KAU DAN AKU

KAU DAN AKU
BAB 95 - MANTAN YOAN


__ADS_3

Maudy mengacuhkan pria itu. Ia melihat mobilnya dan berjalan ke tempat itu.


Saat Maudy akan membuka pintu, ia melihat mobil pria itu sedang parkir di sebelahnya.


"Hei Neng, mau ku beritahu tidak?" tanya Roni kembali sambil turun dari mobil.


"Neng Neng, namaku bukan Eneng." Dengus Maudy. Pria itu sembarangan memanggil namanya.


"Terserahlah siapa namamu, aku juga tidak peduli. Aku hanya ingin memberitahu padamu alamat Yoan." Jelas Roni. Ia tidak akan membiarkan kehidupan rumah tangga Dara dan Yoan tenang. Si Eneng ini sepertinya masa lalu Yoan.


"Hei..." Maudy melipat tangannya. Ia menatap pria itu. "Modusmu itu sudah terbaca. Apa kamu begitu tertarik padaku?"


"Astaga!!!" Roni menepuk jidatnya. Wanita ini salah paham terus.


"Aku tidak tertarik padamu!" tegas Roni.


"Terus, kenapa kamu mengikutiku?" Maudy menatap pria itu.


"Aku cuma memberitahumu, bahwa aku tahu alamat rumah pak Yoan. Di jam segini, pasti istrinya sendirian di rumah." Roni memberi kisi-kisi.


"Hei... Kamu kira aku tidak paham modusmu. Kamu mau memberiku alamat rumahmu, kan?! Kamu mau aku datang ke rumahmu? Sekali lagi ku katakan... aku tidak tertarik padamu!!!" tegas Maudy masih dengan pikirannya. Ia wanita cantik, wajar saja banyak pria mengejar-ngejarnya.


Roni tercengang. Benar-benar wanita satu ini, tingkat kepedean di atas rata-rata.


"Astaga!!! Hei neng, nggak usah terlalu kepedean. Wajahmu itu biasa saja." Roni mengamati wajah Maudy yang menurutnya biasa saja. Tapi, kepedeannya luar biasa.


"A-apa kamu bilang wajahku bi-biasa saja?!" Maudy kesal. Ia sudah perawatan kecantikan dan kata pria ini wajahnya biasa saja.


"Memang! Wajahmu biasa saja, jadi jangan berpikiran semua pria tertarik padamu! Kamu itu bukan tipeku!" Roni menggelengkan kepala. Ia pun memilih masuk ke kantor saja, dari pada mengurusi wanita kepedean ini.


"Hei..." panggil Maudy.


"Apa lagi?" Roni membalikkan tubuhnya. "Aku cuma mau memberitahumu alamat rumah Yoan, tapi kamu malah..."


Roni menghembuskan nafas kasar lalu menggelengkan kepala.


"Memang kamu tahu alamat rumahnya?" tanya Maudy memastikan.


Roni menggangguk. "Istri si Yoan itu, mantanku."


Setelah mengatakan itu, Roni pun melangkah pergi.


'Ma-mantan?' Maudy masih mencerna perkataan Roni.


"Hei... Hei..." Maudy memanggili Roni. Tapi pria itu tidak merespon.


"Hei... beritahu aku!" Maudy pun mengejar Roni.


\=\=\=\=\=\=


"Sayang, Mas Yoan pergi dulu ya." Yoan memeluk Dara. Ia berpamitan pada sang istri.


Dara jadi tersenyum. Yoan memanggil diri sendiri dengan Mas Yoan. Terasa sedikit menggelikan.


"Hati-hati ya Mas Yoanku. Jaga hatinya!" bisik Dara seraya menunjuk letaknya hati.


"Siap! aku akan jaga hati. Kamu tenang saja!" Yoan menciumi kening, pipi dan bibir sang istri. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali.


"Mas..." Dara menekan dada Yoan. Ia tidak bisa bernafas, ciuman itu begitu mendominasi.


"Ya sudah, aku pergi. Kamu juga jaga hati. Ingat hanya ada aku di hatimu!" tangan Yoan menepuk-nepuk pelan kepala sang istri.


"Ya iya. Pergi sana, Mas!" Dara pun menyudahi kemesraan mereka. Jika dibiarkan, akan terus berlanjut ke part 2-nya.


Lambaian tangan Dara mengiringi laju mobil Yoan yang mulai menjauh.


"Ibu sudah datang." Ucap Dara melihat pekerja rumah sudah sampai.


Yoan menyuruh pekerja rumah datang, saat ia sudah berangkat ke kantor. Yoan sengaja melakukan itu, agar tidak ada yang melihat drama keromantisan mereka. Jika ada, akan terasa canggung dan malu pastinya.


"Iya, Dara. Pak Yoan sudah pergi?"


"Sudah, Bu. Baru saja..."

__ADS_1


Kini Dara sedang berada di kamar. Ia membersihkan meja hiasnya.


Setiap pekerja rumah datang, Dara memilih berada di kamar. Agar tidak menganggu si ibu untuk beres-beres rumah.


Suaminya bersikeras tetap menggunakan jasa pekerja rumah. Padahal ia sendiri bisa melakukannya.


"Mau ngapain lagi?" Dara bingung, ia telah selesai membersihkan meja hias. Mana lagi yang mau dibersihkannya. Lemarinya juga masih sangat rapi.


Dara pun membaringkan tubuhnya. Ia akan tidur sebentar. Hampir tiap malam Yoan membuatnya lembur. Waktu tidurnya banyak berkurang. Dan suaminya...


'Apa dia minum obat kuat ya?!' Dara jadi beranggapan begitu.


Yoan seperti tidak ada lelahnya, menggempurnya tiap malam. Dan paginya, wajah pria itu segar dan bersemangat. Padahal jam tidur malamnya, jadi tidak teratur.


Tok


Tok


Tok


"Dara..."


"Iya, Bu. Sebentar." Dara bangkit dan membuka pintu.


"Ibu mau pulang." Ucap pekerja rumah memberitahu. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya.


"Ibu sudah makan?" tanya Dara sambil berjalan ke dapur.


"Sudah."


"Oh... Bawa saja ini bu." Dara membuka lemari es dan mengambil sebungkus nugget.


"Ti-tidak usah." Tolak pekerja rumah segan. Dara terlalu baik. Setiap ia mau pulang, ada saja buah tangan yang dibawanya.


"Untuk si adik di rumah. Saya beli banyak, Bu." Jelas Dara sambil memasukkan ke dalam plastik.


"Terima kasih banyak ya. Kalau begitu ibu pulang dulu. Kamu hati-hati di rumah. Langsung kunci pintu." Pekerja rumah mengingatkan.


Dara mengangguk mengerti. "Iya, Bu."


Memang komplek perumahan ini aman, karena ada security yang berjaga 24 jam. Tapi Dara tetap mengunci pintu. Ia takut saja, tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal masuk rumah.


"Aku ngapain?" Dara bingung. Ia agak bosan. Setiap hari ia menunggu kepulangan suaminya. Saat Yoan pulang, ia baru tidak kesepian.


Mau masak makan malam, tapi hari masih pukul 10 pagi. Dara pun ke ruang tv, ia akan menonton layar kaca saja.


Dara duduk sambil menonton tv. Tangannya mengelu-elus perutnya yang masih rata.


"Sayang, kamu cepat ya hadir di sini. Biar Mama di rumah punya teman, papamu sibuk di kantor. Papa lagi cari uang yang banyak untuk kita." Dara senyum membayangkan ia mengandung buah cinta mereka.


"Apa yang kupikirkan?!" Dara menutup wajahnya, ia merasa malu.


Mata Dara lalu terfokus pada acara memasak di layar kaca.


"Udang tumis bakar? Mas Yoan suka nggak ya?" Dara mengangguk pada resep yang diberikan chef tersebut.


Dara melihat jam dinding, masih pukul 11. Padahal ia sudah terlalu lama menonton tv.


Merasa mulai bosan. Setelah mematikan tv, Dara pun masuk ke kamar. Ia akan kembali tidur sebentar.


Dara yang begitu terbaring langsung terlelap. Ia sekarang cepat sekali tertidur. Nemu yang empuk, langsung terlelap saja.


Tok


Tok


Tok


Dara tersentak oleh suara ketukan pintu. Ia melihat jam dinding masih pukul 12.30 siang. Yoan belum pulang jam segini. Siapa yang datang?


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Dan kembali pintu rumahnya di ketuk. Dara pun bangkit dan mencuci muka. Lalu ia keluar dari kamar.


Langkah Dara menuju ruang tamu. Ia mengintip sejenak dari balik gorden. Terlihat seorang wanita.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu kembali terdengar. Dara pun membuka pintu. Ia melihat seorang wanita cantik.


"Cari siapa ya?" tanya Dara memastikan. Ia tidak mengenal wanita itu.


'Apa ini istrinya Yoan? biasa kali!' Maudy tersenyum. Saingannya biasa saja, tidak ada yang luar biasa.


Dara hanya berwajah cantik, tapi Maudy merasa dia lebih cantik. Karena kecantikannya terawat. Hampir setiap minggu, ia ke klinik kecantikan. Sedang Dara, sepertinya sebulan sekali belum tentu.


"Apa ini rumahnya Yoan?" tanya Maudy memastikan. Mungkin ia salah rumah, pria itu mengerjainya.


"Iya benar." Jawab Dara. Ia merasa mungkin wanita ini mantannya Yoan.


Mendengar jawaban Dara, Maudy masuk begitu saja. Tapi segera ditahan Dara.


"Maaf. Kamu siapa?" tanya Dara sedikit tidak senang. Wanita itu main nyelonong masuk rumahnya saja.


"Majikanmu itu tahu siapa aku. Panggil Yoan." Ucap Maudy dan tetap masuk ke dalam. Ia duduk di sofa.


Maudy sengaja menganggap wanita itu art, biar tahu diri. Kalau wanita sepertinya tidak level menjadi istri Yoan.


"Mas Yoan lagi ke kantor." Jawab Dara dengan wajah kesal.


'Mas Yoan?!' Maudy kesal mendengar panggilan itu.


"Kamu siapa? Nanti Mas Yoan pulang akan ku katakan padanya." Dara masih berusaha tenang.


"Aku calon istrinya majikanmu itu." Ucap Maudy dengan bangga. "Sudah berapa lama kamu jadi artnya Yoan?"


"Aku istrinya Mas Yoan." Dara pun mengatakan kebenarannya. Daripada wanita itu terus mengatakan omong kosong.


"Istri?" cibir Maudy melihat Dara dari atas hingga atas lagi. Lalu ia pun tertawa mengejek.


"Kau itu sepertinya kebanyakan halu. Jangan berkhayal hal yang tidak-tidak."


"Aku memang istrinya Mas Yoan. Mau kai percaya atau tidak itu bukan urusanku!" dengus Dara mulai kesal.


Maudy masih tertawa. "Hei... lihat penampilanmu. Jangan bermimpi!"


"Sepertinya kau yang bermimpi. Hari sudah siang, woi... bangunlah!" Dara membalas perkataan Maudy.


"Lain kali kalau mau keluar rumah itu mandi dulu. Jadi bisa sadar untuk bedakan, masih di alam mimpi atau di dunia nyata?!" timpal Dara kembali. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan wanita itu. Wanita yang menurut hati Dara memiliki masa lalu dengan suaminya.


"Hei... jaga perkataanmu!" Maudy bangkit dan menunjuk wajah Dara. Rasa kesal menjalar sudah. Istrinya Yoan ini sangat tidak sopan dan kurang ajar.


"Jangan menunjukku seperti itu!" Dara menepis tangan Maudy dengan kuat. Membuat Maudy mendelikkan matanya.


"Apa kau tidak tahu siapa aku?" tanya Maudy.


"Aku tidak mau tahu!" Dara menggeleng sambil tersenyum mengejek.


"Aku ini Maudy. Maudy!!! Aku calon istrinya Yoan!!!" Maudy menekankan perkataannya. Dara harus tahu siapa dirinya.


'Benar, ternyata dia!' firasat Dara ternyata benar. Wanita ini ternyata Maudy. Pantes sikapnya seenaknya saja.


"Calon istrinya ya? Aku istrinya sekarang, wanita yang dicintainya!"


"Tutup mulutmu!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2