KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 75 - SAH


__ADS_3

Ayah melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Dan pihak keluarga pria belum muncul juga.


Tuan kadi, para saksi dan beberapa tamu yang dituakan sudah berdatangan.


"Pak, apa sudah bisa dimulai?" tanya Tuan kadi. Waktu ijab kabul akan segera dimulai.


"Maaf, Pak. Tunggu sebentar lagi ya. Mempelai prianya sedang dalam perjalanan. Mereka terjebak macet." Ucap Ayah memberi alasan. Ia meyakini Yoan dan keluarganya akan segera tiba.


"Ayah, kenapa mereka belum datang ya?" tanya Bunda mulai gelisah. Ada ketakutan di hati, jika pernikahan ini batal lagi. Ia takut putrinya sampai frustasi lagi.


"Apa Yoan ada menelepon Dara?" tanya Ayah dengan wajah serius.


"Nggak tahu Bunda, Yah." Bunda menggeleng.


"Kita lihat Dara dulu ya, Bun!" ajak Ayah yang merasa cemas. Dara sedang di ruang hias. Mungkin Yoan sudah menghubunginya?


Ayah meremas tangannya berjalan menuju ruang hias. Ia akan menghajar Yoan jika membuat Dara, putri kesayangannya hancur lagi. Pria paruh baya itu sangat khawatir, mungkin putrinya sekarang sedang menangis.


Sementara di ruang hias.


"Mas, Mas Yoan..." Ucap Dara bergetar mendengar suara calon suaminya.


"Sayang, maaf ya aku terlambat. Ada masalah sedikit di jalan. Kamu tunggu aku sebentar ya. Aku sudah di jalan." Yoan menenangkan Dara.


"Mas, benar sudah di jalan? Mau kemari?" tanya Dara memastikan.


"Iya, sayang. Aku sebentar lagi akan sampai ke sana. Kita akan menikah." Jelas Yoan menenangkan Dara kembali. Dari suaranya, Dara pasti sangat sedih dan takut.


"Sayang, percaya padaku. Sebentar lagi aku sampai dan kita akan menikah. Kamu sabar ya, tunggu aku sebentar lagi. Nggak lama kok." Jelas Yoan sambil melihat jalan. Mereka sudah dekat dengan lokasi.


"I-iya, Mas." Dara sedikit bernafas lega. Akhirnya Yoan menghubunginya. Ia sangat takut Yoan hilang begitu saja, tanpa alasan apalagi penjelasan.


"Sayang, aku tutup dulu ya. Kamu tunggu aku ya." Ucap Yoan kembali.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan." Dara mengangguk pelan dan panggilan tersebut pun berakhir.


"Dara!!!" Ayah masuk ke ruang hias. Ia melihat putrinya yang berwajah sembab memegang ponsel.


Pikiran Ayah mulai kalut. Apa Yoan meninggalkan putrinya seperti Roni?


"Ayah." Dara bangkit dan memeluk Ayahnya.


"Iya, Ayah di sini nak." Pria berwajah sangar itu mengelus kepala sang putri.


"Di mana Yoan?" tanya Ayah hati-hati.


"Masih di jalan, Yah. Sebentar lagi Mas Yoan sampai. Ada sedikit masalah di perjalanan, tadi Mas Yoan baru saja menelepon Dara." Ucap Dara memberitahu.


Ayah bernafas lega, sepertinya tidak ada masalah. Yoan tidak meninggalkan putrinya.


\=\=\=\=\=\=


Yoan segera turun dan berlari setelah mobil berhenti. Ia sangat mengkhawatirkan calon istrinya itu.


"Yoan... tunggu."

__ADS_1


"Yoan, memanglah anak satu itu!!!"


Mereka segera turun dari mobil dan menyusul Yoan yang sudah berlari masuk.


Yoan sampai di depan aula tempat resepsi pernikahannya. Ia melihat kedua orang tua Dara yang menyambut.


"A-ayah, Bunda... maaf, aku telat." Yoan menyalami mereka sebentar.


Ayah dan Bunda bernafas lega, melihat Yoan telah datang.


"Dara di mana?" sambung Yoan kembali.


"Dara di-"


"Saya permisi."


Belum sempat Bunda menjawab, Yoan sudah berlari masuk ke dalam.


"Bapak, Ibu... maafkan kami datang sangat terlambat. Ada sedikit masalah dalam perjalanan kemari." Papa menyalami calon besannya sambil meminta maaf. Ia merasa tidak enak hati, membuat mereka menunggu.


"Tidak masalah, Pak, Bu. Kami mengerti. Yang terpenting kita semua sudah berkumpul." Ayah mengangguk mengerti.


"Maafkan sikap Yoan ya, Pak, Bu." Ibu Yumi meminta maaf karena Yoan sudah nyelonong begitu saja.


"Tidak apa, Bu. Biar saja mereka bertemu sebentar, biar sedikit tenang." Ucap Ayah kembali. Baik Dara maupun Yoan, wajah keduanya sangat tegang. Wajar saja, hari sudah hampir pukul 10 pagi. Padahal ijab kabul seharusnya di jam 9.


\=\=\=\=\=\=


Yoan melihat sekitar, mencari Dara. Ia pun mengeluarkan ponselnya.


Yoan menyimpan kembali ponsel dan menghampiri Eli.


"Kenapa lama sekali Bang?" tanya Eli membawa Yoan berjalan ke ruang hias. Ke ruangan tempat Dara menunggu.


"Ada masalah sedikit tadi di perjalanan." Jelas Yoan dengan wajah serius. "Bagaimana Dara?" tanya Yoan ingin tahu.


"Kak Dara sangat sedih saat tidak bisa menghubungimu. Ia mengira pernikahannya batal lagi." Jelas Eli sesuai apa yang dia lihat.


Yoan diam. Ia sudah membuat Dara sedih, sampai berpikiran seperti itu. Berpikiran ia meninggalkan Dara di hari pernikahan.


"Kak Dara, pangeranmu datang!" ucap Eli sambil membuka pintu.


"Sayang..." Ucap Yoan saat melihat Dara.


"Mas-Mas Yoan." Dara yang masih terduduk segera bangkit. Ia berlari ke arah pria itu dan memeluknya.


"Maaf, sayang. Maafkan aku!" Yoan pun memeluk Dara erat.


"A-aku pikir Mas juga akan meninggalkanku!" Dara menumpahkan segala kesedihannya. Ia menangis dalam pelukan pria itu.


"Tidak, sayang. Itu tidak mungkin. Aku sangat mencintaimu, jadi tidak mungkin aku meninggalkanmu!" jelas Yoan mengelus kepala Dara.


"Sudah, jangan nangis lagi. Aku sudah di sini." Bujuk Yoan mengingatkan.


Dalam dekapan Yoan, Dara mengangguk pelan. Hatinya sedikit tenang.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita selesaikan pernikahan ini. Aku sudah sangat tidak sabar melewati malam pertama bersamamu, sayang." Bisik Yoan pelan tepat di telinga Dara.


Tangan Dara pun mencubit perut pria itu.


"Dara-Dara." Yoan tersenyum. Ia bisa bernafas lega setelah melihat Dara. Wanitanya baik-baik saja, meski dandanan Dara berantakan akibat menangis.


\=\=\=\=\=\=


Tak lama Yoan sudah berada di tempat untuk melaksanakan proses ijab kabul. Ia berkali-kali menghembuskan nafas, kegugupan mulai menguasainya.


'Tenang, tenang, tenang Yoan!' Yoan berusaha menenangkan dirinya.


Di hadapannya sudah ada Ayah dari wanita yang dicintainya. Ia harus menghadapi pria sangar itu terlebih dahulu. Di sana ada Tuan kadi dan para saksi juga.


Yoan melihat ke arah lain, ada Papa dan Mamanya yang tersenyum padanya.


"Baiklah, mari kita mulai. Silahkan, pak." Ucap Tuan kadi mempersilahkan.


Ayah menjabat tangan Yoan. Tangan Yoan sangat dingin. Pria muda itu juga tampak gugup.


Ayah mengangguk sambil tersenyum. Ia mengurangi kegugupan calon menantunya itu.


Yoan pun melihat Ayah dan mengangguk pelan.


Sementara di ruangan, Dara mondar mandir. Ia sangat gugup sekali.


"Kak Dara, tenang dong!" Eka memegang lengan Dara. Agar Dara tidak mondar mandir seperti setrikaan.


"Sah..."


Kata sakral itu akhirnya terdengar juga. Dara menutup mulutnya tak percaya.


"Kak Dara selamat. Sudah sah jadi istrinya Bang Yoan." Eli memeluk Dara yang masih tampak bingung.


"Kak Dara, selamat ya." Eka juga bergantian memeluk Dara.


"Te-terima kasih." Air mata Dara berlinang lagi membasahi pipinya. Pernikahannya kali ini tidak batal lagi. Ia sangat bersyukur.


Dara ditemani Eka dan Eli berjalan ke tempat ijab kabul. Di sana sang pangeran berkuda putih sudah menunggu.


Yoan tak dapat menyembunyikan wajah kagum dan bahagianya. Ia menatap wanita yang sangat cantik. Dara sudah didandani ulang.


Tak jauh dari sana, seorang pria terpesona melihat mempelai wanita.


'Apa itu si pelet? Ternyata cantik juga!' Batin Malik melihat istrinya Yoan.


Malik langsung menggeleng saat menyadari sesuatu.


'Jelas terlihat cantik! Dia kan pakai pelet!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2