
Yoan pun menceritakan semua pada Dara. Ia melakukan sesuai permintaan Dara yang mau memindahkan Roni keluar kota, lalu menaikkan jabatannya.
Tapi ternyata Roni menolak dan mengundurkan diri. Pria itu memilih keluar.
"... dia juga minta maaf sama aku dan kamu." Ucap Yoan menggenggam tangan Dara. Yoan duduk di samping Dara, untuk menjelaskan semuanya.
"Minta maaf untuk apa, Mas?" tanya Dara penasaran.
"Mungkin untuk yang telah dia lakukan selama ini." Yoan juga tidak tahu pasti.
Dara menganggukkan kepala. Ternyata memang Roni sendiri yang mengundurkan diri, bukan karena suaminya.
"Dan dia juga memintaku, untuk selalu membuatmu bahagia." Yoan kembali menyampaikan apa yang Roni katakan.
Dara bernafas lega. Meski Roni pernah membuatnya berada di titik terendah. Tapi setidaknya sekarang Roni tidak memaksa egonya. Ia cukup senang, Roni sudah tidak mengganggunya lagi.
Dara juga berharap Roni akan bahagia dan bertemu dengan wanita yang mencintai dan dicintainya.
"Mas, aku mau rujak." Ucap Dara ingin makan itu.
"Rujak?" tanya Yoan. Istrinya sedang mengidam rujak.
"Iya, Mas. Aku ngidam rujak. Kita beli yuk, nanti anak kita ngompol loh." Ledek Dara sambil menyender pada suaminya.
"Ngences, sayang!" Yoan membenarkan ucapan Dara. Istrinya sekarang sudah berani meledeknya.
Yoan melihat arlojinya. Sudah pukul 4 sore. Jam kantor telah berakhir.
"Ayo, kita pulang sekalian beli rujak."
Mereka pun saling bergandengan tangan keluar dari ruang itu.
Beberapa saat berlalu, Yoan masuk ke dalam mobil setelah membeli rujak di pinggir jalan. Ia memberikan pada istrinya.
"Terima kasih, papa Yoan." Dara berbinar melihat rujak yang dibeli Yoan. Buahnya segar-segar sekali.
"Makanlah." Yoan memakai sabuk pengamannya.
Selama perjalanan, mulut Dara terus mengunyah. Yoan melirik istrinya yang santai saja, padahal isi buahnya asam-asam semua.
"Mas, mau?" Dara memberikan mangga.
Yoan menggeleng, tapi Dara malah memasukkan saja ke dalam mulut Yoan.
"Astaga!!!" Yoan minta ampun. Mangga itu asamnya luar biasa. Tapi terpaksa ditelannya.
"Enakkan, Mas." Dara kembali melahap rujaknya.
Yoan merinding memakan mangga itu. Rasa asamnya membuat lidahnya bergetar.
Setelah makan, Dara membenarkan posisinya. Ia pun menyandarkan tubuhnya. Mendadak ngantuk melanda.
"Sudah tidurlah." Yoan mengelus kepala Dara sejenak.
"Mas Yoan."
"Hmm."
"Besok kita jogging yuk."
"Besok."
"Iya, putri kita mau jalan-jalan pagi." Ucap Dara. Ia merasakan keinginan seperti itu.
"Baiklah." Yoan akan menuruti.
"Terima kasih, papa." Ucap Dara sangat bahagia.
Yoan menggeleng melihat Dara. Sikap istrinya sekarang sangat manja dan makin menggemaskan. Pasti karena faktor anak perempuan yang ada di dalam kandungnya.
\=\=\=\=\=\=
Esok paginya. Yoan berjalan-jalan pagi bersama Dara. Mereka menikmati udara pagi yang menyegarkan.
Dara menarik nafas berkali-kali. Ia ingin anaknya merasakan udara pagi yang begitu menyegarkan.
Setelah dirasa cukup, Yoan mengajak pulang. Istrinya tidak boleh terlalu kecapekkan.
Dara menurut dan ia meminta Yoan harus sering mengajaknya berjalan-jalan pagi.
Yoan menurut saja. Apapun mau Dara akan diturutinya. Semia demi kebahagiaan Dara.
Sampai di kamar, Yoan masuk ke kamar mandi. Ia harus bersiap-siap ke kantor. Sementara Dara, wanita itu memilih berbaring setelah menyiapkan pakaian suaminya.
Tak lama Yoan keluar dari kamar mandi dan melihat Dara sudah terlelap saja.
Yoan menghampiri dan membenarkan selimut Dara. Istrinya benar-benar putri tidur.
Yoan memakai pakaian yang sudah disiapkan Dara. Istrinya selalu sempat melayani kebutuhannya.
Yoan telah rapi berpakaian. Ia ingin membangunkan Dara. Tapi tidak tega.
Kecupan di kening Yoan daratkan sebagai ucapan pamitan. Ia juga menkecup dan mengelus perut Dara. Tak boleh lupa berpamitan pada sang putri.
"Papa pergi dulu ya, nak. Jangan nakal ya. Kasihan Mama nanti kecapekkan." Pesan Yoan pelan pada anak dalam perut itu.
Setelah itu Yoan berjalan keluar kamar. Ia akan sarapan lalu berangkat ke kantor.
Dara tersentak bangun dan melihat jam dinding. Sudah pukul 10 pagi saja. Perasaan dia baru terpejam.
"Mas Yoan!!!" panggil Dara seraya bangkit. Ia melihat ke kamar mandi. Tapi tidak menemukan suaminya.
'Apa Mas Yoan sudah pergi ke kantor?'
Dara pun berjalan keluar kamar. Ia menuju dapur. Terlihat Mama sibuk memasak.
"Dara, kamu sudah bangun?" tanya Mama.
Dara menganguk lemah. "Mas Yoan mana ya, Ma?"
"Yoan sudah pergi. Tadi katanya kamu nyenyak sekali tidur, ia tidak tega membangunkanmu." Jelas Mama akan apa yang dikatakan putranya.
Dara mendengus. Suaminya seperti itu, padahal jika dibangunkan. Ia pasti akan segera bangun.
"Ma, maaf ya." Dara merasa tidak enak. Moodnya tidak stabil selama hamil. Kadang rajin, kadang malas, malah kadang bawaannya mau tidur saja.
__ADS_1
"Sayang, biasa orang sedang hamil." Mama tidak mempermasalahkannya. Ia juga pernah di posisi Dara. Lebih parah lagi malahan. Suaminya tidak diizinkannya ke mana-mana. Harus menempel terus padanya.
"Kamu belum sarapankan. Biar Mama siapkan."
"Tidak usah, Ma. Biar Dara ambil sendiri." Dara merasa segan.
"Dara, jangan segan-segan sama Mama. Kamu itu putri Mama juga." Mama mengingatkan.
Dara pun memeluk Mamanya. Wanita paruh baya itu memang sangat welcome sekali padanya.
"Terima kasih, Ma. Mama sangat baik pada Dara."
"Mama yang seharusnya berterima kasih. Kamu mau menerima Yoan."
Dara makan hidangan yang persiapkan mertuanya. Ia makan dengan lahap, ditemani Mamanya.
"Jadi, Yoan sebelum kenal kamu. Sering Mama jodohkan dan dia nggak pernah mau. Janjiannya jam berapa datangnya jam berapa. Malah pernah katanya sudah sampai, tapi nggak dijumpainya wanita itu." Mama menceritakan pada Dara tentang perjodohan putranya.
"Tapi, Mas Yoan bilangnya dia pergi, ngakunya sama Mama."
"Iya, tapi nggak jumpai wanita itu. Entah siapa yang dijumpainya Mama nggak tahulah."
"Nanti Mas Yoan jumpai wanita lain, Ma."
"Mungkin ya."
Dara dan Mama mengobrol panjang. Mereka saling bercerita sambil berhaha hihi.
\=\=\=\=\=\=
"Eka, sukses ya." Ucap Dara bervideo call memberi semangat temannya. Hari ini Eka mau ngedate dengan El.
"Kak, aku pakai yang mana?" tanya El menunjukkan pakaian yang akan dipakainya.
"Yang nyaman saja. Yang tidak masuk angin." Saran Dara. Malam udara cukup dingin.
"Ini." Eka menunjukkan jaketnya.
"Astaga Eka! Masa pakai jaket, memang mau naik motor." Dara menepuk jidatnya.
"Aku bingung, kak. Aku nggak punya baju nih." Eka memijat kepalanya.
"Itu yang satu lemari itu apa? Kain lap Eka?" Dara menggeleng. Wanita memang begitu, mengatakan tidak punya baju. Padahal bajunya satu lemari penuh.
"Nggak ada yang cocok, kak." Eka lupa membeli baju.
"Cari yang simpel. Cepat Eka, ini sudah jam berapa? jangan janjiannya jam 7 kau datang jam 8. Minimal jam 7 lewat 15 lah."
Eka menatap lemarinya, ia tidak tahu mau pakai apa.
"Eka, nanti kabari aku lagi ya." Dara pun mengakhiri panggilannya.
"Sayang, bagaimana?"
Dara merapikan pakaian Yoan. Lalu ia tersenyum. "Papa Yoan sangat tampan."
Dara mentoel-toel pipi suaminya.
Yoan juga merapikan pakaian istrinya. Memastikan anak mereka tidak kedinginan.
Dara hari ini ingin berkencan dengan suaminya. Mereka ingin berkencan bertiga dengan anak yang masih berada di dalam kandungan.
"Mas, kita lihat Eka yuk." Dara penasaran dengan pdkt Eka. Biasanya Eka cukup aktif mendekati pria, tapi dengan El dia gugup begitu. Tidam seperti biasanya.
"Sudah, biarkan saja mereka sayang. Nantikan Eka cerita sama kamu." Yoan menenangkan sang istri.
Yoan membawa Dara ke sebuah hotel berbintang.
Dara berdecak kagum saat Yoan menggandengnya masuk. Ia melihat Yoan ke resepsionis dan tak lama mereka kembali berjalan lagi.
"Ayo..." Ajak Yoan setelah membuka pintu.
Dara benar-benar kagum. Ia pun masuk ke kamar hotel tersebut. Kamarnya sudah didekor sedemikian rupa. Terkesan sangat romantis habis.
Dara menutup mulutnya merasa terharu, Yoan membawanya ke meja makan. Sudah banyak hidangan di sana. Yoan juga menarikkan tempat duduk untuknya.
Tadinya Dara pikir kencan biasa, tapi ini sangat luar biasa.
"Kamu suka?" tanya Yoan seraya menggenggam tangan Dara. Tangan mungil yang akan selalu ia genggam selamanya.
"Suka, Mas. Ini sangat bagus." Dara tersenyum bahagia.
Mereka melahap makanan yang telah disajikan. Dara sampai memejamkan mata, menikmati hidangan yang membuatnya melayang. Masakannya sangat enak sekali. Apa begini masakan surga? Membuat hati merasa bahagia saat merasakannya.
Setelah selesai makan. Dara dan Yoan memandangi pemandangan malam dari gedung bertingkat itu. Lampu-lampu di jalan jelas terlihat.
"Mas, terima kasih." Ucap Dara saat Yoan memeluknya dari belakang. Pelukan suaminya terasa hangat.
"Terima kasih, sayang." Yoan juga mengucapkan terima kasih pada Dara.
Dara berbalik badan dan mengalungkan tangan di leher suaminya.
Mereka kembali saling menyatukan bibir. Saling bertegur sapa di dalam mulut.
"Sayang, aku ingin menjenguk anakku." Ucap Yoan dengan nafas memburu.
Dara mengangguk dan mereka kembali menyatukan rasa candu di bibir.
Dara sudah berbaring saja di tempat tidur. Tubuhnya sudah polos, dan kini ia melihat Yoan membuka bajunya.
Wajah Dara memerah, sesuatu itu tampak menegang.
Mereka pun melakukan penyatuan. Yoan melakukannya dengan perlahan dan hati-hati. Ia tidak mau menyakiti Dara atau pun bayi mereka.
Meskipun penyatuannya terasa lembut. Suara desa-han saling bersahutan di kamar hotel itu.
\=\=\=\=\=\=
Pagi menjelang, Dara bangun dan tidak melihat Yoan di sampingnya.
"Mas Yoan."
"Iya." Yoan keluar dari kamar mandi.
Dara mengalihkan pandangan. Suaminya memang cobaan. Keluar kamar mandi dengan handuk terlilit dan rambut itu setengah basah.
__ADS_1
Saat ini Yoan sangat seksih sekali.
"Sayang, ayo bangun. Kita sarapan." Ajak Yoan.
Dara mengangguk dan bangkit. Ia berjalan cepat ke kamar mandi.
"Masih malu!" Yoan menggeleng. Ia sudah membuat perut Dara membesar dan istrinya masih malu melihatnya seperti ini.
Setelah membersihkan diri, Dara sarapan bersama suaminya. Ia makan dengan lahap. Rasa lapar melandanya.
"Tambah lagi." Yoan menyodorkan makanan miliknya. Istrinya harus makan banyak.
Dara dengan wajah bahagia, melahapnya. Ia menghabiskan makanan yang disajikan di meja makan.
"Sayang, sudah kenyangkan." Dara mengelus perutnya. Ia kekenyangan.
"Sayang, mau jalan-jalan."
"Mau!"
Tak lama...
"Mas Yoan." Ucap Dara kesal. Yoan menyuruhnya berjalan mengelilingi kamar mereka. Tadi mengira jalan-jalan di luar.
"Biar makanan kita turun." Ucap Yoan yang menggandeng Dara. Ia ikut mengelilingi kamar.
Setelah capek, Dara membaringkan tubuhnya. Baru bergerak begitu saja, ia merasa sangat lelah.
Dara menguap panjang. Ia mulai mengantuk. Tapi ia ingat Eka, bagaimana kelanjutannya.
"Eka... bagaimana pdktnya?" tanya Dara menelepon langsung.
"I-itu..."
"Itu apa?" Dara jadi penasaran.
"El bilang, ingin menjadi temanku." Ucap Eka dengan wajah memerah.
"Nggak apa teman dulu. Nantikan jadi teman hidup." Ucap Dara. Hubungan mereka mulai ada kemajuan.
"Doai ya, kak." ucap Eka.
"Pasti! Kapan kalian jalan lagi?"
"Nanti sore, kak."
"Wah... Cepat ya. Eka sukses ya." Dara menyemangati.
"Kak Dara terima kasih ya."
"Terima kasih juga, Eka."
Dara mengangguk dan mengakhiri panggilan.
"Bagaimana?" tanya Yoan yang ingin tahu.
"Mereka berteman dulu, Mas." Ucap Dara.
"Nggak apa. Mulanya teman, lama-lamakan teman hidup."
Dara senyum, ucapan mereka sama saja.
"Mas, aku pijatin ya." Ucap Dara. Selama ini Yoan selalu memijatinya.
"Nggak usah, sayang. Nanti kamu capek."
Dara bangun dan memijat tangan Yoan. Tangan yang lebih besar darinya itu.
"Sayang, sudah tidak usah pijat aku." Yoan merasa dielus-elus. Kalau diteruskan ia bisa menerkam istrinya.
\=\=\=\=\=\=
Setelah satu malam menginap di hotel. Siangnya mereka keluar dari hotel.
Yoan mengajak Dara ke pantai.
Kehamilan Dara belum terlalu besar, jadi ia akan mengajak istrinya jalan-jalan. Menikmati pemandangan ciptaan Tuhan.
Nanti jika perut Dara sudah besar, istrinya akan kesulitan berjalan.
Dara sangat senang dan bahagia. Putrinya pasti bahagia memiliki papa yang sangat baik, lembut, perhatian dan sangat penyayang itu.
"Dara." panggil seseorang.
Yoan dan Dara yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi, menoleh ke arah suara.
Ternyata Roni yang memanggil. Pria itu ada di tempat yang sama dengan mereka. Apa kebetulan atau bagaimana?"
Mereka mencari tempat untuk bicara. Roni ingin berbicara dengan Dara.
"Selamat ya, Dara. Atas kehamilanmu." Ucap Roni merasa senang.
"Terima kasih." Jawab Dara.
Yoan yang di samping Dara hanya melihat interaksi keduanya. Terlihat biasa saja.
Mereka mengobrol sesaat. Bertanya tentang kehamilan Dara. Dara menjawab, kadang Yoan juga yang menjawab.
"Aku harus pergi." Roni menyalami keduanya.
"Dara, kamu harus bahagia. Maafkan aku." Ucap Roni. Ia meraih tubuh Dara dan memeluknya.
Yoan yang melihat itu tidak terima. Istrinya dipeluk-peluk.
Roni melepaskan pelukannya. Ia melihat Dara sejenak, wanita yang pernah sangat dicintainya. Lalu ia pun melangkah pergi.
Yoan memeluk istrinya. Ia tidak mau ada aroma tubuh pria lain di tubuh istrinya.
"Mas Yoan, ayo kita jalan-jalan lagi." Ajak Dara.
Yoan masih memeluknya.
"Papa Yoan, ayo..."
.
__ADS_1
.
.