KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 31 - BUKAN TIPEMU


__ADS_3

Siang itu Eli masuk ke swalayan sambil mencemberutkan wajahnya, saat melewati Dara. Karena semalam ia sudah memberitahukan jadwal Dara pada pria itu, jadi Dara meminta tukar shift dengannya. Padahal seharusnya hari ini dia yang masuk pagi, jadi masuk siang.


"Senyum dong." Ledek Dara yang menyadari wajah Eli. Temannya pasti kesal karena tukaran shift dengannya. Tapi biarkan saja. Suruh siapa juga sembarangan memberitahu jadwalnya pada orang lain.


"Aku pulang ya." Ucap Dara setelah shift paginya berakhir. Ia harus segera keluar dari swalayan ini, sebelum pria tidak waras itu datang. Tadi pagi, pria itu tidak muncul. Mungkin karena Eli memberitahu, jika hari ini ia masuk shift siang. Kemungkinan pria itu akan datang nanti malam.


Dara keluar dari swalayan dan berjalan cepat menuju ke persimpangan.


Sementara tak lama Dara keluar. Seorang pria pun masuk. Ia tersenyum tipis pada dua orang wanita yang berada di kasiran.


"Maaf, saya mau tanya. Daranya ada?" tanya Roni dengan sopan.


Eli melihat pria itu dengan bingung. Dara sudah mewanti dirinya untuk tidak menjawab apapun pertanyaan pria itu.


"Kak Dara sudah pulang, Bang. Siapa ya Bang?" tanya teman seshift Eli ingin tahu.


"Oh, sudah pulang ya." Roni melihat arlojinya. Sudah pukul 4 lewat 10. Berarti shift Dara selesai pukul 4 sore. Ia yang kelamaan datangnya.


"Saya temannya Dara." Jawab Roni kembali.


"Pacarnya ya?" teman seshift Eli sangat penasaran. Mungkin pria yang sedang dekat dengan Dara.


"Bukan." Sanggah Roni. Ia tidak punya hak mengakui itu lagi.


"Oh... ku kira tadi pacarnya kak Dara." Ucapnya dengan kecewa.


"Apa Dara belum menikah?" tanya Roni kembali. Bertanya pada Dara, wanita itu tidak menjawab. Mungkin mereka mau menjawab.


"Belum. Kak Dara belum menikah. Kalau Abang memang serius segera lamar saja. Kasihan kak Dara sudah berumur, tapi belum juga bersuami. Pasti kak Dara itu pemilih dan-"


Tok...


"Jangan menggosip di jam kerja!" Ucap Eli setelah menokok kepala temannya itu dengan pulpen. Ia kesal, temannya itu terlalu kepo dan ikut campur urusan orang lain.


"Aduh kak! sakit!" Wanita itu memanyunkan bibirnya. Eli memarahinya, padahal ia hanya bercerita saja.


"Maaf ya, Bang. Kami sedang bekerja!" Ucap Eli melihat Roni dengan serius.


"Hah... Maaf. Kalau begitu aku permisi." Roni pun keluar dari swalayan tersebut. Ia mengulum senyum mendengar perkataan temannya Dara. Bahwa Dara belum menikah. Sampai sekarang Dara belum menikah.


'Dara... Apa kamu masih menungguku? Kamu masih belum bisa melupakanku?!'


\=\=\=\=\=\=


Yoan menyemprotkan banyak parfum. Ia sudah berpakaian rapi. Hari ini ia akan mendatangi swalayan tempat Dara bekerja. Lalu di sana ia akan menunggunya sampai pulang. Pasti Dara tidak akan menolak diantar pulang. Karena sudah malam dan banyak begal serta hantu bergentayangan di sekitar.

__ADS_1


Yoan tersenyum-senyum membayangkan akan mengantar Dara sampai rumah. Nanti di sepanjang jalan mereka akan mengobrol santai. Mengobrol tentang kehidupan sehari-hari, lalu lambat laun mengobrol dari hati ke hati.


'Ok. Mari meluncur!' Batin Yoan dengan semangat.


Yoan sedang mengendarai mobil membelah jalanan malam.


'Aku bawa apa ya?' Yoan berpikir sejenak. Ia tidak boleh datang dengan tangan kosong. Ini malam minggu, masa dia datang ngapel hanya membawa diri.


Bakso, sate, dimsum, burger, pizza, bolu... Yoan bingung sendiri. Apa yang Dara suka.


"Aku suka kamu." Ucap Dara dengan nada manja. Ya, begitulah khayalan yang terlintas di pikiran Yoan.


'Martabak?' Yoan melihat penjual martabak. Ia pun menepikan mobilnya. Dara mungkin menyukai martabak.


"Mau rasa apa, Mas?" tanya penjual martabak dengan ramah.


Yoan melihat menu martabak. Ternyata ada banyak rasa.


"Yang enak yang mana?" tanya Yoan pada penjual.


"Semuanya enak, Mas." Jawab penjual santai.


"Maksud saya yang paling enak yang mana?" Yoan membenarkan pertanyaannya.


"Yang paling enak yang paling laris... ini, Mas. Martabak spesial untuk orang yang spesial." Ucap penjual menunjukkan menu andalannya.


Penjual mengangguk dan membuat pesanan pembelinya tersebut.


Beberapa saat kemudian, Yoan memberhentikan mobilnya di depan swalayan. Ia berkaca sesaat di spion, memastikan wajahnya yang masih tampan.


Setelah itu, Yoan turun dari mobil dan meninting bungkusan berisi martabak paling spesial.


"Permisi." Sapa Yoan saat masuk ke dalam swalayan.


"Hah iya. Cari apa, Bang?" tanya teman seshiftnya Eli.


'Astaga!' Eli yang baru keluar pintu khusus karyawan, mendadak berhenti saat melihat pria itu. Dengan segera ia kembali masuk. Ia tidak ingin bertemu dengan pria itu, karena semalam ia sudah mengatakan, jika Dara hari ini masuk siang. Tapi malah masuk pagi, karena bertukar shift dengannya. Ia merasa tidak enak dengan pria itu. Bisa-bisa dianggap berbohong.


"Daranya ada?" tanya Yoan segera. Ia tidak sabar bertemu dengan wanita itu.


"Kak Dara sudah pulang, Bang." Jawabnya. Hari ini sudah ada dua pria yang bertanya tentang Dara.


"Sudah pulang?" Yoan memastikan dengan wajah bingung.


Teman seshift Eli pun mengangguk.

__ADS_1


"Loh, bukannya hari ini Dara masuk siang ya?" tanya Yoan. Menurut teman Dara semalam, hari ini Dara masuk siang.


"Kakak Dara minta tukar shift, Bang. Katanya ada urusan mendesak. Jadi sudah dari tadi pulang." Jelasnya apa adanya.


"Jadi kamu masuk dengan siapa?" tanya Yoan kembali. Sepertinya Dara sedang bersembunyi darinya.


"Kak Eli." Jawabnya.


"Oh ya sudah. Ini untuk kalian saja. Dimakan ya." Ucap Yoan memberikan bungkusan berisi martabak.


"Untuk kami?"


Yoan mengangguk dan melangkah keluar.


"Terima kasih ya, Bang!" Ucap teman seshift Eli terlihat senang menerima martabak.


Yoan memilih menunggu di mobilnya. Menunggu sampai Dara keluar. Ia akan menunggu sampai mereka pulang. Mana mungkin Dara tidak keluar-keluar dari sana.


"Kak Eli... Pengagum kak Dara banyak ya." Ucapnya melahap martabak yang begitu banyak topingnya.


Eli melihat ke arah martabak itu. Pasti pria itu membelikan untuk Dara. Itu makanan kesukaan Dara.


Eli juga melihat ke arah luar. Mobil hitam itu masih ada di sana. Ia merogoh ponsel dan mengambil foto mobil tersebut.


Yoan menunggu di dalam mobil sambil memutar musik.


Beberapa saat berlalu, swalayan telah gelap dan pintu besi telah tertutup. Yoan membenarkan posisi duduknya, melihat karyawan yang keluar.


'Mana Dara?' Batinnya bertanya.


Ternyata Dara memang masuk shift pagi dan bukanlah shift siang.


Yoan menghela nafasnya pelan. Dara benar-benar telah menghindarinya. Bahkan sampai bertukar shift dengan temannya.


Pria itu memijat pelipisnya sambil tertawa pelan. Menertawakan dirinya yang mengejar wanita yang tidak meresponnya.


Mengirim pesan pada Dara, tidak dibalas. Menelepon juga tidak diangkat. Bahkan nomornya pun diblokir.


Ia juga sudah berusaha mengenal Dara secara langsung dan tetap saja berakhir penolakan dari wanita itu.


'Baiklah!!! Jika aku bukan tipemu!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2