KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 27 - DUA PRIA


__ADS_3

"Ini untukmu!" ucap Yoan memberikan sekotak makanan yang diletakkannya di atas meja kasir.


Dara terdiam sesaat melihat ke arah meja kasir. Pria tidak waras itu pagi-pagi sudah nongol saja di swalayan dan membawakannya sesuatu.


"Ti-tidak usah!" Dara mendorong kotak tersebut. Ia tidak bisa menerima pemberian dari pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya.


Yoan tersenyum tipis. Wanita itu sudah menolak pemberiannya.


"Mungkin kamu bingung padaku!" ujar Yoan membaca raut wajah Dara.


"Kalau begitu mari kita berkenalan. Namaku Yoan, aku ingin berteman denganmu." dengan semangat pria itu mengulurkan tangannya. Tapi...


"Kamu tidak menjawab teleponku apalagi membalas pesanku, juga tidak mau membalas uluran tanganku. Apa kamu tidak mau berteman denganku?" tanya Yoan seraya menurunkan uluran tangannya, saat melihat Dara diam saja.


Dara mengangguk menjawab pertanyaan pria itu. Ia tidak mau berteman dengan pria di hadapannya itu.


Yoan jadi tertawa kecil, wanita itu menjawabnya langsung tanpa basa basi. Apalagi berpikir terlebih dahulu.


"Ini makanlah bersama temanmu." Yoan mengangguk pelan. "Aku pergi dulu."


Yoan akan membuka pintu kaca, tapi ia berbalik melihat ke arah Dara kembali.


"Dara... jika ada waktu, tolong kamu angkat panggilan telepon dan pesanku ya." Yoan memberikan senyuman lalu berlalu pergi.


'Mau apa sih dia?!' ronta Dara tidak mengerti. Pria itu seperti sedang menerornya.


"Kak Dara!!!" panggil Eli yang membuat Dara kaget.


"Siapa tadi? wuih... dibawai sarapan nih." Eli melihat kotak makanan itu sambil melihat mobil yang sudah melaju pergi.


"Sarapan apaan, bisa saja kotak ini isinya boneka santet." Dara sudah berpikiran negatif.


"Masa sih?! biar aku buka saja!" Eli mengambil dan membuka kotak tersebut. Ia ingin memastikan, apa isinya seperti itu.


"Kak Dara ini makanan loh! Sepertinya enak. Mahal ini kak!" timpal Eli kembali.


Kotak itu berisi kue kering rasa coklat.


"Kak Dara nggak mau?" tawar Eli sambil mengunyah. "Ini sangat enak!"


"Makanlah. Habiskan saja semua!" Dara pun berjalan menuju chiller. Ia akan kembali bekerja.


Eli memakan kue kering tersebut. "Kak Dara, sepertinya pria tadi naksir dirimulah kak. Embat saja kak, ku lihat penampilannya rapi dan mobilnya juga mewah. Orang kaya itu kak." Begitulah penilaian Eli.


Dara tidak mempedulikan ocehan Eli, ia malah sibuk mendisplay minuman di chiller.


Tak lama Eli kembali pada pekerjaannya, ia sedang membersihkan meja depan kasir.


'Loh, inikan pria semalam yang minta nomor kak Dara. Wuih kak Dara, banyak yang naksir. Laris manis!' Eli ingat pria semalam yang meminta nomor ponsel Dara.

__ADS_1


Eli tersenyum saat seorang pria masuk. Dan pria itu menuju chiller. Ia masih memperhatiankan pria itu yang seperti mencari-cari seseorang. Sudah pasti mencari Dara.


Eli bangkit dan masuk area kasir. Ia melihat dari layar kaca tampilan rekaman cctv. Terlihat pria tersebut akan berjalan mendatangi Dara yang sedang berada di area snack.


'Kenapa seperti sedang menonton drama ya?!' Eli tersenyum geli sendiri.


Pria itu tampak sangat gugup. Terlihat sudah berkali-kali menggaruk kepalanya, saat melihat Dara yang begitu sibuk mendisplay snack-snack dalam kardus.


Pria itu akan maju selangkah, lalu tampak ragu dan memilih mudur. Pria itu terlihat akan pergi. Tapi tak lama malah kembali melihat ke arah Dara.


'Kok gemes aku yah?!' Eli merasa pria itu ingin menyapa Dara, tapi malu-malu meong.


"Kak Dara!!!" Panggil Eli akhirnya. Ia sengaja agar Dara melihat pria itu.


"Iya. Kenapa?" Tanya Dara yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku mau ke kamar mandi." Ucap Eli kembali.


Dara pun mengangguk. Ia akan berjalan menuju kasiran. Langkahnya segera terhenti saat melihat pria yang berdiri di hadapannya.


"Da-Dara... bisa kita bicara sebentar?!"


\=\=\=\=\=\=


"Ada apa?" tanya Dara setelah berada di depan swalayan.


"Sekitar sini." Jawab Dara kembali. Tidak memberitahu secara rinci.


"Oh. Apa kamu tinggal dengan Ayah dan Bunda di sini?" Roni memastikan kembali. Ingin tahu Dara tinggal dengan siapa. Mungkin Dara pindah ke kota ini ikut suaminya.


"Iya." Dara menjawab singkat. Ia melihat ke arah dalam swalayan. Eli yang sedang tersenyum padanya.


"Maaf ya. Aku harus lanjut bekerja. Temanku sudah menunggu." Ucap Dara memberitahu. Ia akan melangkahkan kaki.


"Dara... apa kamu sudah menikah?" tanya Roni segera.


Deg...


Satu pertanyaan itu, yang selalu ditakutkan oleh Dara. Pertanyaan yang terasa horor, jika ditanyakan oleh sang mantan. Apa yang harus dijawabnya? Apa harus berbohong?


Berbohong dengan mengatakan jika dia sudah menikah?


Atau mengatakan yang sejujurnya, jika ia belum menikah? bagaimana tanggapan pria itu?


"Aku permisi." Dara memilih kembali masuk ke swalayan. Ia tidak mau menjawab pertanyaan tersebut. Lagian tidak penting juga menjawab pertanyaan Roni.


Roni menatap wanita yang sudah pergi meninggalkannya. Dara sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya. Padahal ia sangat ingin tahu. Mungkin ia masih punya kesempatan kedua. Ya, kesempatan untuk kembali bersama dan memperbaiki semua kesalahannya.


Lama Roni berdiri menatap Dara yang tampak sibuk di dalam swalayan. Wanita itu setelah masuk, tak ada lagi menoleh ke arahnya.

__ADS_1


'Dara... tolong maafkan aku. Aku senang melihat kamu baik-baik saja.'


Roni lalu masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil tersebut pergi meninggalkan area swalayan.


"Kak Dara... pria tadi sudah pergi." Ucap Eli memberitahu. Mobil Roni sudah tidak ada di depan swalayan.


Dara sedikit bernafas lega. Ia sama sekali tidak mengerti untuk apa Roni mendatanginya lagi.


"Kak Dara, jadi pilih yang mana?" tanya Eli menghampiri Dara.


Dara malah melihat dengan wajah tak mengerti. "Pilih apa, Li?"


"Itu loh, pilih pria yang pertama atau yang kedua?" Eli menaikkan alisnya. Dara kini jadi rebutan.


"Apa pertanyaanmu itu?!" Dara menggelengkan kepala, temannya itu sedang mengatakan hal yang aneh.


"Gini ya kak, dari kedua pria itu... aku merasakan jika mereka berdua memiliki rasa sama kakak." Eli meyakinkan Dara.


"Sudah, lanjut sana pekerjaanmu. Biar kita cepat selesai!!!" Dara mendengus. Bisanya Eli berpikiran seperti itu. Pikiran yang mengada-ngada.


"Benar loh kak. Tatapan kedua pria itu sangat tulus melihatmu dan begitu sangat dalam." Eli masih meyakinkan apa yang dilihatnya.


Dara menggeleng dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ting


Ting


Ting


Dara membuka ponselnya. Pesan-pesan masuk ke ponselnya.


08xx: selamat bekerja Dara


08xx: jangan telat makan


08xx: jam berapa kamu pulang kerja?


08xx: aku jemput ya?


Dara membaca pesan-pesan dari pria tidak waras tersebut. Pria itu mau menjemputnya, berarti nanti sore pria itu akan datang kemari lagi.


'Apa aku blokir saja nomornya?!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2