
"Sayang, suami tampanmu ini sudah pulang!" ucap Yoan ketika Dara membuka pintu. Senyumnya terus merekah, pada sosok wanita yang selalu bersinar di matanya.
Dara mencium punggung tangan Yoan. Lalu Yoan menkecup keningnya.
"Sayang, ini untuk kamu." Yoan memberikan sebuket bunga mawar putih pada sang istri.
"Mas, terima kasih ya." Dara senyum-senyum menerima bunga tersebut. Ia menghirup dalam-dalam aroma bunga yang begitu harum.
"Kamu suka bunganya?" tanya Yoan setelah mendaratkan satu kecupan di pipi Dara.
"Iya, Mas." Dara mengangguk. "Oh iya, aku sudah buatkan teh."
"Wah enak nih. Sore-sore minum teh."
"Aku juga buat brownis, Mas."
Yoan mengangguk. Ia pun merangkul Dara ke dapur.
"Silahkan, Masku." Dara menyajikan secangkir teh lengkap dengan sepiring brownis yang coklat meleleh.
Yoan kembali terpaku. Dara benar-benar membuatnya teristimewa.
Pria itu melahap brownis sambil meminum teh hangat. Hatinya merasa hangat, perhatian Dara sungguh manis.
"Mas, aku pijatin ya." Dara bangkit dan memijat pundak Yoan.
"Apa terasa, Mas?" tanya Dara memastikan pijatannya. Mungkin pijatannya terlalu kuat.
"Iya terasa... terasa dielus-elus." Ledek Yoan. Pijatan Dara terasa seperti elusan baginya, tak ada terasa di pundaknya.
"Mas Yoan..." Dara jadi kesal. Ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, malah dibilang seperti elusan.
"Sudah, ayo duduk sini!" Yoan menarik Dara duduk di pangkuannya.
Wajah Dara memerah layaknya kepiting rebus. Posisi mereka sekarang sangat meresahkan. Merasakan tonjolan di bawah bokongnya.
"Sayang..."
"I-iya, Mas." Jawab Dara dengan nada gugup.
Yoan menatap wanita berwajah merah tersebut. Ia ingin terbuka dengan istrinya, agar Dara tidak menaruh kecurigaan padanya. Jadi menurutnya sekarang ia harus mengatakan perihal Maudy.
"Sayang, tadi aku bertemu Maudy." Ucap Yoan menyebutkan satu nama. Satu nama dari masa lalunya.
"Maudy? Siapa itu, Mas?" tanya Dara dengan wajah menelisik. Apa Maudy itu apa-apakah Yoan?
"Maudy itu-" Yoan masih menatap Dara. Ia jadi merasa takut jika nanti tanggapan Dara malah mencurigainya. Tapi, jika tidak dikatakan. Akan jadi masalah di kemudian hari.
"Maudy... mantanku." Ucap Yoan akhirnya memberitahu.
Dara diam dan menatap suaminya. Mantannya Yoan datang menemui suaminya. Ada apa, untuk apa dan kenapa?
"Ada apa dia datang menemui Mas Yoan?" Dara berusaha untuk bersikap tenang, meski jujur saja hatinya seperti sedang naik roller coaster.
"Dia datang ke kantorku."
Deg...
__ADS_1
"Da-datang ke kantor Mas?" tanya Dara memastikan kembali pada apa yang didengarnya.
Yoan dan mantannya bukan bertemu tanpa sengaja di jalan. Tapi, wanita yang bernama si Maudy-Maudy itu yang mendatangi suaminya.
Ada apa ini?
Hati Dara jadi berpikiran yang tidak-tidak. Mungkinkah wanita itu akan menjadi duri dalam rumah tangha mereka?
"Dia datang untuk meminta maaf." Yoan pun mengatakan sejujurnya.
"Lalu?" tanya Dara. Pasti masih ada kelanjutannya setelah meminta maaf.
Meminta maaf lalu apa?
Meminta untuk kembali bersama?!
Terus...
"Aku memaafkannya." Yoan melihat mata Dara yang mulai menyiratkan kesedihan. Meski istrinya berusaha tampak tenang, mata wanita itu tidak bisa berbohong akan perasaannya.
"Aku memaafkannya, karena aku sudah berdamai dengan masa laluku. Aku tidak mau rasa marah atau kecewa yang aku terima di masa lalu, membayangi masa depanku bersamamu, sayang." Jelas Yoan akan komitmennya pada Dara.
"kamu nggak masalah aku memaafkannya, kan?" tanya Yoan kembali.
"Nggak apa, Mas."
"Kamu tenang saja, Ra. Walau aku memaafkannya, aku tidak akan mau dekat atau berteman dengannya. Ya, aku akan menjaga jarak. Aku juga bisa menganggapnya seperti orang lain. Bersikap biasa dan hanya sekedarnya saja." Yoan meyakinkan Dara. Meski sudah memaafkan Maudy, Yoan juga tidak mau dekat dengan wanita itu lagi.
Dara memeluk suaminya. Penjelasan Yoan sudah membuat hatinya jadi tenang. Ucapan pria itu semoga tidak akan berubah.
"Maudy ingin tahu kita tinggal di mana dan ia juga ingin berteman denganmu." Yoan menceritakan percakapannya dengan Maudy.
"Aku minta maaf, Mas. Aku nggak mau berteman dengan dia." Jelas Dara dengan tegas. Lebih baik ia memilih tidak punya teman, dari pada berteman dengan masa lalu suaminya.
"Aku juga nggak mau kamu dekat atau sampai berteman dengannya. Ya, kamu pasti mengerti alasanku." Yoan juga tidak menginginkan Dara dan Maudy akrab.
"Iya, Mas. Aku mengerti." Dara mengangguk paham. Ia senang suaminya terbuka menceritakan bertemu dengan mantannya. Jika Yoan diam-diam saja, ia juga tidak akan tahu.
"Mas Yoan, mau makan atau mandi dulu?" tanya Dara memberi pilihan.
"Hmm... aku mandi saja deh." Setelah mandi baru makan.
"Baiklah. Aku akan ambilkan handuknya." Dara akan bangkit dari pangkuan Yoan dan kembali terduduk lagi.
"Kamu mandikan aku ya!" Melas Yoan yang menahan tubuh Dara.
Dara sedikit geli. Suaminya minta dimandikan. Seperti bocah saja.
"Mas, mandi sendiri sana!"
"Ayolah, sayang. Aku nggak bisa mandi sendiri."
Dara menggeleng. Yoan terlalu membuat-buat alasan.
"Mas Yoan, jangan manja deh." Dara terkekeh geli.
"Sayang, ya..."
__ADS_1
Yoan mencemberutkan wajahnya. Ia berpura-pura merajuk pada istrinya.
"Baiklah." Dara pun mengangguk. Dan...
Yoan dengan semangat bangkit lalu menggendong Dara menuju kamar mandi dalam kamar mereka.
"Mas Yoan!!! Dia kok tegak sih?!"
"Hahaha... Harus tegak dong, baru bisa tempur!"
Tak lama suara desa-han bersahutan dari balik tembok.
\=\=\=\=\=\=
Setelah makan malam. Yoan dan Dara duduk di ruang tv.
Dara menonton sambil menyender pada suaminya. Tangannya memeluk perut yang terasa mulai melebar.
"Sepertinya Mas Yoan, agak mengembang ya." Ledek Dara.
"Gimana nggak mengembang. Tiap hari disajikan makanan lezat, lalu malamnya diservice penuh cinta."
Yoan meringis, lagi-lagi tangan Dara terlalu ramah mencubit perutnya.
"Aku sangat bahagia bersamamu!" Yoan mengeratkan pelukannya.
"Sayang, kira-kira apa dia sudah ada di dalam?" tanya Yoan sesaat setelah melepaskan pelukannya. Tangannya mengelus perut rata sang istri.
Dara menggeleng. "Sabar ya, Mas."
Yoan mengelus wajah Dara. "Sudah, jangan dipikirkan. Aku yakin, anak kita akan hadir di saat yang tepat."
Dara mengangguk dan kembali menyender pada suaminya.
Mata Dara sayup-sayup menonton layar kaca. Suaminya sedang menonton film action.
"Pasti dia ini mafianya, Ra. Kenapa mereka pada tidak tahu." Yoan mengomentari film yang sedang ditontonnya.
"Seharusnya ditangkap saja dia-" Yoan menoleh ke bawah. Istrinya sudah terlelap saja.
"Sayang-sayang. Dara putri tidur." Ledek Yoan. Baru juga mereka mengobrol sebentar dan Dara sudah terlelap saja.
Yoan bangkit dan menggendong Dara masuk ke kamar. Sampai di kamar, ia meletakkan Dara ke tempat tidur dengan hati-hati. Ia tidak mau membuat istrinya terbangun. Lalu Yoan pun menyelimuti tubuh istrinya.
"Mimpi indah istriku. Aku sangat mencintaimu!" Yoan menkecup kening Dara cukup lama.
Yoan keluar dari kamar. Ia pun berkeliling rumah. Memastikan pintu dan jendela rumah sudah terkunci.
Setelah dirasa aman, Yoan menuju dapur. Ia mengambil beberapa snack dan sebotol air dingin dalam lemari es. Lalu ia kembali duduk untuk melanjutkan menonton tv.
Saat baru duduk...
'Loh kok sudah selesai?!'
.
.
__ADS_1
.