KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 61 - AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Dara tersentak dari tidurnya. Saat ia membuka mata, wajah tampan penuh senyuman ada di hadapannya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Yoan dengan tangan masih mengelus kepala Dara. Mata Yoan menatap Dara lembut menyiratkan perasaan.


"Su-sudah!" Dara segera membenarkan posisi duduknya dan menjaga jarak, agar tangan kekar itu tidak lagi mengelus kepalanya.


"Jam 5?!" mata Dara terbelalak melihat jam tangannya. Hari sudah sore, ia ketiduran di ruangan ini.


"Ke-kenapa tidak membangunkanku?" tanya Dara melihat Yoan. Pria itu membiarkannya ketiduran.


"Tidur kamu terlalu lelap. Aku tidak tega membangunkanmu." Jawab Yoan jujur. Selama Dara tidur, ia hanya memandangi sambil mengelus kepala wanita itu dengan sayang.


Dara melihat pakaian yang dipakainya lalu menatap Yoan dengan wajah bertanya. Ia sudah terlalu lama tertidur, apa yang sudah pria itu lakukan padanya.


"Jangan lihat aku seperti itu!Tidak ada yang kulakukan padamu!!!" Yoan menjawab tatapan mata Dara. Pasti sudah menuduhnya melakukan tindakan asusila.


Wajah Dara masih meragukan perkataan pria itu. Ia tidak percaya begitu saja.


"Sayang, aku tidak melakukan hal aneh padamu. Aku hanya mengelus kepalamu!" jelas Yoan yang tidak mau dituduh mencari kesempatan pada orang yang sedang tidur.


"Jika mau melakukan hal seperti itu, keduanya harus sama-sama sadar. Mana enak, masa bergairah cuma sendirian!!!" Ledek Yoan mengangkat alisnya.


"Tolong anda jangan genit!" Dara yang kesal mencubit perut Yoan. Perkataan pria itu terlalu absurd.


"Sayang, kamu cubit-cubit aku. Nanti aku balas cubit kamu ya!" Yoan mendekatkan tangannya ke badan Dara. Ia berpura-pura akan mencubit Dara.


"Berani menyentuhku, aku patahkan tanganmu!" ancam Dara penuh emosi. Setelah mengatakan itu, ia bangkit dan menuju kamar mandi.


Sementara Yoan tertawa puas melihat wajah kesal Dara. Sekarang ekspresi Dara sudah beragam padanya. Tidak seperti dulu, wajahnya itu datar dan selalu dingin.


'Apa ini cubitan cinta?!' Yoan mengusap-usap perutnya yang agak kemerah-merahan, karena tangan mungil calon istrinya.


\=\=\=\=\=\=


Malam menjelang, Yoan di dalam kamar tersenyum pada ponselnya. Ia memandangi wajah Dara dalam layar ponsel. Mereka sedang bervideo call-an.


"Sayang, kamu mau kita bulan madu ke mana?" tanyanya. Setelah resepsi pernikahan, lalu bulan madu berdua bersama. Menghabiskan malam pertama yang panas dan bergairah. Otak Yoan sudah menjelajah.


"Bulan madu?" gumam Dara.


"Benar, kamu mau kita menghabiskan waktu bersama di mana?" tanya Yoan kembali, wajah Dara sudah sangat merona. Calon istrinya itu pikirannya pasti sudah berkelana.


Dara dengan cepat menggeleng. Ia tidak ada memikirkan ke depannya bagaimana, apalagi perihal bulan madu. Pernikahan mereka ini bakal berlangsung lancar saja sampai hari H, Dara masih meragu.


"Kita akan menghabiskan waktu di tempat yang indah dan romantis. Kamu mau keluar negeri?" tanya Yoan memberi pilihan.


"Tidak!" tolak Dara.

__ADS_1


"Atau kita bulan madu di dalam negeri saja." tambah Yoan. Mungkin ada kota yang ingin Dara kunjungi.


"Ti-tidak." Tolak Dara mulai gugup.


"Atau kamu mau kita bulan madu di awan biru saja, biar tiada yang mengganggu." Timpal Yoan kembali seraya bersenandung.


"Bahas itu lagi, aku matikan nih!" ancam Dara kesal. Ia malu dengan pembahasan mereka itu.


"Iya, nggak bahas lagi." Jawab Yoan cepat.


Sesaat keduanya saling diam. Yoan masih memandangi Dara, sementara Dara melihat-lihat ke arah lain.


"Sayang, nanti setelah menikah, kamu mau kita tinggal di mana?" tanya Yoan kembali.


"Siapa yang ketinggalan?" tanya Dara yang mulai tidak fokus. Tatapan mata Yoan sangat meresahkan.


"Astaga! Aku bilang nanti kita mau tinggal di mana, sayang?" Yoan mengulang ucapannya.


"Mungkin kamu mau kita tinggal dengan orang tuaku atau orang tuamu atau kita tinggal di tempat lain?" Menurut Yoan, mereka harus membahas hal tersebut.


"Terserah Mas Yoan. Aku ikut Mas saja!" Dara menundukkan pandangannya. Wajahnya terasa mulai memanas. Sebagai istri nantinya, ia harus menuruti pria itu.


Yoan sangat senang mendengar jawaban Dara. Sangat lancar sekali memanggilnya Mas.


"Sayang, kamu mau kita tinggal di perumahan atau apartemen saja?" Yoan kembali memberikan pilihan. Jika ia yang memilihnya, Dara mungkin merasa tidak nyaman.


"Kan sudah aku bilang terserah mas saja!" ucap Dara kembali.


5 menit mulai berlalu, keduanya hanya diam. Yoan bingung mau berkata apa lagi. Harus ia yang memulai obrolan. Jika tidak, beginilah... mereka akan diam-diaman terus.


"Dara, apa tidak ada yang mau kamu tanya tentangku?" tanya Yoan menyambung obrolan.


Dara menggeleng cepat.


"Mungkin bertanya tentang makanan favoritku gitu." Yoan memberi contoh.


"Oh... apa makanan favorit Mas? Nanti biar aku buatkan." Dara malah bertanya hal tersebut.


Yoan jadi menggeleng, sepertinya Dara masih terlalu canggung dengannya.


"Hmm... semua yang kamu masak, akan jadi makanan favoritku!" jelas Yoan.


"Ayam goreng... Mas suka?" tanya Dara.


"Aku suka."


"Sayur kankung?"

__ADS_1


"Aku juga suka."


"Tempe bacem?"


"Suka."


"Gulai sandal?" tanya Dara kembali sambil mengulum senyuman.


"Su-" Yoan yang sadar akan pertanyaan Dara, jadi menatap calon istrinya itu.


"Haha... Mas Yoan suka nggak?" tanya Dara jadi tersenyum. Ia jadi geli sendiri dengan pertanyaannya.


Senyum Yoan makin merekah. Ini pertama kalinya, Dara tertawa dan untuk pertama kalinya juga calon istrinya itu sudah berani meledek dirinya.


"Sayang, aku mencintaimu!" ungkap Yoan dengan tulus.


"I-itu... a-aku sudah mengantuk. Sampai jumpa. Dah." Dara mendadak gugup dan mengakhiri obrolan mereka dengan tiba-tiba.


"Sayang, aku mencintaimu!"


"Sayang, aku mencintaimu!"


"Sayang, aku mencintaimu!"


Kata-kata Yoan tergiang-giang kembali. Dara merasakan sekarang hatinya mulai berdebar kencang.


'Aku memang baperan!!!' Dara meruntuki dirinya yang mulai termakan gombalan seorang Yoan. Padahal selama ini, ia merasa biasa saja dan bodoh amat pada pria itu. Tapi kini, ia merasa mulai... baper!


Sementara Yoan kesal menatap ponselnya. Dara sudah mengakhiri obrolan mereka, karena ungkapan cintanya yang tiba-tiba.


Padahal ia mengungkapkan cintanya dari lubuk hatinya yang terdalam.


'Lihat saja, nanti aku akan membuatmu mengatakan perasaanmu!' Yoan menganggukkan kepala. Ia yakin Dara sudah memiliki rasa padanya. Tapi wanita itu masih malu-malu meong saja, untuk memgakuinya.


Yoan meletakkan ponsel di atas tempat tidur. Ia pun melangkah keluar kamar.


Saat yoan turun dari tangga, ia mendengar suara mengobrol heboh di ruang tamu.


'Apa ada tamu?!' Yoan yang penasaran berjalan ke ruang tamu.


"Hai Yoan, kamu akhirnya mau menikah juga ya!!!!" Ucap seorang wanita paruh baya saat melihat Yoan.


Wajah senyum melebar itu mendadak berubah jadi terkejut, karena melihat wanita paruh baya yang tiba-tiba ada di rumahnya.


"Tan-tan-Tante..."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2