
“Amel. Kau baik-baik saja?” bisik Natasha cemas.
Ia sama sekali tidak baik-baik saja. Entah mimpi apa ia semalam hingga ia mengalami kejadian memalukan secara beruntun. Pertama dengan Angga, kemudian kena tampar Felisha, dimarahi kepala sekolah dan sekarang ia harus menanggung malu karena dianggap keganjenan akibat sok kenal dengan murid baru dikelasnya.
Tapi kenapa Amel yakin kalau memang Bima yang ditemuinya di bus kemarin? Kecuali dia memiliki saudara kembar identik. Entah kenapa dia sekarang bersikap buruk begitu, Amel sama sekali tidak tahu. Atau bisa jadi mereka memang orang yang berbeda mengingat attitude mereka yang sangat bertolak belakang.
“Malu sekali.”
“Mungkin dia memang bukan orang yang kau temui kemarin. Mungkin hanya mirip,” kata Natasha menghiburnya.
“Ya, mungkin saja,” kata Amel lemah
Rasanya berat sekali menyelesaikan pelajaran hingga saat istirahat tiba. Apalagi dengan ketawa-ketawa dan
celetukan-celetukan penuh ledekan dari teman-temannya.
Karena itu saat bel berbunyi, Amel buru-buru keluar dari kelas. Amel merasakan tatapan menusuk yang
mengikutinya. Dan itu berasal dari anak baru dikelasnya. Namun Amel sudah cukup merasa malu untuk membalas tatapannya.
“Amel, kau mau kemana?”
“Yee.. malu, malu….” Seru anak-anak riuh rendah.
Dalam keadaan biasa, mungkin ia akan menghampiri Bima lagi dan minta maaf atas kekonyolannya, atas
kesalahannya. Tapi dengan masalah yang bertubi-tubi hari ini, ia ingin menyendiri dulu dan mendinginkan kepalanya. Ah… padahal seharusnya ia bisa menyelesaikan tugas akhirnya hari ini, sesalnya. Semua masalah ini membuat semua rencananya berantakan.
Dibelakang sekolah, ada sebuah taman kecil dengan sebuah ayunan milik anak penjaga sekolah yang bermukim di kompleks sekolah itu. Karena terletak dibagian pojok paling belakang bangunan sekolah, jarang sekali anak-anak yang menggunakan tempat itu. Amel sendiri cukup sering datang dan menyendiri disana.
Amel baru memutuskan untuk kesana ketika dari arah berlawanan dilihatnya Angga berjalan kearahnya. Amel mengeluh dan berbalik arah, menyelinap diantara anak-anak yang berhamburan dari kelasnya dan berlari cepat menuju belakang sekolah.
Rasanya lega sekali ketika akhirnya Amel bisa duduk diayunan itu sendirian. Ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan teratur. Berharap bisa mengurangi rasa penat dan sesak yang memenuhi
dadanya saat ini.
Kemudian ia memejamkan matanya dan mengayun dirinya pelan. Apa yang terjadi padanya? Kenapa semuanya menjadi kacau dan salah?
“Mama…” bisiknya. “Apa yang harus Amel lakukan?”
Mamanya bukanlah tipe seorang ibu yang memanjakan anaknya. Tapi disaat-saat Amel merasa kesulitan, ibunya
biasanya tahu apa yang harus ia lakukan, batin Amel. Kepergian mamanya setahun yang lalu, masih meninggalkan lobang besar di hati Amel. Ia sudah jarang menangis saat mengingat ibunya, namun masih sering memikirkannya. Perlahan, Amel mengayun dirinya.
Hingga sebuah suara gemerisik mengusiknya, ia tahu tak lagi sendirian disana. Seketika ia membuka matanya dan bertatapan langsung dengan Angga yang berdiri tepat dihadapannya sambil menatapnya.
“Apa?”
Apa ia melihat cowok itu sedikit gugup? Batin Amel.
“Rupanya disini tempat persembunyianmu.” Angga mengambil satu langkah lebih dekat pada Amel. “Kupikir
kau tadi ke perpus. Aku mencarimu kesana tapi semua bilang tidak melihatmu.”
__ADS_1
Amel berhenti mengayun dirinya. Tiba-tiba saja kehadiran Angga didekatnya membuatnya merasa canggung dan tidak nyaman. Perutnya terasa melilit mengingat bagaimana Angga menciumnya.
“Hari ini masalahku benar-benar banyak,” katanya tanpa memandang Angga. “Bisakah setidaknya kau menunggu besok kalau mau cari masalah lagi denganku?" Amel berfikir. “Tidak, menjauhlah dariku. Jangan mencari masalah denganku.”
Lama sekali rasanya Angga memandangnya tanpa berkata apa-apa. “Masalah…tadi,” Angga berdeham. “Ehm… aku … aku minta maaf.”
Minta maaf? Amel tertegun menatap ujung sepatunya. Akhirnya cowok angkuh ini mau mengakui kesalahannya dan minta maaf. Itu adalah hal yang jarang terjadi. Tapi kenapa ulu hatinya terasa dipelintir? Kenapa ia malah merasa semakin tidak senang? Kenapa ia malah merasa ingin menangis?
“Kenapa kau lakukan itu?” tanyanya kaku.
“Aku … juga tidak tahu.”
“Tidak tahu?” tanya Amel tidak percaya.
“Felisha tidak mau putus denganku. Aku sudah kehabisan cara untuk meyakinkan dia kalau diantara kami sudah tidak ada kecocokan lagi. Karena itu kemudian aku … menciummu begitu saja tanpa berfikir.”
Keterusterangan Angga semakin menyakiti hati Amel.
“Jadi kau memanfaatkanku untuk menjauhkan Felisha darimu?” Mata Amel berkilat marah saat menatap Angga. “Apa menurutmu aku ini cewek gampangan?”
“Aku tidak pernah menganggapmu begitu.”
“Tapi sejak awal kau ingin menggunakanku untuk menjauhkan Felisha darimu. Begitu kan? Kalau kau tidak
menganggapku idiot, dari sekian ratus cewek di sekolah ini kenapa kau memilihku? Padahal kita sama sekali tidak saling kenal.”
Angga jadi bingung sendiri. Kenapa masalahnya jadi rumit begini? Batinnya jengkel. Demi apapun, tak pernah
ada niatan dalam benaknya untuk mengencani Amel. Penolakan Amel kemarin, meski sedikit mengganggunya tapi ia berfikir itu akan lebih baik karena Amel sama sekali bukan tipenya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya ia berkencan dengan cewek aneh ini.
Entah apa yang ia pikirkan saat ia mencium Amel tadi. Ia hanya melakukan apa yang muncul pertama dipikirannya. Sesaat, hanya sesaat ia melihat gadis itu begitu mempesona dan ia tidak mampu menahan dirinya untuk meraih gadis itu. Apakah dia memang segitu brengseknya? Kesalnya.
Kalau saja, gadis itu kemudian tidak berontak, mungkin ia sudah terhanyut dan tak akan melepasnya secepat itu.
Sialan.
“Kau tidak bisa menjawab bukan?” pertanyaan Amel yang ketus membuat Angga keluar dari angan-angannya.
Apa yang harus dikatakannya? Apa ia harus berterus terang kalau ada Bima yang menyuruhnya? Tidak. meski sampai kini ia belum tahu apa tujuan Bima hingga menyuruhnya mengencani Amel, ia tidak akan mengkhianati sahabatnya itu.
“Terserah apa yang kau pikirkan,” kata Angga seraya ngeloyor pergi.
“Jangan dekat-dekat denganku lagi. Aku benci melihatmu.”
Dengan cepat Angga membalikkan kembali menatap Amel. “Astaga, cupu. Jangan terlalu memandang tinggi dirimu. Memangnya cowok mana yang mau dekat denganmu, hah? Aku juga tidak sudi. Cewek cupu
sombong seperti kau sama sekali bukan tipeku. Percaya deh. Jauh. Jauh banget.”
“Baguslah. Sebaiknya kau pegang janjimu itu dan jauhkan Felisha dariku. Kalau tidak, aku akan menghajarnya!”
“Kau tahu?” tanya Angga seraya berkacak pinggang. “Selain cupu, kau juga kejam. Kau pikir, mana ada cowok yang mau kencan dengan cewek yang lebih suka berkelahi daripada yang memakai bedak? Pegang kata-kataku.”
“Pergi, kau. Pergi!!!”
__ADS_1
“Aku akan pergi!” dengan geram Angga meninggalkan Amel sendirian.
Namun begitu tiba dibalik tembok ia berhenti mendadak dan berdiri kaku ditempatnya. Apa ia terlalu kejam? Ia
menghela nafas beberapa kali sebelum perlahan memutar kembali dirinya. Mengintip Amel. Gadis itu tampak menunduk dalam-dalam. Dan mengusap matanya.
Ya ampun. Sekarang ia membuat cewek itu menangis.
“Ada apa dengannya?” seseorang bertanya dari balik bahunya.
Angga terkesiap dan berbalik. Dan matanya terbelalak lebar saat melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
“Bima?!”
Bima tersenyum tipis, “Ya. Ini aku.”
“Apa yang kau lakukan disini?!”
“Aku pindah kemari.”
“Pin… pindah?!”
“Kenapa terkejut begitu sih. Seharusnya kau senang, kita satu sekolah lagi.”
Angga menatap sahabatnya itu lama, “Apa ini berkaitan dengan anak itu?”
“Kau sudah membuatnya menangis,” kata Bima datar.
Apa ia mendengar kepuasan dalam suara Bima?
Angga hanya bisa menatap Bima lama, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Namun ia tidak bisa menebak apapun. “Ada apa sebenarnya antara kau dan dia?” tanya Angga penuh selidik. “Apa yang akan kau lakukan padanya?”
Bima kembali menengok tempat Amel dan tersenyum kecil. “Kenapa kau jadi panik? Apa kau sudah benar-benar jatuh hati padanya? Begitu cepatnya?”
“Ya ampun. Tentu saja tidak. Aku hanya…”
“Apa?”
“Aku hanya agak kasihan padanya.”
Bima terkekeh pelan. “Kasihan? Sejak kapan kau begitu berempati dengan orang lain hah?”
Angga kembali memandang sahabatnya dengan tatapan penuh tanya. “Sekarang aku malah bertanya-tanya. Kau biasanya mudah sekali menaruh simpati pada orang lain. Kenapa terhadap Amel kau seolah-olah berubah menjadi orang lain?”
“Terlalu dini untuk menilai,” elak Bima setelah diam beberapa saat. “Ayo. Aku tadi mencarimu untuk mengajakmu
kekantin. Kenalkan aku dengan teman-temanmu.”
Angga hendak menjawab ketika tiba-tiba Amel muncul dengan wajah tertunduk lunglai. Terkejut ada orang
disana, Amel mengangkat wajahnya dan hanya memandang mereka berdua bergantian untuk detik-detik yang lama.
Saat itu juga, Amel menyadari kedua cowok itu merupakan sumber masalahnya hari ini. Namun ia tidak mau berfikir lagi kenapa mereka bersama-sama. Ia hanya kembali menunduk dan melewati keduanya tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
Baik Bima maupun Angga sama-sama memandang punggung gadis itu yang membungkuk sedih. Mata Angga tampak menerawang dan sedih. Sementara itu sebaliknya sorot mata Bima menyiratkan rasa benci dan sinis.