
"Papa, kok tetap setuju tes DNA sih? Papa nggak percaya sama anak sendiri!" seru Ibu Yumi ketika orang tua Maudy sudah pulang. Ia kesal, suaminya malah menyetujui melakukan tes DNA.
"Pa, firasat Mama bilang. Kalau Jeri itu bukan anak Yoanlah. Jika Yoan menghamili Maudy, mana mungkin Yoan anak kita melepaskan wanita itu begitu saja." Ucap Mama kembali menjelaskan. Mengingat putranya begitu mencintai Maudy kala itu. Yoan pasti akan bertanggung jawab penuh.
"Ma, mereka ingin membuktikannya saja. Karena saat itu, hanya anak kita yang sedang dekat dengan putrinya. Makanya Papa setuju. Jika kita tidak memberikan bukti, hidup Yoan akan terus dibayangi Maudy. Bagaimana perasaan Dara? Mama mau rumah tangga putra kita retak." Jelas Papa kembali. Kepulangan Maudy membuat kegaduhan di rumah tangga putranya. Bahkan sampai meneror menantunya.
"Ta-tapi, Pa. Kalau nanti memang benar Jeri itu anaknya Yoan, bagaimana ya?" tanya Mama jadi bingung.
"Astaga, Ibu Yumi!!! Tadi katanya percaya sama anak sendiri? Sekarang malah berpikir sebaliknya? Sudah kita lihat saja. Papa yakin, putra kita tidak melakukan hal seperti itu." Papa menggeleng melihat istrinya yang sedikit plin plan.
"Baiklah. Terus bagaimana kita mengatakan pada Yoan tanpa tahu Dara? Mama nggak mau Dara sedih dan jadi kepikiran terus!" ucap Ibu Yumi. Perasaan wanita tidak bisa ditebak.
Papa mengangguk mengerti, ia akan membicarakan dengan Yoan empat mata saja.
\=\=\=\=\=\=
"Pa, si Jeri-Jeri itu bukan anakku!!!" sanggah Yoan tidak terima. Ia dipaksa untuk melakukan tes DNA. Padahal ia tidak melakukan apapun pada Maudy kala itu.
"Pelankan suaramu! Kamu mau istrimu mendengarnya?!" ucap Papa memperingatkan. Mereka saat ini sedang berada di ruang baca.
"Sekarang, kamu katakan sejujurnya pada Papa. Anaknya maudy itu apa benar anak kamu?" Papa menatap tajam putranya itu. Memastikan kebenarannya.
"Bukan anakku, Pa!" tegas Yoan kembali.
"Ya sudah... berarti tidak ada masalah, bukan. Lakukan saja tes DNA dan buktikan pada mereka kalau Jeri memang bukan anak kamu." Jelas Papa yang bernafas lega. Putranya sangat yakin Jeri itu bukan anaknya.
"Tapi, Pa-"
"Yoan, lakukan saja. Papa juga sudah memperingatkan mereka, jika memang Jeri bukan anakmu. Mereka harus mengawasi Maudy, untuk tidak menganggu rumah tangga kamu dan Dara lagi." Papa memberitahu ancamannya.
"Tapi, Pa. Kalau Dara tahu-"
"Jangan beritahu dia. Kalau pun Dara tahu, Papa percaya kamu bisa meyakinkan dia. Papa nggak mau Maudy menjadikan Jeri alasan untuk merusak rumah tanggamu. Ya itu, karena kamu tidak mau melakukan tes DNA dan mereka beranggapan kalau kamu takut mengakui anak itu." Papa menjelaskan dengan masuk akal. Jika kita memang benar, kenapa harus takut. Buktikan saja!
"Baiklah, Pa. Kapan aku melakukannya?" tanya Yoan dengan lemah. Ia juga tidak mau Maudy mengusik hidupnya lagi. Kasihan istrinya, Dara bisa makan hati.
"Besok. Kamu akan melakukan tes di 10 rumah sakit. 5 rekomendasi mereka dan 5 rekomendasi Papa." jelas paruh baya tersebut.
"10? Kenapa sebanyak itu, Pa?" Yoan tampak bingung.
"Supaya pasti Yoan! Papa tidak mau ada manipulasi. Kita akan lakukan secara real." Tegas Papa akan niatnya.
"Terserah Papalah!"
\=\=\=\=\=\=
"Sayang, aku pergi sebentar ya." Ucap Yoan pamitan pada istrinya.
"Mas Yoan, mau ke mana?" tanya Dara merasa aneh. Sudah jam 7 malam, ke mana suaminya akan pergi.
__ADS_1
"A-aku mau menemui El sebentar." Jawab Yoan gugup, ia lalu mengalihkan pandangannya.
"Kenapa tidak suruh dia kemari saja?" tanya Dara sedikit curiga. Yoan bicara tidak melihatnya. Jarang suaminya bersikap seperti itu. Seperti ada yang sedang ditutupi.
"El sedang bersama kliennya. Tidak mungkin membawa mereka kemari." Yoan memberi alasan.
"Kalau begitu aku ikut, Mas!" saran Dara. Ia tidak tenang jika yoan pergi sendirian.
"Jangan!" jawab Yoan cepat. Jika Dara ikut akan berabe urusannya.
"Aku tidak akan dekat dengan kalian. Aku akan menunggu agak jauhan. Ayolah, Mas. Aku juga bosan di rumah saja!" Dara mulai memelas. Ia tidak yakin Yoan akan menemui El. Pasti bukan El.
"Sayang, tunggu sebentar saja di rumah. Aku akan segera kembali kok." Yoan menkecup kening Dara.
"Mas..." Wajah Dara mendadak mewek.
"Ya, sudah. Baiklah. Kamu bersiap! Pakai pakaian tertutup, di luar dingin!" pinta Yoan sambil mengingatkan.
"Siap, Bos!" Dara dengan semangat melangkah, lalu tak lama kembali lagi menghampiri suaminya.
"Mas, temani ke kamar ya." Ucap Dara. Ia masih sedikit takut ke kamar sendirian.
Yoan melihati istrinya dan mengangguk.
Tak lama, Dara sudah berpakaian rapi. Memakai celana jeans panjang dan kaos lengan panjang. Ia pun menyisir rambutnya lalu mendempul tipis bedak di wajahnya.
'Tak akan masalahkan bawa Dara? Dia harus tahu!' batin Yoan membenarkan.
"Ada apa, Mas?" tanya Dara. Seperti ada yang mau Yoan sampaikan.
"Aku mau jujur sama kamu."
Dara membalikkan tubuhnya. Ia menatap Yoan.
"Maaf tadi aku sudah bohong. Aku bukan mau menemui El." Yoan akan jujur. Ia tidak mau memiliki rahasia dengan Dara.
Dara masih menatap Yoan. Jika bukan menemui El, terus siapa? Apa Maudy?
Firasat Dara mulai tidak tenang. Yoan diam-diam menemui Maudy, untuk apa?
"A-aku... mau bertemu Maudy." Ucap Yoan akhirnya.
"Maudy?" Dara memastikan.
Yoan menghembuskan nafasnya pelan. "Begini sayang, kamu ingat Jeri. Anak kecil yang tidak sengaja menabrak kamu saat kita di Mall."
Dara mulai mengingat. Saat itu Jeri bersama neneknya. Yang ternyata adalah ibunya Maudy.
Deg
__ADS_1
Hati Dara mulai berdebar kencang.
"Jeri itu anaknya Maudy." Yoan menatap perubahan ekspresi Dara. Wajah Dara berubah sendu. Sepertinya Dara menerka-nerka, jika Jeri ada hubungan dengannya.
Deg
Deg
Deg
"Apa Jeri itu anakmu, Mas?" tanya Dara dengan hati tidak tenang. Matanya kini mulai berkaca-kaca.
Yoan menggeleng. "Bukan sayang. Tapi Maudy mengatakan itu anakku. Bahkan tadi orang tuanya menemui Papa dan Mama, untuk memaksaku melakukan tes DN-"
Dara mulai mengerti inti pembicaraan. Jeri kemungkinan adalah anaknya Yoan.
"Sayang..." Yoan menghapus air mata Dara. Bendungan Dara jebol juga. Ia membuat wanita yang dicintainya jadi menangis.
"Sayang, percaya padaku. Jeri itu bukan anakku! Aku ingin menemui maudy, untuk membicarakan masalah ini. Agar ia jujur pada kedua orang tuanya dan tidak menuduhku." Jelas Yoan akan maksudnya.
Mata Dara masih saja menatap Yoan.
"Sayang, percaya padaku! Aku memang pernah menjalin kasih dengannya. Tapi selama itu, aku tidak melakukan perbuatan seperti itu. Aku menjaga batasanku." Yoan dengan bergetar menjelaskannya. Ia benar-benar takut, salah berucap bisa fatal akibatnya.
Yoan tidak mau Dara meninggalkannya. Ia sangat mencintai wanita itu.
"Aku-aku berani bersumpah mengatakan jika Jeri bukan anakku, karena aku yakin. Aku tidak berbuat seperti itu. Aku tidak melakukan se-k sebelum pernikahan." Yoan masih menjelaskan.
"Sayang, tolong percaya padaku!" mohon Yoan dengan suara lirih. Air matanya menetes, ia benar-benar takut kehilangan Dara.
Dara mengangguk pelan. Hati kecilnya sangat mempercayai Yoan. Suaminya itu berkata jujur.
"Aku percaya kamu, Mas." Dara mengusap air mata yang membasahi pipi suaminya.
"Sayang, terima kasih." Yoan menggenggam dan menciumi tangan Dara. Ia bernafas lega, Dara percaya padanya.
"Aku mencintaimu, Mas. Dan aku percaya pada orang yang kucintai."
Yoan tersenyum. Ia pun menarik Dara dalam pelukannya. Istrinya sangat percaya padanya dan ia tidak boleh mengkhianati kepercayaan itu.
"Oh ya, Mas. Kalau Jeri bukan anakmu. Apa Mas tahu dia anak siapa?" tanya Dara penasaran.
Yoan diam. Apa ia harus menceritakan pada Dara?
"Sayang, Jeri... anaknya Denis."
"Denis???"
.
__ADS_1
.
.