KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 69 - PERCAYA


__ADS_3

"Kita mau ke mana lagi?" tanya Yoan setelah masuk ke dalam mobil. Pria itu memasang sabuk pengamannya.


"Pulang."


Yoan menggeleng. Hari masih siang. Terlalu cepat jika mereka pulang sekarang.


'Kenapa dia?!' batin Dara merasa aneh. Pria itu malah tersenyum.


"Kamu sudah pakai sabuk pengamankan?" tanya Yoan memastikan dan melihat ke arah Dara.


"Baiklah, mari kita meluncur!" ucap Yoan dengan semangat.


Yoan melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan di siang hari itu.


"I-ini mau ke mana?" tanya Dara merasa jalan yang mereka lalui bukan menuju arah rumahnya.


"Ke rumah." Jawab Yoan masih fokus pada jalanan.


"Ke rumah terus saja, bukan belok." Ucap Dara yang bingung. Apa ada jalan potong yang ia tidak tahu.


Yoan tidak menjawab dan tetap melajukan mobilnya.


Dara makin bingung, tatkala mobil mereka memasuki area perumahan. Dan calon suaminya memberhentikan mobil di depan sebuah rumah mewah.


"I-ini rumah siapa?" tanya Dara.


"Rumah kita." Jawab Yoan sambil mencari sesuatu di dashboardnya.


"Ru-rumah kita?" Dara masih bertanya.


"Iya, sayang. Rumah kita... ada di sini." Yoan agak bersenandung.


'Apa maksudnya, aku dan dia akan tinggal di sini?' Dara mulai menerka-nerka.


"Mana ya?" Yoan mencari-cari kunci rumahnya. "Apa ketinggalan di laci?"


"Cari apa?" tanya Dara. Mungkin dia bisa membantu.


"Ini... cari hati kamu." Goda Yoan sambil mengkedipkan matanya.


Dara pun segera membuang wajahnya. Kesal, lagi-lagi kena gombalan receh pria itu.


"Sayang, ayo turun saja. Aku lupa bawa kuncinya. Kita intip-intip saja ya." Ajak Yoan. Pria itu lalu turun dan membukakan pintu untuk wanita tercintanya.


Deg


Dan lagi, hati Dara berdesir. Saat telapak tangan kekar itu menggenggam tangannya. Seolah melindungi.


"Sayang, ini rumah kita. Nanti setelah menikah kita tinggal di sini." Jelas Yoan perlahan pada rumah pilihannya yang sudah dipersiapkan, untuk kehidupan rumah tangganya bersama Dara.


"Rumah ini ada 3 kamar." Yoan memberitahu sambil melihat dari jendela saja. Tak bisa melihat langsung ke dalam, karena kuncinya ketinggalan.

__ADS_1


"Oh." Dara juga ikut melihat dari jendela. Ia melihat dalam rumah yang sudah ada barang-barang. Tidak kosong.


"Nanti di sini kamu bisa tanam bunga juga." Yoan menunjukkan taman kecil di depan rumah.


"Bagaimana menurut kamu?" tanya Yoan melihat Dara. Ia berharap Dara suka dengan pilihannya. Agar istrinya nyaman tinggal di rumah ini.


"Bagus, Mas." Jawab Dara mengangguk. Rumah itu sangat bagus dan nyaman.


"Selain itu di sini sangat aman. Karena ada CCTV." Yoan menunjukkan CCTV yang terpasang di sudut dinding teras.


Dara mengangguk melihat itu. "CCTV nya apa ada di tempat lain?"


Yoan tampak berpikir lalu mengangguk. "Ada."


"Di mana letaknya?" tanya Dara. Mungkin di ruang tamu. Biasanya kan rumah-rumah mewah ada CCTV di ruang tamu.


"Aku letak di kamar mandi." Bisik Yoan pelan, lalu meniup telinga Dara.


"Apa?" pekik Dara, wajahnya langsung memerah dan matanya memelototi Yoan.


"CCTV-nya aku letak di kamar mandi. Itu langsung terhubung ke ponselku. Jadi aku bisa mengawasi, saat kamu mandi." Yoan menunjukkan senyum genitnya. Otaknya mulai berkenala sejenak.


"A-aku tidak mau tinggal di sini." Dara yang kesal pun berjalan kembali ke mobil. Ia kesal, Yoan bisa-bisanya segenit itu. Meletakkan CCTV di kamar mandi, sungguh tindakan yang sangat tidak bermoral.


"Haha... Dara-Dara. Aku hanya becanda, sayang. Tidak ada CCTV di dalam rumah, apalagi di kamar mandi." Yoan jadi geli sendiri. Dara langsung ngambek karena perkataannya.


Dara membuang muka saat Yoan masuk ke dalam mobil. Ia sempat melihat pria itu yang tersenyum. Senyumannya sungguh menyebalkan.


Dara tidak menjawab, ia masih kesal dengan perkataan pria itu.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di rumah. Dara pun segera turun tanpa berbicara pada Yoan.


"Sayang, tunggu!" ucap Yoan sambil mengeluarkan bungkusan yang tadi dibeli untuk Dara.


"Sini!" Dara mengambil bungkusan tersebut.


Tok


Tok


Tok


"Bunda..." panggil Dara mengetuk pintu. Ia kembali mengetuk sambil melihat jendela.


'Sepertinya Bunda keluar.' Batin Dara melihat tidak ada orang di dalam.


Wanita itu pun menelepon Bundanya, dan terdengar suara deringan dari dalam rumah.


"Apa Bunda pergi?" tanya Yoan.


Dara mengangguk pelan. "Iya, ponselnya tidak dibawa."

__ADS_1


"Kamu tidak bawa kunci?"


Dara menggeleng, lalu duduk di teras. Ia akan menunggu Bundanya, mungkin hanya pergi sebentar ke pasar.


"Mas pulang saja." Ucap Dara kemudian.


"Aku akan tunggu sampai Bunda pulang." Yoan tidak mau meninggalkan Dara.


"Atau kamu mau kita pergi makan?" saran Yoan sambil menunggu waktu.


"Tidak. Aku tidak lapar." Tolak Dara.


Yoan pun duduk di samping Dara.


"Sayang, aku tidak sabar menunggu hari bahagia kita." Ucap Yoan melihat Dara.


"Aku harap di hari itu, kamu jangan berubah pikiran ya." Walaupun Yoan seorang pria. Ada rasa takut jika hari bahagia itu akan batal lagi. Ia pernah sekali batal dan tidak mau ada pembatalan lagi.


Dara menatap Yoan. Pria itu juga sama seperti dirinya. Sama-sama merasakan ketakutan akan terulang kembali. Ditinggalkan di hari pernikahan, hari yang seharusnya bahagia jadi hari yang paling menyedihkan.


"Dara, aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Aku sangat yakin untuk menikah denganmu, karena perasaanku padamu." Jelas Yoan perlahan.


Yoan merasa perlu menegaskan perasaannya. Hari ini, hari terakhir mereka bertemu. Mereka akan dipingit dalam beberapa hari ke depan. Dan akan bertemu di saat hari pernikahan.


Yang ditakutkan Yoan, dalam beberapa hari ini Dara akan berubah pikiran. Mengingat perkenalan mereka yang terlalu singkat dan cepat.


"Dan... aku harap kamu ikhlas dan rela menikah denganku. Aku janji, akan membuatmu bahagia." Yoan meraih tangan Dara dan menggenggamnya. Ia menunjukkan semua perasaannya, betapa ia sangat serius dan bertanggung jawab pada perkataannya.


"Dara... tolong percaya padaku, pada hatiku pada perasaanku." Yoan menatap Dara dengan tatapan dalam. Menatap mata Dara yang mulai berkaca-kaca.


Perkataan Yoan sangat menegaskan keseriusan pria itu. Dara merasakan perasaannya kembali tak menentu. Ia bingung harus bahagia atau merasa sedih.


Dara ingin percaya pada Yoan. Tapi rasa takut masih menghantuinya. Mungkin jika kata sakral SAH sudah bergema. Di saat itu pula dia akan yakin dengan Yoan.


"Aku tidak tahu, apa yang Mas lihat dariku. Hingga memiliki niat untuk menikahiku-"


"Jangan bicara seperti itu!" Yoan merasa Dara mulai minder dengan dirinya sendiri.


"Sayang, sudah aku katakan. Percaya padaku, pada hatiku dan perasaanku!" Yoan menegaskan kembali.


Dara diam saat Yoan menariknya dalam pelukannya. Pelukan yang terasa hangat dan begitu sangat nyaman. Bahkan dalam pelukannya, ia merasa sangat terlindungi.


"Aku akan percaya padamu, Mas." Ucap Dara menghalau keraguannya.


"Aku tidak akan mengecewakanmu, Dara!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2