
"... Kenapa anda di sini?" tanya Dara sangat terkejut. Yoan berada di ruang tamu dengan kedua orang tuanya. Apa yang mereka bicarakan?
"Yoan... Kamu bicarakan dengan Dara terlebih dahulu. Nanti baru kita bicarakan lagi." Ucap Ayah yang akan membiarkan mereka membicarakan semua lebih dahulu.
"Baik, Om." Yoan mengangguk pelan.
"Kami tinggal dulu ya, Nak Yoan!" Bunda membawa Ayah pergi dari ruang tamu.
"Ayah, Yoan tampan ya. Bunda merasa mereka sangat serasi." Ucap Bunda dengan wajah bahagia.
"Menurut Bunda, Yoan sangat serius dengan Dara. Menurut Ayah bagaimana?"
Ayah tersenyum tipis. Ia sedikit salut dengan pria muda itu. Meskipun gugup, tapi berani mengutarakan niatnya pada mereka.
Sementara Dara menatap Yoan dengan tatapan tajam.
"Apa yang anda lakukan di rumahku? Apa yang anda bicarakan dengan kedua orang tuaku? Kenapa anda datang ke rumahku tanpa mengatakan padaku?" Dara menghujani Yoan dengan bertubi-tubi pertanyaan.
Pria itu jadi menghela nafas. Dara memang wanita terjutek yang pernah ditemuinya.
"Tanyanya satu-satu dong." Yoan menarik tangan Dara, membuat Dara jadi duduk di sampingnya.
Dara bergeser dari Yoan. Ia tidak mau duduk terlalu dekat dengan pria itu.
Mata Yoan melihat Dara yang masih menjaga jarak darinya.
"Aku kemari untuk meminta restu kedua orang tuamu!" ucap Yoan.
"Apa?" Dara membelalakkan matanya mendengar pernyataan Yoan.
"Aku mengatakan pada kedua orang tuamu. Bahwa aku mencintaimu dan ingin menikahimu." Jelas Yoan pada apa yang ia katakan tadi.
Dara melihat Yoan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Dara... Kamu mau menikah denganku?" tanya Roni sambil berlutut. Pria itu menyodorkan sebuah cincin.
Senyum Dara mengembang dan dengan cepat mengangguk. Ia pun mengulurkan tangannya.
Roni melingkarkan cincin di jari Dara. "Aku akan meminta restu kedua orang tuamu!"
Dara mengangguk bahagia.
Roni mengantar Dara pulang. Pria itu pun singgah di rumah Dara. Ia berniat akan meminta izin Ayah dan Bunda.
"Ada apa?" tanya Ayah serius. Dara tadi mengatakan jika Roni ingin bicara.
Saat itu Roni tampak sangat gugup dan takut. Ia menyenggol lengan Dara.
"Dara... Bantu aku!" bisik Roni. Ia tidak bisa memulai mengutarakan niatnya.
"Begini Ayah, Bunda... Roni ingin melamar Dara!" Wanita itu membantu Roni memulai pembicaraan itu.
"Be-benar Yah. Saya ingin menikahi Dara..." Roni pun ikut menimpali.
"Dara... Dara!!!" panggil Yoan melambaikan tangan di wajah Dara. Wanita itu malah melamun.
Dara yang tersadar jadi menjauhkan tangan Yoan dari wajahnya. Ia menatap Yoan dengan wajah serius. Pria itu berani datang untuk melamarnya. Yoan sendirian datang meminta izin pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Roni saja yang selalu datang dan mengobrol dengan Ayahnya, mendadak ciut saat meminta restu mereka Tapi, Yoan terlalu berani.
"Aku minta maaf sama kamu sebelumnya. Aku sudah lancang." Yoan merasa bersalah, wanita itu pasti tidak suka dengan apa yang telah dilakukannya.
"Kamu selalu menolakku. Mungkin jika aku langsung meminta restu pada kedua orang tuamu, kamu bisa sedikit melihat ketulusan dan keseriusanku." Jelas Yoan kembali agar Dara mengerti.
"Maaf, Dara. Aku minta maaf. Aku terlalu terburu-buru. A-aku hanya takut jika kamu akan berpaling dariku, makanya aku melakukan ini." Yoan takut jika Dara menerima pria lain.
"Kenapa?" tanya Dara.
"Hah?" Yoan tidak mengerti maksud Dara.
"Kenapa anda mau menikah denganku? Bukannya banyak wanita lain yang cantik, baik, masih-"
"Hatiku maunya kamu!" sela Yoan dengan tegas. Benar banyak wanita, tapi hanya Dara yang membuat hatinya berdebar tidak menentu.
Dara diam mendengar jawaban Yoan. Kata-kata itu, Dara sama sekali tidak tersentuh. Mungkin karena rasa trauma, yang membuatnya tidak terpengaruh dengan kata-kata itu.
"Dara... Aku sudah mengatakan pada kedua orang tuamu, bahwa aku ingin menikahimu. Mereka menyuruhku membicarakan ini denganmu." Ucap Yoan lalu menghela nafas.
"Aku akan katakan sekali lagi." Yoan akan mengatakannya kembali, jika Dara menolaknya lagi, ia akan tahu diri dan memilih mundur saja.
"Dara... apa kamu mau menikah denganku?" tanya Yoan sambil menatap Dara dengan tatapan yang mendalam. Tatapan yang penuh harap.
'Dia tampaknya serius! Tapi, kalau dia meninggalkanku di hari pernikahan bagaimana?' Batin Dara yang masih trauma, jika ia ditinggalkan kembali di hari pernikahan.
"Dara... Jawab aku! Apapun jawaban kamu, aku akan menerima dengan lapang dada." Ucap Yoan dengan nada kecewa. Melihat ekspresi Dara, sepertinya ia akan ditolak lagi.
Dara menghela nafas pelan. "Baiklah! Aku mau!" jawab Dara.
"Aku pulang ya. Aku akan pamitan pada kedua orang tuamu." Yoan pun bangkit. Dara sudah menolaknya lagi.
Sementara Dara melihat Yoan bingung. Kenapa pria itu malah ingin pergi?
Dara ikut bangkit dan memegang ujung kemeja Yoan.
"Aku tidak apa!" Yoan melihat Dara yang merasa bersalah. "Aku mengerti, Dara!" Yoan kembali mengelus kepala Dara. Ini terakhir kalinya ia mengelus dan menatap wanita itu.
Dara jadi bingung, pria itu sepertinya tidak mengerti ucapannya.
"Aku mau!" Ucap Dara.
"A-apa?" Tanya Yoan bingung. Dara mau apa?
"Aku mau menikah denganmu!" ucap Dara cepat.
"Hah? Apa? Kamu mau?" Yoan seperti tak percaya. Dara mau menikah dengannya.
"Aku tidak salah dengar?" tanya Yoan masih memastikan. Ia seperti sedang bermimpi.
"Mau berapa kali aku harus mengatakannya?" Dara mendadak kesal. Pria itu tampak bingung atau pura-pura bingung.
Hati Yoan sangat senang mendengarnya, ia menarik Dara dalam pelukannya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih." Yoan memeluk Dara dengan erat.
'Aku akan mencoba percaya sekali lagi!' wanita itu akan percaya pada Yoan.
__ADS_1
Dalam pelukan Yoan, Dara diam mendengarkan debaran hati Yoan yang bertalu-talu.
"Hmm!!!" Suara deheman membuat Yoan menoleh ke arah suara. Seketika ia melepaskan pelukannya dari Dara.
"Ma-maafkan aku, Om dan Tante. Sa-saya repleks-"
"Jadi kapan orang tua kamu datang kemari?" tanya Ayah serius. Yoan beraninya memeluk putrinya.
"Malam ini. Saya akan meminta Papa dan Mama untuk datang melamar Dara sekarang juga!" Yoan meraih ponselnya. Ia akan menghubungi kedua orang tuanya.
"A-apa?" Dara terkejut, Yoan mau langsung melamarnya secara resmi.
"Hari minggu saja. Ini sudah malam!" ucap Ayah yang melihat jam dinding sudah menunjukkan angka 10.
"Benar, hari minggu saja. Kamikan juga harus bersiap untuk menjamu calon besan!" ucap Bunda dengan bahagia.
Dara menundukkan kepalanya, ia jadi malu, wajahnya mulai memerah.
"Baik!" Yoan mengangguk cepat.
Tak lama Yoan pun pamit pulang, Dara mengantar sampai depan rumah.
"Aku pulang ya!"
"Hati-hati!"
Yoan mengangguk dan membuka pintu mobil, tapi kembali ditutupnya.
"Besok... kamu mau bertemu orang tuaku?" tanya Yoan.
"Besok? Besok aku masuk siang!" jawab Dara.
Yoan mengangguk, jadwal Dara besok shift siang.
"Besoknya lagi saja!"
Dara mengangguk pelan. Lusa ia masuk pagi.
"Ya sudah, aku pulang ya! Kamu langsung tidur!" Tangannya kembali mengelus kepala Dara.
Mata Yoan melihat sekitarnya. Memastikan apa ada yang memperhatikan mereka.
"Aku pulang ya!" Yoan menjauhkan tangan dari kepala Dara, ia pun segera naik ke mobil.
"Hati-hati jangan ngebut-ngebut!" Ucap Dara mengingatkan.
Yoan mengangguk. "Om... saya pamit!" ucapnya sambil mengklakson.
Ayah mengangguk. Ia sengaja berdiri di depan pintu sambil melipat tangan. Ia paham gerak gerik Yoan yang mau mencari kesempatan pada putrinya.
'Lihat saja kalau ia nanti seperti Roni. Akan ku sate dia!'
.
.
.
__ADS_1