KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 89 - MENGGALI KEMBALI


__ADS_3

"Dingin?" bisik Yoan seraya mengeratkan tubuh Dara yang menyender padanya.


"Nggak? Mas. Aku kan sudah meluk Mas Yoanku!" balas Dara berbisik. Film sedang diputar, jadi mereka berbicara berbisik-bisik. Agar tidak menganggu yang lain.


Yoan tersenyum lalu menkecupi kepala Dara berkali-kali sambil membisikkan kata cinta.


"Aku mencintaimu!"


"Aku mencintaimu!"


"Aku mencintaimu!"


Pria itu tidak dapat menahan diri untuk tidak selalu mengatakan perasaannya pada Dara. Ia ingin istrinya tahu kalau hatinya berdebar hanya karena dia.


Yoan menyadari perasaannya. Dulu saat dengan Maudy, ia mencintai wanita itu. Tapi perasaannya dengan Dara. Saat ini begitu sangat kuat dan mendalam.


'Aku tidak akan melepaskanmu!'


Dara tersenyum senang. Ia bersyukur menikah dengan Yoan. Padahal awalnya ia sangat meragukan pria itu. Tapi, ternyata Yoan sangat berkomitmen dengan perkataannya.


Dara yang semula meragu, tapi di saat kata sah bergema. Di saat itu pula, wanita itu mulai membuka hati untuk suaminya.


Tangan Dara memegang tangan kekar itu. Jemari mereka pun saling mengeratkan, seolah tidak ingin berpisah sampai kapanpun.


"Sayang, kita mau ke mana lagi?" tanya Yoan setelah film berakhir.


"Kamu kenapa?" tanya Yoan kembali. Karena lampu sudah terang, ia bisa dengan jelas melihat wajah Dara yang sudah sembab. Pasti karena film ini, Dara terlalu baper.


"Masa sad ending sih?!" Dara tidak terima. Awal film itu sangat romantis, tapi malah berakhir menyedihkan. Ia merasa seperti di bawa terbang ke langit, lalu dihempaskan ke dasar jurang.


"Cuma film loh, Ra." Yoan mengusap sisa air mata yang tertinggal di wajah Dara.


"Kita cari makan ya?" ajak Yoan kembali.


"Iya, Mas. Tapi ke toilet dulu ya, aku mau cuci muka." Dara ingin membenarkan makeupnya.


Yoan mengangguk. Ia pun berjalan keluar ruangan sambil mengelus pundak sang istri. Menenangkan Dara dari film yang menurut istrinya menguras emosi.


Padahal bagi Yoan, itu film biasa saja. Lebih seru film bergenre action. Tapi, karena Dara ingin menonton itu. Dengan terpaksa Yoan menurut. Mana mungkin mereka pisah menonton. Dara menonton romance sedang dirinya action.


Dara mendempul wajahnya dengan bedak, setelah menyiramkan air ke wajahnya. Ia juga menambahkan lipstik, supaya bibirnya jangan pucat. Bibirnya harus sedikit berwarna.


Setelah itu Dara keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum melihat Yoan yang menunggunya.


Mereka kembali bergandengan tangan.


"Sayang, kita mau makan apa?" tanya Yoan.

__ADS_1


"Mas, kita pulang saja ya. Nanti aku masakan di rumah." Saran Dara.


"Nanti kamu kecapekan, sayang?" Yoan tidak mau istrinya lelah.


"Nggak, Mas. Perut Mas Yoan masih sakit. Biar aku masakkan saja." saran Dara. Ia tidak mau Yoan sakit lagi. Perut suaminya pasti belum stabil.


"Baiklah. Kalau nggak menyusahkanmu." Yoan mengangguk pelan.


"Menyusahkan bagaimana. Itu sudah menjadi kewajibanku, Mas." Dara meyakinkan suaminya.


"Terima kasih, Ra..." Yoan melihat Dara dengan tatapan mendalam. Istrinya begitu sangat perhatian. Ia merasa menjadi orang yang paling spesial. Di hati Dara pasti ada namanya tertulis besar-besar, YOAN.


"Mas, aku haus. Kita beli itu!" tunjuk Dara pada booth penjual minuman.


"Ya, sudah. Kamu tunggu di sini sebentar ya. Biar aku saja yang mengantri." Yoan menyuruh Dara duduk menunggunya. Antrian cukup panjang, istrinya bisa kelelahan berdiri.


Dara duduk sambil melihat suaminya yang sedang mengantri membeli minuman.


Mata Dara melirik sekitarnya. Banyak wanita yang terang-terangan menatap kagum suaminya. Tapi, pria itu tampak biasa saja. Malah terus-terusan melempar senyuman padanya.


'Baik, perhatian dan penuh kasih sayang.' Dara mengulum senyum mengingat semua perlakuan manis Yoan darinya.


Pikiran Dara terlintas pada tante Novia. Dan ia mengingat mantannya Yoan. Meski tidak tahu nama dan wajahnya. Tapi, Dara jadi merasa sedikit takut.


Ketakutan Dara, jika Yoan dan mantannya bertemu. Lalu rasa itu masih ada. Apa dia akan menjadi janda? Yoan akan berpaling darinya?


Dara akan percaya pada komitmen Yoan padanya. Pria itu sudah berjanji, dan ia akan sepenuhnya percaya.


"Sayang, ini!" Yoan memberikan cup berisi minuman dingin rasa coklat.


"Terima kasih Mas Yoanku sayang." Ucap Dara melebarkan senyumannya.


"Minum dulu. Setelah itu kita pulang."


Dara pun menyedot minuman itu. Rasa dingin dan manis menjalar di tenggorokannya.


"Mas, yang itu rasa apa?" tanya Dara melihat minuman Yoan berbeda warna.


"Ini rasa kopi. Kamu mau rasa?" Yoan menyodorkan minumannya.


Dara pun menyedotnya. "Mas Yoan, mataku langsung melek nih. Aku jadi bisa dengan jelas melihat ketampanan suamiku!"


Yoan yang gemas mencubit pipi istrinya. Dara sudah pandai menggombalinya. Siapalah yang mengajari istrinya seperti itu?


"Ayo." Yoan mengulurkan tangannya. Minuman telah habis.


"Mas Yoan, mau makan apa?" tanya Dara berjalan sambil memeluk lengan Yoan erat.

__ADS_1


"Apa ya? Kalau makan kamu boleh nggak?" Yoan memelankan perkataannya.


Tangan Dara pun mendarat di perut pria itu.


\=\=\=\=\=\=


'Mana sih dia?!' batin Maudy mengedarkan pandangannya.


Maudy menghela nafasnya panjang, ia sudah berkeliling mall tersebut untuk mencari Yoan.


"Maudy, untuk apa kamu cari Yoan seperti ini? jika kamu mencarinya datangi saja rumahnya!" saran Mama yang ngosh-ngoshan mengikuti putrinya. Maudy menyusuri area mall sambil mengendong Jeri.


Dalam hatinya, Maudy membenarkan apa yang dikatakan mamanya. Tapi, untuk datang ke rumah Yoan. Ia sangat takut bertemu dengan kedua orang tua Yoan.


Pak Dana mungkin akan menganggap biasa saja, karena pria paruh baya itu terkenal sebagai orang yang sangat baik dan pemaaf. Buktinya kedua orang tuanya diundang ke pernikahan putranya.


Tidak dengan Ibu Yumi. Wanita tua itu memang baik. Tapi kalau sudah marah? Merepetnya panjang kali lebar. Ibu Yumi pasti tidak akan memberikannya celah untuk masuk ke keluarga itu kembali. Mungkin ia sudah ditolak sebelum memasuki pintu rumah mereka.


Menurut Maudy, ia harus bertemu Yoan terlebih dahulu. Dengan begitu, Yoan akan kembali membawanya masuk ke keluarga itu.


Meskipun nanti orang tua Yoan menolak, tapi jika anaknya bersikeras dan meyakinkan mereka. Kedua orang tua Yoan pasti akan mengalah.


Maudy tersenyum tipis. Yoan akan kembali padanya. Dan mereka akan hidup bahagia dengan Jeri di tengah-tengah mereka.


'Tunggu!' Maudy sepertinya melupakan sesuatu.


Yoan sudah menikah dan memiliki istri. Mau dicampakkan ke mana istrinya itu nanti?


'Itu bukan urusanku!' Maudy tidak akan pusing-pusing dengan mantan istri Yoan.


Perasaan Yoan pasti biasa saja dengan istrinya itu. Dan ia yakin Yoan akan memilih dirinya. Di hati Yoan yang terdalam masih ada namanya.


Meski ia sudah terkubur dalam hati pria itu. Tinggal menggali kembali saja. Semua akan kembali seperti saat mereka masih bersama.


"Maudy!" Mama menepuk pundak putrinya yang malah melamun.


"Hah... Iya, Ma!" Maudy tersentak kaget.


"Lihat itu anakmu!" Mama marah, Maudy tidak kasihan melihat Jeri yang sudah tidur di gendongannya.


"Kita pulang saja ya, Ma." Maudy pun memilih pulang. Ia juga kasihan melihat putranya. Ia sibuk mencari Yoan sampai melupakan putra dalam gendongannya.


'Besok saja, aku akan ke kantornya!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2