KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 88 - JALAN-JALAN


__ADS_3

"Ok selesai." Yoan merenggangkan tangan, ia telah menyelesaikan setumpuk pekerjaan itu.


"Sayang, kamu mau ke-" ucapan Yoan terhenti. Pria itu menggelengkan kepala melihat istrinya sudah terlelap di sofa.


Setelah selesai makan siang tadi, Yoan tak mengizinkan Dara pulang. Ia ingin mereka pulang bersama saja.


Menunggu Yoan menyelesaikan pekerjaannya, Dara membaringkan tubuhnya di sofa. Dan tak butuh waktu lama, Dara sudah terlelap saja.


'Dasar putri tidur!' ledek Yoan dalam hati.


Yoan menghampiri Dara. Ia mengelus kepala Dara sambil memandangi wajah cantik yang begitu polos.


'Apa kamu begitu sangat lelah?!' Yoan tersenyum tipis mengingat hampir setiap malam, ia membuat istrinya lembur. Istrinya pasti jadi kurang tidur.


Yoan menkecupi wajah Dara. Agar istrinya segera terbangun.


"Mas Yoan." Dara memegang wajah yang telah menciuminya. Wajah tampan yang penuh senyuman.


"Maaf, aku ketiduran. Apa Mas Yoan sudah selesai?" dengan perlahan Dara bangun dan membenarkan posisinya menjadi duduk.


Mulut Dara terbuka lebar, ia menguap panjang. Dan dengan cepat Yoan menutupnya.


"Sayang, bisa masuk biawak loh!" Yoan meledek Dara sekarang tidak ada jaim-jaim padanya.


"Mas Yoan!" wajah Dara pun cemberut. Ia kan jadi malu.


"Sayang, ayo kita jalan-jalan." Ajak Yoan mengelus wajah mulus itu.


"Ke mana?"


"Nonton. Banyak film yang bagus." saran Yoan.


Dara mengangguk. "Ok, Mas."


"Ayo, sayang." Yoan bangkit dan mengulurkan tangannya.


Dara senyum dan menyambut uluran tangan suaminya. Lalu ia memeluk lengan berotot tersebut.


Mereka berjalan beriringan keluar ruangan itu. Saat lift terbuka, mereka berpapasan dengan El.


"Pak-"


"Letakkan saja di meja saya." Ucap Yoan menyela. Ia mengerti apa yang mau El katakan. Tapi sudah tidak mau diganggu soal pekerjaan. Waktunya sekarang menghabiskan waktu bersama istri tercintanya.


'Pak Yoan, bucin!' El menggeleng melihat senyuman Yoan yang terus merekah. Atasannya itu berhasil juga menikah dengan wanita yang ditaksirnya di pesawat. Benar-benar niat sekali atasannya itu.


Yoan menggandeng Dara menuju parkiran kantor. Selama berjalan, tangan mereka saling bergandengan erat. Saling mengobrol diiringi senyum dan tawa. Mereka menganggap dunia hanya milik berdua, tanpa tahu banyak mata yang melihat mereka.


Tatapan mata yang ikut tersenyum, ada yang bahagia, ada yang mencibir, iri bahkan ada mata yang melihat tajam keduanya.


'Dara!!!' Roni meremas tangannya. Melihat Yoan dan Dara yang begitu bahagia. Dara begitu sangat manja dengan suaminya itu.


Roni merasa kesal dan cemburu. Dara bersikap dengan Yoan sama seperti saat mereka masih bersama. Sikap wanita itu memang sangat manja. Roni tidak suka Dara bermanja dengan pria lain.


"Pak ikhlaskan saja!" ucap seorang wanita.


Roni kaget melihat wanita yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya saja.


"Biarkan mantan bahagia dengan begitu kebahagiaan akan menghampiri anda, Pak." timpal Bu Upik kembali. Ia mengangguk pada Roni meyakini perkataannya.

__ADS_1


Roni pun melangkah pergi. Ia tidak mengerti dan malas menanggapi apa yang dikatakan wanita gempal itu.


\=\=\=\=\=\=


Yoan merangkul Dara, begitu istrinya keluar dari mobil. Lalu mereka berjalan memasuki Mall.


"Sayang, kalau Mallnya ada di depan rumah. Kita nggak perlu jauh-jauh kemari." Ucap Yoan mengingat ucapan istrinya. Dara ada benarnya juga.


"Mas Yoan, aku hanya becanda!" Dara mencubiti pipi Yoan.


"Apa aku bangun saja ya, Mall di depan rumah kita?" Yoan menaikkan alisnya.


"Mas Yoan!!!" Dara pun melepas rangkulan suaminya dan berjalan cepat. Ia mendadak kesal.


Yoan tertawa-tawa sambil menggejar Dara. Istrinya memang sangat menggemaskan.


Mereka bergandengan melewati toko-toko yang berada di Mall tersebut. Yoan mengajak Dara masuk, tapi istrinya menolak. Alasannya, Dara sudah ada barang itu semua.


"Aduh!" Dara kaget saat ada yang menabraknya. "Kamu nggak apa, dek?"


Dara membantu bocah kecil yang tidak sengaja menabraknya untuk berdiri. Bocah itu sudah terduduk di lantai.


"Apa ada yang terluka?" tanya Yoan yang juga khawatir.


"Jeri... Jangan lari-lari! Licin!" seorang wanita paruh baya menghampiri sang bocah.


"Maaf. Cucu saya sedikit lasak." Wanita tua itu meminta maaf pada keduanya. Dan ia kaget saat melihat pria itu. Pria muda yang dikenalnya.


Begitupun Yoan. Pria itu sama kaget melihat mantan calon mertuanya.


"Yo-Yoan?" ucap wanita paruh baya itu kaget. Lalu ia melihat ke arah Dara.


"Tante Novia, apa kabarnya?" sapa Yoan sopan. Pria itu masih bersikap sopan dan ramah pada wanita itu.


Tante Novia mengangguk sebagai jawaban, bahwa kabarnya baik.


"Tante dengar kamu sudah menikah. Apa ini istri kamu, Yoan?" tanya Novia memastikan. Meskipun mereka diundang saat Yoan menikah. Ia dan suaminya tidak datang. Mereka sangat malu pada orang tua Yoan.


"Benar, Tan. Ini Dara, istri saya." Jelas Yoan memperkenalkan istrinya.


"Saya Dara, Tante." Dara pun menyalami tante Novia.


Tante Novia tersenyum tipis, melihat istri Yoan yang begitu sopan.


"Adik imut ini siapa namanya?" tanya Dara sambil mencubit gemas pipi bocah itu.


"Namanya Jeri." Jawab tante Novia.


"Halo Jeri." Sapa Dara. Ia tersenyum membayangkan, jika memiliki anak yang imut dan menggemaskan suatu hari nanti.


"Saya sama Dara permisi dulu, Tan. Kami harus segera pergi." Ucap Yoan menyudahi basa basi itu.


"Kami permisi dulu, Tan. Sampai jumpa Jeri." Dara berpamitan sambil melambaikan tangan pada bocah yang juga membalas lambaiannya.


Tante Lydia mengangguk dan masih melihat Yoan dan Dara yang sudah menjauh pergi.


'Apa Yoan tidak merasa ini anaknya?' batin Novia merasa aneh.


Tatapan Yoan saat melihat Jeri biasanya saja, seperti tidak ada ikatan batin di antara mereka.

__ADS_1


Novia jadi menggeleng tidak mengerti. Siapa ayah dari cucunya tersebut?


'Apa itu anaknya Maudy? Mirip sih!' batin Yoan mengangguk.


"Mas Yoan, tadi siapa?" tanya Dara ingin tahu.


Yoan menatap istrinya itu sejenak. Dara tidak tahu siapa tante Novia, tapi istrinya malah menyalami wanita itu.


"Itu..." Yoan menjeda sejenak seraya berpikir.


Dara melihat Yoan. Ia jadi penasaran.


"Dia... Ibu dari calon pengantinku saat itu." Yoan merasa harus memberitahu.


"Apa?" Dara terlihat kaget. Ternyata wanita tadi ibu dari wanita yang hampir menikah dengan suaminya.


Dara melihat Yoan yang santai saja, seperti biasa saat bertemu orang. Dan ia masih salut pada suaminya. Yoan masih sopan dan menyapanya.


"Mas, apa pernah bertemu dengan mantannya?" tanya Dara. Apa Yoan pernah bertemu dengan wanita itu?


Yoan menggeleng. "Aku tidak pernah bertemu dia setelah hari itu."


Dara masih melihat Yoan dengan menelisik.


"Kalau pun kami bertemu, mungkin hanya say hai saja. Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Itu hanya masa lalu." Yoan tidak mau masa lalu membayangi kehidupan rumah tangganya. Jika pun dia bertemu dengan mantannya lagi, biarkan sajalah.


Dara mengangguk dan setuju dengan Yoan. Mereka tidak boleh terlarut dalam masa lalu.


Sementara, Maudy berlari mendatangi Mama dan anaknya yang duduk di bangku-bangku yang berada di mall tersebut.


"Ma, kenapa di sini? tadi aku bilang menunggu di sana saja." Ucap Maudy dengan nafas ngosh-ngoshan.


Tadi ia ke toilet sebentar dan menitipkan Jeri pada Mamanya. Tapi begitu keluar mereka sudah tidak ada di sana.


Maudy menelepon Mamanya dan wanita paruh baya itu tidak mengangkat teleponnya juga. Jadi ia mencari keliling dan menemukan mereka di tempat itu.


Pasti Mamanya kesusahan menjaga Jeri yang sedang lasak-lasaknya itu.


Maudy pun menggendong putranya. Agar tidak lasak lagi.


"Maudy, kamu pernah bertemu Yoan?" tanya Mama menatap tajam.


Maudy menggeleng. "Belum. Kenapa, Ma?"


"Tadi kami bertemu dengan Yoan dan istrinya." Mama pun memberitahu.


"Yoan ada di sini?" Maudy memastikan dengan wajah bahagia. Sudah lama ia tidak bertemu pria itu.


Mama mengangguk.


"Tadi Yoan ke arah mana?" tanya Maudy kembali. Ia ingin mencari pria itu.


"Mau apa kamu? Yoan bersama istrinya." Ucap Mama memegang lengan putrinya.


"Aku mau menyapanya, Ma!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2