
"Ka-kamu kenapa ada di sini?" tanya Dara melihat pria yang memanggilnya.
"Aku bekerja di sini." Jawab Roni memberitahu.
Dara melihat Roni yang berpakaian kantor rapi dengan nametag tergantung. Ternyata pria itu bekerja di perusahaan ini.
'Dia sekarang manajer!' Dara ingat saat terakhir kali. Sebelum mereka menikah, Roni bekerja sebagai wakil kepala bagian.
7 tahun telah berlalu, semua telah berubah pastinya. Jadi wajar saja karir mantannya itu semakin tinggi.
"Kamu kenapa kemari?" tanya Roni sambil melirik jari manis Dara yang melingkar sebuah cincin. Dara pasti mau bertemu Yoan.
"Aku... aku ingin bertemu dengan calon suamiku!" jelas Dara. Ia kemari memang berniat menemui Yoan.
Roni mengangguk pelan.
'Apa mereka saling mengenal?!' Dara jadi bertanya-tanya. Yoan dan Roni bekerja di kantor yang sama.
"Dara... apa kamu yakin akan menikah dengannya?" tanya Roni menatap wajah Dara. Rasanya ia sangat tidak rela Dara menikah dengan pria itu.
"Aku yakin!" jelas Dara dengan nada tegas. Meskipun kadang ia sering merasa ragu, tapi di depan Roni ia tidak boleh menunjukkan sikap ragunya.
Bagi Dara, terlihat biasa saja dan tidak terlihat menyedihkan, bahkan seolah tidak peduli pada masa lalu. Itulah pembalasan yang sesungguhnya pada sang mantan.
Hal itu wajib ditunjukkan Dara. Agar sang mantan tidak kepedean bahkan mengira ia masih memendam rasa. Kisah mereka hanya masa lalu yang sudah tidak perlu dikenang.
"Calon suamimu itu bukanlah pria baik. Bahkan ia pernah ditinggalkan di hari pernikahannya." Roni mendengar gosip yang beredar.
Dara tersenyum tipis. "Kalau ditinggalkan itu tidak baik. Apa meninggalkan itu yang terbaik?" tanya Dara menaikkan alisnya.
Roni masih menatap Dara. Ia tahu dia salah saat itu. Ia salah karena telah memilih yang salah.
"Dara, aku minta maaf sama kamu. Tolong kamu jangan menikah dengannya. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Pinta Roni sepenuh hati.
"Maaf." Jawab Dara tegas.
Satu kata jawaban Dara yang berarti penolakan pada Roni.
"Eh, eh, eh... siapa ini?" tanya Bu Upik kaget melihat Dara.
Tadi ia melihat Roni berbicara dengan seorang wanita. Pembicaraan keduanya yang tampak begitu serius. Tidak senang melihat itu, ia pun memilih menghampiri mereka. Roni tidak boleh terlalu dekat dengan wanita manapun. Ia sudah mengklaim Roni adalah miliknya.
"Oh ternyata kamu, Dara. Si perawan tua!" cibir Bu Upik melihat Dara. Sudah lama ia tidak melihat Dara.
Dara melihat Bu Upik dengan malas, ia malah bertemu dengan wanita tua menyebalkan itu.
"Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah menikah sekarang? Atau masih belum menikah juga?" tanya Bu Upik melihat Dara dari atas hingga atas lagi.
"Sepertinya belum ya?" cibir Bu Upik. "Apa tidak ada pria yang mau denganmu?"
__ADS_1
Dara berjalan meninggalkan mereka, ia malas meladeni wanita itu.
"Dara... Tunggu!!!" Roni mengejar Dara.
Bu Upik merasa heran. Roni mengenal Dara. Di mana dan bagaimana mereka bisa saling mengenal?
"Pak Roni!!!" Bu Upik mengejar Roni. Ia tidak rela pria itu bicara dengan Dara. Wanita yang dibencinya.
"Bu Upik, tolong jaga sikap anda!" Roni kesal dan menepis tangan Bu Upik yang memegang lengannya. Ia sangat tidak nyaman dengan wanita itu.
"Pak Roni, untuk apa bicara dengan perawan tua ini?!" tunjuk Bu Upik tidak senang.
"Jaga bicara anda!" Roni menaikkan suaranya, ia tidak suka ucapan wanita itu pada Dara.
"Dia ini memang perawan tua!" Bu Upik menunjuk Dara.
"Ada apa ini?"
\=\=\=\=\=\=
El melirik Yoan yang diam di bangku samping. Atasannya itu seperti banyak pikiran.
"Pak, kita mau singgah makan siang atau kembali ke kantor?" tanya El. Hari sudah pukul 11 siang lewat. Sebentar lagi jam makan siang.
'Apa aku ke swalayan saja?' Yoan berkutat dengan pikirannya.
Yoan tidak mendengarkan El.
"Pak." Panggil El kembali.
"Hah iya?" tanya Yoan kembali tersadar. Ia melihat El dengan bingung.
"Sebentar lagi jam makan siang, pak. Anda mau makan siang di mana?" tanya El. Mumpung mereka masih di jalan.
Yoan melihat El yang sedang menyetir. "Apa sekarang sudah jam makan siang?" tanya Yoan.
"Belum, masih 45 menit lagi sebelum jam makan siang." Jelas El.
"Berapa menit lagi kita sampai ke kantor?" tanya Yoan.
"Sekitar 15 menit lagi, Pak."
Yoan menatap El tajam. "El, kamu mau mengular sekarang." Ucap Yoan. Mereka akan sampai kantor sekitar pukul 11.30, masih ada waktu jam kerja 30 menit lagi sebelum jam makan siang.
"Bu-bukan begitu maksud saya, pak." Sanggah El. Yoan malah salah paham.
"Ma-mana tahu anda sudah lapar?! Jadi saya bertanya begitu, pak." El memberikan alasan.
"Kembali saja ke kantor." pinta Yoan. "Ini masih jam kerja!"
__ADS_1
El mengangguk patuh dan mempercepat laju mobilnya.
Yoan meraih ponsel, ia ingin mengirimkan Dara pesan. Tapi ponselnya kehabisan daya.
'Carger di kantor saja!'
Tak lama, Yoan memasuki lobi perusahaan. Dan berhenti saat melihat seseorang.
'Dara-ku?!'
Yoan melihat Dara dengan Roni dan wanita gempal. Ia pun berjalan ke arah mereka.
"Ada apa ini?" tanya Yoan melihat mereka sepertinya saling tidak senang. Wanita gempal itu menunjuk-nunjuk calon istrinya.
"Pak Yoan." Roni dan Bu Upik menundukkan kepala sejenak, kaget atasan mereka ada di sana.
Dara terlihat bingung. Roni dan Bu Upik terlihat hormat pada pria itu. Sepertinya jabatan Yoan di atas mereka.
Yoan menatap Roni dan Bu Upik dengan ekspresi datar. Lalu ia melihat ke arah Dara.
"Sayang..." Ucap Yoan senang menghampiri Dara. Ia kembali melihat wanita itu, setelah beberapa hari menjaga jarak.
"Sa-sayang?" Gumam Bu Upik. Yoan memanggil Dara sayang. Petanda apa ini?
"Kamu kenapa menunggu di sini, Ra?" tanya Yoan seraya menyatukan jemari tangan mereka.
Dara menatap pria itu, sudah lama ia tidak melihat Yoan. Kembali melihat pria itu, membuat perasaannya kembali berdesir.
"Ayo, ke ruanganku!" Yoan menggandeng tangan Dara dan membawa masuk ke dalam.
Dara mengangguk dan mengikuti pria itu. Ia merasa sedikit malu, banyak mata yang melihat ke arah mereka.
'Aku tidak dipecatkan?' Batin resepsionis yang melihat Dara melewatinya. Ia tidak menyangka, ternyata wanita tadi yang mencari Yoan. Ternyata Yoan atasan mereka.
'Mati aku!!!' Batin Bu Upik yang mulai takut. Dara memiliki hubungan dengan atasan mereka. Akan mudah saja memecat dirinya. Ia meruntuki mulutnya yang sudah bicara kasar pada wanita itu. Kini karir yang sudah dirintisnya bertahun-tahun sedang di ujung jurang. Dara bisa saja dengan mudah meminta Yoan untuk memecatnya. Ia akan menjadi pengangguran.
Sementara Roni semakin kesal. Dara akan menikah dengan Yoan. Benar-benar akan menikah dengan atasannya. Ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yoan.
Roni memijat pelipisnya, jika Dara benar-benar sampai menikah dengan Yoan. Karirnya akan berakhir begitu saja.
Bagaimana ia bisa bekerja, di perusahaan suami dari mantan calon pengantin yang ditinggalkannya di hari pernikahan?
'Dara... Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya!!!'
.
.
.
__ADS_1