KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 82 - DARA HILANG


__ADS_3

'Sayang, kamu di mana?'


Yoan kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mencari-cari keberadaan istrinya. Mencari di kamar mandi, di dalam lemari bahkan sampai melihat di bawah kolong tempat tidur. Mungkin saja istrinya jatuh saat tidur kemudian pingsan.


Tapi, tetap tidak ada Dara di sana. Daranya telah menghilang.


Yoan lalu melihat ke arah koper, masih ada koper Dara terletak di sudut kamar mereka. Istrinya tidak minggat. Ia pun memilih menelepon ke ponsel Dara.


Pria itu menoleh ke arah suara, ponsel Dara tergeletak di atas nakas.


Dara tidak ada di kamar. Yoan pun keluar kamar dan kembali mencari-cari istrinya sambil memanggili Dara.


"Dara..."


"Dara, sayang..."


"Sayang..."


"Kamu di mana?"


Tak ada sahutan dari istrinya tersebut. Yoan menuruni tangga dan mencari Dara di ruang tamu dan sekitar area itu.


"Kenapa Yo?" tanya Malik sambil menguap. Sepupunya itu pagi-pagi sudah ribut saja.


"Dara, Mal. Istriku hilang!" Yoan sangat panik.


"Si pelet hilang?" Malik mengucek matanya. "Jangan-jangan dia dibawa jin pesugihannya." Tuduh Malik tanpa beban.


Pletak...


Yoan pun menokok kepala Malik, benar-benar sepupunya itu bicara sembarangan saja tentang istrinya.


"Yoan!!!" Malik kesal. Selalu saja kepalanya kena tokok sepupunya itu.


Yoan pun pergi mencari Dara kembali. Ia keluar rumah, mungkin saja istrinya pergi keluar.


'Dara... Kamu di mana sayang?' Yoan mengusap wajahnya. Ia sangat bingung mencari Dara.


Yoan kembali masuk dan kembali lagi ke dapur.


"Ma, istriku hilang?" adu Yoan yang tak menemukan keberadaan Dara.


"Hilang bagaimana?" tanya Mama bingung. Putranya yang berwajah cemas, tak sadar lagi. Dara yang dicarinya sedang membantu memasak.


"Aku sudah mencari di semua tempat tapi tidak menemukannya, Ma." Yoan sangat bingung, ia meletakkan kepalanya di meja makan. Memikirkan kemana istrinya pergi.


"Mungkin Dara sudah pergi, karena marah sama kamu, lantaran tadi malam." Lydia menimpali. Ia menahan senyum melihat Yoan seperti orang yang kelimpungan.


"Tidak, Tan. Tadi malam kami sudah berbaikan. Dara sudah tidak marah padaku." Sanggah Yoan memijat pelipisnya.


"Ini minum dulu." Dara membawakan secangkir teh. Ia menahan tawa melihat ekspresi suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih." Yoan meminum teh itu. Ia masih belum sadar.


"Dara... kamu di mana, sayang?" ucap Yoan pelan.


Dara jadi menggeleng, pria itu mencari dirinya. Padahal ia sudah berada di dekatnya.


"Mungkin dia sedang berada di taman." Ucap Dara memberitahu.


"Benar juga yang kamu bilang, aku akan cari dia." Yoan pun bangkit dan akan berlari ke taman depan.


Langkah kakinya terhenti, saat menyadari seperti ada sesuatu yang ganjil. Ia pun berbalik dan sadar. Wanita yang mengajaknya berbicara adalah istrinya.


"Mas Yoan... Mas Yoan..." Dara tertawa geli lalu menutup mulutnya. Suaminya sangat menggemaskan.


"Dara..." Yoan menghela nafas. Ternyata istrinya tidak pergi.


"Dara... Kamu kemana saja, sayang?" Yoan menghampiri dan memeluk Dara erat. Ia mengeratkan pelukannya, seolah tak mau berpisah lagi.


"Mas, aku dari tadi di sini loh." Dara tertawa geli. Yoan tidak sadar dengan orang yang dicarinya.


"Jangan tinggalkan aku. Tolong jangan tinggalkan aku!" ucap Yoan berkali-kali. Ia benar-benar takut jika Dara pergi meninggalkannya.


"Mas Yoan, aku di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu berada di sisimu selamanya." Jelas Dara, ia merasa bersalah mengerjai suaminya itu.


"Kak, seperti nonton drama ya!" Bisik Lydia melihat kedua sejoli itu, yang melupakan sekitar.


"Biarkan sajalah. Gejolak jiwa muda. Kamu kayak nggak pernah muda saja." Bisik Mama kembali. Ia tersenyum tipis. Putranya terlalu mencintai Dara.


\=\=\=\=\=\=


Sore itu Yoan dan Dara berada di bandara. Mereka yang mengantar keluarga tante Lydia. Kedua orang tua Yoan tidak ikut, hanya pamitan di rumah saja.


"Kami pulang dulu ya. Kalian baik-baik ya. Kalau ada masalah dibicarakan bersama, ingat jangan pakai emosi. Nanti bisa menyesal." Saran Lydia sambil memeluk Dara.


Meski kecewa, seharusnya saat mereka kembali pulang. Sudah membawa menantu. Tapi calon menantunya sudah menjadi istri keponakannya.


"Baik, Tan. Akan Dara ingat pesan Tante. Tante sama Om hati-hati di jalan." Dara menganggukkan kepala.


"Yoan, nanti kamu ajak Dara ke rumah Tante. Kalian main-main ke sana." Ucap Lydia setelah melepas pelukannya.


"Baik, Tan. Aku akan bawa Dara ke sana. Karena kami sekalian akan nostalgia, awal pertama bertemu." Yoan melirik Malik. Awal mulanya karena si Malik ini.


"Let, sering-sering bersemedi. Peletmu sepertinya kurang manjur sekarang." Malik meledek Dara. Dalam pikiran Malik sudah terdoktrin, jika Dara memakai ilmu pesugihan.


Pletak


Bukan Yoan yang menokok kepala Malik. Tapi Dara sendiri. Ia sangat kesal. Namanya Dara, nama pemberian kedua orang tuanya malah dipanggil seperti itu.


"Aku akan mempeletmu, biar anda selalu sial!!!" Ucap Dara dengan sinis.


"Awas saja kalau kamu berani!" Malik agak sedikit ciut, jika Dara benar-benar mempeletnya. Wah bisa bahaya, pelet Dara bisa menyeberangi pulau.

__ADS_1


"Aku akan melakukannya!" Dara menatap tajam ke arah Malik.


"Aku akan melaporkanmu!" Malik tidak mau kalah. Ia tidak boleh takut pada wanita itu.


"Laporkan saja! aku akan bersemedi di puncak tertinggi dan mengirimkan seluruh kesialan kepadamu!" Dara menakuti Malik.


"Sayang, sudahlah. Tidak usah didengarkan Malik." Yoan membujuk istrinya. Dara dan Malik memang tidak pernah akur.


"Malik!!! kamu ya!" Lydia menjewer telinga putranya.


"Minta maaf sama Dara." Paksa Lydia kembali.


"Aku tidak mau!" Malik merasa ogah mengatakan itu.


"Om, Tante... Maafkan Dara. Dara sedikit emosi." Dara menyadari perkataannya. Ia jadi merasa tidak enak hati dengan tante Lydia dan Om Leo.


"Tidak apa, nak. Ucapan Malik memang sembarangan. Om minta maaf ya, Dara." Ucap Om Leo mewakili putranya itu. Bagaimana pun putranya sudah keseringan berbicara sembarangan pada Dara.


"Yoan, Dara... Kami pulang ya." Lydia pun segera berpamian. Dari pada Malik dan Dara kembali berdebat.


"Hati-hati Om, Tante... sampai jumpa lagi." Dara melambaikan tangan pada kedua paruh baya itu. Meski ia kesal dengan putra mereka si Malik itu, tapi kedua orang tua Malik sangat baik padanya.


Yoan ikut melambaikan tangan sambil merangkul sang istri.


"Sayang, maafkan Malik ya."


Dara mengangguk. "Aku sudah wajar, Mas."


Setelah melihat keluarga Om Leo tidak terlihat lagi, Yoan mengajak Dara pulang.


"Sayang, ayo kita pulang."


"Baik, Mas."


"Aku ingin segera bercinta denganmu!" bisik Yoan lalu sengaja meniup telinga Dara.


"Mas!!!" tangan Dara menggosok telinganya lalu mencubiti perut pria itu.


Sementara, masih di dalam bandara juga. Tepatnya di kedatangan internasional.


Seorang wanita menggendong balita laki-laki berusia setahun lebih, sambil menggeret kopernya.


"Kita akan bertemu papa, nak." Ucap wanita itu sambil tersenyum pada bocah kecilnya.


'Yoan, aku kembali!!!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2