
Dara menatap dirinya dalam pantulan cermin. Hari ini ia kembali memakai kebaya putih. Ia juga sedang dihias oleh perias pengantin.
Wajah Dara tampak gugup dan takut. Ini kedua kalinya ia berpakaian seperti ini di hari pernikahannya. Ia sudah 2 kali mengadakan pernikahan. Apakah ini pernikahan yang sesungguhnya? Pernikahan yang tidak akan ada pembatalan lagi.
"Kak Dara." Masuk Eka ke ruang hias. "Wow... Kak Dara sangat cantik. Aku sampai silau." Puji Eka yang pangling melihat Dara.
Dara hanya tersenyum tipis di puji Eka. Rasa takut dan gelisah mulai menguasai dirinya.
"Kak Dara... senyum dong!" Ucap Eka. Wajah Dara kini sangat tegang. Seperti mau ujian nasional saja.
"Kak Dara. Aduh cantik sekali kakakku ini." Kini Eli yang masuk. Ia sama dengan Eka, pangling melihat Dara.
"Kak, tegang amat sih! masih lama lagi malam pertama. Ini masih siang!" ledek Eli sambil tertawa. Eka jadi ikut tertawa mendengar ledekan Eli.
Tapi Dara tidak tertawa. Ketakutan sudah menguasai dirinya.
Dara meraih ponsel. Ia mau menelepon Yoan. Menanyakan pria itu sudah sampai mana. Apa sudah di jalan atau bagaimana?
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Deg
Dara mulai down, nomor Yoan tidak aktif. Ia pun mencoba menelepon kembali.
"Kak Dara..." Panggil Eka yang melihat mata Dara yang berkaca-kaca. Dara seperti menahan air matanya.
"Kak Dara, ada apa?" tanya Eli yang jadi bingung.
"No-nomornya tidak aktif." Ucap Dara lirih. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9.
Ijab kabul akan diselenggarakan pukul 9 pagi. Tapi, ia belum mendengar tanda-tanda keluarga mempelai pria akan datang.
"Dara, cantik sekali ponakan tante ini!" Tante-tantenya Dara masuk untuk melihat calon mempelai wanita.
"Sudah jam 9 sekarang ya. Seharusnya sudah ijab kabul."
"Mempelai prianya belum datang, bagaimana mau ijab kabul."
Mendengar itu hati Dara makin bertambah gelisah. Keluarga calon suaminya belum sampai. Sudah di mana mereka?
"Dara, coba kamu telepon. Tanya calon suamimu sudah sampai di mana?" saran tantenya.
Dara mengangguk dan menelepon Yoan kembali. Dan lagi tetap saja nomor pria itu tidak aktif.
"Bagaimana?"
Dara menggeleng pelan. Air mata yang coba ditahannya jebol juga membasahi pipi. Ia pun segera mengusapnya.
"Mungkin calon suamimu lagi terkena macet di jalan." Tantenya menenangkan. Dara tampak takut.
"Iya, Dara. Kamu tenang ya. Pernikahanmu pasti berjalan lancar. Nggak akan mungkin batal lagi seperti dulu." Sambung yang lain.
Tantenya itu menyenggol sepupunya. Memberi isyarat dengan menggeleng. Dara lagi gelisah malah diingatkan akan masa lalu.
"Maaf. Aku ceplos!" Bisiknya pelan merasa bersalah.
Eka dan Eli saling menatap. Mereka kaget mendengar jika Dara pernah batal menikah.
"Kak Dara..." Eka mengelus pundak Dara. Pantas Dara sangat tegang dan gelisah.
Nafas Dara mulai terasa sesak. Wanita itu benar-benar takut. Takut kejadian saat itu terulang lagi.
__ADS_1
"Apa dia juga akan pergi meninggalkanku?" tanya Dara dengan air mata yang berlinang.
"Kak Dara... tenang ya. Pak Yoan pasti lagi di jalan menuju kemari. Sebentar lagi akan sampai." Eka menenangkan Dara yang saat ini sudah gemetaran.
"Iya. Aku lihat ke depan ya, kak. Pasti mereka sudah datang. Nanti aku langsung menelepon kakak." Bujuk Eli agar Dara sedikit tenang.
Dara mengangguk pelan. Lalu Eli pun berjalan keluar ruangan itu. Untuk memastikan mempelai pria sudah datang atau belum.
Dara mencoba menelepon Yoan kembali dan hanya operator yang menjawab.
"Eka... apa pernikahan ini akan batal lagi?" perasaan Dara sangat tidak tenang dan gelisah tak menentu.
Tubuh Dara yang gemetaran membuat kakinya tak sanggup menopang tubuhnya. Wanita itu pun terhuyung.
"Dara."
"Kak Dara."
Orang-orang yang berada di ruangan itu memegangi Dara. Agar calon pengantin tidak jatuh. Mereka pelan-pelan mendudukkan Dara di kursi.
"Kak tenang ya. Ini minumlah." Eka dengan hati-hati memberikan Dara minum.
Mata Dara tertuju pada ponselnya yang berdering.
"Itu ponselku. Mas Yoan..." tunjuk Dara pada ponselnya.
Eka mengambilkan ponsel itu dan memberikan pada Dara.
Dara melihat ponselnya, berharap calon suaminya yang menelepon. Tapi nomor tidak dikenal yang meneleponnya.
"Ha-halo." Ucap Dara pelan.
"Halo... Nona Dara..."
"Ada apa Mal?" tanya Yoan saat mobil yang membawa dirinya dan keluarga berhenti.
"Macet, Yo. Sepertinya ada kecelakaan." Ucap Malik yang menyetir.
"Aduh... bisa telat ini!" Yoan melihat arlojinya yang sudah pukul 8 lewat. Ijab kabul akan dilaksanakan pukul 9.
"Sabar ya, nak." Mama menenangkan putranya itu. Yoan tampak sangat gelisah.
"Kita pasti sampai." Lydia juga menenangkan keponakannya itu.
Yoan menghembuskan nafasnya kesal. Mobil ini tidak ada bergerak sama sekali.
"Kamu mau ke mana?" tanya Papa melihat Yoan keluar dari mobil.
Yoan mengusap wajahnya melihat kemacetan yang cukup panjang. Ia melihat sekitar. Mau berputar arah, mobilnya sudah terjepit. Tak ada celah untuk berbalik.
Pria itu kembali masuk ke dalam mobil. Ia menarik nafas berkali-kali.
"Bagaimana ini?!" Yoan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tenang ya, nak. Masih ada waktu. Kita pasti akan sampai."
Mereka menenangkan Yoan yang sangat gelisah. Mau naik kendaraan lain sama saja, tak bergerak juga.
Yoan memijat pelipisnya. Mobilnya berjalan seperti kura-kura. Menunggu beberapa saat, melajunya hanya selangkah.
"Mal, lewat tol saja." Saran Yoan yang melihat jalan menuju tol di persimpangan. Jika melalui jalan biasa, tah kapan mereka akan sampai dan keluar dari kemacetan ini.
__ADS_1
Melaju selangkah, sesaat kemudian melaju selangkah, dan lalu melaju selangkah. Akhirnya mobil keluarga Yoan memasuki pintu tol.
Malik melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena banyak pengendara yang lain melalui tol juga. Jadi tidak bisa terlalu kencang.
"Ma." Yoan menggenggam tangan dan menatap Mamanya. Ia takut pernikahannya kali ini akan batal lagi.
"Pasti kita sampai." Mama mengangguk menenangkan. Putranya tampak sangat sedih.
Yoan mengangguk dan mengambil ponselnya. Lagi-lagi ia menarik nafas panjang. Ponselnya kehabisan daya. Ia lupa mencargernya tadi malam, setelah puas teleponan dengan Dara.
'Sabar ya, sayang. Sebentar lagi aku sampai!'
"Kenapa Mal berhenti?" tanya Papa bingung. Malik menepikan mobilnya.
"Nggak tahu, Om." Malik turun dari mobil dan melihat mesin mobil.
"Om, coba distarter." Ucap Malik.
Papa menstarter, tapi mesin mobil tetap tidak hidup.
"Kenapa lagi ini??? Astaga!!!" Yoan mengusap wajahnya. Benar-benar banyak cobaan di hari ini. Mobilnya itu tidak pernah sekalipun bermasalah. Tapi begitu bermasalah, malah di saat penting seperti ini.
Mereka yang berada di dalam mobil jadi turun. Papa, Om Leo dan Malik mencoba mengotak atik mesin mobil. Tapi tetap saja tidak berpengaruh.
"Aku akan telepon mekanik saja." Ucap Malik kemudian. Mereka tidak mengerti mesin. Harus mekanik juga yang turun tangan.
Sementara Yoan menyetop mobil-mobil yang lewat. Berharap ada yang berhenti dan memberi tumpangan. Tapi, mobil-mobil itu hanya melaju melewatinya.
Yoan merasa kesal. Terlalu banyak kendalanya di hari ini. Pasti Dara sudah gelisah menunggunya di sana. Arlojinya juga sudah menunjukkan pukul 9. Saat ini seharusnya ia sudah bersiap untuk ijab kabul.
Tin
Mata mereka teralih ke arah mobil yang menklakson.
"Pak Yoan."
"El..." Yoan bernafas lega. El penyelamatnya.
Tak lama, mereka semua naik ke mobil El.
"Ok... Pegangan ya. Kita akan meluncur." Malik yang mengemudikan mobil El. Mereka harus cepat sampai ke aula hotel. Sudah jam 9 lewat.
"Tolong jangan menabrak ya, Pak. Kreditnya belum lunas." Ucap El mewanti-wanti. Malik asal menyalip-nyalip saja.
"Sudah tenang saja di boncengan!" Ucap Malik dengan santai.
"Yoan, kamu telepon Dara. Biar dia nggak khawatir." Saran Om Leo.
"Benar, Yoan. Beritahu Dara kita sudah di jalan." Papa menimpali.
"El, tolong telepon Dara. Ponsel saya kehabisan daya." Ucap Yoan pada asistennya itu.
El menekan-nekan ponselnya. Dan menelepon Dara.
"Ha-halo." Jawab wanita itu dari sana. Suaranya terdengar sangat lemah.
"Halo... Nona Dara..."
Yoan mengambil ponsel El.
"Dara, tunggu sebentar ya sayang. Aku masih di jalan..."
__ADS_1
.
.