyun.
"Segera ajukan pengunduran dirimu ya, sayang!" Yoan membujuk kembali.
Dan lagi Dara menggeleng. "Aku akan tetap bekerja!"
"Kamu kenapa tidak bisa melihat ketulusanku, Ra? aku ingin yang terbaik untukmu." Jelas Yoan sambil melepaskan tangan dari wajah Dara.
"Kadang aku sering berpikir, apa aku terlalu memaksamu?" tanya Yoan menatap Dara. Yang ditatap malah diam saja.
"Selalu saja aku ditolak! Apa yang aku katakan kamu tidak pernah mau nurut," Yoan menghembuskan nafas pelan sambil membuang pandangannya.
"..sedikitpun." Sambung Yoan kembali.
'Apa aku akan ditinggalkan di hari pernikahan untuk yang kedua kalinya?' Yoan merasa sedikit kecewa dengan sikap Dara. Ia ingin yang terbaik untuk Dara, tapi wanita itu selalu menolaknya. Membuat Yoan jadi berpikir, jika Dara sangat terpaksa untuk menikah dengannya.
"Kalau kamu tidak yakin untuk pernikahan kita ini. Lebih baik tidak usah kita lanjutkan lagi. Untuk apa kamu tetap bersamaku, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkanku?!"
Dara melihat Yoan yang berkali-kali menghela nafas. Pria itu menahan gemuruh di hatinya.
"Kamu selalu menolakku, kamu selalu marah padaku, kamu-"
"I-itu... Itu..." Sela Dara.
"Dara, begini saja. Sekali ini saja tolong turuti aku. Aku beri waktu sampai 3 hari, kamu harus sudah resign dari swalayan itu. Jika kamu tetap bekerja di sana. Aku akan meminta maaf pada Ayah dan Bundamu!" Jelas Yoan kembali.
Yoan tidak ingin Dara berubah pikiran di hari H-nya, karena tidak terima desakannya untuk resign bekerja.
"Aku pulang ya. Kamu pikirkan baik-baik. Apa aku memang pantas jadi suami kamu?!" Pamit Yoan lalu bangkit. Ia pun berjalan ke dapur untuk berpamitan pada Bunda.
Dara melihat Yoan dengan tatapan datar. Yoan tersenyum tipis saat melewatinya lalu berjalan menuju mobilnya di depan rumah.
'Apa dia marah???'
.
__ADS_1
.
.