KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 112 - KE KANTOR YOAN


__ADS_3

"Kak Dara!!!" Eka berlari menghampiri Dara yang menunggunya di kafe kantor.


Dara melambaikan tangan. "Mas, nanti ku telepon lagi ya. Nanti setelah ini aku ke ruangan Mas Yoan. Mas Yoan jangan lupa makan ya." Ucap Dara lalu mengakhiri obrolan dengan suaminya. Ia memberikan kecupan jarak jauhnya.


Eka melebarkan senyumannya. Dara tampak sekali bucinnya. Senyum di wajah Dara terlihat sangat bahagia sekali.


Eka juga menyadari, lama tidak bertemu, ia melihat Dara yang berubah. Perutnya mulai membesar.


"Kak Dara hamil ya?" tanya Eka memastikan.


Dara mengangguk dengan wajah senyum yang tidak bisa disembunyikannya. Selama kehamilan, rasanya Dara ingin selalu tersenyum.


"Selamat ya, kak Dara!" Eka mendudukkan diri di samping Dara. Ia mengelus perut Dara dengan hati-hati.


"Laki-laki atau perempuan, kak?" tanya Eka kembali. Ia penasran atas jenis kelamin sang bayi.


"Perempuan, Ka." Jawab Dara memberitahu.


"Hai, sayang. Ini tante Eka, temannya Mama kamu." Ucap Eka memperkenalkan diri pada perut Dara. Ia berbicara seolah sedang menyapa bayi itu langsung.


Dara jadi tersenyum. "Kok tante sih?"


"Loh jadi aku dipanggil apa kak? Onty?" tanya Eka sambil memikirkan panggilannya yang sesuai.


"Bulek."


"Kak Dara... masa bulek sih?!" Eka mencemberutkan wajahnya.


Eka dan Dara mengobrol sambil makan. Mereka membahas perihal kehamilan.


Dara hanya menceritakan yang dia tahu dan yang sedang dialaminya sekarang Dan Eka menganggukkan kepala mendengar ceritanya Dara.


"Sembilan bulan itu sebentar kak. Baru hamil tak terasa sudah lahir saja anaknya."


"Iya, sih. Cuma aku bayangi saja nanti kalau sudah sembilan bulan. Kayaknya susah banget berjalan." Ucap Dara mengingat saat cek kandungan.


"Nggak usah dibayangi sekarang. Kan orang hamil itu nggak langsung membesar gitu, kak. Perlahan-lahan membesarnya, jadi tubuh kita pun akan terbiasa kak." Jelas Eka. Menurutnya kalau orang hamil tiba-tiba membesar perutnya, pasti bisa terkejut batin.


"Ih... Eka sudah pandai ya." Ledek Dara pada Eka. Tumben jalan pikirannya logis.


"Kak Dara pun." Eka jadi malu.


Dara tersenyum seraya menyedot minumannya.


"Oh iya, kak. Bu Upik patah hati." Eka memberitahu kabar terbaru si Upik.


"Patah hati kenapa, Ka?" tanya Dara penasaran.


"Pria yang ditaksirnya mengundurkan diri, kak. Dia jadi uring-uringan tidak jelas kak. Bawaannya mau marah saja. Untung aku nggak satu timnya lagi." Cerita Eka pada Bu Upik yang patah hati ditinggalkan gebetannya.


Bu Upik merasa dunianya sudah gelap tanpa cahaya matahari menerangi.


"Pak Roni resign karena mau menikah dan pindah keluar kota, kak." Ucap Eka kembali. Wanita itu tiba-tiba menutup mulutnya, ia melupakan sesuatu. Roni kan mantannya Dara.


"Kak Dara, maafkan aku." Eka merasa bersalah, tanpa sengaja bercerita tentang masa lalu Dara itu.


"Kamu sudah tahu, Ka?" tanya Dara memastikan.


Eka mengangguk takut-takut. "Aku tahunya saat pernikahan kak Dara. Aku mendengar dari ibu-ibu yang bercerita, Kak." Jelas Eka kembali. Ia tidak tahu detilnya, hanya saja Dara pernah batal menikah dengan pak Roni.


"Tapi, aku tidak ada bilang ke siapapun kok, kak." Ucap Eka kembali.


"Di kantor tidak ada gosip kak Dara dengan pak Roni." Timpal Eka, agar Dara nanti tidak merasa canggung.


"Ya sudahlah. Itu juga sudah jadi masa lalu, Ka." Dara tidak mempermasalahkan.


"Benar, kak. Sekarang kak Dara sudah bahagia bersama pak Yoan." Ucap Eka menepuk pelan tangan Dara. Ia tidak takut Dara jadi kepikiran akan masa lalu yang pasti sangat menyakitkan.


"Oh iya, Ka. Siapa pacarmu sekarang?" tanya Dara mengalihkan cerita. Ia akan tanyakan nanti pada suaminya.


"Pacar apaan? Aku tidak punya pacar, kak." Eka pun menyedot minumannya.


"Yang sama asistennya, Mas Yoan bagaimana?" tanya Dara menaikkan alisnya. Apa sudah ada kemajuan?


"Apaan sih, kak! Nggak ada apa-apa." Sanggah Eka cepat. Ia tidak memiliki hubungan dengan pria itu. El mengenalnya saja tidak.


"Masa?" Dara tidak percaya. Biasanya Eka cukup aktif mencari perhatian.


"Iya, loh. Mas Yoannya kak Dara punya adik?" tanya Eka. "Comblangilah sama aku!"


"Mas Yoan anak tunggal lho!" Dara jadi tertawa geli.

__ADS_1


"Oh iya..." Eka baru ingat. Atasannya hanya tunggal.


Setelah selesai makan, Dara bersama Eka berjalan memasuki lobi kantor.


Eka memegang Dara, ia takut Dara jatuh atau bersenggolan dengan orang lain. Akan bahaya.


"Eka, nggak apa. Aku bisa." Dara menggeleng. Perutnya belum terlalu besar, ia masih bisa berjalan seperti biasa.


Dara tersenyum. Eka sangat baik dan terlalu mengkhawatirkannya.


"Ka, antarin aku ke ruangannya Mas Yoan ya." Ucap Dara menganggukkan kepala.


Eka melihat jam tangan. Jika mengantar Dara, ia akan telat kembali ke meka kerjanya. Atasannya bisa memarahinya dan menganggapnya mengular di jam kerja.


"Eka... ya?" Dara mengkedip-kedipkan matanya. "Putriku mau diantar buleknya."


"Kak Dara!" Eka mendengus. Panggilan bude terlalu aneh terdengar.


"Baiklah." Jawab Eka akhirnya. Jika Dara bergumulan di dalam lift itu akan bahaya. Kalau nanti ia dimarahi atasannya, ia akan memakai mode budeg saja.


"Minggir, minggir, minggir, kasih jalan buat makbun." Saat di lift, Eka meminta orang-orang di dalam lift untuk menjaga jarak dari Dara. Memberikan ruang yang lebih luas. Tidak boleh berkerumun.


"Eka." Dara jadi malu. Orang-orang dalam lift jadi berada di pinggiran kotak besi itu. Ia yang berada di tengah-tengah dan Eka memeganginya.


"Sudah kak Dara tenang saja. Aku lagi caper sama pak Yoan. Mana tahu nanti gajiku dinaikkan." Cengir Eka.


"Eka-Eka." Dara mengelus kepala Eka. Ia sudah menganggap Eka seperti adiknya sendiri.


Tak lama mereka sampai ke lantai tertinggi perusahaan itu.


"Ke mana Mas Yoan?" Dara tidak melihat suaminya di dalam ruangan itu.


"Pak Yoan sedang keluar sebentar, Bu." El memberitahu, ia meletakkan minuman yang diperintahkan Yoan berikan saat istrinya datang.


Eka mengeratkan pegangannya, membuat Dara merasakannya kegugupan temannya itu.


Dara jadi mengulum senyum. Ia akan membantu temannya.


"El..."


"Iya, Bu."


"Kak Dara." Eka menyenggol lengan Dara. Untuk apa dia pakai diantar-antar segala.


"Hah?" El bingung.


"Eka sudah mengantarkanku kemari. Aku tidak mau nanti dia dimarahi ketua tim karena telat masuk kantor. Jadi kamu antar Eka dan katakan pada ketua tim bahwa Eka tadi menemaniku. Aku mau saja mengantar Eka ke sana, tapi aku sedikit kelelahan, El." Dara mendudukkan diri di sofa sambil mengelus perutnya. Seolah mengatakan, jika tidak hamil saja aku yang akan mengantarnya.


'Dasar tukang akting!' Eka menyadari tingkah Dara yang hanya pura-pura saja.


"Baiklah, Bu." El mengangguk. "Mari!" Ucap El mempersilahkan Eka.


"Tolong ya, El. Jaga Eka sampai sana." Ucap Dara penuh senyum. Eka sering bercerita tentang ketua tim yang suka marah-marah.


"Kak, aku pergi." Eka pamitan pada Dara. Ia sengaja bercipika cipiki sejenak.


"Kak Dara!" Bisik Eka.


"Sukses ya." Balas Dara berbisik kembali.


Eka pun keluar dari ruangan Yoan bersama El. Ia melirik El yang terlalu dingin.


"Su-sudah sampai di sini saja. Aku akan kembali sendiri saja." Ucap Eka saat masih menunggu lift.


"Bu Dara sudah berpesan, saya harus turuti." El harus mengantarkan Eka sampai divisinya.


"Kak Dara terlalu berlebihan, aku-"


"Silahkan!" El mempersilahkan Eka memasuki lift.


Di dalam lift Eka berdiri sambil menundukkan kepala. Ia memegangi tangannya sendiri. Berada di dalam lift berduaan dengan El, membuat hatinya berdebar-debar.


"A-apa kamu..." Eka menahan ucapannya. Ia melihat ke arah El, pria itu wajahnya sangat serius sekali.


"Ada apa?" tanya El melirik ke arah Eka. Wajah wanita itu sangat pucat. Ia lalu kembali melihat ke arah depan.


"Besok pukul 7 di kafe cahaya maukah kamu makan malam denganku?" tanya Eka dengan cepat. Ia bertanya hanya dengan satu tarikan nafas.


Hening


Eka melihat ekspresi El yang datar. Pria itu diam saja menatap ke arah depannya, tak menjawab iya atau menolaknya.

__ADS_1


'Ish malunya!' Eka menutup wajahnya. Bisanya mulutnya ceplos bicara seperti itu.


Mereka sudah sampai di lantai tempat Eka bekerja.


"Sudah di-"


Eka melihat El yang terus berjalan ke meja ketua tim. Pria itu tampam bicara serius. Lalu berbalik ke arahnya.


"Te-terima kasih." Ucap Eka. Meski malu sudah ditolak, lebih tepatnya diacuhkan. Eka tetap harus berbasa basi dan mengucapkan terima kasih.


"Sabtu pukul 7 di kafe cahaya." Setelah mengatakan itu, El pun pergi.


Eka masih diam mencerna perkataan El.


'Sabtu pukul 7 di kafe cahaya...' Eka kembali menutup mulutnya saat menyadari maksud perkataan pria itu.


'Dia mau malam mingguan denganku?!' batin Eka tidak percaya.


\=\=\=\=\=\=


"Sayang, kamu ngapain sih?" tanya Yoan yang curiga. Ia dari kursi kebesarannya melihat Dara senyum-senyum pada ponselnya.


Apa yang ada di ponselnya Dara? Apa Dara berbalasan pesan dengan pria lain?


Dara sepertinya tidak dengar Yoan bicara padanya. Yoan pun bangkit dan duduk di samping Dara.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Yoan meraih ponsel Dara. Ia membaca pesan obrolan Dara. Dan langsung tersenyum.


"Ini, Mas. Mereka mau dinner malam minggu nanti." Dara memberitahu sambil menenggelamkan wajahnya di dada Yoan.


"El mengajak makan malam?" tanya Yoan tidak yakin. Asistennya terkenal pria kaku. Bisa mengajak wanita untuk dinner?


"Iya, Mas. Si El bisanya malam minggu. Ia nggak bisa besok, karena mau pengajian mungkin." Ucap Dara sambil tertawa. Eka bisa-bisanya mengajak cowok ngedate malam jumatan. El kan mau ikut pengajian bapak-bapak.


"Kamu sekarang jadi mak comblang nih ceritanya." Yoan bernafas lega. Ternyata Dara berkirim pesan pada temannya dan bukan selingkuhannya.


Yoan menkecup kepala Dara. Ia sudah berpikiran negatif pada istrinya itu.


"Eka suka sama El, Mas. Tapi sepertinya El juga." Ucap Dara, mereka seperti mencintai dalam diam.


"Sudah sana, Mas lanjut lagi." Dara meminta Yoan menyelesaikan pekerjaannya.


"Baiklah." Yoan mengangguk. Ia harus segera menyelesaikan tanggung jawabnya. Agar Dara tidak menunggu lama.


Dara lalu menkecup kening Yoan, lalu turun ke hidung dan menkecup pipi kanan kirinya dan ia mendaratkan bibirnya.


Dara terpejam merasakan sentuhan basah dari bibir suaminya. Ciuman Yoan memang candu dan memabukkan.


"Mas Yoan." Dara menahan tangan Yoan yang sudah memegang dadanya.


"Makin besar ya." Ledek Yoan. Pria itu sengaja mengkedipkan mata lalu kembali menjelajah bibir Dara.


Dara menggeliat, kedua tangan besar itu meremas kedua asetnya.


"Mas Yoan, lanjut sana!" Dara menjauhkan tangan Yoan.


"Baiklah. Mas Yoan kerja dulu ya." Yoan mendaratkan kecupan di pipi Dara.


"Kalau kamu bosan, tidur saja."


Yoan duduk di kursi kebesarannya sambil terus menerus melirik istrinya.


"Oh ya, Mas."


"Apa sayang? apa kamu merindukanku?"


Dara memutar bola matanya dengan malas. Mereka sudah bersama di sini, mau rindu apa lagi.


"Aku dengar katanya Roni resign ya, Mas?" tanya Dara dengan mata yang tertuju pada Yoan. Ia ingin tahu, apa Yoan yang memaksanya resign.


"Dia resign sendiri. Aku tidak ada memaksanya." Jelas Yoan yanh seperti tahu, apa yang mau ditanya istrinya.


Dara masih melihati Yoan.


"Sayang, percaya padaku..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2