KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 111 - KELAKUAN YOAN


__ADS_3

"Selamat pagi anak Papa." sapa Yoan yang begitu bangun segera menyapa anaknya. Ia mengelus perut Dara yang mulai sedikit buncit.


"Kamu mau makan apa, nak? bilang saja, nanti papa belikan." Ucap Yoan kembali masih mengobrol dengan perut Dara.


Yoan melihat sang putri tidur yang masih terlelap. Dara masih berada di alam mimpi.


"Sayang, papa sama mama sangat menyayangimu." Yoan lalu menkecupi perut Dara berkali-kali. Ia ingin anaknya tahu bahwa mereka sangat menyayanginya.


Dara menggeliat, ia sedikit kegelian dan membuka mata.


"Mas Yoan, ada apa?" tanya Dara dengan suara serak melihat suaminya memegangi perutnya.


"Aku lagi menyapa anak kita." Ucap Yoan dengan wajah bahagia. "Oh iya, hampir lupa. Selamat pagi Dara-ku."


Yoan melayangkan morning kiss pada Dara, yang membuat Dara ikut melayang.


"Mas, kok belum mandi? Hari ini kita mau cek kandungan, baru setelah itu Mas ke kantor." Dara mengingatkan rencana mereka.


Hari sudah hampir pukul 8 dan suaminya masih betah di perutnya.


"Sebentar lagi, sayang. Aku masih sangat merindukan anak kita."


"Mas-Mas..." Dara menggelengkan kepala.


Begitulah kelakuan Yoan beberapa minggu ini, setiap pagi selalu menyapa dan mengobrol dengan anaknya.


Kini Yoan dan Dara sedang sarapan berdua saja. Kedua orang tua Yoan sudah sarapan dari tadi.


"Mas, biar aku saja!" Dara ingin melayani suaminya.


Semenjak hamil, setiap sarapan dan makan malam Yoan turun tangan langsung. Pria itu tidak membiarkan Dara melayaninya saat makan. Ia yang sedang sigap melayani Dara makan.


"Silahkan makan, sayang. Cepat habiskan, tadi anak kita bilang kalau dia sangat lapar." Yoan memberitahu hasil obrolannya dengan sang anak dalam perut itu.


Dara terbengong. Dari mana Yoan tahu anaknya bilang begitu? Suaminya sekarang sering mengarang bebas.


Dara lalu lebih memilih melahap makanannya. Ia sangat lahap, mulutnya sampai penuh makanan.


Yoan senang melihat istrinya makan dengan lahap. Anaknya pasti kenyang di dalam perut sana.


Setelah selesai makan, mereka berpamitan pada Mama untuk pergi ke rumah sakit.


"Hati-hati di jalan. Yoan jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Kasihan nanti cucu Mama mabok." Mama mengingatkan putranya.


"Siap ibu Yumi." Ucap Yoan cepat.


"Dara, kalau suamimu ugal-ugalan nyetirnya kamu ingatkan saja." Mama mewanti Dara juga.


"Baik, Ma. Kami pergi dulu."


"Nanti kalau sudah tahu jenis kelamin cucu Mama, telepon Mama langsung." Mama sangat penasaran. Ia merasa sangat lama menunggu sampai mereka pulang lagi.


"Ibu Yumi, penasaran ya?!" ledek Yoan yang mendapat plototan dari Mamanya.


"Nanti Dara telepon Mama."


"Terima kasih, putriku." Mama memegang tangan Dara sambil melirik Yoan. Dara sangat pengertian tidak seperti putranya itu.


Mereka kini telah berada di rumah sakit. Dokter menjelaskan tentang kondisi kandungan Dara saat ini yang begitu sehat. Mereka saling mengangguk paham.


Dara menggenggam tangan suaminya. Matanya sendu menatap layar monitor. Melihat gumpalan yang bergerak-gerak. Kata dokter itu anak mereka yang masih belum terbentuk sempurna.


"Sayang, itu anak kita." Yoan menkecup pipi Dara. Istrinya saat ini sangat fokus pada layar monitor.


"... jenis kelamin anak ibu dan bapak perempuan."


"Kan benar sayang apa yang ku bilang. Pasti anak cewek." Yoan senang tebakannya benar.


Dara jadi senyum. Mau laki-laki atau perempuan ia terserah saja. Yang penting anaknya sehat di dalam perutnya.


Setelah cek kandungan, mereka pun pulang. Dalam perjalanan, Dara terus memandangi foto hasil USG tersebut. Foto putri kecilnya.


Dara mengelus foto tersebut, seolah ia sedang mengelus sang anak. Perasaan campur aduk. Ia senang dan juga terharu. Ia akhirnya merasakan kehamilan juga.

__ADS_1


Setelah batalnya pernikahannya kala 7 tahun yang lalu. Dara tidak pernah memikirkan tentang masa depannya.


Dara perlahan kini mulai merasakan kebahagiaannya. Menikah dengan pria yang mencintainya. Lalu hadirnya buah cinta mereka. Kebahagiaannya terus menerus menghampirinya.


"Sayang, jangan mewek gitu lah." Ucap Yoan. Ia memperhatikan istrinya yang memandangi foto itu dengan mata berkaca-kaca.


"Mas Yoan, terima kasih. Aku sangat bahagia menikah denganmu." Ucap Dara dengan air mata yang berlinang. Air mata yang sedari tadi dibendungnya jebol sudah.


"Sayang, aku juga sangat bahagia menikah denganmu." Yoan mengelus kepala Dara. Ia sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi.


Mereka telah sampai rumah. Dara turun dari mobil dibantu Yoan. Begitu turun...


"Dara..." Ibu Yumi mencemberutkan wajahnya.


"Aduh, Ma. Maafkan Dara. Dara lupa telepon Mama." Dara meminta maaf. Ia lupa menelepon Mama, karena terlalu fokus pada foto putrinya.


Mama menetralkan wajahnya. "Ya sudah, nggak apa." Mama akan bersikap wajar. Perasaan Dara pasti campur aduk, jadi sudah wajar kalau lupa.


"Ini cucu Mama." Dara memberikan foto tersebut pada Mama.


Mama menatap sendu. Foto yang diberikan Dara membuatnya mewek.


"Cucu Mama sangat cantik." Timpal Yoan memberitahu.


"Perempuan?"


"Iya, Ma." Dara mengangguk menjawab pertanyaan Mama.


"Selamat datang cucu Oma. Papa... cucu kita perempuan!!!" Yumi pun berteriak memberitahu suaminya. Papa sedang berkebun di taman belakang. Mana dengar itu.


"Sayang, kamu istirahat ya. Nanti Mama buatkan bubur." Mama menyuruh Yoan membawa Dara ke kamar. Dara pasti sudah lelah.


Dara merasa segan. Kehamilan ini membuatnya terasa istimewa. Mereka memperlakukan Dara dengan sangat spesial.


"Dara jangan lupa beritahu Ayah dan Bundamu." Mama mengingatkan. Kabar bahagia harus disampaikan pada besan mereka juga.


"Baik, Ma." Dara mengangguk mengerti.


"Ayo, sayang. Jalannya pelan-pelan." Yoan memegangi Dara. Ia tidak mau istrinya terjatuh.


"Mas, nggak ke kantor?" tanya Yoan.


Yoan menggeleng. "Aku mengantuk sayang." Yoan memejamkan matanya, tapi tangannya mengelus-elus perut Dara.


"Aku mau tidur sama putriku. Bertiga tidur bersama kalian."


Dara tertawa geli. Kini Yoan sudah terlelap saja.


Malam menjelang, setelah makan malam. Yoan membicarakan tentang pindahan. Mereka akan kembali ke rumah mereka.


"Oh iya, Ma. Aku dan Dara akan kembali ke rumah kami lagi." Ucap Yoan memberitahu. Sudah beberapa minggu berlalu. Keadaan tampak sudah tenang. Tak ada Maudy atau Roni yang mengganggu.


Mama terlihat mencemberutkan wajahnya. Ia tidak mau mereka pindah dari rumahnya. Ia akan merasa cemas dengan cucunya. Yoan dan Dara hanya tinggal berdua di rumah itu. Jika Yoan pergi ke kantor, Dara akan sendirian di rumah. Memang ada pekerja rumah, tapikan mereka akan pulang setelah kerjaannya selesai.


"Kalian tinggal di sini saja. Istrimu itu sedang hamil. Kalau kamu ke kantor, siapa temannya di rumah?" tanya Mama dengan sorot mata serius.


"Kalau di sini ada Mama, papa dan yang lainnya. Istrimu akan aman. Kalau Dara butuh apa-apa, Mama siap sedia." Timpal Mama kembali, ia akan selalu standby.


Dara menggangguk pelan pada suaminya. Ia memang takut sendirian di rumah itu. Takut jika ada yang melempar jendela lagi.


"Baiklah." Yoan akan mengalah. Ia juga nggak mau nanti terjadi apa-apa pada istrinya. Dan Dara kembali parnoan lagi.


Mama tersenyum bahagia. Mereka akan tetap tinggal dengannya.


\=\=\=\=\=\=


"Mas ngapain sih?" tanya Dara melihat Yoan sibuk pada ponselnya.


"Ini sayang, aku lagi cari nama yang bagus untuk anak kita." Yoan menscrol ponselnya.


"Kamu mau nama putri kita dari abjad apa?"


Dara menggeleng. "Terserah Mas Yoan saja."

__ADS_1


Yoan mengangguk dan kembali fokus pada ponselnya.


Dara meraih ponselnya, ia akan menghubungi Ayah dan Bundanya. Untuk mengabarkan tentang kehamilannya. Ini sudah malam, Ayahnya sudab di rumah.


"Halo Ayah, Bunda..."


Dara mengobrol panjang pada mereka. Ia memberitahu kondisi putrinya. Dan menceritakan tentang kehamilannya. Tak lupa juga mertuanya yang memperlakukannya seperti anak sendiri.


Orang tua Dara sangat bahagia dengan kabar tersebut. Ia juga bersyukur Dara diterima di keluarga Yoan.


Harapan seorang Ayah, melihat sang putri hidup bahagia. Ayah dapat merasakan suara Dara yang terdengar bahagia. Yoan pasti sangat mencintai putrinya.


"Sayang... aku mau mengobrol dengan ayah." Ucap Yoan. Ia harus menyapa mereka juga.


"Ayah, mas Yoan mau ngobrol sama Ayah." Lalu Dara memberikan ponsel pada Yoan.


Yoan lalu mengobrol pada Ayah. Ia bercerita panjang kali lebar tentang kehamilan Dara. Yoan tampak semangat menceritakannya.


\=\=\=\=\=\=


Saat pagi menjelang, Dara membangunkan suaminya.


Yoan pun dan segera menyapa putrinya. Lalu menyapa Dara seraya tak lupa mendaratkan morning kissnya.


"Mas, tidak ke kantor?" tanya Dara. Hari sudah pukul 7 lewat dan Yoan masih mengelus-elus perutnya.


"Aku libur saja, sayang. Aku mau bersama kalian saja." Yoan sangat malas ke kantor. Tanggung jawab berat sudah menumpuk.


"Mas, katanya mau cari uang yang banyak buat kami." Dara mengingatkan. Yoan mempunyai tanggung jawab yang besar, pria itu tidak boleh tidak disiplin seperti itu.


"Uangku sangat banyak." Jawab Yoan tanpa melihat Dara.


"Katanya Mas Yoan pria tampan yang bertanggung jawab. Kalau putri kita tahu-"


"Stop Dara!!! Jangan katakan!" Yoan mencemberutkan wajahnya. Putrinya tidak boleh mendengar hal buruk tentangnya.


Yoan pun bangkit, ia pun berjalan menuju kamar mandi. Ia harus tetap ke kantor hari ini.


Setelah banyaknya drama keluarga di pagi itu, akhirnya Yoan berangkat ke kantor juga.


Dara terpaksa membujuk Yoan dengan akan menelepon di jam istirahat. Jika tidak begitu, Yoan tetap mau di rumah saja.


Kini Yoan sudah berada di kantor. Ia membahas sesuatu dengan El.


El menggangguk, mengangguk dan mengangguk.


"Anak saya sangat cantik seperti Mamanya."


"Iya, pak." El mengangguk. Ia mendengarkan cerita Yoan tentang foto usg sang anak yang disimpan di ponsel.


El tadi tidak mau mendengarkannya, tapi Yoan mengancam akan mengganti dirinya.


"Pak, anda tidak menelepon istri anda?" tanya El mencari cara mengakhiri kelakuan Yoan.


"Masih belum makan siang, El." Yoan ingat. Dara akan meneleponnya saat itu.


"Apa anda tidak merasa merindukan putri anda?" tanya El kembali.


"Aku sangat merindukannya." Jawab Yoan cepat.


"Putri anda pasti juga merindukan anda. Biasanya ada ikatan emosional antara ayah dan anak. Jika seorang ayah tiba-tiba merindukan anaknya, itu tanda anaknya juga sangat merindukannya." Jelas El.


"Benarkah?"


"Benar. Anda pastikan saja."


"Ok. Sudah kamu keluar-"


Belum lagi Yoan menyelesaikan ucapannya. El sudah cabut begitu saja.


Yoan tersenyum. Asistennya sangat peka sekali. Tidak mau mengganggu obrolan dengan putrinya.


'El memang pengertian!'

__ADS_1


.


.


__ADS_2