
'Hanya dibaca!' Yoan menggelengkan kepala sambil menatap ponselnya. Ia telah mengirimkan beberapa pesan. Tapi tak ada satupun pesan balasan dari wanita itu.
Tok
Tok
Tok
"Hmm... masuk." Ucapnya saat mendengar suara ketukan pintu. "Ada apa El?"
"Saya mau mengingatkan bahwa-"
"Atur jadwal saya hanya sampai jam 3 sore." Sela Yoan cepat. Ia mengingat Dara yang selesai bekerja di jam 4, sama seperti jam berakhir kantornya. Jika dia keluar di jam 4, maka ia tidak akan bertemu Dara. Jarak kantor dan swalayan itu cukup jauh, belum lagi kena macet di perjalanan.
"Ta-tapi Pak-"
"Jam 3, El." Ucap Yoan dengan sorot mata tajam.
"Baiklah, pak. Apakah khusus hari ini saja atau...?" tanya El memastikan.
"Seterusnya." Jawab Yoan santai sambil tersenyum tipis. Ia akan pulang cepat setiap hari dan menjemput Dara.
El mengangguk mengerti. Atasannya itu kembali tersenyum pada ponsel. Tah apa yang ada dalam ponsel tersebut.
'Dara... lihat saja. Akan kurobohkan tembok tinggi itu!' Batin Yoan. Ia akan merobohkan tembok tinggi yang sudah dibangun Dara.
Beberapa jam kemudian. Yoan yang telah selesai dengan urusannya, ia melihat arlojinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 lewat 50 menit. Sekitar 10 menit lagi ia akan pulang dan menemui Dara.
'Kenapa lama sekali?!' Yoan sangat tidak sabaran. Waktu terasa berputar begitu lambat. Menunggu 10 menit berlalu saja, seperti 10 tahun. Sangat lama.
Yoan mondar mandir mengelilingi ruangannya, sambil menunggu waktu. Ia bisa saja keluar sekarang, tapi ia akan dianggap tidak disiplin pada waktu. Jadi mau tak mau menunggu hingga waktu menunjukkan angka 3.
'Astaga!!!' ronta pria itu. Perasaan tah sudah berapa kali mondar mandir, tapi belum juga pukul 3 tepat. Masih kurang 2 menitan lagi.
Yoan duduk kembali ke kursi kebesarannya, menatap tajam arlojinya yang bergerak sangat slow.
'5, 4, 3... 2, 1. Akhirnya!!!' Batin Yoan, waktu telah berlalu. Ia pun bangkit dan membenarkan pakaiannya, seraya mencium ketiaknya untuk memastikan tidak ada bau badan.
"Dara, tunggu ya. Abang akan meluncur!" Dengan wajah bahagia, Yoan berjalan keluar ruangannya.
\=\=\=\=\=\=
"Kak Dara!" Panggil Eli.
"Kenapa?" tanya Dara yang sedang menghitung uang di kasir.
"Itu!" Ucap Eli dengan bibir menunjuk keluar.
Dara pun melihat ke arah yang ditunjuk bibir Eli. Dan ternyata sebuah mobil berhenti di depan swalayan. Ia mulai mengenal mobil hitam itu. Mobil pria tidak waras.
"Kalau dia tanya aku, bilang saja aku sudah pulang." Dara segera mengunci laci kasiran dan kabur ke belakang. Menghindari pria itu.
"Selamat datang!" Sapa Eli saat konsumen itu masuk.
__ADS_1
Yoan menganggukkan kepala sejenak. "Ada Dara?" tanyanya.
"Kak Dara... sudah pulang, Bang." Jawab Eli sesuai pesan Dara.
"Kok cepat? apa dia sakit?" tanya Yoan dengan wajah cemas.
'Apa dia khawatir?' Eli menahan senyumannya.
"Tidak, Bang. Kak Dara tadi izin, katanya ada urusan yang mendesak. Ada urusan apa ya Bang? biar nanti aku sampaikan."
Yoan mengangguk mengerti. Ia melirik pintu khusus karyawan. Sepertinya ada orang yang mengintip.
"Titip ya. Tolong berikan ini padanya." Yoan memberikan sebuket mawar putih.
"Wah..." Eli berbinar menerimanya. Mawar putih itu sangat cantik dan juga harum. Salahnya titipan untuk Dara Jika diberikan untuk dirinya, hatinya pasti berbunga-bunga.
"Baiklah, nanti aku berikan pada kak Dara." Eli tersadar dari lamunannya.
"Terima kasih banyak ya. Saya permisi dulu." Yoan akan beranjak pergi.
"Ada lagi?" tanya Eli melihat Yoan melihatnya, mungkin masih ada yang akan diucapkan pria itu.
"Besok Dara masuk apa?"
"Masuk siang. Masuk siang dari jam 2 sampai jam 10 malam. Kalau masuk pagi jam 7 sampai jam 4 sore." Ucap Eli memberitahu dan segera menutup mulutnya menyadari apa yang telah diucapkannya.
"Terima kasih, ya." Yoan tersenyum dan berlalu pergi.
Eli melihat mobil yang sudah berlalu pergi. Lalu ia pelan-pelan melirik pintu yang perlahan mulai terbuka. Dan...
"Eli... kenapa kau memberitahunya? Aku sudah katakan, jangan jawab apapun pertanyaannya." Ucap Dara kesal sambil berjalan kembali ke area kasir. Ia harus menghitung uangnya, sebentar lagi pergantian shift.
"Hehe... maaf ceplos kak." Cengir Eli. "Kak ini darinya!" Eli akan memberikan buket mawar pada Dara.
Dara diam menatap sebuket mawar putih tersebut. Melihat mawar putih itu kembali mengingat kenangannya.
"Dara, ini untuk kamu!" Roni memberikan Dara setangkai mawar putih.
"Terima kasih." Dara sangat senang menerima pemberian dari orang terkasih.
"Maaf ya, Dara. Itu mawar putihnya mama, aku ambil." Ucap Roni merasa tak enak. Memberikan Dara bunga yang ditanam mamanya.
"Loh, nanti mama kamu marah?" tanya Dara yang merasa segan.
"Nggak tahunya itu mama, kalau bunganya hilang setangkai." Cengir Roni yang membuat Dara jadi geli.
"Maaf ya, Dara. Aku nggak bisa memberikan sebuket mawar yang besar-besar itu." Roni merasa sedih. Ia belum bekerja saat ini.
"Aku nggak suka itu. Nanti mawarnya layu juga." Ucap Dara sambil memeluk lengan Roni. Ia tidak mau Roni jadi bersedih, karena belum ada uang untuk membeli bunga tersebut.
"Doakan aku ya. Lamaran kerja yang aku kirim ada yang nerima. Nanti kalau aku sudah kerja, aku akan berikan bunga mawar yang banyak." Ucap Roni sambil menggenggam tangan Dara.
"Nggak usah. Aku nggak suka itu." Dara menggeleng pelan.
__ADS_1
"Jadi kamu sukanya apa?" tanya Roni.
"Aku suka kamu." Jawab Dara lalu menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Rasanya malu setelah mengatakan hal lebay seperti itu.
"Dara-Dara..." Roni memeluk Dara. Kekasihnya itu sangat manja dan menggemaskan.
"Kak Dara!!!" Eli dari tadi memegangi bunga tersebut dan Dara malah melamun menatap bunganya.
"Sudah buang saja!!!" Dara membuka lacinya dan mulai menghitung uang.
"Apa buang?" Eli tak percaya dengan perkataan Dara. Mau membuang bunga cantik ini.
"Sayang loh."
"Ya sudah untukmu saja." Dara akan memberikannya saja pada Eli. Bunga itu pemberian dari pria tidak waras itu.
"Dia ngasihnya untuk kak Dara. Mawar putih itu melambangkan ketulusan. Dia-"
"Itu hanya bunga Eli. Bu.nga!" Jelas Dara penuh penekanan.
"Kak Dara!!!"
"Terserahmu mau dibuang atau apa!"
Eli medengus melihat Dara yang sama sekali tidak merespon bunga itu.
"Kak Dara... apa kak sedang jual mahal dengan pria itu?" Eli memicingkan matanya.
"Apa?" Dara yang sedang menghitung uang menatap Eli.
"Jelas. Kak Dara lagi jual mahal. Jadi wanita memang harus seperti itu, tidak mudah terbuai kebaikan pria. Tapi harus diimbangi dengan tarik ulur juga. Jadi pria itu penasaran. Tapi kalau kak Dara seperti ini, bisa-bisa pria itu menyerah duluan. Karena sama sekali tidak direspon." Panjang Eli berucap.
"Sudah? mau bicara apa lagi?" tanya Dara kesal dengan teman seshiftnya itu.
"Pria itu kaya kak. Kalau kak acuhkan sayang sekali."
"Ya sudah, untukmu saja."
"Dia nggak berminat padaku."
Dara menggeleng melihat Eli berwajah manyun.
Tak lama, waktu menunjukkan pukul 4, shift pagi telah selesai. Dara pun bergegas pulang.
Wanita itu berjalan sendirian menuju pertigaan. Setelah sampai, Dara berdiri menunggu kenderaan umum.
"Dara..."
.
.
.
__ADS_1