
"Permisi. Ada Dara?" tanya Roni pada kasir.
"Kak Dara, masuk siang." jawab kasir tersebut.
Roni mengangguk. "Baiklah. Tolong berikan ini padanya ya."
Kasir itu mengangguk dan meraih bungkusan titipan pria tersebut.
Saat siang menjelang. Dara masuk ke swalayan.
"Kak Dara. Ada titipan."
Dara berhenti dan menatap bingung. Titipan?
"Dari siapa?" tanya Dara sambil membuka bungkusan yang berisi beberapa coklat batang.
"Lupa aku tanya siapa namanya, kak." Ucap kasir tersebut. "Tapi, bukan yang ngasih martabak tadi malam."
Dara mengangguk mengerti. Kalau bukan dari pemberi martabak, pasti dari Roni.
"Kak Dara, banyak penggemarmu ya." ledek kasir tersebut.
"Penggemar apaan! Ambil itu untukmu saja!" Dara memberikan coklat itu pada temannya.
"Serius kak?" tanyanya memastikan.
Dara mengangguk.
"Tadi malam ada yang bawa martabak. Hari ini coklat. Kakak mau sama pria yang mana?"
Dahi Dara mengkerut mendengar pertanyaan anak shift pagi tersebut.
"Menurutku nih ya kak. Yang bawa martabak sama bawa coklat, lebih tampan yang bawa martabak loh. Terus aura orang kayanya sangat terasa kak. Saranku, kakak sama yang bawa martabak saja." Dia meyakinkan Dara. Menurut penilaian mata batinnya.
Dara hanya bisa menghela nafas. Mau yang bawa martabak atau yang bawa coklat. Ia tidak mau dengan kedua pria itu.
Hari pun berlalu. Keesokkan paginya.
"Dara masuk apa?" tanya Roni saat masuk ke swalayan. Pagi-pagi ia sudah sampai di tempat kerjaan Dara.
"Kak Dara libur." Jawab Eli yang masuk shift pagi.
Roni mengangguk pelan dengan wajah kecewa. Sudah dua hari ia tidak bertemu Dara.
"Ini nanti tolong berikan padanya." Roni memberikan bungkusan.
Eli mengangguk dan menerimanya.
"Maaf sebelumnya. Bo-boleh minta jadwalnya Dara." Ucap Roni kembali. Dengan tahu jadwal Dara, akan lebih memudahkannya untuk datang menemui wanita itu di swalayan.
"Maaf, Bang. Tidak bisa." Tolak Eli.
"Oh... Maaf." Ucap Roni mengerti. "Saya permisi." Roni pun bergegas keluar.
Tak lama setelah mobil itu pergi.
"Kak Dara!!!" Panggil Eli melihat ke arah pintu.
__ADS_1
Krek
"Sudah pergi dia?" tanya Dara keluar dari pintu khusus karyawan. Tadi begitu melihat Roni, Dara segera bersembunyi.
"Dia titip ini." Eli memberikan titipan tersebut.
"Apa ini?"
"Mana aku tahu. Boom mungkin."
Dara membuka bungkusan tersebut. Terdapat sebuah kado. Dengan memo tertempel.
Maafkan aku...
Roni
Dara pun membuka kado tersebut. Ternyata isinya sebuah kalung. Kalung berliontin bentuk hati.
"Kak... dia mantanmu, kan?" tanya Eli penasaran.
Dara tak menjawab. Ia menyimpan kembali benda tersebut. Akan ia kembalikan saat bertemu Roni nanti.
Dara akan mengembalikan barang tersebut dan mempertegas ucapannya, bahwa ia tidak mau bertemu pria itu lagi selamanya.
Sore menjelang, Dara pulang ke rumah. Begitu masuk rumah, Dara bergegas masuk kamar. Ia akan membersihkan diri, makan, lalu segera tidur.
Malam pun berlalu, pagi sudah menjelang. Dara bangun pagi. Karena hari ini Dara libur bekerja, ia akan membersihkan rumah.
Dara mengganti gorden jendela lalu mencucinya. Mengelap kaca jendela, menyapu serta mengepel lantai dalam rumah.
"Dara... sarapan dulu." Ajak Bundanya saat Dara masuk dari pintu belakang.
"Dara mandi dulu ya, Bun. Gerah ini." Ucap Dara mengembalikan ember ke kamar mandi.
Dengan setengah berlari, Dara masuk ke kamar. Ia akan membersihkan diri, lalu sarapan dan setelah itu tidur. Ia akan tidur sampai sore menjelang.
\=\=\=\=\=\=
Tok
Tok
Tok
"Iya, sebentar." Ucap Bunda saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Bunda membuka pintu. Dan...
"Se-selamat sore, Bun. Apa kabar Bunda?"
Sorot mata Bunda menatap tajam dan tidak senang, melihat orang yang datang ke rumahnya.
Dan tak lama.
"Tolong maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku tidak memikirkan perasaan kalian terutama Dara. Aku sudah menyakiti Dara. Ayah... Bunda... tolong maafkan aku!!!" Roni bersimpuh meminta maaf kepada mantan calon mertuanya. Ia benar-benar menyesal dengan tindakan dan pilihannya saat itu.
"Stop!!!" Bentak Ayah. "Ayah, Bunda? Kami bukan Ayah dan Bundamu!!!" Ayah emosi melihat mantan pengantin putrinya. Sudah 7 tahun berlalu, berani-beraninya Roni menemui mereka.
"Aku tahu. Tolong maafkan aku!!!" Ucap Roni dengan nada bergetar. Ia benar-benar tulus meminta maaf.
__ADS_1
"Maaf untuk apa lagi? Tidak perlu ada lagi penjelasan! Jangan temui Dara lagi!" Ucap Bunda tegas. Ia curiga, Roni bisa tahu rumah mereka, apa selama ini putrinya dekat kembali dengan pria itu?
Bunda tidak akan sudi dan menerima Roni kembali. Bagaimana pun pria itu sudah membuat Dara terpuruk. Meski Dara akan mengatakan ingin kembali. Dara harus segera disadarkan.
"Aku salah. Aku ingin memperbaiki semuanya. Ayah, Bunda... tolong jangan marah dan benci kepadaku. Aku janji tidak akan menyakiti Dara lagi. Aku ingin kembali padanya. Aku ingin menikahi Dara. Aku masih mencintai-"
Bugh
Ucapan Roni terhenti. Ia terpental mendapat bogeman mentah dari Ayahnya Dara.
"Mencintainya? Kau bicara cinta?!" Ayah memegang kerah baju Roni.
Ayah meluapkan kemarahannya. Ia menghajar Roni tanpa ampun.
Bagh... Bugh.. Bagh.. Bugh..
Seharusnya ia meluapkan di saat itu, saat tujuh tahun yang lalu. Tapi, Roni pergi begitu saja, saat ia masih berbicara dengan keluarga Roni. Dan setelah hari pernikahan itu Roni menghilang bagai ditelan bumi.
"Jangan ganggu putriku lagi!!!" Ayah sangat emosi. Roni ingin kembali pada Dara. Di mana otak pria itu?
Dara, putrinya hidup terpuruk dalam beberapa bulan. Dara sangat stress bahkan berniat untuk mengakhiri hidup. Dan sekarang pria itu muncul dan meminta untuk kembali. Hanya dengan kata maaf. Semudah membalikkan telapak tangan.
"Ayah, aku sangat mencintai Dara. Aku sadar... selama ini yang aku cinta hanya Dara. Aku saat itu salah memilih. A-"
Bugh... Bugh...
Penjelasan Roni, membuat ayah kembali menghajarnya.
"Ayah, sudahlah!" Bunda memegangi suaminya. Roni sudah babak belur.
"Pergi dari sini dan jangan pernah menemui Dara lagi!!!"
"Ayah!!! Tolong maafkan aku!!!" Roni memegangi kaki pria itu.
Ayah menepis kakinya dari tangan Roni. Meski Roni mengemis seperti itu, ia tidak akan mengizinkan Dara bersama pria itu. Jika Dara masih mau kembali. Ia berniat akan membawa Dara keluar kota, bila perlu keluar negeri sekalian.
"Pergi!!! Aku bilang pergi!!!" dan lagi Ayah membentaknya.
"Tidak Ayah. Aku akan tetap di sini. Aku memang salah. Jadi silahkan saja Ayah lampiaskan kemarahan Ayah..." Roni tidak peduli wajahnya yang sudah bonyok itu. Ia ingin kembali pada Dara lagi. Ingin memperbaiki semuanya.
Sementara di kamar, Dara membuka matanya. Tidurnya terganggu karena suara Ayah.
"Ayah, marah sama siapa sih?" gumam Dara seraya mendudukkan diri di tempat tidur sebentar, mengumpulkan jiwa raganya.
"Apa Ayah berantem sama Bunda?" mata Dara terbuka sempurna. Ia pun segera berlari keluar kamar.
"Ayah... Bunda!!!" Panggil Dara saat sampai di ruang tamu.
Dara terdiam melihat seorang pria yang bersimpuh dengan wajah bonyok.
"Ro-Roni!!!"
.
.
.
__ADS_1