KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 87 - MENCINTAIMU


__ADS_3

Maudy kembali ke rumah dengan perasaan kesalnya. Gagal sudah ia bertemu dengan Yoan.


Yoan sudah mengambil cuti panjang. Pasti pria itu menghabiskan waktu bersama wanita itu.


'Apa aku datang ke rumahnya saja ya?' batinnya. Tapi ia segera menggeleng. Datang ke rumah Yoan, itu tidak mungkin. Ia bisa bertemu dengan orang tua Yoan.


"Dari mana kamu Maudy?" tanya Mama menatap sang putri.


"Keluar sebentar, Ma." Jawab Maudy. Ia melihat putranya yang sedang disuapi makan oleh Mamanya. Ternyata Mamanya sudah mulai menerima kehadiran Jeri. Kemajuan yang cukup bagus.


"Jeri, ayo dihabiskan makannya, nak!" ucap Maudy mengelus kepala Jeri.


"Ma... Ma-ma..." Eja bocah kecil tersebut memanggil sang ibu.


Maudy meraih putranya dan memeluknya erat. Ia sangat menyayangi putranya tersebut.


'Sayang, nanti kita akan ketemu papa! Kamu sabar ya, nak!'


Malam itu setelah makan malam, orang tua Maudy berbicara serius dengan maudy di ruang tamu. Mereka harus memperjelas status Jeri.


"Maudy, Jeri anak siapa?" tanya Papa kembali. Cucunya itu harus mempunyai status yang jelas.


"Anakku, Pa!" Maudy masih tidak mau memberitahukan soal siapa ayah anak itu.


"Jika dia anak Yoan, kita harus meminta pertanggung jawaban pria itu. Besok Papa akan berbicara dengan keluarga Pak Dana. Mereka harus tahu tentang Jeri. Cucu mereka." Tegas sang Papa. Yoan tidak boleh melepaskan tanggung jawabnya begitu saja.


Wajah maudy mendadak pucat. Ia tidak bisa membiarkan papanya mendatangi keluarga Yoan.


"Nak, katakan Jeri anak siapa? Kalau memang Jeri anak Yoan. Papamu akan membicarakannya dengan mereka. Kamu tidak perlu takut, nak." Bujuk Mama mengelus punggung putrinya.


Wanita paruh baya itu berpikir, jika mungkin Maudy takut meminta pertanggung jawaban Yoan, karena ia sudah kabur di hari pernikahan itu.


"Papa, Mama... biar aku selesaikan masalahku-"


"Kenapa baru sekarang??? ngapain saja kamu selama 2 tahun ini???" bentak Papanya yang merasa kesal.


Maudy pergi begitu saja keluar negeri, tanpa memikirkan perasaan mereka. Dan sekarang pulang, malah membawa anak.


"Pa, tenanglah." Mama menenangkan suaminya yang mulai emosi.


"Apa kamu sudah menikah di sana?" tanya Papa masih dengan sorot mata tajam.


Maudy menggeleng. Ia belum menikah. Ia pergi keluar negeri, untuk mengejar masa depan anaknya.


"Maudy!!!" bentak Papa. Ubun-ubunnya terasa sudah panas saja. Putrinya memiliki anak tanpa adanya ikatan pernikahan? Apa yang akan orang-orang katakan tentang itu?


"Papa beri kamu waktu seminggu untuk memberitahu Jeri itu anak siapa? Jika tidak, Papa sendiri yang akan memaksa Yoan untuk melakukan tes DNA!" Ancam pria paruh baya yang sudah emosi.


"Pa..."


\=\=\=\=\=\=


Yoan senyum-senyum pada layar ponselnya. Setiap 10 menit sekali, Dara bertanya tentang dirinya.


Pria itu merasa terharu, istrinya begitu sangat perhatian padanya. Yoan menciumi foto istrinya yang menjadi wallpaper di ponselnya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Pinta Yoan.


"Pak-"

__ADS_1


"Ayo jalan, El!" sela Yoan cepat belum lagi El menyelesaikan ucapannya.


'Ok. Kita selesaikan segera!' Yoan bersemangat. Ia akan segera menyelesaikan tanggung jawabnya, lalu pulang untuk menemui wanita tercintanya.


Beberapa saat kemudian, Dara sudah sampai di lobi perusahaan. Ia meraih ponsel untuk menghubungi Yoan. Tapi, nomor pria itu sedang tidak aktif.


Dara pun berjalan ke resepsionis sambil membawa bungkusan berisi makan siang. Ia membuatkan makan siang untuk suaminya. Yoan sakit perut dan tidak bisa makan pedas.


"Permisi." Ucap Dara sambil tersenyum.


"Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis ramah.


"Sa-saya mau bertemu pak Yoan." Ucap Dara memberitahu.


Resepsionis itu melihat Dara, bukan wanita yang semalam mencari pak Yoan.


"Sudah buat janji, Mbak?" tanya resepsionis kembali.


"Be-belum, Mbak." Jawab Dara gugup.


"Dengan Mbak siapa, nanti akan saya sampaikan pada pak Yoan saat kembali. Kebetulan pak Yoan sedang di luar kantor." Jelas resepsionis tersebut.


"Sa-saya Dara. Saya istrinya."


"Mbak Dara istri..." ucapan resepsionis pun terjeda. Ia serius melihat ke arah Dara.


"Mbak, istri pak Yoan?" tanya resepsionis sambil menelan salivanya. Ia tidak mengenali istri atasannya itu.


"Benar, kak." Dara mengangguk pelan.


"Sayang..."


Mendengar namanya dipanggil, Dara pun menoleh ke arah suara.


"Mas Yoan." Dara tersenyum pada suaminya. Ia menghampiri dan mencium tangan Yoan.


"A-aku bawa makan siang, Mas. Mas Yoan, apa masih sakit?" Dara meletakkan tangannya di kening Yoan.


"Sayang, aku sudah sembuh." Yoan menatap dalam. Dara sangat mengkhawatirkannya membuat perasaannya sangat bahagia.


"Ayo, ke ruangan ku." Yoan pun merangkul Dara.


"Kak, saya permisi." Dara menundukkan kepala pada resepsionis. Dan resepsionis tersenyum tipis.


"Oh iya, lain kali jika istri saya datang, langsung suruh masuk saja ke ruangan saya." Yoan mengingatkan. Ia tidak mau Dara lama menunggu.


"Ba-baik, Pak." Jawab resepsionis tersebut.


Yoan sudah berada di ruangannya dengan Dara.


"Mas Yoan, ayo dimakan." Dara menyajikan makanan yang dibawanya.


"Sayang, terima kasih." Yoan sangat terharu.


"Ini Mas." Dara memberikan mangkuk berisi makanan tersebut.


"Sayang, kamu pasti capek ya. Sudah masak dan mengantarkannya juga kemari."


"Nggak apa, Mas. Perut Mas belum bisa makan yang pedas-pedas. Jadi aku sudah masakkan yang tidak pedas." Jelas Dara kembali. Tidak mempermasalahkan itu.


"Sayang, terima kasih banyak!" Yoan menkecupi pipi Dara. Bahagianya ia memiliki Dara di sisinya.


"Bagaimana Mas rasanya?" tanya Dara sambil mengelap sudut mulut suaminya. Yoan makan bercelemot.


"Sayang, ini sangat enak." Yoan tersenyum lebar. Lidahnya menari-nari merasakan rasa lezat masakan istrinua.

__ADS_1


"Sayang, kamu bisa masak enak begini. Resepnya apa sih?" tanya Yoan ingin tahu.


"Resepnya?" tanya Dara balik.


Yoan menganggukkan kelaka.


"Aku memasaknya dengan cinta, Mas." Ucap Dara dengan wajah merona.


Yoan mentoel hidung Dara. "Katakan sekarang! Aku ingin mendengar perasaanmu!"


"Aku mencintaimu, Mas Yoan." Ungkap Dara tersenyum malu dan membuang pandangannya. Suasana di ruangan itu terasa mulai panas.


Dara terpaku saat Yoan memeluknya dengan erat. Pelukan pria itu membuat hatinya meleleh.


"Sayang, jangan pernah tinggalkan aku. Apa pun yang akan terjadi, kamu harus percaya padaku!" bisik Yoan tepat di telinga Dara.


"Baik, Sayang. Mas Yoan juga harus selalu percaya padaku!" Dara berharap mereka dapat saling percaya satu sama lainnya.


Yoan melonggarkan pelukannya. "Tadi kamu bilang apa?"


"Mas percaya padaku." Ucap Dara.


"Bukan yang itu, yang sebelumnya."


"Baik."


"Setelah itu."


"Mas Yoan."


"Dara..." Yoan menarik hidung Dara dengan gemas.


"Iya, sayang." Ucap Dara sambil tersenyum.


"Katakan lagi." Pinta Yoan.


"Sayang."


"Katakan 100 kali lagi. Aku ingin dengar."


Dara meraih ponsel. "Sa...yang."


Wanita itu merekam ucapannya dan mengirimkan pesan suara ke ponsel Yoan.


Yoan meraih ponselnya dan tersenyum mendengar pesan suara tersebut.


"Mau Mas Yoan dengarkan 1000 kali juga terserah saja." Ucap Dara. Ia tidak mungkin mengatakan hal seperti itu sampai 1000 kali.


"Dara-Dara." Yoan menggeleng dan kembali memutar pesan suara itu.


"Sa...yang."


"Sa...yang."


"Sa...yang..."


Dara mendengus, Yoan terus menerus memutar pesan suara itu.


"Mas, sudah dong." Dara jadi malu mendengar suaranya sendiri.


"Belum sayang. Masih ada 978 kali lagi. Aku harus mendengarkannya." Yoan akan mendengar hingga 1000 kali.


"Mas Yoan!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2