
"Ok, sudah rapi." Ucap Dara setelah merapikan rambut suaminya. Ia tersenyum melihat Yoan.
"Terima kasih, sayang." Yoan menkecup pipi kanan Dara, lalu pipi kiri. "Ayo, kita meluncur!"
Dara mengangguk pelan sambil tersenyum. Yoan pun merangkul istrinya dan mereka keluar dari kamar hotel tersebut.
"Sayang, kita beli ole-ole." Ucap Yoan.
"Ole-ole? Untuk siapa, Mas?" tanya Dara melihat suaminya yang sedang menyetir.
"Untuk saudara kitalah. Kita bawakan ole-ole dari sini." Jelas Yoan kembali.
Dara mengangguk pelan. Ternyata suaminya perhatian untuk hal-hal seperti itu.
Tak lama, mobil mereka berhenti di sebuah toko ole-ole.
"Sayang, banyak saudara kita di sana?" tanya Yoan ingin tahu. Ia menggandeng Dara memasuki toko tersebut.
"Ya banyaklah, Mas. Di sana kan kampung halaman Ayah dan Bunda. Saudara Ayah sama Bunda, tinggal di sana semua. Cuma kami saja yang tinggalnya jauh." Jelas Dara. Bisa dibilang mereka orang perantauan.
Yoan mengangguk pelan. "Jadi, kenapa kalian pindah kemari? apa Ayah dipindah tugaskan?"
Dara diam dan menggeleng pelan. "Karena aku, Mas. Batalnya pernikahanku kala itu membuat Ayah-"
"Sudahlah, sayang. Aku mengerti!" Yoan mengelus wajah Dara. Ia sudah bisa menebak kelanjutan detil alasan yang akan dikatakan Dara.
"Kita belikan ole-ole apa ya, sayang?" tanya Yoan mengalihkan topik. Ia tidak mau membahas masa lalu Dara lagi.
"I-itu sepertinya enak." Tunjuk Dara pada tumpukkan cemilan.
Dan tak lama...
"Mas, ini terlalu banyak." Dara tercengang. Yoan banyak membeli ole-ole. Mobil mereka sampai penuh dengan kardus-kardus ole-ole tersebut.
"Tidak apa." Yoan merasa tidak ada masalah.
Tak lama Yoan dan Dara sampai di rumah. Para tante dan Omnya sudah menaikkan barang-barang mereka.
"Ada pengantin baru."
"Kayaknya kecapekan nih."
"Kebanyakan lembur."
Mereka meledeki pasangan pengantin baru.
Dara jadi menunduk malu. Ia menyalami mereka lalu Yoan juga mengikutinya. Pria itu senyum-senyum saja diledeki saudara mereka.
Yoan lalu menurunkan kardus ole-ole yang mereka bawa.
"Aduh, kenapa banyak sekali?"
"Nggak apa, Tante. Untuk yang lainnya juga. Sampaikan salam saya sama semua keluarga yang ada di sana." Ucap Yoan sopan.
Ayah dan Bunda tersenyum melihat menantunya itu. Yoan sangat sopan dan bisa memasukkan diri dengan keluarga mereka.
"Iya, nanti tante sampaikan salam kamu sama semuanya."
"Kalau ada waktu, datanglah ke rumah Tante."
"Iya, benar. Nanti kami bawa kamu keliling. Di sana banyak tempat wisatanya."
"Baik, Tante. Nanti kalau ada waktu kami datang ke sana." Jawab Yoan kembali. Ia menganggukkan kepala pada mereka.
"Oh, iya. Menantu ponakanku... anak tante sebentar lagi selesai kuliah. Kamu bantu dia masuk kerja di tempatmu ya."
__ADS_1
"Iya, benar. Anak tante juga."
"Tante jamin, anak tante akan bekerja giat dan rajin di sana."
Dara menghembuskan nafas pelan. Benar-benarlah saudaranya itu. Langsung bicara dengan suaminya.
"Aman itu, Tan. Nanti sampaikan saja sama Dara, biar nanti saya yang urus." Ucap Yoan sambil senyum menatap istrinya yang sedang bersama Ayah dan Bunda.
"Terima kasih ya, Yoan."
"Kami doakan rumah tangga kalian harmonis dan segera dikaruniakan momongan."
"Amin..." Yoan mengaminkan segera.
"Oh iya, berapa lama perjalanan ke sana?" tanya Yoan ingin tahu.
"Sekitar 12 jam."
Yoan mengangguk. 12 jam duduk di dalam mini bus itu.
"Bagaimana kalau naik pesawat saja?" saran Yoan. pasti tidak akan selama itu.
"Saya pesankan saja tiketnya-"
"Tidak usah. Kami naik ini saja." Tolak mereka cepat.
"Benar, benar. Kami bisa singgah-singgah selama perjalanan." Alasan yang lainnya.
Mereka segan, Yoan sudah membawakan banyak ole-ole. Jika dipesankan tiket pesawat, bisa tumpur bandar. Bukan 2, 3 orang saja. Hampir 20 orang.
Mereka merasa tidak enak dengan tawaran Yoan.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya."
Mereka saling berpelukan erat.
"Hati-hati di jalan. Terima kasih telah datang." Ucap Bunda. Saudara-saudaranya sudah menyempatkan waktu mendatangi mereka.
"Kalian balik lagi ke sana. Dara kan sudah menikah."
"Iya, benar. Dara sudah bahagia dengan suaminya."
Saudara mereka tahu, alasan Ayah dan Bunda pindah keluar kota. Agar Dara tidak terus mengingat kenangan menyakitkan itu.
Bunda tersenyum tipis sambil melihat Dara yang sering tersenyum pada suaminya. Dara-nya kini sudah berubah. Bunda senang Dara sudah bisa tersenyum lebar. Putrinya pasti sangat bahagia.
"Kami pulang ya." Mereka pun naik ke mini bus, lalu melambaikan tangan.
"Hati-hati ya, Tante, Om. Sampai jumpa lagi." Dara juga melambaikan tangan.
Yoan juga mengikuti Dara. Ia melambaikan tangan mengiringi laju mini bus tersebut.
"Yoan, Dara... ayo kita masuk." Ajak Bunda. Setelah mini bus telah pergi.
"Ayo, Mas." Dara menggandeng suaminya untuk masuk.
Ayah dan Bunda tersenyum melihat Dara yang mulai manja pada Yoan.
Di ruang makan, Bunda dan Dara menyajikan hidangan.
"Yoan, ayo dimakan." Tawar Bunda.
"Terima kasih, Bun. Akan saya habiskan." Ucap Yoan sambil tertawa.
Setelah Bunda mengambilkan makanan untuk ayah, Dara pun mengambilkan makanan untuk suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang." Senyum Yoan mengembang menerimanya.
Mereka pun makan dengan lahap. Yoan dan Dara saling melempar senyum saat makan.
Ayah tersenyum tipis melihat Dara. Wajah putrinya sangat lega dan bahagia. Daranya sekarang bisa tersenyum lebar tanpa beban.
Setelah selesai makan dan membantu membereskan rumah. Dara berada di kamarnya sekarang.
Yoan yang baru masuk setelah mengobrol dengan Ayah, menggeleng melihat istrinya. Dara sudah terlelap.
Pria itu pun naik ke tempat tidur. Ia menarik Dara ke dalam pelukannya. Istrinya itu benar-benar putri tidur.
'Kamu pasti lelah ya. Ayo, kita tidur.' Yoan pun ikut berbaring di sana.
Tak lama, Dara membuka matanya dan melihat suami di sampingnya tersenyum lebar.
"Sudah bangun putri tidur?" ledek Yoan. Dara tidur dari sore dan pagi baru bangun. Benar-benar sangat kelelahan.
"Jam berapa Mas?" tanya Dara merenggangkan tubuhnya.
"Jam 7."
Dara mengangguk. Ternyata masih jam 7. Pandangan Dara teralih ke gorden jendela. Sudah jam 7 kok masih terang. Cahaya matahari menembus celah-celah jendela kamar.
"Kok jam 7 masih ada matahari, Mas?" tanya Dara merasa aneh. Seharusnya hari sudah gelap.
"Sayang, ini sudah jam 7 pagi."
"Apa?" Dara bangun dan melihat jam dinding yang menunjukkan angka 7. Ia pun berlari ke jendela, membuka gorden. Benar dunia sudah terang.
"Sayang, tadi malam aku tidak menyentuhmu." Ucap Yoan. Tadi malam ia sudah berusaha membangunkan istrinya. Tapi, Dara tidak bangun-bangun. Dara tidur seperti mayat.
"Karena kamu sudah puas tidur tadi malam. Maka malam ini, kamu harus lembur." Yoan menaik turunkan alisnya. Ia sudah memaklumi istrinya tadi malam.
"Ayo bangun. Kita harus kembali ke hotel."
Glek
Dara menelan salivanya. Jika mereka kembali ke hotel. Tak perlu menunggu sampai malam. Yoan pasti akan langsung menggempurnya.
Wanita itu berpikir untuk mencari alasan. Ia pun memeluk tubuh Yoan.
"Mas Yoan..." Ucap Dara manja.
"Iya, sayang." Jawab Yoan sangat senang. Istrinya mulai manja padanya.
"Aku masih kangen sama Ayah dan Bunda. Besok saja kita kembali ke hotel." Dara memelaskan wajahnya.
"Baiklah!" Yoan mengangguk. Dara masih merindukan orang tuanya, tak masalah jika mereka menginap di sini. Yang terpenting dia tetap berada di sisi Dara, di mana pun berada.
"Terima kasih, Mas." Dara senang sekali. Ia akan bebas semalam lagi dari serangan suaminya itu. Yoan pasti segan menggaulinya di rumah Ayah dan Bunda. Kamar tidurnya tidak kedap suara.
"Tapi, sekarang kita harus kembali ke hotel dulu, sayang. Membereskan barang-barang kita. Sekalian check out sajalah." Saran Yoan. Mereka seharusnya keluar dari sana besok, tapi karena Dara ingin menginap di rumah. Jadi di percepat saja keluarnya.
"Hah?" perasaan Dara tidak enak, kembali lagi ke hotel itu.
"Ayo, mandi sayang. Aku sudah tidak sabar."
"Mas Yoan!!!"
.
.
.
__ADS_1