KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 56 - TIDAK TAHU TENTANGNYA


__ADS_3

Dara bangun pagi dan mengecek ponselnya. Tak ada chat atau panggilan dari Yoan. Ia kembali meletakkan ponsel di meja nakas dan bangkit menuju kamar mandi.


Tak lama, Dara sudah mencuci muka. Lalu ia ke dapur membantu Bunda membuat sarapan.


"Kamu sudah berhenti kerja, nak?" tanya Bunda.


Dara mengangguk. "Iya, Bun."


"Ada apa?" tanya Bunda penasaran. Wajah Dara sedikit murung.


"Tidak apa, Bun." Geleng Dara segera.


"Kamu masih takut ya, nak?" Bunda menatap putrinya. "Bunda percaya, pernikahan kalian pasti akan berjalan lancar. Yoan sangat mencintai kamu, ia tidak akan meninggalkanmu!" Bunda meyakinkan, putrinhmya masih trauma akan kejadian saat itu.


Dara tersenyum tipis. Bagaimana pun sebelum pernikahan itu berlangsung, Dara masih tidak tenang dan ragu.


Setelah sarapan dengan orang tuanya, Dara kembali ke kamar. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan angka 9.


'Pasti dia lagi kerja!' batinnya.


Dara menatap ponselnya dan melihat kontak Yoan.


"Astaga!!! Apa yang kulakukan?!" Dara segera menutup panggilannya. Ia tadi tidak sadar menekan gangang telepon berwarna hijau itu. Panggilannya pasti terhubung.


Dara berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia bingung jika nanti Yoan menelepon balik dan bertanya kenapa meneleponnya, dia mau menjawab apa?


Salah pencet? Tidak mungkin.


Wajah Dara cemberut melihat ke jari-jari tangannya yang bergerak tanpa berpikir terlebih dahulu.


Deringan suara ponsel membuat Dara melihat ke arah ponselnya. Dan ternyata...


Si Aneh, memanggil...


\=\=\=\=\=\=


Yoan berdiri di depan jendela menatap pemandangan luar. Pikirannya bergelut mengingat Dara.


Hari ini Dara masuk shift pagi, tadi ia sudah menunggu di simpang rumah dan tidak melihat wanita itu di sana. Mungkinkah Dara bertukar shift dengan temannya?


'Dara aku merindukanmu!' Yoan merasakan kerinduan yang mendalam pada wanita itu. Setiap hari selalu melihat Dara dan kini ketika tidak melihatnya, seperti ada yang hilang dalam hidupnya.


Suara deringan ponsel membuat Yoan mengalihkan pandangannya ke arah meja.


'Dara???'


Mata Yoan terbelalak saat melihat penelepon tersebut. Saat akan meraih ponselnya, deringannya telah berakhir.


'Ada apa dia meneleponku?' Yoan jadi bertanya-tanya.


Selama ini yang dia tahu, Dara itu tidak pernah memulai menghubunginya. Baik itu berinisiatif mengirim pesan atau meneleponnya terlebih dahulu. Harus Yoan yang memulai baru Dara membalas. Itu pun kadang-kadang. Kadang di balas Dara dan kadang hanya di read saja.

__ADS_1


Yoan terdiam sesaat, menunggu panggilan kembali. Mungkin Dara akan menghubunginya lagi. Tadi itu pasti hanya tes sinyal.


5 menit telah berlalu dan tidak ada panggilan masuk kembali.


Pria itu pun memilih menelepon Dara saja, ia akan bertanya kenapa Dara meneleponnya.


"Halo..." Ucap Yoan saat panggilannya tersambung.


"Ha-halo juga." Jawab Dara yang sedikit gugup.


Deg


Hati Yoan berdesir mendengar suara wanita itu. Suara yang begitu ia rindukan.


"Ada apa tadi meneleponki?" tanya Yoan kembali, berusaha tetap tenang. Ia harus stay cool.


Dara berpikir sejenak, bingung mau menjawab apa. "A-apa anda sedang bekerja?" tanya Dara pelan.


"Benar!" jawab Yoan.


Dara mengangguk dan menarik nafas pelan.


"An-anda bekerja di mana?" tanya Dara kembali. Ia ingin tahu sedikit tentang Yoan.


Yoan jadi diam. Mereka kini sudah merencanakan untuk menikah. Tapi, wanita itu sama sekali tidak tahu, calon suaminya bekerja di mana.


Selama ini Dara memang tidak pernah bertanya di mana ia bekerja. Apa mungkin wanita itu takut bertanya tentang pekerjaannya. Mungkin tak mau ia jadi berpikiran, jika Dara hanya melihat materi.


"Hmm... aku bekerja di Perdana Grup." Jawab Yoan. Dara bertanya maka ia akan menjawab.


"Perdana Grup?" tanya Dara kembali memastikan.


"Iya benar." Jawab Yoan tegas.


Dara cukup kaget Yoan bekerja di perusahaan itu. Ia pernah bekerja di sana beberapa tahun yang lalu, tapi resign karena ada masalah dengan bu Upik.


"Oh... baiklah, kalau begitu lanjutkan bekerja anda. Maaf sudah menganggu. Selamat pagi." Dara mengakhiri panggilan.


Yoan diam melihat ponselnya. Dara sudah memutuskan obrolan itu.


"Sudah begitu saja?" Yoan bermonolog sendiri. Dara hanya bertanya itu saja padanya. Tak ada basa basi yang lain.


"Oh... mungkin ia tidak enak menelepon, karena masih jam kerja. Ia takut menganggu di jam kerja." Yoan berpikir positif. Ia melebarkan senyumannya. Dara memang wanita yang pengertian.


"Nanti sore, aku harus meneleponnya lagi!" Rencana Yoan. Ia ingin berbaikan dengan Dara.


Hari pernikahan sudah ditentukan. Dalam waktu dekat mereka akan menikah. Sudah bersusah payah mengejar Dara dan membuat wanita itu bersedia menikah dengannya. Masa ia mau melepaskan Dara begitu saja, lantaran Dara tidak mau menurutinya untuk resign bekerja.


'Resmikan pernikahan saja dulu. Setelah itu bujuk Dara pelan-pelan. Pasti dia akan menurutiku!' Yoan menganggukkan kepala.


Sementara di kamar, Dara mencoba mengingat Yoan. Pria itu bekerja di perusahaan itu juga, pantaslah jika Yoan mengenalnya.

__ADS_1


"Dia staff apa ya?" Dara mencoba mengingat. Saat masih bekerja dulu, ia sedikit banyak mengenal karyawan-karyawan di sana.


Tapi Dara merasa, ia tidak pernah tahu tentang Yoan.


"Apa dia masuk setelah aku resign ya?"


Dara pun meyakini seperti itu. Jika Yoan termasuk karyawan lama, pasti ia akan tahu. Karyawan wanita di sana, senang menggosipkan pria tampan. Jadi tidak mungkin Yoan itu dilewatkan begitu saja.


\=\=\=\=\=\=


Dara turun dari ojek. Ia berjalan ke pintu masuk sebuah perusahaan.


'Aku telepon saja dia!' Dara menelepon Yoan, tapi ponsel pria itu sedang tidak aktif.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya security yang berjaga di depan area pintu masuk.


"Sa-saya sedang menunggu seseorang." Jawab Dara sambil mengangkat ponselnya.


"Silahkan tunggu saja di dalam, mbak." Ucap security itu mempersilahkan Dara masuk.


"Terima kasih!" Dara mengangguk dan masuk ke dalam dan ia duduk di bangku yang tersedia di sana.


'Apa aku tanya resepsionis saja?' Batin Dara. Ponsel Yoan sedang tidak aktif.


Dara pun bangkit dan berjalan ke meja resepsionis.


"Permisi, Mbak." Ucap Dara pada resepsionis.


"Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis ramah.


"Sa-saya mau bertemu dengan pak Yoan." Ucap Dara.


Resepsionis itu melihat Dara sejenak. "Pak Yoan di divisi apa, mbak?" Ia memastikan kembali. Tak mungkin Dara mencari pak Yoan direktur mereka. Pasti karyawan yang namanya sama.


Dara diam, ia tidak tahu Yoan di divisi apa. "Ponselnya tidak bisa dihubungi, mbak!" Jelas Dara pelan.


"Silahkan dihubungi terlebih dulu temannya, mbak!" sarannya.


Dara mengangguk dan menjauh dari meja resepsionis.


'Apa aku pulang saja? aku memang tidak tahu apapun tentang dia!' Dara merasa sedikit kecewa dengan dirinya.


"Dara...!"


Dara menoleh ke arah suara. Dan terkejut melihat orang yang memanggilnya.


.


.


.

__ADS_1


Siapa ya?😀


__ADS_2